Site icon Bambang Subaktyo's Blog

046 Belajar Sampai Ke Negeri Cina

046 Belajar Sampai Ke Negeri Cina

16 Oktober 2012

Ada pepatah lama, ‘belajarlah sampai ke negeri Cina’. Sebenar-benarnya kita harus belajar banyak dari orang Cina, baik kepada orang Cina yang ada di Indonesia dan lebih bagus lagi belajar kepada mereka yang ada di negara Cina sana. Setiap orang tanpa kecuali, bahkan mereka yang berada di lembaga pemerintahan Indonesia juga harus ikut belajar dari orang Cina.

Pengalaman pribadi di masa belajar di Jerman, saya bertemu dengan rekan-rekan dari negara Republik Rakyat Cina (RRC), mereka hidup penuh kesederhanaan. Begitu sederhananya sampai kepada penghematan makan, belanja, bahkan sabun cuci! Mereka begitu rajin dalam menuntut ilmu, begitu getol (rajin, terus menerus) mengumpulkan berbagai informasi ilmu yang ada, mereka coba serap semua itu, mereka copy, sampai ada rasa waswas yang timbul di masyarakat Jerman saat itu kepada para mashasiswa Cina yang berada di dalam institusi riset dan study di sana sebagai “pencuri” ilmu teknologi karena begitu getolnya mereka menyerap segala macam yang ada untuk mereka bawa pulang. Jadi rata-rata mahasiswa tingkat lanjut itu memang begitu berambisi, antusias untuk “mencuri” ilmu dan teknologi dari negara lain.

Bahkan ada contoh lain saat salah satu negara bagian di Jerman akan menscrap sebuah pabrik (lengkap dengan mesin-mesin) yang sudah dianggap tidak efisien lagi, karena satu dan lain hal harus dihancurkan dan dibuang/dijual sebagai besi tua, dan ditawarkan ke dunia internasional, ternyata lelang dimenangkan oleh negara Cina, dengan harga yang jauh lebih tinggi dari para peserta lainnya, tetapi dengan syarat mereka (orang Cina itu) boleh membawa teknisi untuk melakukan pembongkaran pabrik itu. Mereka menang tender dan segera mengirim seribuan teknisi ke Jerman, membongkar satu demi satu sekrup, mur, dan semua benda yang ada, mereka catat (didolumentasikan dengan rinci), kemudian dikirim ke Cina dan mereka, para teknisi yang telah membongkar itu memasang kembali segala peralatan, perangkat, dan bangunan itu menjadi satu pabrik utuh kembali. Dan dari dokumentasi yang mereka telah lakukan, mereka bisa membuat pabrik-pabrik sejenis di tempat lain.

Coba kalau pengusaha Indonesia mendapatkan penawaran yang sama, paling jauh menganggap pabrik tua itu hanya sebagai rongsokan besi tua, dijual-beli sebagai besi tua kilo-an.

Contoh lain, bagaimana rakyat Cina sudah mendapatkan program komputer Microsoft Windowsnya dalam bahasa Cina, atau Jepang, atau Vietnam, seperti juga negara-negara maju berbahasa non Inggris yang telah menetapkan pengalih-bahasaan teknologi komputer kedalam bahasa mereka. Di Indonesia?

Saya pernah mengajukan permasalahan pengalih-bahasa-an program komputer itu kepada dinas pendidikan dalam suatu seminar … ternyata si ibu kepala dinas malah bilang: “biarkan dalam bahasa Inggris, dan paksakan anak-anak agar belajar bahasa Inggris …!”.

Exit mobile version