Site icon Bambang Subaktyo's Blog

034 LANGKAH YANG TIDAK BENAR

034 LANGKAH YANG TIDAK BENAR

Negara ini sudah melangkah ke arah yang tidak benar.

GEJALA APA INI?

Apakah begini cara penyelesaian masalah yang kita inginkan. Jadi kalau gigi sakit, maka cabut gigi, kalau kaki sakit maka cabut kaki, dan bila kepala pusing maka cabut kepala? Begitu mudahnya kita mengambil langkah yang cepat dan pasti bukan yang susah.

Coba kita lihat kasus-kasus tersebut diatas yang terkait dengan Pendidikan Mental – Moral generasi penerus bangsa.

Kasus 1) dan 2), dimana remaja banyak terlibat dalam kenakalan, kriminalitas, narkotika, penyalahgunaan obat-obatan, penyakit kelamin, penurunan disiplin, kehilangan jati-diri, tidak punya idealisme, tidak etis, tidak bermoral, tidak ada sopan-santun, galak, keras-kepala, liar, tidak tahu aturan, suka melanggar, pemarah, tidak sabar, manja, egois, dll.

Apakah kalau mereka sakit kepala, maka kepala mereka yang kita cabut?

Tentu kita tidak akan mengambil cara yang mudah dan seenaknya yang kita jalankan. Tetapi kelihatanya, demikianlah tindakan-tindakan yang terlihat belakangan ini, mereka ditangkapi, diberangus, dilarang berkeliaran, dilarang berexpressi, dilarang melakukan kegiatan, dan lain-lainnya. Kemudian tempat kejadiannya juga ikut dikenakan sangsi, dimana terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh segelintir pemuda yang ingin mengambil keuntungan dari sesama mereka, maka tempat pertemuan tersebut yang tidak tahu-menahu, dan tidak terlibat, dikenakan sangsi, dilarang beroperasi, disegel, dicabut ijin usahanya, dll. Mudah kan untuk menghilangkan kemungkinan pemuda dan remaja melakukan pelanggaran, dengan membuang alat-alat yang salah tersebut. Jadi sakit gigi maka cabut gigi; sakit kaki maka cabut kaki; sakit kepala maka cabut kepala.

Bagaimana kita tahu bahwa perlakuan yang dijalankan oleh aparat adalah benar. Bagaimana dan apa langkah yang seharusnya dijalankan, apa latar belakang semua ketidakberesan yang terjadi dalam diri para pemuda dan remaja ini.
Memang mudah untuk melakukan cabut gigi, cabut kaki dan cabut kepala, tetapi risikonya kita tahu, kehilangan anggota badan dan kehilangan nyawa. Jadi jelas bukan yang begini yang harus dilakukan untuk mengantisipasi keadaan. Kita perlu melakukan pemberantasan asal-muasal, sebab-musabab dari semua sakit-sakit tersebut diatas lebih dahulu, dengan menelusuri sampai akar-akarnya, kalau bisa.

Apa Yang Mereka Butuhkan Dalam Pengembangan Diri?
Remaja dan pemuda membutuhkan:

RUANG

Apakah kita sudah memberikan mereka ruang yang cukup untuk pengembangan diri mereka? Ruang untuk bermain, ruang untuk bercengkerama dengan sesama mereka, ruang untuk berdiskusi, ruang untuk mendapatkan kepandaian dan pengetahuan, ruang untuk berlomba adu kekuatan dan adu segala kepandaian, dan segala ruang yang lain.

Apakah kita sudah memberikan mereka ruang tersebut???

Sulit rasanya mencari ruangan-ruangan tersebut, karena banyak sekali ruang yang seharusnya diberikan kepada mereka untuk pengembangan diri telah diambil baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, dengan baik-baik maupun dengan kekerasan, dibeli maupun digusur, dengan ijin ataupun tanpa ijin, dan digantikan dengan perumahan, pertokoan, perkantoran, industri atau hal lain yang jelas tidak untuk pengembangan diri mereka.
Dan sebagai gantinya, maka ruangan yang lain datang, seperti pertokoan, diskotek, bar dan nightclub, dingdong yang banyak membawa kepada pembentukan watak dan karakter yang buruk, manja, menyesatkan, merusak mental dan fisik.

WAKTU

Apakah kita sudah memberikan mereka cukup waktu untuk berbicara, berdiskusi, berhandai-handai, waktu untuk pengembangan dan pengarahan dalam pembentukan diri remaja dan pemuda ?
Kita sudah terlalu sibuk dalam mencari segala macam kesempatan, kesempatan untuk kaya (uang), kesempatan untuk berkarir, kesempatan untuk naik pangkat, kesempatan untuk tenar, dan segala macam kesempatan lain. Kita telah melupakan mereka, kita telah menelantarkan mereka selama ini, orang tua sudah sibuk mencari kesempatan-kesempatan, si bapak pergi bekerja, si ibu sibuk berorganisasi, si anak tidak mendapatkan waktu untuk berkumpul, bercengkrama, berhandai-handai dengan orang tuanya, dan mereka tidak mendapatkan nasihat, kesempatan bertanya, ataupun teguran yang langsung karena adanya kesalahan tindakan mereka, karena orang tua sibuk semua.

UANG

Adakah remaja dan pemuda mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan uang dengan benar, adakah kesempatan-kesempatan untuk itu dipersiapkan bagi mereka, bukan dalam bentuk memperkerjakan buruh anak-anak yang seharusnya tidak mencari uang tetapi bermain dan bersosialisasi dengan sesama dalam bentuk permainan dan pendidikan. Kita tidak melihat adanya kesempatan itu, tetapi kita melihat kebalikannya, dimana setiap hal yang akan dijalankan, untuk dapat bermain, untuk dapat berhandai-handai dengan sesama, untuk dapat mengembangkan diri, untuk dapat menjadi pandai, untuk mendapatkan pengetahuan, untuk dapat lain-lain, semuanya memerlukan uang.
Sekolah harus bayar, bermain harus jauh dan tidak gratis, pengetahuan mahal, pendidikan ketrampilan mahal, tamasya dan piknik jauh dan mahal. Segalanya harus dengan uang, uang dan uang!!!

KESEMPATAN

Setiap remaja dan pemuda pasti berkeinginan dapat menjadi seseorang yang mampu, perpendidikan, memiliki ketrampilan dan kebisaan, mempunyai masa depan yang cerah, dan dapat diterima dalam keorganisasian dan kemasyarakatan, dapat beradaptasi dalam kehidupan sosial-politik. Semua ini merupakan satu tujuan yang didambakan semua remaja (pemuda/i), mereka menuntut kesempatan yang sama bagi semua, tidak dibatasi atau digolong-golongkan, merata baik bagi yang kaya maupun yang miskin, tidak terbatasi oleh kesukuan ataupun kedaerahan.

Apakah kesempatan untuk itu ada?

Benarkah kesempatan itu adil, tanpa perbedaan, tanpa diskriminasi?

Kita dapat melihat adanya ketidak-adilan untuk mencapai kesempatan ini. Hanya yang kaya yang dapat sekolah sampai ke perguruan tinggi, karena memerlukan biaya yang tinggi, tidak terbatas sekolah dan perguruan tinggi swasta saja yang mahal, bahkan sekolah dan perguruan tinggi negeri-pun memerlukan biaya yang tinggi. Kursus ketrampilan dan pendidikan kejuruan yang singkat memerlukan biaya yang mahal, dan itupun tidak dijamin dengan mutu yang baik. Buku-buku masih terbatas dan masih mahal, dan sudah tentu tidak tersebar dengan baik sampai ke pelosok negeri.
Sudah lulus sekolah, kursus, akademi ataupun perguruan tinggi tidak pula terjamin akan mendapatkan kesempatan kerja, karena belum adanya management kesempatan kerja yang mendukung untuk itu, sehingga banyak terjadi dimana potensial sumber daya manusia terdapat di suatu daerah tetapi tidak cukup kesempatan kerja dan ada daerah dengan banyak kesempatan kerja tetapi potensial sumber daya manusianya tidak cukup atau tidak tepat untuk pemenuhan kesempatan kerja tersebut. Kalaupun mereka sudah bekerja, mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk berkarier yang adil, yang tidak terbatas oleh ras (suku, bangsa), golongan, kedaerahan, agama ataupun kepercayaan dan tidak dibatasi oleh asal usul (karena koneksi atau kekeluargaan). Mereka harus dapat maju karena kemampuan dan bakat serta usaha mereka, dan tanpa batasan yang dibuat-buat.

Sebagai bahan pemikiran, masih ada ras tertentu yang banyak menjadi pemilik perusahaan industri atau jasa yang menerapkan diskriminasi berdasarkan suku, bangsa, golongan, agama, koneksi ataupun kekeluargaan dalam penempatan seseorang dalam jabatan di perusahaan mereka. Ada diskriminasi yang lunak sampai yang demikian kuat dan kerasnya, sehingga pribumi dan warganegara Indonesia sendiri yang dikorbankan.

Kita harus merenungkan dan memikirkan kemungkinan cara dan mengupayakan pemerataan penyebaran kesempatan-kesempatan ini bagi semua remaja (pemuda/i), tanpa batasan kaya atau miskin, tanpa kesukuan atau golongan atau kedaerahan.

MASA DEPAN

Remaja dan pemuda harus dapat melihat kedepan akan adanya jaminan masa depan bagi mereka, dengan semua kemungkinan ruang waktu dan kesempatan yang merata tanpa adanya diskriminasi dalam segala hal. Mereka harus dengan gamblang dan dapat secara mudah menjabarkan langkah-langkah yang perlu mereka ambil untuk dapat mencapai masa depan yang gemilang dan penuh harapan. Mereka harus dibebaskan dari gambaran kesulitan dalam pembiayaan sekolah dan pendidikan ketrampilan mereka.

FIGUR CONTOH, PANUTAN

Saat ini kita kesulitan untuk dapat memberikan mereka figur contoh yang dapat dijadikan panutan bagi mereka. Panutan yang memiliki unsur-unsur: kegagahan, keberanian, kejujuran, keyakinan, kekuatan, kepandaian, kepahlawanan, dll.

Ambil saja unsur kegagahan. Unsur kegagahan yang menjunjung keberanian dan kejujuran, dengan keyakinan yang kuat, dan memiliki kekuatan fisik dan mental, dengan kepandaian yang super dan wah, dengan semangat kepahlawanan yang berani membela yang lemah dan yang tertindas.. Demikian pula bila kita mulai dari unsur kejujuran, maka kalimatnya menjadi: kejujuran dan keyakinan yang … dst.

Apakah gambaran atau figur demikian masih mungkin didapatkan dalam kehidupan nyata, dengan adanya seorang tokoh atau lebih, yang memiliki unsur-unsur demikian yang dapat dilihat, disentuh, disapa, didengar dan dipuja ?

Sulit rasanya mendapatkan orang atau tokoh yang boleh menjalankan unsur-unsur tersebut, karena bila saat ini ada seseorang yang seperti demikian, maka ia tidak akan ada (‘exist’) cukup lama, karena dalam waktu singkat ia akan disebut sebagai ‘SUBVERSIB’, karena ia akan dengan gagah berani menyatakan dengan jujur dan dengan keyakinan yang kuat dan dengan semangat kepahlawanan akan menunjuk dimana terdapat ketidak-jujuran dan ketidak-benaran, dan ia akan dengan berani melawan penindasan dan kecurangan, korupsi dan kolusi, keculasan dan penipuan yang terjadi dalam kehidupan negara ini. Tentu ia tidak akan dapat berlama-lama menampilkan semua unsur kebaikan tersebut, karena ia akan dengan segera hilang dari peredaran karena dianggap musuh negara. …. ?????
Kok bisa????

APAKAH HAL-HAL TERSEBUT DIATAS SUDAH TERSEDIA???

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita mencari jawaban dengan melihat kepada lingkungan, tatanan masyarakat, peraturan pemerintah, kebijakan pemerintah, kegiatan pengusaha, sistem pendidikan.

Kita perlu melihat bagaimana dan apa yang disediakan bagi remaja dan pemuda saat ini. Bagaimana masyarakat menyelenggarakan pendidikan bagi remaja dan pemuda dalam segala hal, seperti pendidikan moral, agama, etika, sex, politik, sosial dan wawasan lingkungan.

Banyak peraturan pemerintah, kebijakan pemerintah yang perlu ditelaah, diteliti, dan dipertimbangkan lebih lanjut apakah cukup menunjang dalam pengembangan remaja dan pemuda/i, baik dalam persiapan diri mereka maupun sampai pada kesempatan kerja mereka. Jadi peraturan yang ada harus dapat mengatur segala kemungkinan penyediaan faktor dan kondisi bagi terlenggaranya kegiatan pengembangan diri mereka, peraturan yang membatasi pengambil-alihan ruang bagi kegiatan mereka, peraturan dan kebijakan yang mengatur sistem pendidikan yang ada dengan memberikan kemungkinan dan kesempatan yang sama kepada semua remaja dan pemuda, penyediaan semua fasilitas pendidikan dan pengembangan diri baik secara langsung maupun tidak langsung. Kita perlu juga mencari satu peraturan ketenagakerjaan yang baik yang memberikan kesempatan yang sama bagi semua remaja dan pemuda tanpa bayang-bayang diskriminasi dalam segala hal, seperti ras, suku, golongan, kedaerahan, agama, kekeluargaan, ataupun koneksi. Perlu juga dirancang peraturan yang menjaga agar korupsi dan kolusi dapat ditekan seminim mungkin, agar dana dan segala kegiatan pembangunan dapat berjalan secara optimal dan dengan kwalitas yang terbaik, lebih baik dari yang tersedia sekarang ini.

Kembali kepada pertanyaan: Apakah hal-hal tersebut diatas sudah tersedia???

Jawabanya adalah BELUM CUKUP, BELUM BAIK

Belum cukup dari segi kwantitas dan belum baik dari segi kwalitas. Dari segi peraturanpun penyediaan kondisi ini masih jauh dari baik.

Belakangan ini banyak lapangan dan ruang untuk remaja dan pemuda telah berubah fungsi dari tempat mereka bermain, menjadi perumahan, pertokoan atau perkantoran. Banyak terjadi pengambil-alihan ruang dalam jumlah yang sangat besar yang dirubah menjadi fasilitas yang modern dan canggih tanpa pemikiran untuk menyediakan taman, ruang bermain, fasilitas olahraga dan pengembangan diri remaja dan pemuda, dan kalaupun ada fasilitas ini telah dirancang sedemikian rupa sehingga hanya mereka dari golongan ‘the have’ yang kemudian membawa kepada kecemburuan sosial. Banyak terjadi fasilitas pendidikan yang kemudian diambil-alih dan dibongkar dan dipindahkan tanpa perencanaan yang benar, sehingga remaja dan pemuda yang menjadi peserta didik di institusi pendidikan tersebut terpaksa mencari fasilitas pendidikan yang lain atau terpaksa melakukan perjalanan pulang-pergi ke institusi yang letaknya jauh tersebut. Bahkan ada fasilitas olahraga dan tempat mereka berkreasi telah diambil alih oleh pengusaha dengan seijin penguasa (pemda) yang kemudian dirubah menjadi fasilitas pertokoan atau perkantoran. Banyak janji pengusaha perumahan yang menjanjikan fasilitas sosial dan fasilitas umum, berupa rumah ibadah, taman, tempat bermain, fasilitas olahraga, dan fasilitas lain, yang kemudian tidak berusaha menepati janji mereka dan bahkan banyak yang kemudian menjual lahan yang sudah dialokasikan tersebut, atau merubahnya menjadi fasiitas lain yang sama sekali bukan untuk fasilitas sosial ataupun fasilitas umum. Dalam hal ini pemerintah daerah banyak membiarkan pengusaha melakukan perubahan atau pengalihan fungsi fasilitas sosial dan fasilitas umum yang seharusnya dibuat (disiapkan).

Para orang tua yang terpaksa harus sibuk karena mencari nafkah terpaksa pula membiarkan anak-anak mereka tumbuh menjadi remaja dan pemuda tanpa bimbingan orang tua secara benar. Mereka banyak yang harus sibuk karena memang posisi jabatan mereka yang penting, dan sering pula posisi si bapak yang penting membawa pula kesibukan kepada si ibu, dan memaksa si ibu juga sibuk dengan urusan organisasi, karena hal ini diperlukan sebagai penunjang karier (jabatan) si bapak. Kemudian kalau kita lihat, bagaimana tata-ruang kota-kota besar yang ada di Indonesia, yang terlihat seperti hamparan bangunan tanpa penataan yang baik, sehingga lokasi perumahan terpaksa harus berada jauh dari lokasi perkantoran, maka hal ini jelas akan menyita waktu si bapak maupun si ibu dalam menjalankan ‘tugas’ mereka, sehingga jelas mengurangi waktu kebersamaan orang tua dengan anak-anak mereka. Selain si bapak yang pejabat yang terpaksa membatasi waktunya bercengkrama dengan anak-anak, juga bapak-bapak dari golongan menengah dan bawah, mereka terpaksa harus mengorbankan waktu mereka bercengkrama dengan anak-anak karena tuntutan periuk nasi di dapur, sehingga hal ini membawa kepada kurangnya bimbingan bagi anak-anak mereka.

JAWABAN ATAS MASALAH YANG ADA

Lakukan reformasi dalam banyak hal, baik secara total menyeluruh atau sebagian yang dianggap penting untuk meciptakan satu situasi yg bagi perkembangan SDM bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dunia ditahun 2000. Semua orang perlu ikut serta dalam reformasi ini, mulai dari pemimpin negara, pelayan masyarakat, sampai orang tua.

Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit gambaran bagi kita semua.

Jakarta, 6 September 1998

Bambang Subaktyo

Exit mobile version