Site icon Bambang Subaktyo's Blog

058 KATA PENGANTAR MSICS

058 KATA PENGANTAR MSICS

*

Buku “Mens Sana In Corpore Sano” ini merupakan buku ke-3 dari seri “Menuju Revolusi Mental”.

Buku pertama berjudul “Yang Di Depan Menjadi Panutan”, menggambarkan keadaan Indonesia sampai dengan saat buku-buku ini ditulis. Kita telah kehilangan pijakan, begitu banyak orang yang melupakan hukum, terus melanggar peraturan, korupsi berjamaah, pejabat banyak tersangkut kasus korupsi, banyak pimpinan daerah yang menjadi tersangka, banyak hal terbolak balik, apa yang hak menjadi kewajiban, yang kewajiban terus dilupakan, dst … dst.

Buku kedua berjudul “Pendidikan Mental – Moral”, berisi tentang berbagai hal terkait Mental – Moral masyarakat saat ini, tentang keadaan saat ini, hal-hal yang perlu dilakukan, hal-hal yang perlu disiapkan, arah dan tujuan pembangunan mental – moral kedepan, pilihan industri yang bisa disiapkan bagi bangsa dan negara, langkah langkah yang perlu diambil, hal-hal yang perlu dihindari, dst.

Buku pertama menggambarkan IST, keadaan Indonesia saat lalu, buku kedua menjadi arah dan tujuan pembangunan mental – moral, sebagai bagian dari SOLL, yang seharusnya dicapai untuk menjadikan bangsa-negara Indonesia jaya di masa depan. Buku ketiga ini berisikan pendukung pencapaian perubahan itu. Bangsa yang sehat akan bisa maju jaya di masa depan.

Untuk mencapai satu kondisi dimana Bangsa-Negara Indonesia Jaya di Masa Depan, perlu dipersiapkan banyak hal, diantaranya: badan yang sehat dan pikiran yang sehat. Berbagai hal untuk pencapaian kesehatan bangsa, terutama kesehatan generasi penerus bangsa perlu direalisasikan, perlu dipersiapkan, dijalankan dalam kondisi yang adil tanpa perbedaan.

Kesempatan untuk bisa mencapai kondisi sehat lahir batin itu harus tersedia bagi semua dengan mudah, adil, sederhana, leluasa, tanpa pembiayaan (kalau mungkin), tidak perlu berlama-lama dan tidak berbelit-belit untuk mendapatkannya.

Bagi generasi penerus bangsa, sudah seharusnya hal ini menjadi hak yang tidak bisa ditampik, harus tersedia bagi mereka tanpa melihat siapa mereka, siapa orang tuanya, dimana tempat tinggalnya, sama rata sama rasa. Kesempatan yang sama untuk anak-anak generasi penerus bangsa dalam mendapatkan kesehatan, mendapatkan pendidikan, mendapatkan berbagai kesempatan pengembangan diri. Tidak perlu ada perbedaan kelas bagi mereka, tidak perlu ada yang mampu boleh mengusahakan bangku di sekolah unggulan sementara yang tidak mampu hanya diberikan bangku di sekolah buangan. Tidak perlu lagi ada istilah sekolah unggulan dan sekolah buangan. Semua anak-anak akan bersekolah di sekolah dekat rumah mereka, bangku sekolah diberikan berdasarkan rayon, berdasarkan kedekatan antara rumah dan sekolah. Buku cetak pelajaran sekolah (BCPS) menjadi milik bersama, milik negara, anak-anak hanya meminjam buku itu selama pelajaran berlangsung, setelah itu dikembalikan. Bila bencana datang dan BCPS itu hancur tertimpa bencana, pemerintah bisa mendistribusikan BCPS yang ada di gudang persediaan sarana-prasarana sekolah, kalau ternyata kurang, pemerintah bisa memerintahkan cetak ulang dan menyimpan sisanya di gudang persediaan. Tidak perlu ada ‘missing link’ pelajaran sekolah karena anak-anak sekolah tidak punya BCPS.

Kejayaan Bangsa-Negara hanya bisa dicapai kalau semua anak bangsa bisa bersatu, tidak dipecah belah dengan perbedaan kelas sosial, tidak dibedakan atas dasar sekolah unggulan dan buangan, tidak ada jarak dalam hubungan mereka sehari hari satu sama lain, bukan dalam kondisi saling berlomba memperlihatkan tingkat ekonomi keluarga, bukan saling mengungguli dalam hal kepemilikan gadget teknologi tinggi, tidak boleh ada yang tertinggal dalam banyak hal, karena yang tertinggal akan menjadi batu sandungan bagi semua anak-anak generasi penerus bangsa. Kalau mau maju, majulah bersama sama, jangan hanya memajukan sebagian saja, jangan hanya mementingkan ego beberapa orang dari kelompok ‘the haves’ saja. Mau jaya, jayalah bersama, mau maju, majulah bersama, mau sehat, sehatlah bersama sama.

Generasi penerus bangsa harus sehat lahir batin, mereka harus sehat dalam banyak hal, sehat dalam hubungan antar mereka sendiri, sehat dalam hubungan mereka dengan masyarakat, sehat sebagai anak bangsa.

Kalau negara tidak bisa menyediakan fasilitas kesehatan bagi anak-anak generasi penerus bangsa, jangan berharap kita bisa maju jaya di masa depan, jangan harap kita bisa bersaing dengan negara-negara lain yang sudah lebih dulu punya sistem jaminan kesehatan bagi rakyatnya.

Perlakuan dan pemberian jaminan bagi anak-anak generasi penerus bangsa harus segera direalisasikan, semua anak-anak mendapatkan perawatan yang sama, tidak ada perbedaan.

Perbedaan antar anak-anak hanya boleh ada berdasarkan hak individual mereka, ada yang ingin berkecimpung di dunia seni maka buat mereka disiapkan kesempatan untuk itu, ada yang ingin mengejar teknologi maka disiapkan buat mereka kesempatan yang sama, ada yang ingin mengejar ketrampilan disiapkan kesempatan juga, dst. Perbedaan itu berdasarkan hasrat bakat anak-anak itu sendiri, keinginan mereka mengambil jurusan apa, bukan berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua, bukan karena si orang tua orang berpendidikan tinggi atau berkedudukan tinggi, maka anak-anak mereka mendapatkan kesempatan lebih. Mereka semua harus berbaur satu sama lain, perbedaan kelas ekonomi tidak boleh menjadi dinding pemisah, tetapi menjadi ajang sarana pembelajaran satu sama lain dalam perbedaan kelas ekonomi. Persatuan dan kesatuan generasi penerus bangsa harus digalang sejak mereka masuk Taman Kanak-kanak, sejak SD dan seterusnya sampai tingkat sekolah menengah atas. Barulah di perguruan tinggi dipisahkan berdasarkan kemampuan hasrat bakat dan otak mereka.

Pertanyaan buat semua: “Kita mau menggalang persatuan atau perpecahan!?”

Untuk mencapai Indonesia Jaya di Masa Depan, jelas perlu persatuan, maka jangan bedakan mereka dalam banyak hal, dalam hal pembentukan diri, dalam hal proses belajar mengajar, dlsb, dan tentu dalam hal menyehatkan lahir-batin mereka.

Mari kita sehatkan pikiran dan badan mereka … Mens Sana In Corpore Sano!

Jakarta, Kemis, 4 Desember 2014

Exit mobile version