059 Mens Sana In Corpore Sano
A healthy mind in a healthy body
Pikiran Sehat didalam Badan Sehat
Benarkah motto itu?
Ada pikiran yang sehat di dalam badan yang sehat!?
Benarkah pasangan pikiran dan badan itu selalu seirama, dengan badan yang sehat maka pikiran akan juga sehat, atau kalau pikiran seseorang itu sehat pasti badan orang itu juga sehat?
Bagaimana kenyataannya?
Banyak orang-orang dengan badan yang sehat ternyata pikirannya tidak sehat. Tidak hanya orang orang tak waras yang masuk katagori kelompok orang berpikiran tak sehat dengan badan yang terlihat begitu sehat. Para koruptor itu pasti berbadan sehat, mereka punya pikiran yang tak sehat, pikiran yang selalu ‘ngeres’, pikiran kotor, pikiran jorok, pikiran jahat, pikiran culas. Pikiran yang tak sehat itu berada di dalam badan yang sehat yang selalu dirawat dengan rutin dan mahal. Mereka (koruptor) menyempatkan diri mencari perawatan kesehatan sampai ke luar negeri. Jadi, jelas terlihat: badan yang sehat itu tidak selalu menjadi tempat bersemayam pikiran yang sehat!
Sementara itu, ada orang-orang yang jelas terlihat badannya penuh halangan rintangan, mereka tidak bisa bergerak leluasa, gerakan sudah sangat terbatas bahkan tidak bisa bergerak tanpa bantuan peralatan khusus, tetapi pikiran mereka begitu maju, begitu ‘didepan’ dibandingkan orang banyak, dia bisa berpikir jauh melampaui kemampuan orang rata-rata. Contohnya: Stephen Hawking dengan teori ‘black hole’, dia harus berada di kursi roda sepanjang waktu, dia tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki, dia bisa menulis menggunakan peralatan yang khusus dirancang untuk kebutuhan khusus, dia menulis banyak buku pengetahuan yang istimewa di atas kursi roda yang sekaligus sebagai meja kerjanya.
Dari tulisan diatas, jelas terlihat, bahwa badan yang sehat tidak selalu berisikan pikiran yang sehat, badan yang tidak sehat tidak menjadi penghalang bersemayamnya pikiran yang sehat dan cemerlang. Bagi Stephen Hawking, dia tidak menunggu badannya sehat baru punya pikiran cemerlang, dia terus berusaha untuk menyampaikan daya pikirnya kepada orang banyak, untuk kebaikan orang banyak, sementara si orang tidak waras itu, meski badan mereka sehat, tetap sulit menjadikan pikiran mereka menjadi waras, tetap sebagai orang sakit jiwa, tetap berhalusinasi, dan si koruptor tetap mencuri meski mereka tahu itu salah.
Mungkin saja, yang dimaksud pikiran yang sehat adalah kemampuan kita untuk berpikir, sekedar mampu berpikir dengan baik. Soal tujuan atau perbuatan hasil daya pikir itu negatif, itu lain hal.
Pikiran seseorang bisa berjalan dengan baik, otaknya berfungsi dengan baik, tidak miring alias gila, dan bisa memisahkan antara baik dan tidak baik, jahat dan tidak jahat, curang dan tidak curang, jujur dan tidak jujur, dst. Pikiran itu seharusnya bisa membedakan apakah perbuatan yang dilakukan seseorang itu sudah benar, sudah sesuai hukum, sesuai peraturan, sesuai dengan ajaran agama, sesuai dengan ada-istiadat, sesuai dengan etika yang berlaku umum. Lain halnya kalau otak seseorang itu miring alias gila alias tidak waras, maka perbuatan orang itu dianggap tidak berdasarkan kesadaran. Perlakuan terhadap pelaku pembunuhan yang dilakukan orang waras akan berbeda dengan yang dilakukan orang otak miring (gila), karena didasarkan adanya kesadaran atau tiadanya kesadaran orang itu saat melakukan perbuatan melanggar hukum itu.
Seorang koruptor berbadan sehat dengan kesadaran penuh (otaknya berfungsi penuh) tetapi tetap melakukan perbuatan melanggar hukum. Pikiran orang itu sehat, badannya sehat, tetapi hati nurani-nya yang tidak sehat! Tidak kenal malu, tidak kenal etika, tidak mau tahu hukum dan peraturan, dan tidak peduli dengan agamanya, padahal biasanya para koruptor itu terlihat begitu alim, begitu rajin menjalankan ritual agama, begitu sering memberikan bantuan kepada kelompok agamanya, pencitraan baik-baik begitu terlihat oleh orang banyak. Dibalik itu semua, orang itu tetap mencuri, tetap jahat, tetap licik, tetap culas, tetap kejam, tetap bengis, tetap nekat berbuat salah, tetap tidak peduli kepada orang lain. Orang-orang semacam itu, punya mindset yang salah. Daya pikirnya sehat, tetapi settingan otaknya yang salah.
Sekedar ‘Mens sana in corpore sano’, sekedar pikiran sehat didalam tubuh yang sehat, ternyata sudah tidak bisa dijadikan motto pegangan lagi, paling tidak buat kita di Indonesia.
Kondisi itu memaksa kita menimbang nimbang, yang mana harus lebih dulu diupayakan, apakah badan yang harus sehat atau pikiran yang harus sehat lebih dulu. Sebuah kondisi yang mirip seperti: “Mana dulu: ayam atau telur?” … Pikiran atau badan yang harus sehat lebih dulu!?
Kalimat Mens sana in corpore sano berasal dari sebuah ‘ Satire X of the Roman poet Juvenal’. The phrase comes from Satire X of the Roman poet Juvenal (10.356). It is the first in a list of what is desirable in life:
Latin: orandum est ut sit mens sana in corpore sano.
English: It is to be prayed that the mind be sound in a sound body.
Bahasa Indonesianya: Sebaiknya kita berdoa agar pikiran itu sehat didalam badan yang sehat.
Rasanya, sekedar pikiran sehat berbadan sehat belum cukup, perlu emosi yang sehat, hati nurani yang sehat, rasa sosial yang sehat, mindset yang sehat, … selanjutnya orang itu perlu berkeadilan, penuh rasa kasih, punya rasa sayang, sadar lingkungan, taat hukum, patuh peraturan, menghormati orang lain … dlsb. Pembentukan generasi penerus bangsa perlu memasukkan semua hal sehat itu.
Jakarta, 4 Desember 2014
