049 Mencari Pilihan Industri Yang Sesuai
20 November 2014
Untuk menentukan pilihan industri yang bisa memberikan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, kita harus melihat potensi yang kita miliki saat ini, yang juga sekaligus sebagai ancaman bagi kita sendiri, yaitu tersedianya (adanya) begitu banyak tenaga kerja dengan ketrampilan rendah. Sebaliknya, kita harus mencari potensi terbesar yang kita miliki selama ini, yang sekaligus merupakan kesempatan yang kita miliki, untuk kita gali lebih jauh, kita olah, kita kelola, dan kita jual ke mancanegara.
Dari teori SWOT (topik khusus SWOT ada di buku ini), kita bisa melihat Strengths (kekuatan, potensi, modal) yang kita punya, kemudian kita lihat Weakness (kelemahan, kekurangan, negatif point) yang ada, kita lihat Opportunities (kesempatan) dan tentu jangan melupakan Threats (ancaman, halangan, rintangan) yang ada di hadapan kita.
Modal Alam (Alami)
Bangsa Indonesia mendapatkan anugrah sangat besar dari YMK, kita punya, BUMI PERTIWI, tanah dan air, kita punya matahari yang bersinar sepanjang tahun, kita punya lautan disekitar kita, kita punya air hujan yang hampir sepanjang tahun turun ke Bumi Pertiwi, kita punya cuaca yang hampir terus sama sepanjang tahun, kita punya hutan tropis dengan begitu banyak potensi, rakyat Indonesia terdiri dari berpuluh suku, kita punya banyak bahasa daerah, kita punya kesenian dalam berbagai bentuk, kita punya banyak alat musik tradisional, kita punya lanskap yang begitu indah, kita punya pantai pantai yang indah, kita punya lautan dengan ombak yang menantang, dasar laut dangkal yang indah, kita punya banyak gunung, kita punya banyak tanaman obat, kita punya banyak ragam makanan beda suku beda jenisnya, beda daerah beda jenisnya, dlsb. Secara geographis, kita juga berada di lokasi yang strategis, di antara beberapa benua, diantara 2 samudra. Selain itu, kita juga kaya dengan SDA (sumber daya alam) berupa mineral dan energi di dalam bumi, kita punya ber-ragam energi terbarukan yang tak akan habis-habisnya, dan terakhir kita punya SDM (sumber daya manusia), banyak dalam kuantitas (jumlah) tetapi mungkin belum terbentuk secara kualitas.
Itulah potensi yang sudah ada, modal kita bangsa Indonesia yang seharusnya kita keluarkan, kita berdayakan, kita promosikan, kita tingkatkan daya saingnya. Segala daya harus kita kerahkan untuk meningkatkan SDM yang ada agar dapat menjadi operator operator dari kekayaan kita itu sendiri. Menjadi orang orang yang bergiat di segala modal tersebut di atas. Menjadi pelaku kesenian dan budaya, menjadi pelaku kegiatan promosi, kegiatan pariwisata, pengelola hutan, pengelola kelautan, pengelola tanah dan air, dan pengelola semua SDA yang ada!
Ada begitu banyak jenis pekerjaan yang tersedia untuk mengelola segala potensi yang kita punya, ada pekerjaan yang sudah ada sejak lama, ada juga jenis pekerjaan yang harus dibentuk sesuai dengan keberadaan potensi itu.
Jangan lagi kita biarkan orang orang dari negara lain mencuri kekayaan Bumi Pertiwi, mereka telah mencuri kekayaan bangsa ini selama puluhan tahun terakhir, dan bisa jadi sudah 400 tahun kita dirampok oleh para penjajah. Bangsa ini hanya diberi bagian Royalti sebesar 1% selama 40 tahun lebih dan itupun tidak selalu terbayarkan. Itu bukan lagi pencurian tetapi perampokan, perampokan yang dilakukan dengan ijin dari para penguasa yang berkolaborasi dengan perusahaan perusahaan alien itu. Bukan hanya merampok, mereka juga merusak alam – lingkungan BUMI PERTIWI!
Kita harus merubahnya, kita harus menghentikan pencurian dan perampokan itu, kita sendiri yang akan mengelola semua sumber daya itu, kita pelihara alamnya, kita panen hasilnya, kita proses bahan bahan hasil panen itu dan diproduksi sendiri menjadi barang jadi dan barang jadi itulah yang boleh keluar dari Indonesia, bukan bahan mentah! Apapun itu, jangan sampai bahan mentah keluar dari Indonesia, apakah itu hasil laut berupa ikan ataupun emas dan hasil tambang dari pertambangan yang ada ataupun minyak bumi yang disedot dari perut Bumi Pertiwi harus dikelola sendiri, diproses sendiri, baik untuk kepentingan sendiri ataupun untuk dijual ke luar negeri. Nilai tambah dari hasil produksi sumber daya alam kita harus berada di Indonesia.
SDMI (sumber daya manusia Indonesia) secara kuantitas memang tersedia dalam jumlah besar, tetapi secara kualitas masih belum cukup bagus. Mereka harus diberi kesempatan kerja sesuai dengan kondisi mereka saat ini, atau ditingkatkan kemampuan mereka sehingga mencapai suatu tingkatan yang bisa mendapatkan kesempatan kerja dengan penghasilan yang lebih baik.
Potensi (modal) alami yang kita peroleh dari YMK itu begitu besar, begitu luas, begitu bernilai tinggi, diperlukan banyak pekerja untuk mengelola, mengolah, mempersiapkan potensi itu menjadi satu bahan jualan yang menarik bagi pembeli mancanegara. SDMI harus disesuaikan dengan kebutuhan yang ada, untuk mengelola berbagai kekayaan bangsa itu, mengisi berbagai posisi dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas.
Kualitas SDMI perlu ditingkatkan, diperlukan berbagai pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan setiap daerah, sesuai dengan keadaan daerah tersebut, pendidikan yang praktis bukan yang teoritis.
Sementara waktu, mari kita kesampingkan masalah SDA berupa mineral dan energi itu, karena untuk SDA tersebut sebenarnya hanya perlu melanjutkan usaha-usaha yang sudah ada sebelumnya, hanya perlu menggantikan peranan pekerja-pekerja asing dengan pekerja-pekerja Indonesia. Untuk penyedotan kekayaan alam seperti itu, tidak perlu perusahaan alien, yang paling extrim: kalau perlu dilakukan dengan kaki dan tangan, dengan pacul dan sekop, sesuai dengan motto Bung Karno dulu, BERDIKARI. Kalaupun hasilnya jauh lebih rendah, semisal cuma 10% dari kemampuan pekerja (perusahaan) asing itu … toh hasil itu masih jauh lebih tinggi daripada penerimaan bangsa selama ini, ROYALTI yang cuma 1% dan tidak terbayarkan. Mari kita kesampingkan dulu soal SDA yang ini, itu tinggal masalah pengambil-alihan saja, kita perlu menggali sumber alami yang selama ini kita biarkan ada tapi tak juga dikedepankan: BUMI PERTIWI, tanah dan air kita selama ini.
Entertainment, Seni dan Hiburan
Manusia dalam kehidupannya perlu mendapatkan berbagai macam asupan untuk bisa hidup, asupan untuk bisa berbahagia, asupan untuk bersenang-senang, asupan untuk bisa sehat, asupan untuk bisa mendapatkan ketenangan batin … mungkin kita bisa belajar dari film “EAT, PRAY, LOVE” yang dibintangi oleh aktris Julia Robert, cerita seorang penulis yang mencari jati diri dengan cara travelling berkunjung ke Italy untuk menikmati kehidupan yang penuh dengan acara makan makan, kemudian pergi ke India untuk berdoa mencari Tuhan dan akhirnya pergi ke Bali dan mendapatkan cinta. Sebenarnya sang penulis (Elizabeth Gilbert) bisa saja langsung pergi ke Bali dan mendapatkan ketiga hal itu (Eat, Pray dan Love), karena di Bali tersedia berbagai macam masakan dari berbagai negara di dunia, masakan Eropa, Oriental, Amerika, dlsb, juga ada masakan Bali, Jawa, Padang, Manado dan dari berbagai daerah di Indonesia, semua tersedia di Bali, tinggal pilih. Kalau mau mencari ketenangan spiritual juga ada di Bali, ada banyak tempat untuk meditasi, untuk berdoa, mau di atas gunung yang jauh dari keramaian atau di atas laut dengan deburan ombak juga tersedia, mau menyepi di tempat wingit bisa, mau di tempat ramai juga ada. Kedua kehidupan itu bisa didapatkan di Bali, mau duniawi tersedia, mau spiritual juga juga tersedia, semua tersedia berikut LOVE, cinta – kasih atau keramah-tamahan. Jadi, kita sediakan ketiga hal itu, bukan hanya di Bali, tetapi di seluruh Indonesia.
Entertainment itu bukan berarti hura hura di club malam mendengarkan musik cadas sampai pagi, itu hanya salah satu dari sekian banyak hiburan, itu bukan pilihan semua orang untuk menghibur dirinya. Selera orang berbeda beda, ada banyak hiburan lainnya, bahkan setiap anggota badan kita perlu asupan bukan sekedar asupan rutin, tetapi asupan yang berbeda dari yang biasa sebagai hiburan:
- Perut (badan) perlu makanan, makan pagi, makan siang dan makan malam yang sifatnya rutinitas. Perut perlu dihibur dengan makanan yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Perut diwakili oleh lidah, lidah yang merasakan perbedaan makanan itu, perut sekedar menerima makanan yang ditelan sang pemilik perut. Lidah (atau perut) ada banyak varian, ada lidah lokal: lidah orang Jawa, orang Sumatra, orang Manado, kemudian ada lidah mancanegara: lidah orang Jerman, orang Jepang, Amerika, Australia, dll. Untuk memberikan hiburan bagi sang lidah, kita bisa menjual berbagai macam ragam menu masakan (makanan): masakan Sunda, Jawa, Padang, Manado, Bali, dlsb. Kita punya begitu banyak ragam variasi masakan, setiap suku/daerah punya berbagai jenis makanan, berbagai minuman dan penganan (kue, jajanan), semua itu bisa kita jadikan modal untuk kesenangan lidah para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Kita bisa menyelenggarakan berbagai acara (festival) masakan Nusantara, festival jajanan Nusantara. Makanan, minuman dan jajanan itu kita jadikan bagian dari entertainment bagi lidah para wisatawan. Tidak hanya makanan Indonesia, makanan Internasional juga bisa kita sediakan, ada restoran Italy, China, India, Arab, Amerika, dlsb. Setiap orang pasti ingin sekali-kali merubah asupan yang masuk kedalam perutnya, tidak melulu yang rutinitas tetapi yang jauh berbeda. Lidah dan perut bisa menjadi target entertainment.
- Mata perlu mendapatkan asupan yang menyenangkan yang berbeda dengan yang biasa dilihat sehari hari. Kita punya pemandangan alam yang indah, ada gunung (pegunungan), ada pantai, ada kesenian yang bisa dilihat, ada produk kesenian di museum, ada produk kesenian lama bersejarah, ada reog Ponorogo, ada kerapan sapi di Madura, ada pertunjukan debus di Banten, ada ritual agama seperti Suro-an atau Sekatenan di Jawa Tengah atau acara Ngaben di Bali, bahkan acara penganten sunat bisa dijadikan bahan makanan bagi mata para wisatawan. Mereka bisa melihat dengan mata mereka secara langsung atau dengan peralatan audio visual yang mereka miliki. Dan ingat, suatu kejadian indah yang mereka abadikan akan menjadi satu kebanggaan yang bisa dipertontonkan kepada keluarga, kepada teman-teman di tempat tinggal mereka. Mereka bisa juga berburu berbagai binatang exotis yang ada didalam hutan liar, tentu berburu dengan kamera/video bukan dengan senapan.
- Telinga juga perlu mendapatkan asupan yang menyenangkan. Kita punya bermacam ragam seni musik, dari gamelan, calung, kolentang, atau yang lainnya yang ada diberbagai daerah di Indonesia. Gamelan dan dangdut sudah terkenal di mancanegara, padahal kita punya lebih banyak lagi. Deburan ombak, suara air terjun bahkan suara kodok atau binatang malam juga bisa menjadi bahan asupan yang menyenangkan bagi wisatawan yang di tempat tinggalnya hal hal itu tidak tersedia.
- Banyak orang tidak hanya ingin makan dan minum, tidak hanya ingin melihat atau mendengar saja, tetapi juga ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari yang biasa mereka jalani sehari-hari. Ada banyak orang ingin memacu adrenalin, mereka ingin menaklukkan keganasan alam liar, berpetualang naik ke atas gunung ber-api, berselancar diatas deburan ombak, menembus hutan liar, mereka ingin sesuatu yang berbeda, yang hanya dilakukan oleh sedikit orang, semakin ganas semakin menarik. Tetapi ada juga yang ingin naik gunung karena keindahan alam, menyelam (diving) melihat keindahan dasar laut, ada yang ingin berkeliling melihat langsung peninggalan budaya kuno, ada yang ingin merasakan tinggal di desa dan merasakan kehidupan di pedesaan, mungkin juga ada yang ingin ikutan menjalani kehidupan nelayan atau sebagai pembatik, atau sebagai pemahat patung, dlsb.
Setiap orang, pasti ingin meninggalkan kegiatan rutin a’la perkotaan negara modern, mereka ingin sesekali pindah ke alam liburan yang menyenangkan:
- memberikan hiburan bagi lidah dan perut mereka dalam bentuk makanan, minuman, jajanan, dll,
- mata mereka dalam bentuk pemandangan, kesenian visual, karya seni, acara musik live show, film, dll,
- telinga mereka dalam bentuk audio, musik, lagu, suasana lingkungan alami, dll,
- badan mereka dalam bentuk perawatan kebugaran, seperti spa, pijat, relaksasi, yoga, olahraga, dlsb,
- hati dan pikiran mereka juga butuh pemenuhan (dihibur, dipuaskan) dengan berbagai bentuk kegiatan olah hati/pikiran, kegiatan kesenian, kegiatan spiritual seperti meditasi, yoga, atau berbincang bincang dengan orang-orang bijak dalam segi spiritual, dlsb.
Banyak yang ingin mengistirahatkan anggota badan mereka dari kepenatan ritual kehidupan kota besar negara modern yang menjenuhkan dan membosankan, berganti dengan liburan penuh kesenangan (bermacam entertainment tersebut diatas), sebagian lagi, malah ingin membuat badan mereka menjadi capek, pegal, tegang dan keras dengan mencoba melakukan penjelajahan alam liar yang memacu adrenalin mereka yang mungkin sekali seumur hidup ingin mereka lakukan.
Indonesia punya berbagai variasi itu, kita punya Bumi Pertiwi, tanah dan air, gunung dan pantai, angin dan ombak, hutan dan sawah, alam yang indah dan alam liar, yang sejuk dan yang membara, yang tinggi diatas awan dan yang dalam di dasar laut, dan banyak variasi lainnya. Ada 17 ribu pulau pulau di Indonesia, ada begitu banyak ruang bawah laut di antara pulau pulau itu, ada banyak kehidupan bawah laut yang bisa dijelajahi para wisatawan, tentu kita perlu menjaga keasrian alam agar tetap indah dan bisa kita jual ke wisatawan mancanegara.
Coba lihat negara Swiss, negara kecil di Eropa seluas 41.285 km² berpenduduk sekitar 8 juta orang dengan GDP per capita US$84.344, mereka terkenal dengan produk beberapa merek jam tangan mahal dan yang paling utama, mereka menyediakan liburan musim dingin penuh salju, dengan pemandangan alam yang begitu indah, dengan udara yang begitu segar. Entah berapa juta wisatawan pergi kesana dalam setahun saat ini, data di tahun 1997 ada 31.980.000 yang menginap di Swiss. Bandingkan dengan Indonesia dengan 1,919,440 km² berpenduduk 252 juta orang, dengan data Januari – Mei 2014 ada 3,7 juta kunjungan atau sekitar 7 juta kunjungan setahun. Kenapa bisa begitu berbeda!? Padahal disana cuma punya beberapa pilihan liburan ataupun kegiatan, sementara di Indonesia ada begitu banyak pilihan dan juga begitu banyak kegiatan yang bisa disuguhkan.
Kita perlu belajar dari negara liburan seperti Swiss, bagaimana menjadikan alam yang indah itu sebagai barang dagangan untuk menyedot devisa dari mancanegara.
Objek Wisata
Berbagai bentuk kehidupan dan kegiatan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia itu bisa dijual sebagai objek wisata, dikemas sedemikian rupa, ditawarkan dengan gencar ke mancanegara, kita suguhkan kepada para tamu lokal dan mancanegara, dan dengan devisa yang kita terima, kita berikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia sebagai pemilik Bumi Pertiwi ini, sebagai pengelola dan pekerja di berbagai bentuk dan kegiatan itu.
Kita bisa menjual LOVE, ‘keramah-tamahan’ yang pernah terkenal ke mancanegara, dimana Indonesia dianggap sebagai masyarakat yang ramah tamah terhadap orang asing, sebagai smiling people. Kita perlu mengembalikan budaya bangsa yang mungkin agak ditinggalkan atau dilupakan itu. Memang masih ada daerah daerah yang masih begitu ramah tamah kepada orang asing, seperti Bali, disana banyak orang asing senang tinggal berlama-lama, mereka pergi dan kembali lagi, sudah seperti berlangganan untuk berlibur ke Bali. Kenapa warga Bali masih tetap ramah tamah, sementara yang lain sudah berubah, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, untuk mengembalikan ‘keramah-tamahan’, mengembalikan rasa persaudaraan satu sama lainnya, juga kepada wisatawan.
Padat karya
Indonesia punya kekayaan bangsa yang bermacam ragam dan itu semua perlu dikelola dengan lebih serius, dengan intensif dan efisien. Kita perlu banyak pekerja untuk mengelola berbagai kekayaan bangsa itu, a.l.:
- setiap daerah memiliki ber-ragam seni budaya dan itu jelas memerlukan pekerja seni, seni musik, seni tari, seni rupa, seni lainnya,
- daerah yang memiliki potensi kelautan perlu pekerja seperti nelayan, pekerja pengolah hasil laut, pekerja yang mengatur managemen hasil laut,
- daerah yang punya potensi perkebunan perlu petani, teknisi untuk perawatan mesin pengolah hasil perkebunan, teknisi perawatan kendaraan pengangkut, dan bermacam jenis pekerja lainnya,
- begitu banyak variasi kekayaan Bumi Pertiwi dan semua itu butuh banyak orang-orang yang bisa bekerja sebagai pengelola, sebagai perawat (maintenance), sebagai juru bicara (Public Relation, humas, guide, pemandu wisata, promosi), yang mengatur managemen, yang menjaga keuangan, dlsb,
- untuk begitu banyak jenis entertainment itu, tentu perlu banyak orang-orang dengan berbagai klasifikasi, ada tukang masak, ada peracik minuman, ada pekerja seni, ada penjual jasa pijat, ada pekerja spa, ada pemandu wisata, dlsb.,
- kita punya alam tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun, dengan hujan hampir sepanjang tahun, kita punya tanah yang subur, kita punya hutan tropis yang memiliki potensi sebagai cadangan tanaman hortikultura, tanaman obat, herbal, dan semua itu bisa dikelola, disiapkan oleh banyak orang, akan ada banyak jenis pekerjaan untuk itu … padat karya!
Pendidikan Yang Sesuai Dengan Kebutuhan Bangsa
Sudah tentu kita harus menyiapkan berbagai fasilitas pendidikan yang sesuai dengan keadaan kita, sesuai dengan Strengths yang kita miliki, untuk menutupi kelemahan (Weakness) yang selama ini kita hadapi, usaha usaha kita mencari kesempatan (Opportunities) yang ada tetapi tidak kita gapai selama ini, dan tentu saja untuk menjauhkan halangan, ancaman (Threats) yang ada. Dengan teori SWOT kita bisa mempersiapkan rencana jangka panjang, rencana jangka pendek dan crash program bagi kesejahteraan bangsa Indonesia, agar Bangsa dan Negara Indonesia bisa Jaya di Masa Depan.
Untuk bidang-bidang yang bagi kita sudah tidak punya daya saing secara internasional, tidak perlu kita lanjutkan, seperti rancang bangun kendaraan penumpang (industri otomotif) atau industri gadget high technology, karena kita sudah ketinggalan dari negara lain. Kita harus membuang pendidikan yang jelas tidak bisa menjadi kekuatan generasi penerus bangsa, kita gantikan dengan pendidikan dan pembinaan sumber daya manusia yang sesuai dengan modal yang kita miliki yaitu Bumi Pertiwi, tanah dan air, Nusantara yang sudah ada sepanjang masa. Persiapkan anak anak bangsa agar bisa menjadi pengelola, menjadi perawat Bumi Pertiwi, menjadi juru bicara, menjadi juru jual (sales & promosi) pariwisata, menjadi penjual hasil bumi yang selama ini ada di Indonesia, berupa hasil bumi (pertanian), hasil perkebunan, dan menjadi penyedia obat herbal yang beraneka ragam, dalam bentuk bagian tanaman, bagian hewan, ataupun mineral.
Pasar Global Tenaga Kerja
Kita persiapkan pekerja di segala bidang itu, dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas. Setiap kesempatan yang ada harus segera diisi oleh anak bangsa, meski situasi pasar global mengharuskan kita menerima pekerja dari luar negeri, kita tetap bisa menghambat hal ini dengan sistem penempatan tenaga kerja yang adil. Dimana setiap kesempatan kerja yang terbuka dan diperkirakan akan diisi oleh tenaga dari luar negeri, maka kesempatan kerja ini harus lebih dulu disampaikan ke kantor penempatan tenaga kerja.
Spesifikasi peluang kesempatan kerja itu harus ditetapkan oleh perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja, spesifikasi ketrampilan (pengalaman, pendidikan) yang dibutuhkan harus ditetapkan oleh perusahaan itu dan hal ini disampaikan ke kantor penempatan tenaga kerja, begitu juga besaran gaji dan segala tunjangan yang akan diberikan kepada pekerja tersebut harus juga ditetapkan dan berlaku sama baik bagi si pekerja pendatang (dari luar negeri) maupun pekerja dalam negeri, bahkan kalau perlu, gaji dan tunjangan pekerja dalam negeri harus lebih tinggi dari si pekerja pendatang itu, karena demikianlah yang terjadi di negara lain, dimana pekerja pendatang itu hanya menerima gaji yang lebih kecil … hanya di Indonesia, pekerja lokal malah direndahkan nilainya, sementara pekerja asing mendapatkan gaji yang begitu tinggi. Kalau globalisasi akan datang, maka Indonesia harus juga menetapkan peraturan yang membatasi nilai penerimaan pekerja asing itu, bisa jadi gaji mereka lebih rendah dari pekerja lokal atau paling jauh, sama besar antara pekerja asing dan pekerja lokal.
Rakyat Indonesia harus menjadi tuan di negeri sendiri, bukan sekedar pekerja rendahan dengan upah yang lebih rendah dari pekerja asing! Dimanakah harga diri bangsa ini, kalau upah yang diterima pekerja dalam negeri direndahkan jauh dari yang diterima pekerja asing!? Ataukah, pasar global tenaga kerja akan dijadikan ajang penjajahan gaya baru di abad 21 ini!?
Perlindungan Kesempatan Kerja
Perlindungan tenaga kerja bukan sekedar disiapkannya berbagai tunjangan sosial, seperti tunjangan kesehatan, tunjangan hari tua, dan berbagai tunjangan lainnya, tetapi sebuah perlindungan agar kesempatan kerja yang ada tidak begitu saja diambil atau diserahkan ke tenaga kerja asing dan dilakukan semena-mena oleh perusahaan pendatang apalagi perusahaan Indonesia sendiri.
Kebutuhan akan tenaga kerja yang diperkirakan akan diisi oleh pekerja asing itu harus diatur oleh kantor penempatan tenaga kerja, dimana perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja harus melaporkan spesifikasi yang dibutuhkan, gaji yang dijanjikan dan kesempatan kerja ini ditawarkan kepada setiap orang yang sesuai, baik lokal, daerah maupun mancanegara. Pengaturan kesempatan kerja dan tenaga kerja merupakan tanggung jawab kantor kesempatan kerja dan penempatan tenaga kerja nasional, bukan dilepas begitu saja ke pasar bebas semacam bursa-bursa tenaga kerja!?. Setiap ada kesempatan kerja, harus diisi lebih dulu oleh tenaga lokal yang sesuai dengan spesifikasi itu, kalau memang tidak ada maka bolehlah tenaga asing mengisi posisi itu.
Dengan diberlakukannya persamaan gaji bagi pekerja lokal maupun asing, maka setiap tenaga kerja Indonesia yang kualified bisa segera mengambil kesempatan kerja yang ditawarkan sebelum kesempatan itu diserahkan kepada pekerja asing. Tidak terlepas kemungkinan para pekerja Indonesia yang sedang berada di luar negeri akan tertarik untuk pulang dan mengisi setiap kesempatan kerja yang ada di dalam negeri. Kita tarik warga Indonesia yang sedang mencari nafkah di negeri seberang, kita beri mereka kesempatan dan gaji yang menggiurkan. Kalau di negeri sendiri mereka diberi perhatian tentu mereka bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi kemajuan Indonesia.
Kesempatan Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja
Negara harus merubah paradigma kantor tenaga kerja yang ada saat ini. Kantor ini harus bersikap pro aktif menjaring semua kesempatan kerja yang terbuka, mengumpulkan semua data tenaga kerja yang ada di Indonesia dan tenaga kerja profesional yang sedang bekerja di negara lain. Persiapkan database tenaga kerja, lengkap dengan semua kompetensi yang dimiliki, dan tawarkan setiap kesempatan kerja yang ada itu kepada tenaga kerja yang berpotensi mengisi kesempatan kerja itu. Itu langkah pertama yang harus dijalankan kantor tenaga kerja Indonesia, mengumpulkan kesempatan kerja, mempertemukan kesempatan kerja yang terbuka dengan tenaga kerja yang kompeten, dan kalau tidak ada yang bisa mengisinya baru diberikan kepada tenaga kerja asing … tentu saja tanpa perubahan besaran gaji, sama besarnya antara tenaga kerja dari dalam negeri dan tenaga kerja dari luar negeri!
Pendidikan Yang Diperlukan dan Yang Tidak
Jurusan pendidikan tinggi yang jelas tidak akan punya daya saing bagi Indonesia perlu dikurangi, dibatasi hanya ada di universitas terkemuka negara saja. Seperti jurusan teknik mesin, tidak perlu sampai ke rancang bangun yang super canggih, kita hanya butuh teknisi mesin yang membantu pekerjaan di berbagai bidang yang kita kelola:
- di pertanian dibutuhkan tenaga teknisi peralatan pertanian, teknisi kendaraan pengangkut,
- di kelautan diperlukan orang-orang teknik perkapalan kelas menengah kebawah, untuk membuat kapal kapal penangkap ikan, membuat kapal angkutan cepat tapi ringan dengan mesin tempel (overboard) yang banyak tersedia di pasaran, membuat kapal jenis katamaran, jenis hovercraft, katamaran hovercraft, kapal kapal berpenggerak angin atau tenaga surya,
- di udara diperlukan pesawat pesawat amfibi yang bisa mengangkut barang dan penumpang antar pulau, bisa mendarat di danau atau di pantai,
- di darat diperlukan kendaraan pengangkut hasil bumi yang kecil tetapi kuat, untuk jarak jauh tidak menggunakan mobil pengangkut tetapi menggunakan jasa kereta api, kendaraan pengangkut itu dari kebun atau dari dermaga menuju ke stasiun kereta api dan sebaliknya.
Pendidikan yang akan banyak dibutuhkan adalah pendidikan hospitality (keramah-tamahan), di bidang-bidang pariwisata, perhotelan, perjalanan (tour – travel), ticketing, biro perjalanan, tour guide (pemandu wisata), tataboga (kuliner, masakan/makanan), dlsb. Lebih banyak pendidikan praktisi bukan teoritis.
Kemudian pendidikan managemen yang diarahkan kepada managemen berbagai potensi yang kita miliki itu, seperti perhotelan, perkebunan, pertanian, kelautan dlsb, berikut dengan managemen keuangan untuk semua bidang-bidang itu.
Pendidikan kesenian daerah perlu ditingkatkan, setiap daerah akan membangun fasilitas pendidikan kesenian bisa dalam bentuk ketrampilan, bisa dalam bentuk ilmu pengajaran, dlsb. Setiap kesenian daerah harus digali jauh ke belakang, untuk mendapatkan lebih banyak informasi terkait dengan berbagai kesenian itu, dijadikan dokumentasi, cerita, buku-buku, film, foto, dlsb.
Fasilitas pendidikan yang terkait dengan potensi yang kita miliki, perlu dibangun, setiap daerah akan membangun fasilitas untuk mengakomodir setiap kesenian itu, begitu juga dengan fasilitas pendidikan pendukung kegiatan yang terkait dengan berbagai potensi perlu dipersiapkan.
Pendidikan yang mungkin baru adalah jurusan yang terkait dengan hortikultura, dengan pertanian, budidaya tanaman obat, perkebunan, dengan riset dan penelitian berbagai macam ragam obat herbal yang ada di Bumi Pertiwi, sekaligus pendidikan pembentukan ahli ahli peracik obat herbal semacam shinshe di negeri China. Kumpulkan semua informasi mengenai tanaman obat, gali dari dokumen-dokumen kuno para leluhur, teliti kembali berbagai kemungkinan terkait manfaat, budidaya, resep (cara penyajian), kemasan untuk mengirimkan ke tempat jauh, dlsb.
Pendidikan ilmu murni yang tidak perlu dikejar, tidak perlu diadakan di banyak universitas, cukup di salah satu universitas negara, bisa suatu jurusan berada di UI, yang lain ada di ITB, yang lain ada di ITS, dst. Khusus untuk setiap jurusan ilmu murni di universitas tersebut, disiapkan pengajar lengkap dengan peralatan dan buku-buku yang terkait. Tidak perlu semua universitas menjual jurusan yang sama yang sebenarnya sudah tidak punya masa depan di Indonesia. Pembatasan jurusan perlu dilakukan, bahkan pendidikan kedokteran tidak perlu ada di banyak universitas apalagi swasta, cukup di universitas negara terintegrasi dengan rumah sakit karena pekerjaan mereka nantinya hanya ada di rumah sakit umum negara. Persiapkan para ahli kesehatan itu agar mampu menuliskan resep obat herbal, seperti di negara RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dimana mahasiswa kedokteran diajarkan obat herbal, para dokter diharuskan menulis resep herbal. Kita punya berbagai bahan obat herbal, kita punya potensi untuk pengobatan dengan herbal. Kurangi seminimal mungkin obat dari luar negeri, kita harus menghargai obat KW1 yang sudah disediakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu obat herbal yang ada di Bumi Pertiwi ini, begitu banyak dan bervariasi.
Arah Yang Dituju
Dengan demikian, sudah jelas industri yang mana yang kita tuju. Yaitu industri pariwisata berbekal Bumi Pertiwi, tanah dan air, alam yang indah yang kita punya, berikutnya industri bahan pangan, dan yang paling utama: industri obat herbal. Dan jelas juga arah pendidikan yang kita tuju, lebih kepada hospitality (keramah-tamahan) untuk menunjang pariwisata, pendidikan kesenian untuk meningkatkan kesenian Indonesia, pendidikan management pengelolaan kekayaan Indonesia, dan pendidikan kesehatan berbasis herbal.
