061 Mobil Ambulance & Kesehatan Pemimpin
15 Juni 2009
Perawatan 3 Mantan Presiden
Saya membaca di Kompas dan media lain, tentang perbedaan perawatan bagi 3 orang ‘mantan’ presiden, dimana Sukarno di akhir hayatnya dirawat oleh dokter hewan, Gus Dur yang harus membayar sendiri biaya perawatan kesehatannya, dan HMS yang dirawat serba exclusif dengan puluhan dokter ahli dan biayanya boleh ditagihkan ke negara.
Dari sinilah saya teringat akan pengamatan saya di waktu yang lalu, saat si presiden atau wapres berkeliling kota dengan rombongannya.
Mobil Ambulance Kepresidenan
Sekitar jam 9 pagi (sekitar tahun 2002) di jl. Matraman Raya, polisi sibuk menghentikan kendaraan yang lewat, semua kendaraan bermotor harus berhenti dan menepikan kendaraan mereka. Dari kejauhan terdengar suara sirene meraung-raung dari kendaraan pembuka jalan bagi kendaraan bernomor B2, kendaraan Wakil Presiden. Beberapa kendaraan pengawal berada di depan B2, beberapa kendaraan lagi berada di belakangnya, dan yang terakhir ikut meluncur mobil ambulance khusus berwarna hijau. MOBIL AMBULANCE!
Ternyata tidak hanya si Wapres yang keliling kota diiringi mobil ambulance, si Presiden juga akan diikuti oleh mobil ambulance kemanapun mereka meluncur . . . lucu sekali!?
Sebuah kenyataan yang pahit buat bangsa ini, sampai-sampai presiden dan wakilnya harus diikuti dengan kendaraan ambulance khusus untuk menjaga kesehatan kedua orang terkemuka tersebut. Keikut-sertaan mobil ambulance sudah sejak jaman presiden HMS memerintah negara ini dan terus berlanjut ke pemerintahan presiden berikutnya, baru saat bapak SBY menjadi presiden mobil ambulance itu tidak kelihatan lagi, paling tidak di Jakarta!, saya tidak tahu kalau presiden & wapres sedang beranjang-sana ke daerah.
Ada 2 perkiraan saya untuk itu:
- si presiden/wapres memang tidak cukup sehat, berpenyakitan (parah tentunya) sehingga harus selalu diiringi mobil ambulance kemanapun beliau-beliau itu berada
- si presiden/wapres memang meragukan sistem pelayanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintahnya sendiri, meragukan sistem pelayanan rumah-sakit yang ada, meragukan kemampuan para dokter selain dokter yang dibawanya sendiri berkeliling kota, atau mungkin takut kalau terjadi salah perawatan sehingga perlu membawa mobil ambulance khusus, dokter khusus, perawat khusus, peralatan khusus dan obat-obatan khusus untuk dirinya.
Lucu sekali presiden-presiden yang lalu yang membawa keliling mobil ambulancenya kemana-mana, karena memberikan gambaran kalau si presiden itu berbadan tidak sehat alias penyakitan dan sekaligus beliau-beliau itu tidak percaya kepada sistem pelayanan kesehatan yang mereka persiapkan bagi rakyatnya, yang begitu ambur-adul sehingga beliau-beliau itu harus membawa ambulance, dokter, perawat, peralatan, dan obat-obatan sendiri kemana-mana.
LUCU sekali, mereka tidak percaya kepada sistem yang dipersiapkannya sendiri.
Mobil Ambulance Masa Kini
Ternyata tidak hanya institusi kepresidenan saja yang menyediakan kendaraan kesehatan khusus darurat, tetapi banyak unit-unit departemen pemerintah Republik Indonesia secara terpisah-pisah menyediakan kendaraan-kendaraan ambulance mereka sendiri.
Pernah saya melihat kendaraan ambulance sumbangan dari Jepang yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari yang jelas terlihat bukan untuk menangani masalah kesehatan khusus darurat, mengangkut orang sakit, mengangkut korban kecelakaan atau keadaan lain, tetapi untuk kendaraan transportasi aparat, karena jelas terlihat mereka yang mengendarai kendaraan itu bukan petugas kesehatan! Baju dan tampang mereka jauh dari tampang petugas kesehatan! Bahkan saya masih melihat kendaraan ambulance puskesmas digunakan untuk antar jemput pegawai.
Banyak klinik-klinik, yayasan-yayasan penyelenggara kesehatan swasta yang memiliki kendaraan ambulance mereka sendiri, dan setiap saat mereka dapat saja meminta perlakuan khusus dalam perjalanan mereka, dengan lampu kelap-kelip dan sirene meraung-raung mereka minta jalan agar bisa lewat dengan cepat di kerumunan mobil-mobil yang menyesaki jalanan.
Rasanya tidak adil, melihat begitu banyak kendaraan yang dibuat menjadi mobil ambulance tetapi sebenarnya tidak berfungsi dengan baik dan benar, karena kendaraan itu sebenarnya sudah mirip dengan kendaraan angkutan barang yang lain, kendaraan pengangkut penumpang (umum), kendaraan pengangkut furniture, pengangkut semen, pengangkut pasir, atau seperti taxi, yang dapat dipergunakan dengan membayar sewa pemakaian jasa. Tetapi cobalah kalau ada bencana atau kecelakaan besar, apakah kendaraan itu akan dengan segera tersedia, siap mengangkut para korban, mereka yang sakit, yang terluka . . . belum tentu.
Jadi ternyata kebiasaan pemimpin-pemimpin yang tidak percaya kepada sistem pelayanan kesehatannya sendiri itu terus berlanjut sampai sekarang. SAMPAI KAPAN?
***
Artikel di atas ditulis di tahun 2009. Jadi pernyataan saya masih berlaku saat itu.
Pemimpin yang sekarang sudah jauh lebih baik, dia tidak membawa mobil ambulance, dia minum herbal setiap pagi, dia mempersiapkan sistem kesehatan bagi rakyat.
Jakarta, 17 Desember 2014
