040 Moral di Jalan Raya
Sebagai warga Jakarta, kita tentu tidak heran lagi dengan berbagai kejadian di jalan raya atau di jalanan. Ada begitu banyak banyak kegiatan dan kejadian yang dapat kita lihat dan alami setiap saat. Mulai dari pesta kemerdekaan 17 Agustus yang diselenggarakan di jalanan, bermain bola dan adu ketangkasan bahkan upacaranya juga di jalanan. Ada yang menutup jalan untuk pesta pernikahan, sunatan, acara kematian dan acara lainnya. Ada yang kebut-kebutan kejar setoran ataupun hanya mencari ketenaran dalam acara resmi ataupun liar. Ada yang dengan alasan kegiatan keagamaan ataupun acara sosial mereka menutup jalan, bahkan berdagang di jalanan, ada banyak yang berdagang di jalan demi menjaga asap mengepul di dapur mereka. Mereka berjualan di trotoar sampai ke badan jalan tidak hanya kaki lima yang berdagang di sana tetapi juga waralaba internasionalpun ikutan menguasai trotoar, seperti ‘Mc D’ di Tebet dan Cikini.
Jalanan menjadi tumpuan hidup banyak orang, di siang hari ada banyak yang mengais rejeki di jalanan, tukang ojek, sopir bajaj, berbagai angkutan umum, pedagang asongan, pengemis, warung-warung, tukang loak, tukang parkir, tukang copet sampai kapak merah mencari kesempatan mereka masing-masing. Di malam hari tidak juga sepi dari mereka yang mencoba mengais rejeki di jalanan, ada banyak pedagang bermacam komoditi menggunakan jalanan, juga penyedia sewa petromax ikut ambil bagian.
Ada kegembiraan, kesedihan, kemarahan, rasa benci, rasa tidak suka dan berbagai emosi orang per-orang ataupun kelompok masyarakat dilampiaskan di jalanan. Pesta kemerdekaan, tuntutan keadilan, demo anti kenaikan harga BBM, dan berbagai aksi dituntaskan di jalanan, bahkan pertemuan ‘lesehan’ para pendemo dan wakil rakyat juga dilakukan di jalanan di depan gedung terhormat.
Di jalan raya ada pamer kekayaan juga tampilan kemiskinan. Yang kaya, yang sukses akan tampil mewah meriah, yang miskin yang papa yang tidak punya pekerjaan yang putus asa juga berkeliaran di sana. Yang berkuasa maupun yang tertindas juga tampil di jalanan.
(Menyambung artikel makalah Rahardi Ramelan tentang Kondisi Jalan Raya.)
Keadaan Jalan Raya dan Moral Bangsa
Kita semua tahu bagaimana kondisi jalan raya, khususnya di Jakarta, bagaimana begitu banyak hal saling tumpang tindih di jalanan, ada berbagai kegiatan dan permasalahan bertumpuk di jalanan:
- Ada ketidak-disiplinan, pelanggaran terjadi setiap saat,
- penutupan jalan untuk pesta pernikahan, ada yang bermain bola di jalan, bahkan pesta kemerdekaan 17 Agustus-an setiap tahun banyak diselenggarakan di jalanan, bebas lepas untuk berpesta ria, menutup jalan, menghalangi jalan,
- kebut-kebutan, ada yang demi iseng dan ada yang demi mengejar setoran
- banyak pedagang kakilima dan asongan berdagang di jalan bahkan perusahaan waralaba internasional juga ikut bergabung (Mc D., menggunakan trotoar untuk outlet mereka, di Tebet dan Cikini),
- banyak tukang ojek yang pasang badan di jalan-jalan ibukota Jakarta,
- banyak Bajaj berkeliaran, yang kosong lebih banyak daripada yang berisi penumpang, dan akan ditambah dengan kehadiran Kancil dan jenis-jenis lain,
- di malam haripun perdagangan bermacam komoditi dapat ditemukan, dari daging segar sampai daging ons-ons-an,
- ada tukang sayur menguasai jalan-jalan di Pasar Rebo, ada pedagang berbagai macam makanan, ada pedagang kue basah/kering yang berdagang sejak tengah malam sampai dinihari,
- ada yang mencari kesempatan dalam kesempitan saat macet di perempatan, si kapak merah, tukang congkel kaca spion, penodong, perampok,
- di kendaraan umum juga sudah umum terjadi penodongan, pencopetan, penipuan, pembiusan penumpang, dlsb,
- trotoar dekat keramaian dijadikan lahan tukang copet, tukang palak, penipuan,
- dari kegiatan ritual keagamaan sampai zinah massal terjadi di jalanan,
- ada begitu banyak kegiatan masyarakat terjadi di jalan, di seputar jalanan, dst . . . dst.
Permasalahan bertumpuk di jalanan, bahkan ketidaksetujuan terhadap program pemerintahpun disampaikan di jalanan. Bundaran Hotel Indonesia menjadi pangkalan favorit untuk pertemuan-pertemuan informal para wakil rakyat atau yang merasa menyuarakan nurani rakyat. Serasa belum afdol kalau belum di bundaran HI. Jangan lupa, para ‘wakil rakyat’ yang terpilihpun pernah melakukan pertemuan dengan ‘wakil rakyat informal’ juga di jalanan, mereka bertemu dan ngobrol lesehan di depan gedung ‘wakil rakyat yang terhormat’ di jalan Gatot Subroto.
Di sisi lain, sudah menjadi rahasia umum, pada tengah malam-malam tertentu jalanan dijadikan tempat berkumpul para remaja kaya-raya, mereka pamerkan mobil-mobil super mewah mereka bergaya di jalan-jalan protokol ibukota Jakarta.
Jalan adalah tumpuan hidup banyak orang, besar kecil, tua muda, kaya miskin, yang berjaya maupun yang tertindas.
Tapi apa yang sedang dibicarakan pemerintah saat ini? EMISI GAS BUANG?
- Apakah kita hanya akan membicarakan masalah emisi gas buang, polusi logam berat yang merusak otak anak-anak dan bayi saja?
- Apakah hanya ketidak-disiplinan saja yang menjadi perhatian kita?
- Dan berharap semua akan beres dengan mengembalikan kedisiplinan di jalan raya, disiplin yang dimulai dari orang-per-orang?
Moral Bangsa dan Negara Indonesia!
Apa yang terjadi di jalanan adalah gambaran moral bangsa dan negara Indonesia!
Kalau di jalan itu terlihat ketidak-disiplinan tinggi tentu moral bangsa itu sedang dipertaruhkan, semakin tidak disiplin, banyak pelanggaran dan semakin ruwet maka moral bangsa itu juga ambur-adul. Sampai kapan akan kita biarkan kehancuran dan penghancuran moral bangsa itu terus terjadi!?
Ada banyak pertanyaan-pertanyaan untuk itu:
- Siapakah yang tidak akan pergi kejalanan sepanjang hidupnya? Berapa banyak orang terutama anak-anak yang tidak pergi ke jalanan selama berhari-hari?
- Apakah pendidikan moral itu hanya didalam keluarga atau di sekolah formal saja?
- Tidakkah kita berfikir bahwa yang dipertontonkan detik-demi-detik di jalanan itu adalah pendidikan moral yang paling utama!?
- Siapakah yang menjadi tokoh-tokoh utama pembelajaran moral itu, apakah guru di sekolah, orang tua di rumah atau mereka yang berada di jalanan?
Pengajaran di sekolah dan dirumah, bagaimana bersikap jujur dan ber disiplin jelas tidak sesuai dengan yang dilihat anak-anak di jalanan. Mereka melihat dengan mata kepala secara langsung begitu banyak pelanggaran demi pelanggaran terjadi, mereka melihat ketidak-taatan terhadap peraturan, mereka melihat begitu mudah menguasai jalanan untuk berbagai kegiatan, bermain bahkan tawuran. Begitu banyak tingkah laku yang jelas-jelas tidak sesuai hukum, sopan santun, adat-istiadat, norma agama, telah dilanggar di jalanan. Mereka mendapatkan banyak pelajaran di jalanan, sangat berbeda dengan apa yang dikatakan di sekolah ataupun di rumah.
Tidak sulit bagi meraka untuk mendapatkan contoh-contoh yang baik untuk terus tidak taat peraturan, untuk tidak ikut aturan, untuk tidak disiplin, untuk kurang ajar terhadap orang lain dan semua itu diperoleh di jalanan.
AKANKAH KITA PERTARUHKAN MORAL BANGSA DAN NEGARA dengan keadaan jalanan seperti yang kita lihat sekarang ini? Apakah moral bangsa dan negara itu lebih rendah nilainya daripada tingkat emisi gas buang, sehingga pemerintah lebih mengarahkan pandangannya kepada skenario pembatasan-pembatasan kendaraan dengan berbagai tricky-tricky untuk bisa menjual stiker-stiker bebas emisi?
Moral Bangsa atau Penurunan Gas Emisi?
Mana lebih penting?
Tingkat kandungan logam berat dalam gas buang asap knalpot memang bisa mempengaruhi kemampuan otak anak-anak dan bayi, menjadikan mereka tidak mampu berfikir dengan baik. Tetapi emisi yang ada di jalanan itu bisa dihindari oleh sebagian orang yang memiliki mobil-mobil yang lebih kedap asap jalanan, dan mereka yang berada dalam mobil-mobil dengan kaca tertutup berhawa dingin full ac jelas akan lebih terhindar dari akibatnya, sedangkan mereka yang berada di jalanan terbuka, didalam kendaraan umum, bersepeda motor, atau berjalan kaki tidak memiliki alat penyaring gas emisi sama sekali, merekalah yang akan kena dampaknya secara langsung.
Kita melihat adanya keterbebasan sedikit banyak bagi mereka yang kaya dalam hal dampak emisi gas buang asap knalpot, ada diskriminasi antara yang mampu membeli kendaraan mewah dan yang tidak. Tetapi apakah anak-anak yang berada dalam kendaraan mewah itu tidak terpengaruh moralnya saat melihat semua kesemrawutan di jalanan itu?
Tentu saja tidak ada batasan bagi anak-anak dari golongan mampu atau dari golongan tidak mampu dalam menyerap semua contoh-contoh ‘baik’ yang berlaku di jalanan. Bahkan anak-anak dari golongan mampu yang memiliki sifat ‘oknum’ akan lebih bebas berkriteria, berkreativ, berinitiativ untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam ketaatan peraturan, dalam kedisplinan di jalan raya, karena mereka mendapatkan pelajaran-pelajaran secara langsung dari ke’oknum’an orang-orang yang ada disekitar mereka, sehari-hari. Mereka mendapatkan pendidikan ‘formal’ mereka setiap saat, bahwa mereka berhak untuk mendapatkan keistimewaan-keistimewaan itu. Kita bisa lihat bagaimana sikap pengendara mobil-mobil mewah, bertenaga besar, mampu berlari cepat, tetapi bersikap seperti pengendara bajaj di jalan raya, mereka seenaknya bebas dan lepas berkendaraan di jalur paling kiri jalan bebas hambatan yang seharusnya hanya untuk keadaan darurat.
Apakah kita hanya akan membicarakan bagaimana menurunkan tingkat emisi gas buang asap knalpot saja atau kita lebih mengutamakan menaikkan tingkat moral anak-anak generasi penerus bangsa dan negara? Manakah yang paling utama?
Memang lebih mudah untuk menerapkan berbagai skenario pembatasan emisi gas buang asap knalpot daripada membicarakan bagaimana kita bisa menjaga moral bangsa dan negara ini yang tidak terlihat secara kasat mata. Emisi gas buang akan dirasakan langsung dengan rasa mual, batuk-batuk, napas sesak, pendangan gelap tertutup asap kelabu . . . tetapi moral? Siapa peduli, siapa yang bisa melihat?
Akankah kita terus tidak peduli akan masa depan bangsa dan negara Indonesia?
Apa yang bisa kita lakukan untuk merubah ‘pendidikan formal jalanan’ itu menjadi panutan moral bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa dan negara Indonesia. Jelas tidak mudah, dan inilah pekerjaan besar yang harus kita prioritaskan bersama. Marilah duduk bersama membicarakan berbagai kemungkinan untuk merubah jalanan menjadi ‘pendidikan formal moral’ generasi penerus bangsa dan negara Indonesia. Diperlukan pembahasan yang lebih luas dan mendalam untuk itu.
Kita punya tugas berat dan panjang untuk mengangkat tingkat moral bangsa dan negara melalui perilaku baik di jalanan sebagai panutan bagi anak-anak generasi penerus, demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia di masa depan.
Jakarta, 21 Maret 2005
Bambang Subaktyo, EDV.F.T.
Ketua Departemen Teknologi
LSM “Masyarakat & Otomotif Indonesia”
