Site icon Bambang Subaktyo's Blog

028 SANG PENJEGAL

028 SANG PENJEGAL

18 Desember 2000

A.R. penjegal
* dia telah menjegal MSP
* saat ini dia akan menjegal GD
* dia minta dijadikan wakil presiden, dengan MSP sebagai presiden
* pasti si A.R. akan menjegal MSP satu saat nanti

Dalam politik tidak pernah ada kawan sejati, yang ada kepentingan pribadi.

Demikian juga A.R. dalam berpolitik, dia mencari kawan dan membentuk perkawanan poros tengah untuk menjegal MSP menjadi presiden. Poros tengah ini menjadi poros jegal atau poros halang. Dari salah satu kawan baru yang bergabung dalam poros halang ini dipilihlah GD untuk dijadikan presiden. GD terlihat terpaksa menerima usulan kawan-kawan baru dari poros halang ini, agar tampuk kekuasaan tidak jatuh ke tangan boneka ORBA.

Selanjutnya kita semua tahu, per-‘kawan’-an dalam poros halang itupun buyar, karena sang ‘kawan’ yang terpilih menjadi presiden itu tidak mau mengikuti aturan yang ditetapkan oleh kawan-kawan poros halang. Maka per-kawan-an politik poros halang ini bubar, kawanpun berubah menjadi lawan, walau tidak tampak dengan mata awam.

A.R. mulai menggagas batu penghalang baru bagi sang bekas kawan dari poros halang yang lalu, sang kawan yang jadi presiden itu akan dijegal di tengah jalan, dan si A.R. ini terus menerus bicara kepada semua orang, bahwa dia telah salah pilih kawan, salah dalam memilih sang kawan dan menjadikan sang kawan itu presiden, dia lalu minta maaf, karena kesalahannya memilih sang kawan itu sehingga jadi presiden.

Rakyat awam tentu melihat sikap si A.R. ini begitu bijaksana, tetapi banyak orang melihat itulah akal-akalan A.R. dan poros halang selama ini, yang dengan sengaja memilih sang kawan tersebut menjadi presiden demi kepentingan pribadi dan golongan semata, dan juga banyak orang dapat melihat cara-cara kelompok poros halang yang lalu yang tidak etis sama sekali, yang begitu melanggar aturan main dalam pemilihan pemimpin bangsa, dimana poros halang itu menentukan kriteria seorang pemimpin hanya sebagai taktik untuk menjegal MSP, dan kesalahan poros halang yang melupakan persyaratan (kriteria) seorang pemimpin yang tidak boleh memiliki kecacatan yang dapat menghalangi sang pemimpin dalam menjalankan tugas-tugasnya, poros halang seakan-akan menutup mata akan persyaratan atau kriteria itu, yang jelas-jelas melanggar aturan UUD-45 dan melanggar persyaratan kriteria pemimpin dalam hukum agama Islam. Dimana seorang pemimpin boleh saja cacat inderanya tetapi tidak dalam kondisi indera itu tidak berfungsi sehingga kecacatan itu akan mengganggu kepemimpinan orang tersebut nantinya. Poros halang tidak mengenal etika sama sekali karena mengindahkan persyaratan seorang calon pemimpin, ataukan semua kawan-kawan yang ada di poros halang itu memang buta, tuna netra, buta huruf, buta aturan, atau malah kumpulan buta terong! Gila bener kelompok buta-buta ini!

Sekarang setelah sang kawan menjadi presiden dan tidak mau mengikuti permainan kawan-kawan dari poros halang, yang merupakan kumpulan buta-buta diatas, tidak mau menjalankan permainan yang sudah ditetapkan oleh kawanan buta-buta itu, maka sang kawan harus dijegal lagi. Jadi si A.R. ini sedang mempersiapkan batu ganjalan yang lebih besar agar GD terjungkal dari kursi kepresidenannya.

Begitu canggihnya kolaborasi A.R. dengan buto-buto dari kelompok ORBA, sehingga perkawanan buta-buta itu berhasil menjegal MSP mencapai kursi kepresidenan, dan sekarang ini perkawanan buta-buta ini mulai menyiapkan penjegalan berikutnya bagi GD. Bukan main!

Agitasi, mobilisasi dan skenario canggih mulai dijalankan A.R. untuk menjungkalkan GD. Dia begitu getol dan begitu antusias mengejar kepentingan pribadi, ditambah lagi dengan pernyataan si A.R. yang siap untuk mengerima kursi wakil presiden bila MSP menjadi presiden. Antusias atau over-acting?

Kiranya banyak orang sudah tahu akan ancang-ancang dari langkah A.R. berikutnya yang sudah pasti, kalau A.R. sudah menduduki kursi wakil presiden, maka dia tidak segan-segan untuk menjungkalkan kursi kepresidenan yang diduduki MSP, karena prinsip si A.R. ini: “tidak ada kawan sejati yang ada kepentingan pribadi!”

Akankah kita biarkan si A.R. yang gila jabatan kepresidenan, yang tidak memiliki kematangan, tidak memiliki kedewasaan ini dibiarkan melakukan manuver-manuver yang bertujuan mendahulukan kepentingan pribadi dan kelompok, terus bermain tipu-tipu rakyat awam. Lihat saja skenario dan taktik gilanya sudah mulai berjalan, para elit mulai bicara menjatuhkan GD, mereka-mereka ini sudah gila jabatan dan melupakan rakyat yang sedang sengsara, mereka tidak peduli dengan kesusahan yang sedang menimpa rakyat banyak, yang mereka pikirkan hanya mendapatkan kekuasaan untuk kenikmatan hidup pribadi, keluarga dan kelompok mereka saja.

A.R. dan kelompok buta-buta ini tidak pernah melihat kebawah, kepada kepentingan rakyat banyak, mereka hanya mau melihat keatas, bagaimana mencapai posisi kekuasaan tertinggi untuk kemudian menghancurkan rakyat bawah.

Akankah sekawanan buta-buta ini akan dapat menjadi pemimpin-pemimpin bangsa?

Jangan-jangan bila mereka melakukan kesalahan fatal yang berikutnya, mereka cuma bilang maaf, kami waktu itu buta, tidak melihat kalau ada buaya tidur di jalan? Padahal rakyat sudah terlanjur masuk dalam jurang kehancuran, enak banget sih gaya buta-buta ini, seenaknya menentukan apa yang mereka inginkan sendiri, sebodo amat dengan rakyat banyak. Beginikah kriteria pemimpin yang dinyatakan oleh para buta-buta, dan sifat atau karakter kepemimpinan yang mereka dambakan, yang semau gue, yang asal jeplak mulut, yang melanggar etika dan peraturan, demi keberhasilan kepentingan mereka sendiri, yang cuek terhadap kepentingan rakyat banyak?

Sebaiknya para buta-buta yang tidak tahu etika, tidak tahu aturan, yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompok ini harus segera dienyahkan dari gelanggang perwakilan rakyat, mereka harus segera dilengserkan dengan tidak hormat! Mereka hanya lintah-lintah raksasa yang duduk-duduk di kursi DPR/MPR yang terus bermimpi untuk dapat kembali menyedot darah rakyat, menjarah kekayaan bangsa.

***
Ternyata benar terjadi.
GD dilengserkan pada pertengahan 2001
(13 November 2014)

Exit mobile version