Site icon Bambang Subaktyo's Blog

027 PERINTAH LISAN

027 PERINTAH LISAN

15 Januari 2001

Bukan main gembiranya saya mendengar seorang ponggawa telah diperintahkan ‘secara lisan’ oleh seseorang (tidak jelas siapa dia, atasan atau bukan?) untuk mencari pencongkel kaca spion mobil dari Eno Sgt (siapa dia, militer? atasan si ponggawa?) dan perintah telah berjalan, si Boncel, si pencongkel telah tertangkap dan dibawa ke polisi, lalu si ponggawa kabur membawa kaca spion. Mungkin dibawa ke Tanah Abang untuk apa!? Siapa yang tahu!?

Beginikah keadaan Indonesia saat ini?

Ponggawa dapat diperintah begitu saja: maju – mundur – tiarap – pukul – gebuk – tembak – xxx – dst dst, dengan perintah lisan di ‘masa bukan perang’ dengan sasaran rakyat sipil? Bahkan oleh seseorang yang bukan ponggawa, atasan si ponggawa? Atau Bossnya si ponggawa, atau tuan/nyonya-nya si ponggawa? Wah berapa banyak yang bisa punya ponggawa sebagai anak buah.

Nanti kalau ada yang marah, LSM, Komnas HAM, atau rakyat, mereka bilang saya diberi perintah atasan (lisan tentu saja!), dan si atasan bilang “ah saya tidak kasih perintah begitu!”, terus si atasan bilang, itu tanggung jawab si ponggawa yang bersalah, atasan kabur menghilang, seperti juga cerita di Kompas Minggu, 10 Juni 2000, yang satu bilang menyuruh, yang lain bilang disuruh, yang satu bilang tidak tahu menahu, yang lain bilang etc – etc – dst – dst. Dan sistem perintah lisan begini ini ada banyak, yang semuanya berlangsung karena si atasan-atasan itu memang cuma mau lepas tanggung jawab!

Memangnya Ini negara apaan sih!?

Kalau saja saat perang, bolehlah atasan (ponggawa) memerintahkan anak buah (atau bawahan, dengan pangkat lebih rendah) melakukan perintah lisan demi kecepatan komando operasi militer di lapangan, tetapi di saat ‘bukan perang’ nggak bisa dong ponggawa begitu main perintah untuk melakukan operasi militer (walau kecil-kecilan) terhadap rakyat sipil.

Atau memang ini masa perang? Perangnya ponggawa melawan sipil! Perangnya siapa!???

Memangnya ponggawa tidak punya batasan, terutama di masa bukan perang, untuk melakukan komando operasi berdasarkan perintah lisan, untuk mencari, menangkap rakyat sipil walau dia maling sekalipun!
Polisi mau dikemanain, atau memang dianggap tidak ada, jadi ponggawa perlu turun tangan langsung. Ini kan pelecehan profesi, profesi polisi juga profesi ponggawa, karena profesi ponggawa saat ini menjadi: tukang tangkap maling, tukang pukul orang tertentu (pejabat, bekas pejabat, penyelundup, bandar judi gelap, lokalisasi pelacuran, dll) tukang tembak, dst – dst.

Nggak enak, kan, karena satu dua orang oknum ponggawa yang menyalahi prosedur, jadilah ponggawa se belanga rusak semua.

Hei ponggawa, mulailah bebenah diri!

Jangan asal beri perintah kepada bawahan secara lisan untuk melakukan operasi terhadap rakyat sipil.

Kerjaan kalian itu menghadapi musuh bangsa, maling-maling, bajingan-bajingan, penjahat-penjahat yang mau merusak bangsa, musuh kalian itu bukan tukang congkel kaca spion! Cari musuh yang bener dong! Atau si Boncel sudah dianggap musuh bangsa, musuh negara? Harus diperangi! Keren deh profesi kalian saat ini, sudah jadi tukang tangkap maling.

Malu dong! Ngaca!
Memangnya rakyat disuruh bayar pajak untuk membayar kalian, sebagai tukang tangkap maling.
Kalian digaji oleh rakyat bukan untuk itu!
Kalian ponggawa digaji untuk melawan musuh!!!
Sekali lagi, ingat-ingat!! UNTUK MELAWAN MUSUH BANGSA DAN NEGARA!!!!!!!

* * *

Tulisan ini adalah bentuk kritik kepada para ponggawa yang lupa akan fungsi tugas dan kewajiban mereka, yang lupa bahwa segala biaya hidup para ponggawa itu dibayar oleh rakyat, dari pajak rakyat, dari kaos kaki, sarapan pagi, baju seragam, perumahan, senjata sampai peluru itu dibayar menggunakan uang rakyat. Dikritik keras atau dikritik halus akan tetap saja, mereka bisa tersinggung, karena kesalahan persepsi selama ini, mereka merasa sebagai yang berwenang, yang berkuasa, yang berhak untuk menentukan berbagai segi kehidupan rakyat, mereka lupa akan posisi mereka sebagai hamba dari rakyat, bukan penguasa terhadap rakyat.

Kata aslinya telah diganti dengan kata ‘ponggawa’. Semoga para ponggawa sadar akan posisi mereka, semoga …

Jakarta, 29 Mei 2015

* * *

Exit mobile version