063 PERCONTOHAN YANG . . .
10 Desember 2014
Kalau sejak kecil, anak-anak diberi contoh kebenaran, keadilan, kesopan-santunan, penuh etika, sesuai adat budaya, sesuai agama, maka anak-anak akan tumbuh serupa dengan apa yang diperlihatkan, diperbuat, dipercontohkan oleh orang tua mereka. Sungguh satu usaha yang tidak mudah bagi orang tua untuk memberikan percontohan yang baik kepada anak-anak … KARENA, di masa sekarang ini, percontohan yang tidak baik itu begitu mewabah dalam kehidupan kita, begitu kita keluar rumah, berada di jalan, saat perpindahan anak-anak dari rumah ke sekolah dimana mereka akan belajar taat hukum, patuh peraturan, berdisiplin, menghormati guru dan orang lain, rajin, baik, dst dst … saat perpindahan itu, saat anak-anak berangkat dari rumah ke sekolah, maka saat itulah yang paling kritis, karena ada begitu banyak percontohan yang tidak baik, yang tidak patut, yang tidak senonoh, yang tidak etis, yang tidak sesuai agama, yang tidak sesuai hukum dan peraturan telah menghadang mereka … setiap hari, setiap detik, semua percontohan buruk itu diperlihatkan oleh orang dari berbagai kalangan, dari tukang ojek sampai pejabat tingkat atas sama sama memberikan panutan yang tidak baik.
Orang tua sudah berusaha sebaik baiknya di rumah memberi percontohan yang baik, para guru di sekolah juga sudah berusaha sebaik baiknya di lingkungan sekolah memberi berbagai pelajaran yang terbaik … TETAPI setiap pagi dan petang saat perpindahan dari rumah ke sekolah atau dari sekolah ke rumah, anak-anak itu diberi pelajaran yang SANGAT bertolak belakang dengan apa yang orang tua dan para guru berikan! Apakah anak-anak lebih suka mengikuti percontohan yang benar, atau anak-anak cenderung memilih percontohan yang tidak benar!?
Sudah jamak, bagi seorang manusia untuk lebih mudah mencontoh sifat yang tidak benar daripada mengadaptasi perilaku yang benar … itu sudah dari ‘sono’nya. Mau contoh!?
Lihat saja di jalanan, ada begitu banyak contoh contoh itu.
Lihatlah dari persepsi kebenaran, bukan dari persepsi bentukan ‘alah bisa karena biasa’, karena persepsi kebisaan yang sudah menyerap ketidakbenaran yang dilakukan banyak orang sebagai kebiasaan bersama yang sudah diaklamasi sebagai hal yang bisa diterima bersama itu, tidak akan pernah melihat berbagai ketidakbenaran di jalan itu sebagai hal hal yang tidak benar, karena bisa saja orang itu sudah biasa ikut serta meramaikan suasana ketidakbenaran, bersama sama melakukan pelanggaran, ketidaktaatan, ketidakpatuhan, kekurang ajaran, dlsb.
Kalau lingkungan sudah seperti itu, penuh dengan jiwa jiwa yang tidak sehat, bagaimana kita akan menumbuh kembangkan jiwa sehat anak anak generasi penerus bangsa!?
Yang ada, mereka akan segera meniru percontohan yang mereka serap di jalanan. Meski orang tua berusaha mengarahkan anak-anak mereka kepada kebenaran pikiran, tapi percontohan itu ada begitu masiv, begitu berkelanjutan, anak-anak sulit menolak apa yang sudah dipercontohkan oleh begitu banyak orang dewasa, mereka membentuk pemikiran bahwa apa yang mereka lihat itu sudah benar, boleh dilakukan, begitu menyenangkan daripada harus mengikuti arahan orang tua di rumah ataupun ajaran guru di sekolah.
Banyak TUTOR Jalanan
Setiap orang dewasa yang berlaku tak benar di jalanan, secara otomatis menjadi tutor bagi orang lain, bagi anak-anak generasi penerus bangsa. Mereka tidak sadar saat melakukan pelanggaran di jalan itu mereka memberi contoh buruk bagi orang lain, bagi orang dewasa yang tak tahan godaan untuk ikut serta melakukan pelanggaran dan tentu saja bagi anak-anak generasi penerus, seakan-akan apa yang dilakukan itu adalah benar, seakan-akan pelanggaran itu sebagai tindakan macho, agar terlihat (exist) jantan, gagah, jagoan, penuh keberanian, padahal cuma sekedar tindakan barbar, phytecanthropus erectus motoritus (manusia purba berjalan tegak naik motor).
Perilaku melanggar peraturan yang dilakukan dengan acuh tak acuh akan keadaan sekitarnya, tidak terlihat malu, tidak sungkan, tidak jengah, tidak punya rasa bersalah, bahkan tertawa tawa seakan-akan berhasil mengakali keadaan, bahkan tidak jarang mereka yang sedang melanggar ini akan memasang muka galak, berteriak keras, menghardik orang lain yang sebenarnya berhak di jalan itu dan sedang berada di jalur yang benar.
Sebaliknya, seseorang yang berusaha taat peraturan, berhenti di depan garis putih tanda batas kendaraan menunggu lampu traffic light merah, akan dilihat sebagai orang bodoh, sebagai pengecut, sebagai sok jujur, sok baik, sok taat, dlsb. Tidak jarang, mobil atau kendaraan yang berada di belakang akan membunyikan klakson agar kita yang sedang mencoba taat itu maju menerobos lampu merah. Jiwa-jiwa sudah terbalik balik, yang kacau sudah terlihat begitu banyak, sebagai kelompok mayoritas sedangkan jiwa yang masih baik berada sebagai minoritas.
Sampai ada slogan yang ditempel di gedung KPK: “Berani Jujur, Hebat!!!”. Seseorang dari kelompok minoritas yang berani berbeda dengan kelompok mayoritas boleh dikatakan hebat, karena memang tidak mudah menghadapi gerakan kelompok mayoritas. Sungguh menyebalkan saat kita sedang menunggu lampu merah di perempatan jalan, menunggu kesempatan untuk bergerak, menunggu lampu hijau, sementara beberapa pengemudi di belakang terlihat dan terasa begitu gahar (liar dan barbar) membunyikan klakson, menyalakan lampu dan terdengar suara mesin menggelegar saat sang pengemudi itu menginjak pedal gas berulang-ulang, agar kita maju menerobos lampu merah. Butuh kekuatan extra untuk tidak terpancing emosi menghadapi jiwa-jiwa yang sudah kacau itu. Jelas tidak mudah untuk bersikap berbeda dari kelompok mayoritas, butuh keberanian, butuh jiwa kuat dan mental baja. Hebat kan!?
Pengalaman Di Negeri Berjiwa Besar
Saya pernah tinggal 8 tahun di salah satu negara maju Eropa, maju dalam banyak hal, dalam hal perindustrian, perdagangan, ketenagakerjaan, kependudukan, sosial, ekonomi, politik, hukum dlsb. Semua tertib berlalulintas, kendaraan pribadi menghormati kendaraan umum, kendaraan umum berjalan tertib santai, mereka mendapatkan privileges lebih daripada kendaraan pribadi, tidak ada angkutan umum yang saling balap, saling silang, semua berjalan tertib sesuai peraturan, mereka berhenti di halte yang ditentukan, tidak pernah sekalipun menurunkan penumpang di perempatan jalan, di jalur ke-2 atau ke-3, selalu berhenti di lampu merah, menunggu sampai gilirannya tiba, tidak pernah saya mengalami berkendaraan di perempatan saat mendapat lampu hijau lalu dipotong angkutan umum yang menerobos lampu merah, hampir tidak ada hal negatif, sulit sekali menemukan hal negatif di jalanan, semua merasa malu kalau melakukan kesalahan, dan akan ditegur oleh orang banyak, masih bersukur kalau tidak dilaporkan ke polisi karena ulah kita yang salah atau semau gue. Hampir tidak ada pagar pembatas agar orang tidak menyeberang sembarangan, semua tahu risikonya, semua akan mencari ruang yang sudah disediakan untuk menyeberang, bisa zebra cross atau terowongan underpass di bawah jalan. Coba saja sebagai orang asing menyeberang sembarangan, bersukur kalau cuma dipelototin, akan lebih memalukan kalau dikatakan sebagai barbar tak tahu aturan, sebagai orang asing pendatang dari negeri tak beradab.
Saat naik kendaraan umum (angkutan umum), warga tertib membeli karcis di mesin penjual tiket (vending ticket machine), membayar sesuai jarak berdasarkan zona, begitu menyenangkan, naik kendaraan umum apapun yang ada, pindah ke kendaraan umum yang lain tanpa perlu membayar lagi, pindah lagi, pindah lagi, sampai ke tujuan. Memang ada juga orang yang memang tidak mau membayar, tapi itu satu pengecualian dari sekian banyak penumpang.
Orang tua dan penderita cacat (invalid) mendapatkan keistimewaan, mereka mendapat bangku khusus yang tidak pernah ditempati oleh penumpang yang tidak masuk katagori itu, dan saat bangku khusus itu sudah penuh, penumpang lain akan dengan sigap memberikan bangkunya kepada orang tua atau cacat. Coba saja untuk mengambil bangku khusus itu, rasakan pelototan banyak orang, rasakan bagaimana para penumpang akan memandang si ‘tak tahu diri’ itu sebagai orang kampungan, tak berkelas, tak berpendidikan, barbar, dlsb. Jiwa jiwa sehat akan segera memberi teguran dalam berbagai bentuk (cara) kepada si jiwa tak sehat itu. Sungguh sebuah percontohan yang sangat lumrah, mereka sudah ‘alah bisa karena biasa’, biasa berjiwa sehat, maka setiap anak-anak akan mendapatkan pelajaran kesehatan jiwa yang baik dalam keseharian mereka.
Bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini … lihatlah sendiri.
Mari buka mata, buka hati, kita perhatikan apa yang terjadi di jalanan ibukota. Apa yang warga lakukan di jalanan: makan di jalan, minum di jalan, pesta di jalan, perayaan hari besar di jalan, ritual agama di jalan, upacara kemerdekaan di jalan, bermain di jalan, olahraga di jalan, berdagang di jalan, buka pasar di jalan, pasar kaget malam hari di jalan, pipis di jalan, BAB di jalan, berbagai kegiatan dicoba dilakukan di jalan, kalau perlu jalanan diblokir oleh warga, bahkan anak-anak kecil sudah begitu berani memasang berbagai benda di jalan sebagai barikade agar jalanan bisa mereka pakai untuk bermain.
Begitu banyak kegiatan dilakukan di jalan, ada yang pacaran di pinggir jalan gelap, berduaan duduk di motor yang diparkir di pinggir jalan, ada juga yang pacaran di bibir jembatan layang, duduk berduaan di atas motor, sudah ada yang mati karena pacaran di pinggir jalan, duduk berduaan di dalam mobil yang mesinnya dihidupkan, AC dipasang, mereka mati karena gas buang knalpot kendaraan menyusup dari bawah, dan mereka tidak membuka kaca jendela sedikitpun.
Coba lihat bagaimana warga membuang sampah sembarangan di jalan, warga naik mobil sambil makan, dan kertas atau plastik pembungkus dilempar keluar langsung ke jalan, atau lihatlah di pintu masuk atau keluar tol, saat pengemudi harus membayar karcis tol, begitu karcis diterima, langsung diremet, digenggam, dirusak dan langsung dilepaskan di jalan di depan petugas karcis tol itu, dan sebelum jendela ditutup, si pengemudi tidak lupa melepaskan beberapa sampah keluar jendela. Pembuang sampah di jalan itu bukan hanya orang-orang kelas bawah yang tidak berpendidikan, yang tidak punya uang, tapi juga dilakukan oleh orang berpendidikan, orang mampu bahkan ada yang kelas atas, celebritis, toh tidak malu malu membuang sampah di jalan. Lihat saja, mereka mampu membeli mobil, bahkan pengendara dan penumpang mobil kelas milliaran juga melakukannya.
Apa yang terjadi di jalan itu, jangan dianggap enteng, jangan dianggap tidak bermasalah, semua yang terjadi di jalanan itu mencerminkan budaya bangsa, budaya negara ini. Apa terjadi di jalan itu menjadi pattern kejiwaan anak-anak generasi penerus bangsa. Apa yang kita lihat sehari hari di jalan, maka demikianlah bentuk kejiwaan generasi penerus bangsa di masa depan.
Apakah kita akan biarkan saja kekacauan ini terus berlanjut, menjadi bahan percontohan bagi generasi penerus bangsa negara?
Silahkan baca artikel “Yang di DEPAN menjadi PANUTAN” di buku dengan judul yang sama, buku pertama dari seri “Menuju Revolusi Mental”, sebuah rangkaian pengamatan saya selama bertahun tahun hidup di ibukota Indonesia, semua orang begitu antusias untuk menjadi pengajar pengajar kegiatan Exskul (extra kurikuler) bagi anak-anak generasi penerus bangsa.
Jiwa-jiwa yang sudah salah settingan (seperti gadget) terus dibiarkan merajalela di jalanan. Pemimpin bangsa seakan akan tak tampak ada, tidak terlihat adanya keinginan dari para pemimpin bangsa untuk melakukan perubahan, semua sudah ‘kadung‘ keasikan dengan nucleus nucleus (lingkaran lingkaran) kehidupan masing masing yang penuh hura hura tanpa kepedulian sosial sama sekali.
Kadung = terlanjur, kasep
Buat orang awam, berbagai kejadian di jalanan itu tidak mereka anggap aneh, mereka sudah terbiasa, karena sudah sering melihat berbagai kejadian itu sehingga terbiasa dan tidak perlu dianggap salah, atau malah sudah sering menjadi aktor aktor pelaku kehidupan jalanan, sering melakukan segala sesuatu yang salah, dan segala hal negatif di jalanan itu tidak perlu dianggap salah lagi. Toh semua orang sudah secara aklamasi menganggap hal itu adalah benar, boleh dilakukan, dan tidak perlu punya rasa malu lagi.
“Tresno jalaran soko kulino”, “Alah bisa karena biasa”, sudah menjadi kebiasaan banyak orang, demikianlah adanya.
