056 RODA KEHIDUPAN
14 Juni 2000
Hari ini Pakde terpaksa memberi kamu nasihat, yang sebetulnya sudah lama akan diucapkan, agar kamu sadar akan keadaan yang akan datang, akan kehidupan di masa depan yang tidak seindah masa-masa sekarang, kalau saja tidak dipersiapkan dengan benar.
Kehidupan itu bagaikan roda, sesaat dibawah, saat berikutnya diatas, lain kali bisa jadi berada dibawah lagi.
Saat kita ada di atas, rasanya happy terus, uang ada, mobil ada, handphone ganti-ganti, makan tinggal nyendok, mandi langsung ambil baju di lemari, tinggal pilih – banyak lagi. Habis makan, piring ada yang nyuci, pulang ke rumah, ganti baju, baju kotor taruh di pojok ada yang nyuciin, nanti ada yang nyeterika, mobil kotor ada yang nyuciin, mau pergi ada sopir, dst. dst. pokoknya tinggal makan tidur, nggak usah capek-capek, karena ada orang yang bisa disuruh-suruh, kalau perlu orang itu bisa dimaki-maki.
Tapi apa iya, kita dapat terus menerus berada di atas, apa tidak mungkin satu saat kita terpaksa turun mengikuti putaran roda kehidupan? Apa kita sudah siap dengan putaran roda itu? Ingat hidup itu artinya: lahir, berkembang, menjadi dewasa, menikah, melahirkan anak, membesarkan anak, tua, lalu mati. Itu siklus yang tidak bisa ditolak. Begitu juga roda kehidupan, tidak pernah berhenti berputar, sekali dibawah, lain kali diatas, nanti kebawah lagi.
Ada banyak orang yang tidak mau mengakui adanya perputaran roda kehidupan, yang terus menerus mencoba membeli peruntungan dengan melakukan penipuan, pemalsuan, pencurian, korupsi, kolusi, juga nepotisme, yang dilakukan agar kehidupan mereka tidak berputar kebawah, agar terasa enak terus.
Apa kamu pikir orang tua akan terus hidup dan terus menemani sampai kamu mati, terus menerus mengurusi dirimu dengan segala kemewahan dan fasilitas yang jauh lebih dari orang-orang kebanyakan. Tidak kan, satu saat kamu harus menjalani siklus kehidupanmu sendiri, dengan keluarga yang kamu bentuk, dengan suami yang kamu pilih. Setelah itu orang tua tidak bisa berbuat banyak lagi, apa lagi kalau salah pilih, hidup itu menjadi neraka, neraka dunia.
Sekarang orang tua memang bisa dan selalu mencoba memberikan segala macam kemewahan, segala macam yang berlebihan, mobil, handphone, kehidupan yang enak – tinggal nyuruh, tinggal ambil di lemari, tinggal pakai mobil yang sudah bersih, sudah dipanasin oleh orang tua, nah kalau kamu menikah nanti, apa kamu akan membawa pesuruh dan pembantu yang banyak agar semua kegiatan dapat mereka jalankan, dan kamu tinggal menikmati saja? Atau nanti orang tua akan tetap ikutan membersihkan mobil, kamar, lemari, dll . . . tidak mungkin kan.
Anggap saja orang tua sudah tidak ikut-ikut membereskan segala tetek-bengek dalam rumah-tanggamu nanti, anggap saja kita dapat menggunakan pembantu untuk melakukan segala hal yang selama ini disediakan oleh orang tua. Tetapi apa memang begitu mudah?
Cari pembantu saat ini tidak mudah, bisa saja kita dapatkan, tetapi belum tentu jujur, belum tentu setia. Lihat saja, pengalaman yang ada, saat dirumah tidak ada pembantu, nggak gampang kan mencari pengganti, coba lihat pengalaman Bude-Pakde saat tidak punya pembantu, wah repot deh, cari kesana kemari. Pembantu sekarang sangat berbeda dengan pembantu zaman dulu. Dulu jumlah mereka banyak, banyak yang setia, jujur.
Sekarang?
Banyak pembantu yang lompat sana lompat sini, seminggu disini, seminggu pindah kesana, terus begitu. Kenapa bisa?
Iya, sekarang mereka lebih suka bekerja di pabrik, lebih suka jadi TKI, walau risiko bekerja di luar negeri itu berat, banyak yang dianiaya, banyak yang diperkosa, pulang dirampok oleh penjahat dan oknum pengerah tenaga kerja, dirampok di bandara oleh oknum imigrasi dan depnaker, toh tetap saja buat mereka itu satu kesempatan untuk mendapatkan kesempatan mencapai roda kehidupan yang lebih baik. (Bayangkan betapa enak hidupmu dibanding kehidupan mereka yang penuh risiko!)
Anggap saja kita sanggup terus menerus membeli tenaga pembantu, jadi kita bisa terus mencari tenaga pengganti, tetapi selama beberapa minggu kita tidak punya pembantu, kita tetap harus menjalankan roda kehidupan, masak, nyuci pakaian, nyuci mobil, beresin rumah, nyapu, ngelap, dan segala macam hal. Apa sudah sanggup? Belum lagi si suami nanti, apa dia juga bisa diandalkan, terutama saat tidak ada pembantu, apakah dia akan ikut membantu membereskan rumah tangga, atau hanya bisa asal suruh, maunya terima beres, tidak mau tahu, egois, semau gue, maunya keluar rumah, di rumah mau jadi raja, semua harus sudah beres, ada pembantu kek, nggak ada pembantu kek, se bodo amat. Nah kalau dapat suami yang kayak begini apa nggak terus makan hati!? Pulang ke rumah, mau mandi teriak, perlu handuk – teriak, minta baju, celana dalam, kaos kaki, sepatu, makan – minum, padahal tidak ada pembantu!!! Yang kayak begini sudah bukan jamannya lagi!!!! Bukan karena ibu kita Kartini telah merubah dunia, membawa emansipasi wanita, bukan, sama sekali bukan, tetapi memang begitulah adanya, semua harus bekerja sama, bukan cuma mau menang sendiri-sendiri. Lihat saja contoh di luar negeri, jangan lihat yang bagus-bagus dan mewah-mewahnya, tetapi lihat bagaimana pasangan suami istri disana bekerja sama menjalankan rumah tangga, mengasuh anak, dan dua-duanya bekerja, yang dilakukan tanpa pembantu! Tanpa pembantu!!!
Sekali si istri pergi belanja, si suami membereskan rumah, lain kali si suami yang pergi belanja, si istri membereskan rumah, si istri memasak, si suami mencuci piring, lain kali dibalik. Sampai-sampai ada keluarga yang kemudian si suami memilih tinggal dirumah menjaga anak-anak, menjadi bapak rumah tangga, karena kebetulan kesempatan bekerja si istri memang lebih baik dan dengan gaji yang lebih baik, maka si suami mengalah dan berhenti bekerja, tunggu dirumah, berbelanja, memasak, menunggui anak, mengantar anak ke sekolah, dst. Sekali lagi, tanpa pembantu!!! Semua harus dikerjakan sendiri.
Sebuah gambaran yang mungkin sangat jarang terjadi di Indonesia, tetapi itulah gambaran yang terbaik mengenai kerja sama antara suami istri masa depan. Bukan lagi wanita mengejar hak-haknya demi emansipasi, tetapi sekarang ini wanita dikejar kewajibannya karena emansipasi.
Mengenai bagaimana emansipasi yang benar, masih bisa dibuatkan cerita yang lebih panjang, tetapi kita harus kembali ke masalah kehidupan di Indonesia.
Nah coba bayangkan, kalau saja kamu nanti hidup ber rumah tangga dengan gaji yang pas-pasan untuk hidup, dan cukup berat untuk bisa membayar gaji pembantu, gimana? Apakah kalian akan dapat hidup rukun dan damai?
Apakah bayangan seperti itu tidak mungkin terjadi?
Semua kemungkinan bisa saja terjadi, karena saat-saat belakangan ini Indonesia sedang berada di putaran bawah roda kehidupan dunia, perekonomian sedang hancur-hancurnya, mencari pekerjaan tidaklah mudah, menjadi seseorang yang terPHK malah lebih mudah. Setiap saat setiap orang bisa saja di PHK, bisa si istri, bisa si suami, nah sampai satu saat keuangan keluarga menjadi sangat goyah, sehingga tidak bisa membayar pembantu. Bagaimana kehidupan akan dilanjutkan.
Apakah kehidupan yang akan datang akan tetap seperti sekarang, semasa sebelum berkeluarga, dengan kehidupan papan atas (diatas) dengan mobil yang selalu siap sedia, rumah dengan perabotan yang lengkap, dengan pembantu yang selalu siap menyediakan segalanya, makanan, pakaian bersih sudah disetrika, dengan handphone yang siap kring tanpa harus berfikir berapa tagihan telpon ataupun listrik, dengan kamar ber AC dingin, dst.
Kehidupan yang akan datang akan jauh berbeda!
Orang tua yang saat ini siap dengan uang yang berkelebihan, yang tidak tahu darimana datangnya, bisa saja di masa datang tidak punya uang yang cukup, karena umur sudah mencapai usia pensiun, dan tidak bisa lagi mencari kelebihan dari rekanan bisnis. Apakah kehidupan yang mewah akan terus dipertahankan dengan segala cara, dengan korupsi, dengan kolusi atau cara-cara yang tidak halal!? Padahal zaman sudah berubah, reformasi akan menggilas semua yang dijalankan dengan tidak halal, siapa yang korupsi dan kolusi akan jatuh, roda kehidupan akan berputar, dan orang-orang demikian akan berada di posisi terbawah. Siapkah kita dengan hal itu? Siapkah kita mengganti gaya hidup kita?
Sekali diatas, tidak bisa berlama-lama diatas, roda pasti berputar, dan semoga saja saat roda dibawah, kita tidak kebagian tempat yang kotor, becek berlumpur, semoga saja roda tersebut walau dibawah masih berada di tempat yang bersih, dan nyaman. Caranya!?
Kita harus mempersiapkan diri sendiri dengan belajar hidup sederhana, sesuai dengan keadaan majoritas masyarakat Indonesia, sesuai dengan kondisi rakyat Indonesia, sesuai dengan 90% rakyat Indonesia yang berada dikelas menengah ke bawah!
Apalagi yang baik dilakukan?
Carilah pasangan hidup yang memang jujur, setia, mau berjuang, mau berkorban, siap membantu, siap bekerja sama dalam kehidupan masa depan yang akan lebih keras dari masa sekarang. Carilah suami yang baik, carilah yang terbaik yang ada di depan mata, jangan mencari yang tidak jelas, yang mencoba berbohong, yang sembunyi-sembunyi. Yang cuma bergaya kaya dengan segala macam cara, yang banyak bicara tetapi tidak bisa berusaha.
Apakah mendapatkan pasangan yang baik itu mudah?
Tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi juga tidaklah terlalu sulit, malah sebetulnya gampang! Cobalah cari yang hidupnya sederhana, yang mau jalan kaki, yang mau naik bus, yang mau menjalankan kehidupan yang lebih rendah tanpa rasa malu, yang mau memilih kejujuran daripada kekayaan dengan cara korupsi atau dengan cara maling.
Bagaimana caranya?
Pertama-tama, kita sendiri harus menjalankan kehidupan yang serupa, yang sederhana, yang tidak memperlihatkan bahwasanya kita punya kekayaan, dengan cara membuang semua kemewahan, membuang segala macam yang jelas-jelas berbeda dengan majoritas bangsa saat ini, dimana majoritas bangsa dalam keadaan kekurangan!
Cobalah kondisi dan persyaratan diatas dibalik.
Kita bergaya mewah, bermobil, berhandphone-ria, berpesta pora, bergaya elite, makan di restoran mahal, berpakaian mahal, pria yang bagaimanakah yang akan didapat?
Tentu saja yang sejenis! Pria dari kalangan atas!
Apakah ada pria yang demikian?
Ada, tetapi cobalah lihat BOBOT, BIBIT, dan BEBETnya.
Bobot dan Bibit yang bagus mungkin bisa didapat, bagus itu bukan berarti baik, yang jadi pertanyaan adalah BEBETnya didapat darimana?
Bila BEBETnya didapatkan dengan cara-cara yang halal, tidak korupsi, tidak nyolong, tidak maling, maka BOBOT dan BIBIT tersebut adalah baik, tetapi bila BEBETnya didapatkan dari cara-cara yang haram, korupsi, nyolong uang rakyat, maling uang negara, maka BOBOT dan BIBIT yang bagus itu tidak ada artinya. Karana pria yang dibesarkan dalam BEBET yang dibeli dengan uang haram, tidak akan pernah berhasil menjadi pria yang baik, kalaupun ada akan sangat jarang, biasanya karena terbiasa dalam alam BEBET hasil korupsi, maka pria begini akan selalu menghalalkan segala cara, egois, tidak jujur, suka menipu, tidak mau tahu perasaan orang lain, kejam, tidak tahu etika dan sopan santun.
Adakah pria yang memiliki BOBOT, BIBIT dan BEBET yang baik didepan mata? Sudah ada! Akankah ada yang lain yang lebih baik? Bisa ada, bisa tidak! Apakah yang lain itu lebih berBOBOT, BIBIT yang baik dengan BEBET dari uang halal? Belum tentu, bisa jadi sangat diragukan!
Pertanyaan yang ada dalam diri pria ini: Apakah kamu memiliki BOBOT, BIBIT dan BEBET yang baik untuk dirinya?
Kalau saja pria ini mengetahui kekurangan yang ada yang sulit diperbaiki, karena adanya faktor BEBET yang tidak jelas, maka bisa jadi pria yang ‘terbaik’ saat ini akan menghilang, maka hilanglah kesempatan itu.
Kesempatan baik tidak datang dua kali. Maka berhati-hatilah dalam bersikap. Pergunakan kesempatan yang ada sebaik-baiknya, bersikaplah arif, mulailah merubah diri, jadilah orang yang sederhana, mulailah menjadi seseorang yang hidup sendiri tanpa pembantu, tanpa orang lain yang melakukan segala sesuatu untuk kehidupan kita, mulailah mandiri, mulailah BERDIKARI (berdiri diatas kaki sendiri!). Kalau sekarang tidak dimulai, maka segalanya akan terlambat, menyesal kemudian tidak ada gunanya.
