053 BANJIR dan GENERASI PENERUS
Sebelum, saat dan setelah banjir, banyak orang bicara berbagai akibat banjir seperti kerusakan fisik, kesehatan, makanan, pakaian dan lain sebagainya, juga tentang berbagai kegiatan untuk membantu para korban, maupun persiapan untuk menghadapi banjir yang akan datang. Soal mencegah banjir?
Banyak rencana disiapkan oleh pemerintah daerah maupun pusat untuk membantu masyarakat dalam menghadapi kemungkinan banjir yang akan datang. Dari semua rencana itu, ada hal penting yang tidak pernah terpikirkan selama ini, bahkan oleh pemerintah sekalipun, hal yang berkaitan dengan generasi penerus bangsa dan negara Indonesia.
Kita perlu melihat ke banjir tahun 2002 yang terjadi hampir 1 bulan lamanya dalam skala nasional. Ada bantuan dari berbagai lembaga maupun dari anggota masyarakat yang diberikan kepada para korban waktu itu. Soal cukup atau tidak cukupnya bantuan waktu itu memang relatif, yang jelas, ada usaha untuk itu.
Kalau rumah kena banjir, anggap saja tempat tidur (kasur) rusak tidak bisa dipakai, para korban masih bisa tidur dengan alas apapun juga, jelek-jelek di jalan atau di area yang tidak kena banjir masih bisa tidur. Kalau alat masak, beras ataupun bahan pangan hancur, hilang, mereka masih bisa makan, karena banyak posko dan dapur umum telah menyediakan makanan. Demikian juga dengan kehilangan pakaian, korban banjir masih menerima bantuan.
YANG PALING PENTING
Yang masih tidak diperhatikan sampai saat ini adalah bagaimana korban banjir akan meneruskan pelajaran sekolah mereka! Bagaimana anak sekolah di banyak lokasi banjir telah kehilangan barang berharga mereka dalam melanjutkan pendidikan mereka. Banjir seperti tahun 2002, secara nasional telah merusak kesempatan belajar mengajar bagi banyak anak sekolah, dari kelas 1 SD sampai 6 SD, 1 SMP sampai 3 SMP, 1 SMA sampai 3 SMA, padahal banjir bisa terjadi lagi awal tahun ini, maupun tahun depan dan tahun selanjutnya. Banjir besar semacam banjir 2002 bisa terjadi di musim penghujan, di seputar Januari-February, saat-saat anak sekolah menghadapi ulangan umum, untuk mendapatkan nilai rapor kwartal II. Banjir yang menggenang banyak tempat untuk waktu yang relatif lama, telah menghilangkan jam belajar mereka, menenggelamkan buku cetak kwartal bersangkutan, menghilangkan bagian-bagian pelajaran yang seharusnya mereka dapatkan. Tidak lama setelah banjir usai, anak-anak masuk ke dalam pelajaran kwartal III. Bagian pelajaran yang tertinggal tidak bisa berjalan optimal, karena tidak adanya buku-buku cetak yang diperlukan untuk itu. Maka pelajaran yang tertinggal itu pasti … (menurut keyakinan penulis) langsung dilewatkan, para guru melanjutkan dengan pelajaran kwartal berikutnya.
Selain itu, sebelum banjir 2002 ada masa libur puasa 1 bulan lamanya hampir langsung disambung dengan banjir 1 bulan di berbagai lokasi. Total 2 bulan terlewatkan tanpa belajar, dan bukunya hilang tenggelam dalam banjir.
Berdasarkan banyak laporan yang ditulis atau dilaporkan di media, ada pemberian nilai dalam raport anak-anak sekolah itu dibuat berdasarkan pantauan para guru selama pelajaran sebelum terjadi banjir, karena untuk melakukan ulangan tentu tidak bisa diselenggarakan, baik anak sekolah, para guru atau sekolah tidak memiliki buku-buku cetak kwartal berjalan sebagai bahan untuk ulangan.
BUKU TULIS, BUKU CETAK, ALAT TULIS SEKOLAH
Seperti pada keadaan banjir yang lalu, tahun 2003 ke depan juga akan sama.
Kalau kehilangan buku tulis, mereka bisa membeli kapan saja, kadang ada bantuan buku tulis dan alat tulis dari banyak lembaga yang peduli. Paling sulit adalah mendapatkan buku cetak pelajaran sekolah yang hancur ditelan banjir. Dijemur kalau bisa dijemur, jelas tidak baik bagi mereka, karena kotoran akan terus melekat, jamuran dan mengandung bibit penyakit. Kalau buku cetak rusak, apakah tersedia di toko buku?
KALAU MAU/BISA BELI, APAKAH TOKO BUKU MASIH MENJUAL BUKU CETAK UNTUK KWARTAL/SEMESTER YANG SEDANG BERJALAN!?
Berdasarkan pengalaman tahun 2002, banyak toko buku sudah kehabisan buku cetak untuk kwartal yang sudah berjalan, yang dijual adalah buku untuk kwartal yang akan datang!!! Padahal anak-anak sekolah saat inipun masih menggunakan buku sistem kwartalan, meski sekarang sudah menggunakan sistem semesteran.
Kenapa buku-buku cetak itu tidak tersedia di toko buku?
Hal ini terkait dengan projek buku! Setiap tahun buku cetak pelajaran sekolah selalu berganti sesuai projek/dana projek. Kita tidak bisa meminta para penerbit untuk mencetak buku-buku kwartal yang sudah hampir berlalu. Penerbit/toko buku lebih suka mempersiapkan pencetakan dan penjualan buku untuk kwartal yang berkutnya. Hal ini akan dapat terus berlanjut, dan problem yang sama akan dapat dijumpai di tahun ini maupun tahun depan, dan tahun selanjutnya.
PEMERINTAH HARUS MENYEDIAKAN DANA DAN MENGINSTRUKSIKAN PARA PENERBIT DAN TOKO BUKU UNTUK MENYEDIAKAN BUKU CETAK KWARTAL YANG SEDANG BERJALAN.
Kalau bisa buku-buku cetak yang rusak boleh ditukarkan dengan buku yang sama, dengan syarat membawa buku yang rusak itu. Biayanya ditanggung oleh PEMDA.
GENERASI PENERUS, KORBAN BANJIR, KORBAN PROJEK BUKU
Sudah menjadi korban banjir, juga jadi korban projek buku, buku yang berganti setiap tahun demi dana projek. Buku cetak selalu berganti setiap tahun, walau hanya mengganti beberapa hal didalamnya, atau ganti bab, atau hanya ganti nama tokoh/item yang ada didalamnya, maka buku tahun yang lewat tidak bisa digunakan lagi untuk pengajaran tahun berikutnya.
Kalau saja buku pelajaran sekolah bisa ditetapkan untuk 10 tahun (relatif lama) tidak seperti sekarang tiap tahun ganti buku, maka ketersediaan buku-buku untuk suatu kwartal akan dapat terjamin lebih baik daripada keadaan saat ini.
Pemerintah tidak berpikir tentang masalah ini, padahal akibat kehilangan jam belajar hampir sebulan (atau 2 bulan) akibat banjir seperti tahun 2002, telah menghilangkan banyak bagian dalam setiap pelajaran sekolah yang seharusnya dipelajari saat itu, dan hal ini dialami oleh hampir semua anak sekolah sebagai generasi penerus!!!
Kalau seorang korban banjir sakit, dapat segera berobat di puskemas ataupun rumah sakit yang biayanya akan ditanggung pemerintah (daerah). Kalaupun tidak punya makanan, akan segera diketahui akibatnya, badan lemah dan bisa saja sakit, yang dalam beberapa hari kemudian dapat saja segera diatasi.
Tetapi kalau sistem belajar mengajar di sekolah tidak berjalan sebagaimana mestinya, kehilangan 2 bulan jam pelajaran seperti di tahun 2002, kemudian buku-buku cetak hilang dibawa banjir, pengajaran tidak bisa disesuaikan dengan bagian pelajaran yang tertunda atau terlewatkan itu, karena buku cetaknya tidak tersedia sedangkan pelajaran harus jalan terus dan terpaksa melompat ke pelajaran yang ada di buku cetak kwartal berikutnya, akibat dari lompatan ini tidak bisa diketahui dalam sehari-dua hari, seminggu-dua minggu, tetapi mungkin tahun depan atau tahun berikutnya, beberapa tahun kemudian. Hal ini tidak disadari oleh banyak orang, semua seperti tidak sadar, tidak mengerti dan terus saja menjalani kehidupan seperti hari-hari biasanya.
Akankah kita tutup mata telinga akan hal ini?
Akankah kita serahkan kualitas generasi penerus bangsa dan negara Indonesia kepada sikap dan tabiat para pimpinan yang terdiri dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Yang tidak mau tahu akan keadaan ini? Yang terus membiarkan kerusakan alam-lingkungan? Yang hanya memikirkan diri pribadi masing-masing? Yang hanya bicara projek-projek pendanaan buku pelajaran sekolah tanpa mau memikirkan akibat yang bisa timbul? Yang hanya mau memperkaya diri sendiri?
Jangankan mengajak rakyat menjaga lingkungan, menjadi panutan saja tidak bisa! Yang dibesar-besarkan hanyalah projek-projek pendanaan yang bisa memperkaya mereka! Maka generasi penerus terus menjadi korban, korban banjir, korban projek buku.
Akankah para pemimpin sadar akan hal ini? SEMOGA . . .
Jakarta, 13 Februari 2003
Bambang Subaktyo
