Site icon Bambang Subaktyo's Blog

062 Buah Tidak Akan Jatuh Jauh Dari Pohonnya

062 Buah Tidak Akan Jatuh Jauh Dari Pohonnya

5 Desember 2014

Sebuah pepatah lama yang memberikan gambaran suatu keadaan yang secara alamiah memang akan begitu adanya, buah yang matang akan jatuh tidak jauh dari pohon induknya, kecil kemungkinan buah itu jatuh terdampar sangat jauh dari pohon induknya, kecuali ada satu hal yang luar biasa yang menghasilkan satu keadaan yang berbeda dari seharusnya.

Demikian juga dengan jiwa manusia, secara alamiah akan menyerupai jiwa-jiwa yang ada di sekitarnya, di rumah atau di lingkungan kehidupan dia. Tidak akan jauh berbeda dari jiwa-jiwa induk yang membentuknya. Jiwa-jiwa induk yang sehat akan menghasilkan jiwa anakan (turunan) yang juga sehat, dan yang tidak sehat menghasilkan yang tidak sehat juga.

Jiwa (baru, anakan) tidak akan tumbuh sehat bila ia berada di lingkungan yang tidak sehat. Jiwa yang berada di lingkungan yang berisikan jiwa jiwa yang sudah tidak sehat selama ini, tidak mungkin akan tumbuh menjadi jiwa sehat, jiwa itu tidak akan jauh berbeda dengan jiwa jiwa yang ada disitu.

Bila seorang anak hidup di dalam keluarga petani, dia akan tumbuh sebagai anak petani, bukan anak nelayan. Sebagai anak petani, dia akan menyerap berbagai bentuk kearifan dalam lingkungan pertanian itu, apa yang boleh, apa yang tidak, kapan musim tanam, kapan menanam tanaman tertentu kapan menanam yang lain. Dia mengadaptasi segala hal yang ada dalam lingkungan kehidupan pertanian, berbagai ritual bercocok tanam, ritual ritual sebelum menanam, selama perawatan saat panen dan setelah panen, menyerap adat istiadat yang berlaku di lingkungan itu. Jiwa petani akan langsung terserap oleh anak-anak petani itu. Soal anak itu kemudian belajar sampai ke perguruan tinggi, itu soal kemauan, tetapi jiwa anak itu tahu bagaimana kehidupan petani yang selaras dengan alam, dan keselarasan itu akan terus dia bawa bahkan bila dia berada di benua lain sekalipun.

Lain halnya dengan anak-anak yang tumbuh di keluarga yang tidak mengindahkan sopan santun, tidak ada kejujuran dari orang tuanya, selalu berusaha mengedepankan kekuasaan, kekerasan, keistimewaan, penuh perasaan sebagai penguasa, pemilik segalanya, bisa sewenang wenang, maka anak-anak itu akan juga menjadi seperti yang orang tua mereka percontohkan, mereka akan bertindak ‘semau gue’, tidak mau mengalah, selalu menyalahkan orang lain, selalu mengedepankan kekerasan, tidak taat hukum, tidak patuh peraturan, tidak sopan kepada orang lain … dan itu akan dibawa oleh anak-anak itu sampai ke masa dewasa, masa tua mereka, bahkan saat mereka pergi ke luar negeri, hidup di negeri orang, mereka akan tetap seperti itu, merasa sok kuasa, melanggar peraturan, dlsb.

Jiwa Anak Koruptor

Bagaimanapun seorang koruptor (penipu uang rakyat) berusaha untuk tampil jujur di hadapan anak-anak mereka, tetap tidak akan tampil seperti seharusnya, roman muka, gesture, kata kata tetap tidak akan terlihat sebagai orang jujur yang asli, hanya kemunafikan, kata hati yang tak tulus akan menghambat, menghadang gerakan orang-orang itu untuk tampil apa adanya.

Tidak mungkin seorang pencuri bisa membohongi hatinya sendiri, itu terlalu luar biasa kalau seorang koruptor bisa berwajah tenang, adem, kalem, apa adanya, tanpa beban, santai … tidak akan mungkin bisa, karena pertentangan antara baik versus benar terus bergelora di hatinya, dan itu akan tampil seperti orang gagap, dan kemunafikan itu akan terlihat oleh anak-anak mereka, paling tidak akan ter-rasa-kan, akan diserap, dan ke-gagap-an itu lama kelamaan menjadi karakter bersama dalam keluarga mereka, yang akhirnya terlihat sebagai keangkuhan, kesombongan, ketidakpedulian, ketidakacuhan, sampai kekurangajaran … apalagi kalau anak-anak mereka kemudian tahu persis bahwa ongkos hidup mereka benar benar bukan dari uang halal, tetapi uang dari hasil penipuan, menipu masyarakat, mencuri kekayaan bangsa, merampok, strategi Arisan-Bancakan kekayaan bangsa, dlsb … anak-anak itu akan patah semangat, berawal dari penolakan akan ketidakbenaran, sedih akan ketidakmampuan diri (sang anak), galau karena tidak bisa menolak kenyataan hidup dari uang haram.

Selanjutnya, ada 2 pilihan bagi sang anak: menolak dengan frustasi atau menerima dengan kemunafikan.

Jiwa yang tak tenang, penuh kemunafikan akan mengarah kepada kekerasan, cepat marah, emosi tinggi, ketidakpuasan, penuh kecurigaan kepada orang lain, apalagi kalau sudah dibarengi dengan asupan narkoba atau minuman keras, mereka akan semakin jauh dari kebenaran.

Bayangkan, jiwa jiwa penuh kepalsuan itu saat membentuk keluarga, mereka akan melahirkan generasi penuh kepalsuan tingkat berikutnya. Penuh tipu tipu, penuh kemunafikan, dst.

Exit mobile version