024 BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH
Bila sebuah lidi ditekuk, maka patahlah lidi itu dengan mudah, tetapi sekumpulan lidi yg disatukan akan sulit untuk dipatahkan . . . sebuah contoh yg sederhana untuk peribahasa “BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH”.
Penulis, mas Bei, ingin memberikan satu analisa atas fenomena yang sedang terjadi di Indonesia belakangan ini, dimana media massa menampilkan berita-berita dari daerah-daerah yg ‘bergolak” dan daerah yg telah menyatakan ingin “merdeka” dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saat ini, bangsa Indonesia sedang mengalami transisi reformasi dari kehidupan bernegara yg otoriter menuju kehidupan bernegara yg berdemokrasi, dan kelihatannya semua orang begitu antusias untuk menyatakan demos-crazy-nya masing-masing, baik dengan pemikiran yg matang, setengah matang, ataupun tanpa pemikiran sama sekali alias ikut-ikutan saja, ikut itupun ada yang karena keinginan sendiri, asal ikut-ikutan atau karena ikutnya uang dibelakang kehendak mereka alias money politics alias dibayar oleh sekelompok orang berduit . . . alias dibayar oleh antek rezim lama.
Sejak awal tahun 1998, penulis, sudah melihat adanya konspirasi gerakan ‘perceraian’ bangsa ini, dimana rezim penindas selama ini mencoba melakukan intimidasi, melakukan politik cerai-berai, pembodohan rakyat, penggunaan kekuatan militer untuk menghancurkan segala macam aspirasi rakyat, suara rakyat yg berontak yg mendambakan keadilan, kemakmuran, dan persamaan hak.
Siapakah rezim penindas itu?
Rezim ini adalah kelompok ORBA (Orde Baru) yang terdiri dari banyak kelompok: pejabat, pengusaha, politikus baik sipil maupun militer. Kata mereka, itu hanyalah oknum. Oke, kita sebut mereka oknum, tetapi ingat, oknum itu ada hadir dalam kehidupan kita.
Apa yang rakyat inginkan selama puluhan tahun?
Rakyat secara mayoritas mengharapkan keadilan, kemakmuran, persamaan hak, dalam kehidupan mereka. Rakyat secara mayoritas hanya dapat bermimpi, mimpi akan ‘kekayaan’ bumi pertiwi yang tidak dapat mereka nikmati, mereka harus bekerja keras untuk dapat hidup, mereka harus berjuang untuk mendapatkan keadilan dan persamaan hak yang telah dirampas oleh rezim penindas.
YANG DIBODOHI, DAN YANG MEMBODOHI
Pembodohan telah berlangsung selama puluhan tahun, dengan skenario yang begitu pintar dan begitu halus, sehingga rakyat tidak merasa sedang dibodohi oleh rezim penindas. Bagi rezim penindas, rakyat yang baik adalah rakyat yang bodoh, yang tidak perlu tahu apa hak mereka, tetapi harus cukup pintar untuk tahu apa kewajiban mereka. Maka rezim ini terus membodohi rakyatnya.
Apa dan bagaimana pembodohan itu dilakukan?
Ada banyak cara untuk menjadikan suatu masyarakat menjadi cukup bodoh, dari yang paling halus sampai yang paling kasar. Cara halus: sekolah/pendidikan yang mahal, diatur, indoktrinasi, pembatasan yang diperhalus, penyiaran yang tidak benar. Rezim penindas telah melakukan manipulasi dalam masalah sekolah dan pendidikan masyarakat, dengan cara membuat biaya sekolah/pendidikan menjadi sangat tinggi, mempersiapkan kurikulum yang berubah terus dan tidak baku, memberikan mata pelajaran yang berisi indoktrinasi penguasa, membatasi penerbitan buku dan media massa, membuat pembatasan informasi, dst. Cara kasar: skenario hidup gaya hutan rimba, dimana masyarakat tertentu “dihutankan” alias dikucilkan dalam suatu lingkungan yang liar, keras, tak beradab, saling sikut, saling bunuh, saling mencurigai, dan rezim penindas mempersiapkan banyak kelompok ayam aduan diantara masyarakat, dengan menghidupkan, bahkan mengorganisir kelompok-kelompok tertentu yang sebenarnya berlawanan dengan hukum, seperti organisasi kelompok preman yang mendapatkan kedudukan terhormat.
Cara/skenario kasar selain digunakan untuk membodohi rakyat juga digunakan untuk mengintimidasi lawan politik rezim penindas, dengan menempatkan lawan politik sebagai lawan dari kelompok ayam aduan mereka. Maka skenario ayam aduan menjadi skenario adu-domba.
PANDAI?
MINORITAS BERHATI-NURANI, MAYORITAS EGOIS
Hanya sebagian kecil rakyat yang sempat mengecap pendidikan, menjadi pandai dan memiliki wawasan luas, dan hanya sebagian kecil dari kelompok yang pandai yang memiliki nalar (hati-nurani) yang bersedia menyuarakan jeritan hati rakyat dengan menampilkan gerakan perlawanan kepada rezim penindas yg berkuasa, baik secara halus maupun secara kasar, mereka inilah yang mencoba menjadi oposisi baik secara terbuka maupun secara bergerilya. Sebagian besar dari yang pandai malah menjadi kaki tangan rezim penindas, karena mereka tidak berhati-nurani, mereka orang-orang yang egois, yang mementingkan kehidupan pribadi daripada kepentingan bangsa. Rezim penindas membutuhkan banyak orang pintar yang cukup egois untuk menjalankan teori pembodohan bangsa.
PEMBODOHAN dan SKENARIO HUTAN RIMBA
Pembodohan adalah satu cara ampuh untuk melemahkan suatu masyarakat, sehingga masyarakat itu menjadi seperti kambing-kambing dan kerbau yang mudah untuk diseret kesana-kemari, sehingga masyarakat itu cukup bodoh untuk tahu kalau sedang dibodohi oleh rezim penindas.
Pembodohan masih belum cukup, maka skenario hutan rimba diterapkan dengan mempersiapkan srigala dan menumbuhkan sikap srigala diantara masyarakat itu, sikap-sikap extreem yang dipelihara akhirnya akan menimbulkan pergolakan, saling sikut, saling gigit, saling terkam, saling curiga, saling bunuh, dst . . . yang jelas masyarakat ini akan menjadi bodoh, karena tidak akan sempat mengenyam sekolah, karena sibuk dalam saling sikut, saling gigit, saling lain-lain.
PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP REZIM PENINDAS
Hanya sebagian kecil rakyat yang cukup pandai, berwawasan luas, benar-benar berhati-nurani, yang berjuang untuk bangsanya, yang benar-benar menginginkan keadilan, kemakmuran, persamaan hak dan kewajiban diantara rakyat. Mereka berjuang melawan rezim penindas secara terbuka, dan sebagian lain melakukan perlawanan secara bergerilya, baik didalam negeri maupun dari luar negeri. Mereka hidup sebagai “satria-satria piningit” karena ke-setia-an mereka terhadap kebenaran, mereka hidup dalam idealisme yang bertentangan dengan kelompok majoritas berbudaya maling dan rampok. Para pejuang ini hidup dalam keserhanaan, sederhana dalam arti harta kekayaan duniawi.
PERLAWANAN SECARA GERILYA
Perlawanan rakyat yang dilakukan secara gerilya biasanya berbentuk tulisan, himbauan, aksi demonstrasi kecil yang dilakukan oleh perorangan maupun berkelompok, ada yang bersifat damai tetapi tidak sedikit yang secara extrim menentang rezim penindas.
PERLAWANAN RAKYAT SECARA TERBUKA
Hanya sebagaian kecil perlawanan rakyat yang dilakukan secara terbuka, mereka membentuk kelompok-kelompok kecil yang menentang rezim penindas, mereka melakukan perlawanan melalui jalur organinsasi mahasiswa, LSM, ataupun organisasi lain, dan ada juga yang mencoba melakukan perlawanan bersenjata.
STRATEGI REZIM PENINDAS TERHADAP PEMBANGKANG
Rezim ini telah melakukan banyak cara untuk menindas rakyat pembangkang. Cara yang pertama dan paling mashur (terkenal) adalah penggunaan stempel/cap subversif, makar, PKI, yang diberikan kepada para pembangkang, berikut segala macam pembatasan yang terkait. Kepada mereka yang telah dicap subversif, makar, PKI telah disiapkan segala macam rintangan hidup, mulai dari rasa malu, sampai kepada kesempatan kerja yang dipersulit. Mereka yang menentang akan dikucilkan, ditekan, ditangkap dengan tuduhan subervesif atau makar atau PKI, atau diculik (dihilangkan dengan paksa), dan kalau sudah terlalu expresif maka pembangkang ini akan dihilangkan dari muka bumi.
Rezim ini telah mempersiapkan pasukan khusus untuk penindasan para pembangkang perorangan maupun kelompok/organisasi pembangkang, dan rezim ini telah mempersiapkan srigala maupun anjing pemburu dari kelompok preman yang tidak berpendidikan untuk melakukan teror terhadap orang ataupun kelompok pembangkang. Strategi adu ayam, adu domba dan kebiadaban hutan rimba telah diterapkan secara rapi dan terorganisir. Pasukan yang tidak tampil seperti pasukan resmi, tetapi mendapatkan semua fasilitas yang sama bahkan berlebih daripada pasukan resmi. Ada yang bilang mereka itu ‘siluman’, ada tapi tiada.
Pasukan khusus, tanpa kesadaran mereka, telah diadu-domba dengan rakyat yang menginginkan keadilan, yang menuntut hak-haknya. Pasukan khusus ini telah berubah bentuk menjadi kelompok preman dimata rakyat yang menentang rezim penindas. Rakyat penentang telah ditampilkan oleh rezim penindas sebagai pengkhianat, subversif, makar, PKI yang harus diberantas oleh si pasukan khusus ini. Pasukan khusus ini memang telah dididik, dibentuk secara khusus, menjadi srigala dan anjing pemburu, sama seperti kelompok preman yang tidak berpendidikan.
Rezim penindas melepaskan srigala dan anjing pemburu yang setia untuk memburu rakyat atau kelompok pembangkang. Sebagian srigala dan anjing pemburu telah disisipkan/disusupkan kedalam organisasi atau kelompok lain dan membentuk kelompok/organisasi tersebut menjadi kelompok extreem lain yang kemudian akan diadu-ayam dan diadu-domba dengan kelompok/organisasi lain, sebagai strategi melemahkan daya tahan perlawanan rakyat.
Tentara dan pasukan khusus tidak sadar telah menjadi srigala dan anjing pemburu terhadap rakyat sebagai tuan yang sebenarnya di negeri Indonesia ini. Tentara dan pasukan khusus telah diindoktrinasi dan disiapkan agar setia dan patuh terhadap pimpinan mereka secara militer, mereka harus melakukan setiap perintah dengan patuh, bahkan kalau perlu melakukan penculikan dan pembunuhan rakyat yang telah distempel sebagai subversif, makar dan PKI. Kepatuhan, disiplin militer yang seharusnya diterapkan saat melawan musuh penyerang bangsa dan negara telah diselewengkan menjadi keharusan melawan rakyat sipil oleh pimpinan tertinggi dari tentara dan pasukan khusus ini yang kebetulan sekaligus menjadi pimpinan dari rezim penindas, maka jadilah tentara dan pasukan khusus menjadi serigala dan anjing pemburu yang menindas rakyat.
Segala bentuk penindasan oleh tentara dan pasukan khusus terhadap rakyat terjadi di hampir semua pelosok negeri Indonesia, mulai dari kesewenang-wenangan militer, penjarahan harta milik rakyat, penculikan sampai kepada pembunuhan berencana, dan semua penindasan tersebut telah di’amin’kan oleh rezim penindas. Militer telah masuk kedalam segala bidang kehidupan bangsa, mereka mendapat privilege di segala bidang, mulai dari penguasaan birokrasi, parlement, berdagang (usaha) sampai kepada penguasaan hutan dan sumber kekayaan bangsa. Mereka telah melakukan penjarahan baik secara langsung ataupun menggunakan kaki-tangan kelompok/etnis tertentu, mereka telah merusak tatanan kehidupan, juga menghancurkan lingkungan hidup dengan penguasaan hutan dan kekayaan alam, dan melakukan penjarahan secara membabi-buta.
KENAPA MILITER DIBERI WEWENANG BERLEBIHAN?
Inilah balas jasa dari kepala rezim penindas kepada para bawahannya yang telah dengan setia mengiringi, melindungi, membekingi rezim penindas, sekaligus sebagai upaya menghilangkan dan mengurangi daya tolak penguasa militer atas kebiadaban tingkah laku rezim terhadap rakyat. Kesempatan untuk malang melintang di segala bidang tentu harus dibalas dengan perlindungan dan kesetiakawanan para penguasa militer ini kepada kepala rezim penindas.
Kesempatan, wewenang untuk bersi-maharajalela dari kepala rezim kepada penguasa-penguasa militer ini dapat dianggap sebagai restu bagi mereka untuk melakukan penindasan terhadap rakyat, dan bila si penguasa militer ini melakukan kegiatannya terlalu brutal, maka si kepala rezim akan dengan senang hati menutup mata dan hatinya, dan bahkan justru bergembira karena sebenarnya itulah yang diinginkan, yaitu skenario hutan rimba, melemahkan perlawanan rakyat dan pembodohan rakyat.
APAKAH YANG AKAN DILAKUKAN OLEH ANTEK-ANTEK REZIM PENINDAS SETELAH REZIM INI DISINGKIRKAN DARI TAMPUK PEMERINTAHAN?
Para penguasa yang sebelumnya mendapatkan wewenang untuk bersi-maharajalela oleh rezim penindas merasa kehilangan gigi setelah rezim ini disingkirkan dan digantikan oleh pemerintahan yang bersih, dan sudah selayaknya sebagai srigala dan anjing pemburu yang sudah terbiasa sewenang-wenang akan tetap meneruskan kegiatannya, tetapi mereka akan berubah cara dan strategi, mereka berubah menjadi bunglon, apalagi mereka yang sudah menyusup kedalam kelompok-kelompok yang selama ini sudah dibiayai oleh rezim penindas untuk mengadu-domba rakyat, mereka akan menggunakan strategi lanjutan.
Mereka akan bersikap seolah-olah berada dipihak rakyat yang selama ini melawan, mereka akan menuntut pembebasan daerah yang mereka kuasai, kalau perlu menuntuk kemerdekaan daerah tersebut, dan selanjutnya mereka inilah yang akan menjadi penguasa daerah itu secara otonom!
Rakyat yang sebenarnya menginginkan keadilan akan diprovokasi oleh para petualang kekuasaan agar terpancing kedalam lingkaran referendum kemerdekaan, dan selanjutnya mereka akan kembali menjadi bulan-bulanan dari penguasa baru sebagai penerus rezim penindas!
Strategi dan skenario ini dapat dilihat/dirasakan di Aceh, Sulawesi, Maluku, dan Irian, dimana terlihat perlawanan terhadap pemerintahan yang telah dipilih oleh rakyat, mereka mencanangkan tuntutan kemerdekaan bagi daerah itu. Padahal dibelakang tuntutan ini jelas terlihat bayangan srigala dan anjing pemburu rezim lama yang siap mencabik-cabik rakyat bila tuntutan ini tercapai, yang pada akhirnya rakyat kecil yang sudah dibodohi selama tiga puluhan tahun akan tetap menjadi bodoh dan kembali diperlakukan sewenang-wenang. Beginilah tindak lanjut dari antek-antek rezim penindas, dulu mereka menindas perjuangan rakyat, sekarang mereka mereformasi diri menjadi pejuang rakyat tertindas, dengan tuntutan kemerdekaan daerah tersebut agar mereka kembali menjadi penguasa dan kembali dapat menindas rakyat di daerah tersebut tanpa campur tangan pemerintah pilihan rakyat.
MELEMAHKAN PERLAWANAN RAKYAT, PEMBODOHAN RAKYAT
KENAPA PEMBODOHAN MENJADI PRIMADONA REZIM PENINDAS?
Kepala rampok, sebagai biang dari rezim penindas sebenarnya seseorang yang mendalami, menguasai filsafat dan budaya Jawa, dan juga percaya akan ramalan/pakem Joyoboyo, yang menyatakan kemunculan seorang satria piningit yang akan menjadi pahlawan rakyat.
Ada banyak falsafah Jawa yang diutarakan dan dijalankan oleh si kelapa rezim ini, seperti “Mikul dhuwur, mendem jero”, “Nek ngono, ya ngono, mung ojo ngono” atau “Tut wuri handayani”, dst . . yang sebenarnya bermaksud baik dan bernilai tinggi, tetapi kemudian telah diselewengkan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sebuah penyakit kejiwaan telah hinggap dalam dirinya, sehingga kepentingan bangsa telah dikalahkan oleh kepentingan diri dan kelompoknya, yang semakin lama bukannya sembuh, malah makin meradang dan menjadi-jadi, sehingga merampok dan merampas hak-hak rakyat menjadi keseharian bagi mereka, menjadi kebiasaan, menjadi menu utama dalam kehidupan mereka. Kepala rezim ini sudah sakit jiwa. Bayangkan saja, seorang rampok biasa, akan berkata kepada anaknya: “… nak, jadilah orang pandai, jadilah orang baik, jangan merampok, biarlah bapakmu saja yang salah . . .”, tetapi tidak dengan si kepala rampok yang satu ini, malah membiarkan anak dan keluarganya menjadi maling dan rampok harta rakyat dan kekayaan bangsa. Begitulah kalau penyakit kejiwaan sudah hinggap, kebaikan dan kebenaran sudah tertukar dengan kebathilan.
Dengan pemahaman budaya Jawa, si kepala rampok ini percaya benar akan munculnya seorang “satria piningit” yang akan membawa bangsa ini kepada kemakmuran, keadilan dan persamaan hak, kembali kepada “gemah ripah loh jinawi”, bahkan membawa bangsa dan negara Indonesia kepada kejayaan yang belum pernah tercapai sebelumnya. Nah ke-percaya-an kepada pakem Joyoboyo inilah, yang membawa kepada strategi pembodohan bangsa. Kenapa demikian?
Melemahkan Perlawanan Rakyat
Dalam banyak tulisan dan teori mengenai penjajahan bangsa/negara yang satu terhadap bangsa/negara ataupun kelompok masyarakat yang lain, perlawanan bangsa atau kelompok yang dijajah perlu diendapkan menggunakan banyak pembatasan seperti: pembatasan ruang gerak, pembatasan informasi, pembatasan hak, pembatasan pendidikan, pembatasan kesempatan, dan juga pembatasan kelompok satu dengan yang lain sehingga menjadi strategi pecah belah dan strategi adu domba. Yang jelas, untuk mengurangi perlawanan ada dua cara: membuat bodoh atau melemahkan daya lawan mereka. Pembodohan atau hilangkan kekuatan perlawanan mereka.
Cara-cara inipun terus diterapkan oleh rezim penguasa selama puluhan tahun, secara terus-menerus menerapkan pembatasan di segala bidang, sampai kepada penerapan strategi pecah belah dan strategi adu domba, dan untuk banyak kegagalan juga disiapkan bermacam kambing hitam.
Pembodohan merupakan hal yang lebih manusiawi daripada adu-domba, tetapi kalau sudah cukup bodoh, maka dua kelompok dapat di-adu-domba. Jadi pembodohan tetap saja tidak manusiawi.
Si kepala rampok, sekaligus kepala rezim penindas, begitu percaya akan kemunculan satria piningit, seseorang yang dianggap begitu bijaksana, begitu adil, begitu manusiawi, begitu pandai, dst . . . yang akan membawa bangsa dan negara Indonesia kepada kemakmuran dan kejayaan yang belum pernah tercapai selama ini, dan si satria ini akan berhasil dengan gemilang menghancurkan si rezim penindas . . . begitulah pakem Joyoboyo, dan si kepala rampok ini begitu percaya !!!, percaya bahwasanya si satria ini akan berhasil menghancurkan rezimnya nanti. Jadi segala kemungkinan dan kesempatan untuk kemunculan seseorang yang begitu pandai dalam segala bidang ini harus dihilangkan dan segala macam rekayasa terus disiapkan agar seorang satria pejuang keadilan dan kebenaran itu sulit muncul.
Sakit jiwa benar dia, karena dia percaya akan munculnya satria keadilan dan kebenaran, sekaligus menyatakan bahwasanya rezim yang dia pimpin adalah rezim penindas yang akan diberantas oleh si satria piningit tsb. LUCU sekali, dia percaya akan munculnya satria penindas kejahatan dan dia percaya bahwasanya penjahat itu adalah dirinya dan kelompoknya! Beginilah kalau sudah sakit jiwa, menjadikan orang itu terlihat kontroversial, kejam sekaligus lucu.
Kembali kepada pembodohan bangsa. Pembodohan oleh rezim penindas ini bukan hanya untuk melemahkan perlawanan rakyat, tetapi sekaligus untuk mengurangi kemungkinan munculnya satria piningit. Segala aspek kehidupan yang direkayasa dipersiapkan untuk menghalangi kemunculan satria piningit, mulai dari birokrasi yang berbelit, budaya maling dan korupsi, sampai kepada biaya sekolah yang mahal, kurikulum yang tidak jelas dan tidak baku, pembatasan penerbitan dan media masa, pembatasan dan penentuan informasi yang diatur oleh suatu departemen khusus.
Maka jadilah pembodohan sebagai primadona bagi rezim penindas.
Rezim ini takut bila rakyat Indonesia menjadi pintar, dan diantara yang pintar akan menjadi satria piningit yang akan menghancurkan kejayaan rezim penindas ini.
Srigala dan Anjing pemburu yang pernah dididik, diajar untuk menindas rakyat, sangat takut akan terjadinya reformasi dalam pemerintahan Indonesia, mereka takut rakyat akan menjadi pintar, mereka merasa perlu untuk melanjutkan pembodohan rakyat di daerah-daerah, mereka akan menampilkan diri mereka sebagai srigala dan anjing pemburu berbaju reformist yang menuntut kemerdekaan atas nama rakyat daerah, padahal yang mereka kejar adalah pemerintahan daerah yang baru yang lepas dari pemerintahan resmi yang telah terpilih rakyat yang selama ini tertindas. Selanjutnya jelas sekali penguasa baru daerah akan kembali menjadi srigala dan anjing pemburu versi lanjutan dari rezim lama.
BERHATI-HATILAH WAHAI RAKYAT INDONESIA
Kita telah dibodohi oleh rezim penindas, srigala dan anjing pemburu rezim tersebut telah mengejar, mencabik-cabik kehidupan rakyat, jangan biarkan mereka kembali bercokol dan mengembalikan ulah lama mereka menghancurkan bangsa Indonesia. Ingat mereka adalah mahluk egois dan tidak berperi-kemanusiaan yang siap menerkam siapapun, karena mereka haus harta dan darah, karena mereka telah terbiasa menjadi mahluk buas tak beradab.
Peri-kebinatangan bukan peri-kemanusian
Rezim penindas lebih identis kepada peri-kebinatangan: adu ayam, adu domba, kambing hitam, srigala dan anjing pemburu. Rakyat tidak dipandang sebagai manusia, tetapi sudah dipersamakan sebagai binatang, maka ada adu ayam, adu domba, kambing hitam, dan untuk menjaga kelakuan rakyat maka disediakan srigala, dan anjing pemburu yang telah dilatih, diajar, dididik untuk menghancurkan rakyat.
Suku telah diadu dengan suku, agama telah diadu dengan agama, ras telah diadu dengan ras lain, golongan diadu dengan golongan lain, inilah peri-kebinatangan mereka.
Wahai manusia, ingatlah akan peri-kemanusiaan, bersikaplah adil, ingatlah akan sesama, mari kita bangun negeri Indonesia ini secara bersama, jangan hancurkan dan cerai-beraikan negeri ini, karena yang tercerai akan hancur tercabik-cabik oleh srigala dan anjing pemburu petualang, mari kita kembalikan peri-kemanusiaan, jauhkan peri-kebinatangan, marilah bersatu-padu.
Kembalikan martabat bangsa, jauhkan militer dari sikap brutal, jinakkan srigala dan anjing pemburu, kalau perlu tangkarkan mereka di barak khusus, agar mereka tidak dapat bersi-maharajalela seperti yg mereka lakukan pada masa rezim penindas, kembalikan logika awal, dimana rakyat sebagai penguasa dan tentara dan birokrat, aparat yang dibayar oleh rakyat untuk keamanan dan kesejahteraan rakyat, dan bukan sebaliknya dimana tentara dan birokrat malah sewenang-wenang terhadap rakyat. Saat ini sudah waktunya dirubah !!!!
Jakarta, 12 November, 1999
Mas Bei
KATA-KATA YANG PERLU DIREFORMASI
Yang berwenang
Yang berwajib
Penguasa
Yang berkuasa, Penguasa
Pemerintah
Radio Republik Indonesia
Televisi Republik Indonesia
