Site icon Bambang Subaktyo's Blog

029 Yang di DEPAN menjadi PANUTAN

029 Yang di DEPAN menjadi PANUTAN

Panutan adalah contoh, suri-tauladan, patokan, merupakan sosok (orang, tokoh) yang memberikan contoh perbuatan yang baik, membawa sifat dan sikap yang baik. Setiap orang akan melihat sifat dan sikap seseorang yang menjadi panutan, orang orang akan meniru sang panutan, apa yang dilihat pada seseorang yang dianggap panutan akan menjadi contoh, suri tauladan, patokan bagi banyak orang. Anak-anak dan remaja akan melihat dan meniru sifat dan sikap seseorang yang dianggap panutan.

Panutan selalu diposisikan di depan, setiap orang akan melihat kedepan melihat kepada sang panutan … maka setiap orang yang berada di depan seharusnya menjadi panutan bagi orang orang yang berada dibelakangnya … dan sebaliknya kalau seseorang tidak punya kualitas sifat dan sikap yang cukup untuk menjadi panutan, lebih baik mundur ke belakang.

Orang yang di depan itu:

Sebelum melanjutkan topik “Yang di DEPAN menjadi PANUTAN”, saya ingin membahas yang berikut ini dulu, karena hal hal berikut ini menjadi dasar dari topik “Yang di Depan menjadi PANUTAN”.

Kelompok Usia dan Kedewasaan
Manusia dibagi dalam 2 kelompok usia:
1) yang belum dewasa (anak-anak) dan
2) yang dewasa (orang dewasa).
Seseorang seharusnya memiliki kepribadian yang sesuai dengan kelompok usianya, bagi anak-anak boleh bersifat kekanak-kanakan atau sebagai orang dewasa tentu penuh kedewasaan … seharusnya!

Seharusnya! … tetapi sekarang, istilah inilah yang berlaku:
* anak kecil – anak besar, anak tambun, anak gede badan,
* anak muda belia – anak tua bangkotan, anak tua bangka,
* lelaki tulen – lelaki jejadian, perempuan tulen – perempuan jejadian.

Dulu, memang kelompok itu benar jelas, maka istilah berikut ini berlaku:
* anak kecil – orang dewasa,
* anak muda – orang tua,
* laki-laki – perempuan.

Kenapa dulu masih ada perbedaan berdasarkan faktor kedewasaan, atau berdasarkan jenis kelamin, kenapa sekarang hal itu menjadi samar?

Dulu ada: ada perbedaan ‘anak kecil – orang dewasa’, dan atau ada ‘anak muda – orang tua’, tapi … sekarang yang ada: ‘anak kecil – anak besar’ dan ‘anak muda belia – anak tua bangkotan’.

Sekali lagi, kenapa? Apa benar begitu?

Saat ini ada banyak orang yang seharusnya sudah dianggap dewasa, tua, arif, adil dan bijaksana, ternyata tidak banyak berbeda dengan anak-anak kecil yang masih muda belia … dalam hal perangai (sifat), dalam hal bersikap, berkepribadian, dalam hal kejujuran, dalam hal kebenaran, dalam hal sopan santun, dalam hal beragama, dalam hal kedewasaan atau ketidak-dewasaan … dlsb. Mungkin Anda masih ingat celotehan Gus Dur?: “. . . dasar masih TK, masih taman kanak-kanak!” saat menuding kelompok wakil rakyat waktu itu. Mungkin … ada benarnya!?

Kalau seorang manusia itu masih anak-anak, kecil dalam ukuran badan dan muda belia dalam ukuran usia, maka masih bisa diterima bila dia melakukan kesalahan kesalahan, karena memang masih belum dewasa, masih sedikit pengalaman, masih belum tahu adat-istiadat, belum kenal hukum dan peraturan, masih belum fasih agama, masih belum kenal etika yang berlaku didalam masyarakat, masih belum kenal sopan santun, belum kenal arti malu. Anak-anak akan diperlakukan khusus dalam banyak hal, harga makanan bisa berbeda… lebih murah, harga tiket pesawat atau kereta api bisa berbeda, ongkos cukur rambut bisa berbeda, sampai dengan perbedaan hukuman atas suatu pelanggaran hukum juga berbeda. Anak-anak belum diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor, karena dianggap belum mampu mengantisipasi keadaan karena belum cukup pemahaman akan risiko bahaya. Dan banyak lagi hal lain yang menggambarkan keadaan anak-anak yang masih berada dibawah pengawasan orang tua, orang dewasa. Orang dewasa sebagai pengawas, orang tua dan atau wali, itulah yang bertanggung jawab atas perbuatan anak-anak-nya.

Selama 17-18 tahun sejak lahir, seseorang harus belajar untuk jujur, mengenal yang benar dan yang salah, untuk berdisiplin, untuk taat hukum, untuk mengerti agama, untuk mengenal etika – sopan santun, mengenal adat-istiadat, dst…dst.

Seseorang masih tetap disebut sebagai anak-anak sampai mereka mencapai usia tertentu, dimana si anak dianggap telah menjalani proses pembelajaran yang cukup untuk masuk ke dunia orang dewasa yang penuh tanggung jawab dalam segala hal seperti peraturan, hukum, agama, etika, adat-istiadat, sopan-santun dlsb. Selama masa pembelajaran itu dia disebut anak-anak atau anak kecil, baru setelah melewati semua proses pembelajaran itu dia boleh disebut orang dewasa. Boleh disebut sebagai orang dewasa, tetapi tidak mutlak!

Nah, orang dewasa diharapkan sudah mengerti, memahami, berbagai aturan kehidupan, dari peraturan hukum, agama, etika, adat-istiadat, sopan-santun dlsb yang berlaku di daerah tempat tinggalnya. Kita berharap orang itu bisa berlaku jujur, taat hukum, ber-etika, penuh sopan santun, arif, adil, bijaksana, dst…dst.

Tetapi, lihatlah … saat ini ada banyak manusia yang sudah berbadan besar dalam ukuran tinggi, lebar dan tambun, berusia tua, bahkan bangkotan dengan rambut, kumis, dan jenggot sudah mulai putih… TOH TETAP tidak kenal aturan, tidak tahu diri, tidak punya malu, tidak punya etika, tidak kenal sopan santun, tidak mau mengalah, selalu mau menang sendiri, selalu mendahulukan kepentingan dirinya sendiri, selalu mengedepankan otot dan urat, selalu membawa bawa senjata, selalu menggunakan kekuasaan, selalu berusaha mengangkangi segala harta milik orang lain bahkan milik bangsa-negara, selalu berusaha menghancurkan orang lain, terus menerus berbohong tipu-tipu dengan strategi yang lihai, tidak malu memelintir ayat ayat agama, memutar balikkan hukum, dst…dlsb. Bahkan menjelek-jelekkan orang lain, mengumpat orang lain, menyebar fitnah, merajuk, bawel, ember, membesar-besarkan penderitaannya, dst…dst. Yang laki-laki dewasa bisa terlihat seperti wanita, yang wanita terlihat macho seperti laki-laki. Jadi tidak mutlak dewasa meski terlihat tinggi besar tambun lebar tua dan bangkotan … masih ada kemungkinan tetap memiliki jiwa ke-kanak-kanakan. Maka benarlah celotehan Gus Dur waktu itu!

Kalau seorang anak kecil berusaha menarik perhatian orang disekitarnya dengan melakukan gerakan gerakan overacting, berteriak, membuat gaduh (keributan), melompat lompat, memukul, menendang, menangis ataupun tertawa keras, itu masih bisa dimaklumi, karena anak itu masih belum kenal ukuran standard perilaku orang dewasa … tetapi kalau orang tua bangkotan malah terus berbohong saat tertangkap karena kejahatan korupsi, terus berkelit dengan menggunakan pengacara handal dan mahal, terus mengecohkan pandangan masyarakat dengan tampilan agamawi … bukankah sikap demikian masih tetap sama seperti sikap kanak-kanak, maka sang pejabat koruptor itu bisa kita anggap sebagai anak besar, anak tua dan anak bangkotan … tetapi … bukan anak yang belum tahu peraturan dan hukum, bukan anak yang belum tahu etika, bukan anak yang belum tahu adat-istiadat, bukan anak yang belum tahu agama, bukan pula anak yang belum kenal malu … melainkan anak besar tua bangkotan yang tidak kenal peraturan dan hukum, tidak kenal etika, tidak kenal adat-istiadat, tidak kenal agama, dan tidak punya rasa malu … lihatlah kejadian-kejadian yang sudah sering kita tonton di media: saat seorang pejabat yang dikenal ‘fasih’ beragama ditangkap, digiring ke KPK atau dibawa ke pengadilan, mereka tersenyum seakan penuh kebahagiaan, seakan tidak kenal dosa, seakan tidak melakukan kesalahan … dan lihatlah saat seorang penjahat koruptor dijatuhi hukuman, malah tersenyum gembira, sumringah penuh kebahagiaan, tebar pesona … dst…dst. Serasa dunia sudah terbalik … atau cuma logika kita bersama yang sudah terbolak-balik!?

Atau kita lihat saat-saat menjelang pemilu ini, kita melihat anak-anak besar, tua dan bangkotan yang saling melempar hujatan dari yang satu kepada yang lain, melepas fitnah-fitnah menjelek-jelekkan yang lain, padahal mereka sendiri tidak jelas apakah memang sudah cukup untuk dianggap dewasa, arif, adil dan bijaksana. Belum lagi ada anak-anak laki besar tua bangkotan yang bawel bercerita akan penderitaan dirinya … katanya dia didzolimi orang banyak, didzolimi oleh sosial media … apakah ini anak laki tulen atau cuma anak laki jejadian!? Atau cuma sekedar anak-anak sedang overacting minta perhatian!?

Nah … itulah penggambaran manusia berdasarkan ukuran besaran badan dan usia, yang kanak-kanak perlu belajar dari banyak sumber, dari buku, dari guru, dari media, dari film dll … mereka perlu diberi contoh-contoh nyata dari orang dewasa agar mereka bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab, yang mengerti peraturan dan hukum, yang mengerti agama, yang tahu etika dan sopan santun, yang tahu adat-istiadat, dst.

Jadi, jelaslah, orang orang dewasa harus berdiri di DEPAN dan menjadi PANUTAN. Nah yang berdiri di DEPAN itu harus orang dewasa yang punya kepribadian, yang patuh peraturan, patuh hukum, berdisiplin, beretika, penuh sopan santun, tahu adat-istiadat, punya rasa malu, jujur, arif, adil, bijaksana … dst. Yang di DEPAN itu bukan sekedar anak besar tua dan bangkotan yang tidak layak menjadi panutan.

Mari kita lanjutkan lagi topik “Yang di DEPAN menjadi PANUTAN”

Coba kita lihat manusia-manusia yang duduk di depan di dalam kendaraan umum, yang menentukan arah dan tujuan, yang menentukan belok kiri atau kanan, maju mundur, bahkan menentukan hidup dan mati para penumpang. Orang-orang itu biasa disebut sebagai sopir, entah jenis apa saja, sebut saja sendiri modus transportasi yang mana. Coba lihat bagaimana mereka bertingkah polah selama dalam perjalanan … apakah mereka patut dianggap sebagai panutan!? Lihatlah, mereka berhenti semaunya, di depan simbol S ber-garis miring yang berarti dilarang berhenti, mereka akan berhenti … di perempatan jalan saat lampu hijau telah menjadi merah, mereka terus saja melaju tak peduli akan keselamatan penumpang, tak peduli akan bahaya yang bisa mengancam pengendara yang sedang mendapat lampu hijau … lihatlah mereka berhenti dimana mereka suka, di tengah tengah jalan, di jalur ke dua bahkan di jalur paling kanan … turunkan saja penumpang itu, entah anak kecil, lelaki dewasa, kakek-kakek, nenek-nenek, ibu hamil, orang cacat, siapapun juga … lihatlah mereka mengisi dan memaksakan penumpang masuk ke dalam kendaraan mereka sepenuh-penuhnya, menerobos jalur khusus setiap ada kemungkinan, saling serobot satu sama lain, saling potong atau saling menghalangi … mereka tidak peduli akan bahaya yang mengancam orang lain. Lihatlah mereka merokok saat mengemudi, membuang botol bekas di sembarang tempat, membuang bungkus nasi rames di sembarang tempat, bicara kotor dan kasar, memandang wanita bagai singa siap menerkam kambing muda, dst…dst. Lihat juga bagaimana sopir bajaj membawa kendaraannya, belok sana belok sini, berhenti sekonyong konyong, ngebut semau gue, … dst. Atau tukang ojek sedang mengejar waktu dan setoran, melaju melawan arus (arah), memotong kendaraan lain tegak lurus, berbelok di tempat tak boleh berputar, ngebut di jalan tidak rata … dst.

Lalu siapakah yang akan diberi panutan oleh para sopir atau para tukang ojek itu!?

Setiap orang yang berada di belakang mereka itulah orang-orang yang akan belajar dari sikap, tingkah laku, ulah-polah para sopir dan tukang ojek itu. Bisa saja mereka yang berada di belakang itu adalah orang-orang dewasa, yang malah setuju akan perilaku itu, karena merasa ingin cepat sampai, karena merasa ingin segera turun di tempat tujuan sesegera mungkin, dan mungkin merasa gembira karena merasa menjadi bagian dari ke’GILA’an saat kendaraan yang ditumpangi itu menzolimi kendaraan lain terutama kendaraan pribadi, apalagi kalau sang pengendara yang sedang di-kerja-i itu seorang wanita. Cobalah tegur sang sopir atau sang kenek karena ulah mereka … kemungkinan besar, jawaban ini yang akan Anda dengar: “Bayar dua ribu kok pengen selamat!”. Belum lagi ulah mereka yang membajak kendaraannya sendiri, merampok para penumpang … bekerja sama dengan para penjahat.

Orang dewasa yang tidak suka akan tingkah polah sopir-sopir demikian, akan berusaha berdiam diri, menyerah pasrah … paling-paling mencoba berdoa agar cepat sampai dengan selamat di tempat tujuan.

Nah, kalau yang berada di belakang mereka itu anak-anak kecil, anak-anak generasi penerus bangsa, dan mereka melihat tingkah polah semau gue, kesetanan, penuh kebencian, pamer kekuasaan akan kebesaran kendaraan mereka terhadap kendaraan pribadi yang lebih kecil … maka anak-anak ini tentu mendapatkan panutan ‘yang benar’ bagaimana bersikap ‘yang benar’ di jalanan … seperti tingkah polah para sopir itu. Tidak perlu kenal aturan, belok semaunya, berhenti semaunya, merokok dimana saja, buang sampah bebas bebas saja, berkata kasar, jorok dan pelecehan tidak perlu malu … LALU, apakah panutan yang begini ini yang akan terus dibiarkan diperoleh anak-anak generasi penerus bangsa!?

Naik bajaj juga tidak jauh berbeda, naik ojek akan sama juga, si tukang ojek kan tidak perlu menjamin keselamatan sang penumpang, malah kalau penumpangnya wanita boleh boleh saja ditakut-takuti, dengan berkendara serampangan. Sopir-sopir atau si tukang ojek, jelas ingin segera menyelesaikan perjalanan dengan cepat, turunkan penumpang dengan cepat, angkut penumpang dimana saja agar segera mendapatkan uang sesegera mungkin, sebanyak mungkin, agar bisa segera membayar setoran, agar uang yang tersisa itu bisa lebih banyak lagi.

Anggaplah anak-anak Anda tidak naik angkutan umum, tetapi Anda antar sendiri ke sekolah. Apakah kendaraan umum yang berada di depan itu yang sedang menjalankan tingkah-polah semau gue itu tidak akan diserap sang anak!? Tentu tidak akan jauh berbeda kan, anak-anak yang didalam kendaraan ugal-ugal-an ataupun anak-anak yang berada diluar kendaraan umum itu, tetap akan memandang, bahwa itulah panutan ‘yang benar’!

Apalagi, bila Anda seorang bapak ataupun seorang ibu yang mengantar anak-anaknya ke sekolah, dan ingin segera menuntaskan perjalanan pergi-pulang itu dalam waktu se-singkat-singkat-nya, boleh jadi Anda akan memberikan contoh bagaimana mempersingkat waktu dan perjalanan, dengan memotong arus, berkendaraan melawan arah, berbelok di tempat dilarang berbelok, bersikap kasar kepada orang lain, mendzolimi orang lain … dan itu dilakukan didepan anak-anak Anda sendiri!!! Sebuah panutan ‘yang baik’ telah Anda berikan kepada anak-anak Anda.

Lalu, ada orang tua yang membiarkan anak-anak dibawah umur mengendarai kendaraan, orang tua bangga, anak mereka sudah bisa ‘mandiri’ … maksudnya, sudah bisa ‘mati sendiri’. Anak-anak tidak mau tahu, naik motor bertiga, melawan arah, berjalan semaunya, kebut-kebut-an seakan ajang ‘ADU NYALI’ … semakin nekat semakin bangga. Sudah ada anak-anak yang ngebut di jalan, naik mobil terbang, makan korban sampai 7 orang. Dari kecil sudah dibiarkan melanggar aturan, nah kalau besar nanti … bagaimana?

Kita coba berandai-andai di sekolah. Guru-guru yang hidup dengan keterbatasan penghasilan, akan berusaha mencari tambahan keuangan disana-sini, dengan berbagai cara, menjual kunci jawaban ujian, memberikan les tambahan, menganak-emaskan murid tertentu, dlsb. Murid-murid yang berasal dari keluarga ‘kaya’ akan bersikap semau gue kepada para guru, para guru hanya dianggap orang bayaran, karena pernah dibayar untuk mendapatkan lembar jawaban, dibayar untuk les tambahan, dlsb. Hubungan guru-murid yang salah itu akan dipandang sebagai pembenaran oleh anak-anak, dianggap itulah yang benar. Sikap guru-guru yang benar tidak akan disalin, sikap guru-guru yang salah akan diperbanyak dan diperkeras lebih jauh sebagai panutan yang benar.

Di rumah, kita melihat siaran televisi, ada banyak gambaran panutan yang salah, mulai dari tingkah polah pembawa acara yang juga tidak kenal malu, ada bintang tamu yang tidak tahu malu, ada acara gosip-gosip yang membahas aib orang lain, ada berita pejabat yang korupsi, ada pejabat yang jelas berbohong didepan umum, ada celotehan bawel anak besar tua bangka … dst…dst. Cerita tentang pejabat nikah siri dengan banyak wanita, atau pejabat yang punya wanita-wanita simpanan sudah sering kita lihat di televisi, ada cerita wanita wakil rakyat berselingkuh, ada hakim berselingkuh, atau aparat keamanan yang berselingkuh dlsb juga sudah jamak kita lihat. Maaf, semua yang berperilaku salah itu disebut OKNUM ya … oknumnya banyak banget sih!?

Kembali ke kendaraan umum.

Para juragan pemilik armada kendaraan umum seharusnya mengajarkan hal-hal yang benar kepada para sopir binaan mereka, agar sopir-sopir itu tahu peraturan dan hukum, agar sopir-sopir itu mengenal etika, adat-istiadat, dan agama, agar sopir-sopir itu menghargai orang lain, menghargai kaum wanita, menghargai pengendara lain, mengenal sopan santun dan menjalankannya, mengenal tata tertib dan disiplin, mengenal rasa malu, agar sopir-sopir itu bisa menjadi panutan bagi orang-orang yang duduk di kursi dibelakangnya, baik orang dewasa apalagi anak-anak generasi penerus bangsa. Jangan hanya memikirkan bagaimana bisa kaya-raya dari uang setoran para sopir tetapi tidak peduli akan nasib orang lain, tidak peduli tingkah-polah sopir-sopir yang menjadi panutan ‘yang baik’ bagi generasi penerus bangsa. Juragan juragan pemilik armada kendaraan umum itu berada di depan para sopir … tapi toh mereka sama saja, tidak peduli, tidak mau tahu bagaimana tingkah laku sopir sopir binaan mereka, tidak peduli kalau bawahan mereka itu menjadi alat pembinasaan moral mental generasi penerus bangsa … yang mereka pedulikan, bagaimana bisa mengisi penuh kantong kantong mereka sepenuh-penuhnya, secepat-cepatnya. Juga tidak peduli kalau kendaraan mereka itu sudah uzur berumur 30 tahun-an, yang penting bisa menggelinding titik.

Seharusnya, para penentu kebijakan dan kebijaksanaan itu tidak hanya mengejar pengumpulan uang dari hasil jualan izin trayek belaka, tetapi mulailah berfikir bagaimana bisa merubah sistem transportasi yang acakadut saat ini agar tidak menjadi panutan ‘yang baik’ bagi generasi penerus bangsa.

Para pemimpin, para wakil rakyat, rubahlah situasi dan kondisi yang semrawut ini dengan merubah dirinya lebih dulu agar tidak mirip anak-anak besar tua dan bangkotan semata, tetapi menjadi orang tua dewasa yang arif jujur adil dan bijaksana. Jangan lagi berfikir hanya demi kepentingan perut dan bawah perut semata, jangan hanya ingin menjadi ketua ataupun anggota arisan-bancakan pat-gulipat saja, tetapi cobalah menjalankan agama dengan benar yang penuh cinta kasih sayang kepada sesama dan alam semesta.

Kalau Anda tidak sanggup menjadi panutan yang benar, lebih baik jangan berdiri di depan!
Mundurlah, ngumpet sana … entah dimana, nikmati saja hasil arisan-bancakan pat-gulipat itu!

***

Berbicara mengenai siapa yang di DEPAN dan menjadi PANUTAN, sebenarnya lebih rumit daripada apa yang saya utarakan disini, ada lebih banyak lagi yang bisa dan perlu dibahas, lebih banyak lagi jabatan, fungsi, jenis orang yang bisa dibedah, apakah mereka itu sedang menjadi panutan atau cuma sekedar panuan, cuma orang yang berpenyakit menular, menularkan penyakit busuk bagi generasi penerut bangsa. Panutan yang baik memang sulit menular, panutan yang buruk akan lebih mudah menghinggapi banyak orang.

Nah, siapakah yang paling bertanggung jawab dalam segala hal mengenai keberadaan panutan yang benar-benar baik dan ketiadaan panutan yang baik itu?

Tentu saja orang yang paling didepan, terdepan … siapa? Tebak saja sendiri deh.

Kedewasaan Fisik, Kedewasaan Jiwa dan Kedewasaan Hati

Secara umum, ketika seorang anak akan beranjak dewasa, kita melihat perubahan pada penampilan fisiknya, yang sering disebut dengan akil balik. Dari fisik anak-anak berubah ke kedewasaan fisik.

Pertanyaannya: Apakah kedewasaan fisik tersebut diiringi dengan kedewasaan jiwanya?

Seharusnya memang demikian! Seseorang yang beranjak dewasa harus diimbangi dengan kedewasaan jiwa dan kedewasaan hati! Tetapi benarkah kedewasaan jiwa dan kedewasaan hati itu bisa tercapai bersamaan dengan kedewasaan fisik!?

Sungguh! … saat ini, sangat sulit mendapatkan ketiga hal kedewasaan itu datang bersamaan, dimana kedewaan fisik diiringi (diimbangi) dengan kedewasaan jiwa dan kedewasaan hati. Meski fisik sudah terlihat dewasa, jangan terlalu berharap menemukan kedewasaan hati, jiwanya saja belum tentu dewasa!!!

Kondisi inilah yang terjadi pada saat ini, banyak jiwa kanak-kanak tetap bersemayam (atau terjebak!?) di dalam tubuh orang dewasa yang masih suka bermain-main seperti anak kecil dan semua hal dianggap sebagai permainan, tidak mau bertanggung jawab tapi senang kalau mendapat hadiah (gratifikasi????), suka ngambek cari perhatian, suka menjelekkan orang lain, dlsb, dan.. yang paling mengerikan jenis inilah yang sekarang banyak dianggap sebagai panutan dan dijadikan pemimpin!!! Padahal syarat utama dari seorang panutan adalah kedewasaan hati bukan tampilan fisik.

Jadi … meski sudah berbadan besar, tambun dan lebar, berusia tua bangkotan tetap bukan jaminan kalau seseorang itu sudah mencapai tahap kedewasaan secara total, karena bisa jadi orang itu hanyalah kanak-kanak berbadan tinggi dan besar, tambun dan lebar, tua dan bangkotan tanpa kedewasaan jiwa dan kedewasaan hati.

***

Untuk pimpinan yang akan datang, saya akan pilih orang dewasa meski berbadan kecil, tidak terlalu tua, tidak bangkotan … punya niat bekerja, rajin, mau mengatur dan memperbaiki Indonesia … siapa? Adakah?

Coba bandingkan dengan calon-calon yang bersosok besar tua bangkotan terlihat agamis tapi berjiwa kanak-kanak, sering marah, tebar fitnah dan terus berbohong!

***

Sebetulnya, buat apa saya membahas hal-hal di atas, karena semua sudah terbiasa dengan keadaan itu, sudah ‘jamak’ terjadi, sudah tidak terpikirkan kalau semua kebiasaan buruk itu akan menjadi sifat yang permanen, menjadikan mental masyarakat seperti tampilan yang biasa kita lihat … buat yang sudah bisa menerima hal itu, itu adalah normal … tetapi buat orang yang datang dari negeri yang berdisiplin taat peraturan hukum, punya etika, punya sopan santun … sifat-sifat semau gue tidak peduli itu akan dilihat sebagai sifat manusia barbar … sekedar Phytecanthropus erectus, manusia purba berjalan tegak pakai jas dan dasi naik mobil mewah tapi tetap saja barbar!

Maukah kita berubah?

Demi … demi … demikianlah!!!

Tulisan ini hanya sekedar pembuka wacana, paradigma … melepaskan kita dari kebisaan menerima banyak hal buruk yang terjadi di hadapan kita karena keterbiasaan melihat kejadian buruk itu atau bahkan karena keterbiasaan kita ikut melakukan perbuatan buruk itu.

Ingat, untuk bisa Bangsa Negara Indonesia Jaya di Masa Depan, hanya bisa dicapai dengan adanya Generasi Penerus Bangsa yang Jempolan, yang telah mendapatkan suri ketauladanan yang baik, yang telah melihat kebenaran dan keadilan itu dengan mata-kepala mereka sendiri. Kita harus memberi contoh, suri tauladan, dan panutan yang baik bagi mereka.

Jakarta, 20 April 2014

Bambang Subaktyo

N/B.
Mohon maaf atas kata-kata yang tidak pas di hati pembaca.
Terima kasih atas masukan dan koreksi dari teman-teman.

Bila Anda ingin artikel ini dalam bentuk PDF silahkan unduh.

Exit mobile version