Site icon Bambang Subaktyo's Blog

064 Pembiaran atau Dibiarkan Terjadi

064 Pembiaran atau Dibiarkan Terjadi

13 Desember 2014

Manusia punya rasa, punya keinginan, punya emosi, punya nafsu, punya banyak hal yang tidak bisa dibatasi, kecuali oleh etika, agama, adat-budaya, kesopanan, kesantunan, peraturan, dan hukum. Tetapi lihatlah tingkah laku warga saat mereka berada di jalanan, seakan akan mereka tidak punya batasan itu, mereka berbuat semau mau mereka, terlihat kacau, banyak yang seruduk sana seruduk sini, ada yang menyeberang semaunya, ada yang menerobos lampu merah, ada yang masuk ke jalur khusus, dlsb. Contoh contoh untuk itu bisa kita temukan setiap saat di jalanan.

Ada banyak contoh tingkah laku dari jiwa-jiwa yang sudah kacau balau!

Apakah pemerintah tidak tahu akan jiwa jiwa yang sudah kacau balau itu?

Atau sebenarnya mereka tahu dan sadar adanya kekacauan itu?

Lihat saja di jalan, ada berbagai pertanda (signal) kalau sebenarnya pemerintah tahu dan sadar akan kekacauan itu, tetapi mereka tidak bisa atau tidak mau memperbaikinya, mereka hanya mencari berbagai jalan pintas agar kekacauan jiwa masyarakat itu bisa diarahkan, agar tidak terjadi kecelakaan, agar korban kesembronoan masyarakat bisa dikurangi, bisa ditekan. Pasang saja barikade disana sini, pasang pagar besi tinggi dan rapat, bentuk ruang ruang yang tidak boleh dimasuki oleh orang yang tak membayar sedemikian rupa, pasang pagar beton agar kendaraan tidak melompat masuk, dan berbagai barikade lainnya.

Lihatlah di jalan Matraman Raya, di tengah taman dipasang pagar pembatas agar masyarakat tidak menyeberang di sembarang tempat, dipasang pagar besi setinggi 2 meter, dengan teralis besi yang rapat agar orang tidak bisa menerobos di antara pagar besi itu. Di badan jalan, dipasang pagar setinggi 40 cm tertanam di jalan di sisi kiri jalur bus TransJakarta, agar kendaraan lain tidak menerobos masuk ke jalur itu. Sebelumnya sudah dipasang beton pembatas setinggi 15-20 cm, tetapi beton pembatas itu tidak berfungsi sepenuhnya sebagai pemisah antara jalur khusus dan jalur umum, berbagai kendaraan apalagi angkutan umum yang besar tetap bisa melindas pembatas itu dengan leluasa, beralih ke jalur bus khusus yang kosong dan kembali berpindah lagi di lokasi lain.

Di banyak lokasi, di awal jalur khusus, dipasang gerbang (palang) besi yang dijaga petugas, agar kendaraan tidak menerobos masuk ke jalur khusus itu. Di setiap ujung jalur khusus dipasang rambu yang menyatakan larangan bagi kendaraan lain masuk ke jalur khusus itu. Rambu rambu atau palang besi itu tidak diindahkan banyak pengemudi, mereka terus menerus mencoba masuk ke jalur khusus meski palang besi itu dijaga petugas. Lain waktu terlihat ada pengemudi yang terlihat seperti oknum anggota memaksa masuk ke jalur khusus itu, dan pernah terjadi ada oknum menunjukkan sepucuk senjata kepada petugas agar gerbang dibuka, dia ingin lewat jalur itu. Sang petugas yang cuma pekerja kelas bawah tidak berani menolak, terpaksa membuka palang besi, lewatlah sang oknum bersama puluhan kendaraan dibelakangnya yang menempel rapat di belakang kendaraan sang oknum, si petugas tidak bisa memasang palang besi sementara waktu.

Lihatlah, saat Anda akan naik bus khusus itu, Anda harus melewati jalur yang dirancang sedemikian rupa, bahkan terlihat seperti kandang panjang karena sepanjang jalur itu dipasang besi (teralis) sedemikian rapat, terlihat dari jauh seperti kandang Dinosaurus di Jurasic Park, agar binatang purba itu tidak bisa keluar dari ruang yang diperuntukkan bagi mereka atau agar jangan sampai ada binatang liar melompat masuk ke ruang itu.

Anda tentu tidak sadar, tidak menyadari kekacauan yang ada di jalanan, karena sudah terbiasa dengan keadaan itu, tidak terpikirkan lagi, kenapa dan mengapa Anda harus lewat di ruangan yang dibentuk seperti kandang besi, sudah tidak dipertanyakan lagi. Sederhana saja, pagar besi itu dipasang agar orang tidak bisa melompat masuk ke dalam jalur itu dan juga sebaliknya. Lihatlah di jalur panjang seperti di halte Bendungan Hilir yang menuju ke halte Gatot Subroto / Komdak. Terlihat seperti kandang Dinosaurus atau seperti penjara. Hal yang sama juga terlihat di banyak jalur (jembatan) menuju ke halte bus khusus itu, juga tampilan halte itu tidak berbeda banyak.

Kenapa rancangan itu sampai begitu brutal?

Pengelola angkutan khusus itu tidak ingin ada orang yang melompat masuk ke jalur yang mengarah ke halte bus khusus itu, mereka tidak ingin kecolongan. Lihat pagar tinggi dan rapat yang membatasi jalan Matraman Raya dan beton pembatas yang rapat dan tinggi, agar orang tidak bisa menyeberang, tidak bisa menerobos pagar teralis itu.

Rancangan itu sudah menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat Jakarta, bagaimana pandangan mereka (pemerintah ataupun perusahaan pengelola) terhadap masyarakat. Mereka anggap sebagai jiwa-jiwa yang tidak bisa diatur, tidak tahu aturan, pasti punya niatan ingin naik gratis dengan melompat masuk ke jalur itu, atau ingin menyeberang dimana saja, atau anggapan bahwa para pengemudi memang sudah tidak punya sopan santun, setiap saat akan mencoba masuk ke jalur khusus melompati beton pembatas yang rendah itu.

Begitu parahkah jiwa-jiwa masyarakat Jakarta saat ini!?

Begitu parahnya sampai pemerintah harus memasang barikade yang begitu kasar, begitu tinggi, begitu rapat agar orang tidak bisa menerobos, tidak masuk ke jalur khusus, tidak naik bus jalur khusus itu dengan gratis!?

Banyak orang tidak menyadari keadaan ini, karena sudah terbiasa, sudah “tresno jalaran soko kulino”, “alah bisa karena biasa”, persepsi setiap warga sudah terbentuk sedemikian rupa, sudah nyaman dengan keadaan itu, mereka tidak melihat hal itu sebagai ketidakbenaran, atau sebagai kekurang ajaran warga tertentu, atau sebagai kekurang mampuan pemerintah dalam menertibkan masyarakatnya yang membiarkan perilaku itu dan hanya mampu memasang barikade.

Apakah larangan itu sudah tidak bisa lagi disampaikan kepada warga dalam bentuk ucapan, dalam bentuk himbauan, tetapi langsung saja buat tembok atau semacam pagar Jurasic Park agar warga tidak bisa menerobos ruang tertentu. Solusi sederhana tapi begitu kasar.

Lalu, apakah kekacauan itu akan dibiarkan saja sedemikian rupa, perilaku itu sudah tidak bisa dirubah lagi?

Sebagai mahluk yang paling tinggi derajadnya ternyata tetap diperlakukan seperti Dinosaurus di Jurasic Park, apakah karena jiwa mereka sudah tidak bisa diperbaiki lagi, benarkah demikian!?

Coba kita bayangkan, warga yang sudah terbiasa berlaku semau maunya itu, yang biasa dijaga dengan barikade agar tidak melewati batasan yang seharusnya, bagaimana saat warga ini berada di lingkungan yang masyarakatnya tertib berdisiplin, apakah mereka akan ikut berdisiplin atau berlaku seperti biasanya. Liar semau maunya sendiri!?

Coba kita terapkan kondisi kekacauan ini ke bidang lain, seperti di berbagai modus angkutan. Kapal boat yang hanya diijinkan memuat 100 penumpang diisi sampai 300 penumpang. Truk yang hanya boleh sekian ton, diisi berkali lipat, atau barang barang ditumpuk diatas truk menjulang begitu tinggi. Lihat saja kendaraan roda dua yang diberi beban sampai hampir sebesar mobil sedan, memang tidak berat tetapi begitu besar. Lihatlah bis patas di pagi hari, penumpang penuh sesak di dalam kendaraan dan banyak pelajar bergelantungan di pintu bis, menyabung nyawa agar tidak perlu membayar ongkos bis. Lihatlah bajaj yang diisi penuh dengan barang didalam bajaj dan di atas bajaj, masih ada yang diikat dibelakang, penumpang dan pengemudi bisa bertiga di bagian depan.

Apakah hanya sekedar gejala, hanya dilakukan sebagian orang saja, atau memang ada begitu banyak yang mengacau?

Atau memang sudah merupakan penyakit bersama, penyakit mental warga?

Lihatlah saat bencana melanda suatu daerah, menimpa sekelompok warga. Pemerintah dan berbagai lembaga menyiapkan bantuan, mereka membangun berbagai posko, pos bantuan makanan kering, pos bantuan makanan siap saji (nasi bungkus), pos kesehatan, pos pembagian baju, pos pembagian peralatan tidur bagi korban, dslb. Tapi coba perhatikan, yang ikut antri itu tidak hanya para koban dari daerah itu, ada yang datang dari tempat lain yang sama sekali tidak terkena bencana, mereka datang dan ikut mengambil berbagai barang yang dibagikan, atau lihatlah di pos kesehatan, semua memakai aji mumpung, mumpung ada pemeriksaan kesehatan gratis, diberi obat gratis, maka berbagai penyakit diungkapkan oleh para peserta (bukan hanya korban!), mereka juga minta pengobatan perawatan untuk kondisi kesehatan yang tidak terkait dengan kondisi bencana saat itu.

Lihatlah pada saat terjadi kecelakaan di jalan, semua berusaha berhenti untuk melihat apa yang terjadi, orang-orang berkerumun di sekitar kejadian, mereka berbicara satu sama lainnya, dan yang belakangan terjadi, banyak orang menggunakan kamera HP memotret kejadian itu lalu berbagi cerita di media sosial. Mereka tidak sadar, saat berkerumun itu mereka telah membuat macet jalanan, paling tidak mereka telah memenuhi jalan dan memperlambat laju kendaraannya sampai hampir berhenti hanya untuk melihat apa yang terjadi. Sebagian orang memang berusaha menolong, sebagian lagi ada yang menolong membersihkan barang barang sang korban, aji mumpung lagi.

Contoh lain, ada zebra cross yang dilengkapi dengan lampu, toh tetap dijaga petugas. Saat warga akan menyeberang, mereka bisa memencet tombol di tiang lampu traffic light khusus. Begitu lampu hijau bagi penyeberang menyala, mereka tetap tidak bisa leluasa menyeberang, karena pengendara tidak peduli dengan lampu itu. Terakhir, saya melihat ada 1 atau 2 petugas keamanan swasta yang berdiri disisi zebra cross, mereka mengacungkan tongkat berlampu merah, memberi tanda agar kendaraan berhenti saat lampu hijau bagi penyeberang menyala. Kalau tidak ada petugas disitu, kendaraan akan terus menerobos lampu merah, mereka tidak peduli kepada pejalan kaki yang akan menyeberang. Mobil terus melaju, dan motor pun berlari kencang diantara mobil mobil. Pengendara tidak peduli sama sekali akan rambu penyeberang jalan, tidak peduli dengan keselamatan para pejalan kaki. Peduli amat, kenal juga tidak!?

Lihatlah di dekat stasiun Manggarai, ada begitu banyak warga menguasai jalan untuk berdagang, mereka taruh meja dagangan mereka, mereka gelar dagangan mereka di badan jalan, di pagar taman di tengah jalan dijadikan tempat menggantung pakaian, menjemur pakaian mereka, lalu ada kambing kambing yang dibiarkan berkeliaran mencari makan, dan hampir setiap malam minggu anak anak akan memblokade jalan itu untuk mereka gunakan sebagai tempat bermain, dan begitu sering warga menutup jalan untuk mereka jadikan tempat pesta dengan memasang tarub besar dan panjang. Dan itu terus berlangsung setiap waktu!? Terus dibiarkan!?

Setelah membaca tulisan ini, mungkin ada yang berpikir, saya, penulis yang terlalu pesimis, terlalu gila … gila sendirian, atau memang sudah benar apa yang saya paparkan dalam tulisan ini: kekacauan jiwa-jiwa warga.

Jelas perlu revolusi mental (jiwa)!

Mungkin termasuk saya juga?

Dan yang paling pertama harus mengalami revolusi mental, mungkin para penyelenggara negara ini lebih dulu, para pamong, para ponggawa, para “OKNUM”, oknum anggota, oknum wakil rakyat, oknum pejabat, dan berbagai oknum lainnya. Semua harus belajar lagi dari dasar bagaimana memandang segala sesuatu bukan dari sudut pribadi demi keuntungan diri sendiri atau kelompok tetapi demi kepentingan bangsa dan negara.

Janganlah membiarkan kekacauan ini terus terjadi. Marilah kita sadar bersama . . . demi masa depan bangsa dan negara Indonesia.

Berdasarkan berita di radio malam ini, 19 Desember 2014, pada saat bencana longsor di di dusun Jemblung, Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, warga yang sedang melihat bencana malah menjadi korban longsor yang kedua.

Exit mobile version