066 Tidak Bebas Korupsi di Swasta
10 Juni 2009
Menurut pengalaman saya sebagai konsultan teknologi informasi, ada banyak sekali tindakan kegiatan korupsi di perusahaan swasta. Dimulai dari ketidak-jujuran dalam pembuatan laporan pajak, usaha-usaha membuat banyak transaksi akuntansi menjadi sedemikian samar, tidak teratur, tidak jelas, tidak bisa ditrace-balik, pencurian kecil-kecilan berbagai asset perusahaan . . . sampai menutupi biaya-biaya entertainment aparatur agar tidak terlihat sebagai aksi suap-menyuap aparat.
Biaya suap-menyuap ada, tetapi tidak boleh terlihat sebagai suatu pembayaran uang suap. Transaksi itu jelas tidak bisa masuk di sistem akuntansi, karena pasti tidak ada bukti tanda-terima. Jangankan dengan lembaga tinggi negara (tingkat departemen), dengan lembaga administrasi daerah tingkat bawah pasti ada saja biaya-biaya yang tidak diberikan bukti tanda-terima, kadang disebut sebagai uang ‘sedekah’, uang partisipasi, tidak dipaksakan tetapi harus.
Ada juga transaksi pembiayaan yang diatur sedemikian rupa oleh karyawan perusahaan swasta bekerja-sama dengan oknum aparatur lembaga administrasi tertentu yang diatur sedemikian rupa sehingga sulit diperiksa/dibuktikan. Kerjasama yang kadang tidak hanya 2 pihak tetapi bisa tripartit, 3 pihak. Petugas pengusaha jasa dengan petugas penerima jasa dan oknum lembaga terkait. Misal, pengusaha jasa meminjamkan peralatan yang dipakai pemakai jasa dan peralatan itu akan diletakkan di kantor si oknum lembaga terkait. Padahal ditaruh disana seminggu, tetapi dibuatkan tagihan 2 minggu. Jadi seakan-akan tagihan itu resmi padahal aspal.
Perusahaan Penjual Barang Elektronik/Hiburan
Ada satu kejadian saya memasang sistem pemakaian alat kantor sampai sistem pemesanan barang ke supplier, di satu perusahaan yang direkturnya saya kenal baik. Setelah sistem dipasang, ketahuan deh berapa jumlah kalkulator yang ‘dimakan’ setiap pegawai perusahaan atau berapa jumlah barang lainnya yang ditelan suatu bagian/departemen. Dalam jumlah yang tidak wajar. Sebelumnya petugas bagian umum tidak bisa melakukan pemeriksaan berapa barang yang sudah diambil seorang petugas atau suatu bagian, karena petugas bagian umum itu sudah sibuk dengan pekerjaan rutinnya setiap hari. Apakah pimpinan bagian umum senang akan keterbukaan penggunaan barang/alat tulis kantor itu? Ternyata tidak juga, karena dengan terpantaunya jumlah barang yang ‘dimakan’ seorang pegawai atau suatu bagian/departemen, maka permintaan yang berlebihan itu menumbuhkan ketidak-nyamanan banyak pihak, lagipula dengan berkurangnya kemungkinan pemesanan barang berarti mengecilnya uang komisi yang bisa diterima bagian umum dari penjual barang/alat tulis kantor. Mutual-simbiosis. Kena satu yang lain kena juga. Untung yang satu yang rugi juga. Maka dengan alasan-alasan yang dibuat-buat diajukan kepada atasan agar sistem itu tidak dipakai.
Perusahaan Penjual Alat-Alat Komunikasi Data
Kejadian lain, di tahun 1990, saya memasang sistem gudang (keluar masuk barang) di perusahaan distributor alat-alat telekomunikasi. Begitu program terpasang, data-data yang selama ini merupakan lembaran-lembaran serah-terima barang itu di-entry kedalam program. Ternyata terdapat sejumlah barang yang nilainya hampir 2 milyar rupiah (tahun 1990!). Barang-barang yang nyangkut di berbagai posisi.
- Ada yang dipinjamkan ke pelanggan dalam bentuk promosi, kalau suka boleh bayar belakangan ternyata dipakai selama beberapa tahun tanpa membayar karena tidak pernah dibuatkan tagihan untuk itu atau ditarik,
- ada yang dibawa bagian pemasaran, dipinjamkan sebagai barang promosi, tidak dikembalikan, tidak diproses lebih lanjut, tidak diketahui berapa yang sudah dibawa si bagian pemasaran,
- ada yang ditukar-pinjamkan karena barang milik pelanggan rusak, sedang diperbaiki, setelah itu barang yang rusak entah kemana, yang dipinjamkan tidak kembali,
- dan banyak kemungkinan lain.
Setelah program dipasang, barang-barang keluar masuk bisa diawasi. Tetapi nasib barang-barang yang sudah keluar gudang dan tidak jadi uang itu tidak saya ketahui lebih lanjut. Sebagian yang dipinjamkan ke bagian pemasaran masih bisa diselamatkan, tetapi yang sudah bertahun-tahun di tangan calon pelanggan atau pelanggan lama, tentu tidak mudah untuk ditagih. Mungkin sebagian diputihkan. Setelah itu memang proses keluar-masuk barang dapat dilakukan dengan disiplin. Unsur sengaja dan tidak sengaja disini memang tidak jelas, samar-samar, sengaja ataukah tidak.
Di kejadian di atas, beberapa petugas di bagian-bagian yang mengambil barang dari gudang jelas memiliki kesengajaan mengambil barang dengan mengambil keuntungan secara tidak langsung. Pelanggan diberikan 3 barang mungkin hanya harus membayar 1 barang.
Perusahaan yang sama kemudian minta satu sistem yang terintegrasi dari depan sampai ke ujung paling belakang, dari:
- sistem penerimaan pesanan pelanggan,
- pesanan disetujui menjadi job-order,
- job-order difollow bagian gudang,
- bagian gudang mengumpulkan barang-barang, memberikan tanda ok,
- bagian tehnik, quality-controll mengambil barang di bagian gudang, memeriksa spek dan kualitas, memberikan tanda ok,
- bagian pengiriman menyiapkan pengiriman, membuat faktur pengiriman, mengirim barang, menerima tanda terima dari pelanggan, memberikan tanda ok,
- bagian penagihan membuatkan invoice, mengirimkan invoice,
- bagian keuangan menerima tagihan,
- bagian akuntansi langsung menerima data dari sistem,
- bagian keuangan membuat perhitungan insentif setiap petugas pemasaran berdasarkan prestasi penjualan masing-masing.
Semua urutan langkah kerja dari satu bagian ke bagian lainnya telah berjalan begitu rapi, hampir paperless, kecuali beberapa surat tanda-terima fisik dari bagian gudang, faktur pengiriman, dan invoice.
Ternyata setelah sistem dijalankan, beberapa orang managemen tengah tidak suka, karena sistem itu membatasi kemungkinan bermain nilai didalam transaksi-transaksi itu, karena nilai-nilai entertainment yang sebenarnya sudah disiapkan 3 alokasi: diskon resmi 1, diskon resmi 2 dan diskon 3 (setengah resmi) tetap tidak mencukupi. Besaran entertainment bagi petugas-petugas di kantor pelanggan tidak bisa dicakup dalam 3 alokasi diskon itu. BAHAYA! Bahaya bagi si petugas di perusahaan itu dan berbahaya bagi petugas di kantor pelanggan. Maka atas dasar pertimbangan matang di-antara mereka, maka sistem diputus, hanya digunakan untuk membuat invoice saja tanpa masuk ke bagian akuntansi. Hanya satu sub-sistem yang dipakai, yang lain dibebas-tugaskan.
Nyata sekali kalau ada unsur kesengajaan untuk mensamarkan transaksi-transaksi keuangan agar kepentingan banyak orang di perusahaan itu ataupun perusahaan-perusahaan pelanggan dapat dipertahankan. Unsur korupsinya sebenarnya bukan hanya di dalam perusahaan itu saja, tetapi juga di perusahaan pelanggan dan dalam perhitungan pajaknya. Apa boleh buat, saya sudah dibayar untuk keseluruhan sistem, tetapi mereka hanya menggunakan 1 sub-sistem saja.
***
Tulisan diatas dibuat pada 10 Juni 2009, tulisan di bawah dilengkapi pada 5 November 2014
***
Perusahaan Penyedia Jasa Pengiriman Barang
Di perusahaan ini saya mendapat job membuat sistem terpadu Management Jasa Penggunaan Container. Untuk waktu itu nilainya sudah lumayan besar, sekitar 612 jam kerja X Rp50.000 per jam kerja atau sekitar 30juta rupiah.
Program bisa memberikan informasi dimana suatu container (20 feet atau 40 feet) itu berada, bisa di pelabuhan luar negeri, di kapal dalam perjalanan, di pelabuhan, di terminal container, di perjalanan menuju pelanggan, di pelanggan, di depo container, dst. Program ini langsung bisa menghitung nilai-nilai biaya yang harus dibayar pelanggan, berdasarkan posisi (lokasi) container itu berada, nilai jaminan dan nilai biaya penggunaan container bisa langsung dihitung secara otomatis berdasarkan perbedaan lokasi container itu berada.
Misal saja, suatu kapal berisi container bernomor tertentu tiba di pelabuhan, muncul biaya pemindahan untuk container nomor nomor tertentu itu dari kapal ke terminal, saat itu bisa diketahui container tertentu itu berada di terminal, data tanggal container tertentu berada di terminal langsung tercatat, pelanggan sudah bisa membayar jaminan pengeluaran dan penggunaan (peminjaman) container untuk jangka waktu tertentu yang harus dibayar agar container bisa dikeluarkan dari pelabuhan, berikut nilai penggunaan container alias sewa selama perjalanan dari terminal ke lokasi pelanggan. Ada data-data THC, DC (demurage) dan bermacam biaya lainnya muncul dalam kegiatan itu.
Biaya selama di terminal jelas bisa langsung dihitung yaitu data tanggal kapal tiba di pelabuhan, data container itu masuk terminal, kemudian muncul data tanggal container itu meninggalkan terminal (dalam perjalanan ke pelanggan), kemudian data tanggal container tiba di pelanggan, data tanggal container itu bergerak menuju depo, dst.
Data tanggal masuk terminal dan data tanggal meninggalkan terminal menjadi data waktu lamanya container itu berada di terminal, disitulah muncul biaya-biaya THC, DC dlsb itu. Berapa lama sebuah container berada di terminal langsung bisa terlihat, berapa besaran biaya yang harus dibayar pelanggan untuk penyimpanan container di terminal juga diketahui, invoice atau billing menggunakan data-data tanggal yang ada itu, tanggal yang satu membatasi waktu pada posisi container sebelumnya, begitu seterusnya.
Seharusnya pelanggan dan perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari ketepatan data waktu penggunaan container dan bisa mengetahui dengan tepat berapa biaya-biaya yang muncul pada setiap kombinasi posisi container itu berada. Seharusnya! Tetapi para pelaksana lapangan tidak bisa bermain ‘tanggal dan waktu’ lagi, setiap kombinasi data tanggal terkait pergerakan container itu langsung membatasi nilai biaya-biaya yang muncul. Para pelaksana lapangan, baik dari pihak perusahaan pemesan program maupun pelaksana lapangan dari perusahaan pemakai container merasa keberatan, mereka tidak bisa bermain lagi.
Sebelum program dipasang, mereka bisa bermain main dengan ‘tanggal dan waktu’, dikatakan container tertentu ‘milik’ pelanggan tertentu berada di terminal untuk seminggu lamanya, pelaksana lapangan bisa memberitahu bagian billing (invoicing) untuk menerbitkan tagihan biaya terminal untuk 7 hari lamanya, padahal container itu hanya berada di terminal selama 3 hari, tagihan 7 hari dibuatkan dan diajukan kepada perusahaan pelanggan, sementara nilai yang mauk ke perusahaan pemesan program hanya nilai 3 hari. Nilai 4 hari kelebihan itu dibagi-bagi di antara para pelaksana lapangan dan manager lapangan. Nilai satu hari di terminal bisa mencapai 100US$. Kalikan 4 hari waktu perbedaan itu, dikalikan berapa ribu container sebulan?
Demikian juga dengan jangka waktu penggunaan container dari sejak meninggalkan terminal sampai masuk depo penyimpanan milik perusahaan pemesan program, itupun bisa dimanipulasi di bagian billing, bekerja sama dengan bagian billing – invoicing.
Jelas keberadaan program yang seharusnya memberikan kemudahan bagi perusahaan pemesan, dan bagi perusahaan pelanggan, tidak diinginkan oleh manager lapangan dan para pelaksana lapangan dari kedua belah pihak itu. Mereka tidak bisa bermain ‘tanggal dan waktu’ lagi, karena waktu yang tercatat itu tidak bisa dimanipulasi. Begitu juga para pemain ‘tanggal dan waktu’ yang berada di departemen keuangan, mereka tidak bisa lagi bermain sulap nilai biaya.
Begitu program diinstall dan dijalankan, terlihatlah nilai-nilai biaya yang sebenarnya, proses penerbitan jaminan, penerbitan invoice benar-benar sesuai dengan kejadian keberadaan container itu setiap hari. Besaran yang tercantum di formulir jaminan atau di lembaran invoice adalah nilai yang pasti. Ketiga pihak itu, manager – pelaksana lapangan dari perusahaan pemesan program, pelaksana lapangan dari perusahaan pengguna container dan para pemain sulap yang berada di departemen keuangan (billing) itu hanya bisa gigit jari, tidak ada lagi nilai lebih.
Mereka protes dan melakukan unjuk rasa dalam bentuk ‘fitnah’ bahwasanya program tidak berjalan, program itu kacau, program tidak bisa dipakai, dst, dlsb. Apalagi bagian keuangan, mereka menolak menjalankan program itu, mereka lebih suka membuat surat jaminan dan lembar invoice secara manual.
Akhir kata, program terintegrasi itu dibabat habis. Saya sudah dibayar oleh perusahaan pemesan program, program sudah diuji coba selama sebulan, semua kondisi sudah benar adanya, setiap container bisa dilacak keberadaannya, tanggal dan waktu berjalan berkesinambungan, besaran nilai uang jaminan, uang yang harus dibayar di invoice sudah bisa langsung masuk (terhubung) langsung ke sistem akuntansi, bagian akuntansi tidak perlu bekerja keras memasukkan data-data lagi, semua data langsung disupply oleh sistem management container itu.
Program management container itu dijauhkan oleh para pihak yang merasa tidak bisa bermain lagi. Tinggallah program akuntansi keuangan yang berdiri sendiri, itupun tidak dijalankan dengan benar, karena takut kebenaran akan terungkap. Program yang satu lagi, personalia dan payroll saja yang berjalan bulan demi bulan, karena program itu bisa berdiri sendiri dan tidak harus mensupply data akuntansi payroll bulanan ke sistem akuntansi yang ada.
Dari pengalaman saya sebagai konsultan IT di Indonesia, rasanya susah sekali untuk bisa menerapkan sistem aplikasi yang benar-benar bersih, karena perusahaan pemakai jasa saya itu sebenarnya tidak suka akan kebenaran yang sebenar-benarnya. Mereka masih ingin bermain dengan double book, triple book dalam masalah pelaporan keuangan, dan itu saya tahu benar dari beberapa pelanggan yang ada. Data akuntansi keuangan perusahaan bisa dirubah disesuaikan, di-dress-up sedemikian rupa agar memberikan gambaran yang sebagus-bagusnya untuk mereka yaitu dengan nlai keuntungan yang sekecil-kecilnya agar tidak perlu membayar pajak yang sebenarnya.
Korupsi sudah menjalar kemana-mana, tidak hanya di pemerintahan, di departemen tertentu, tetapi juga bersemayam di berbagai perusahaan yang ada. Semua ingin untung sebesar-besarnya, dengan nilai pajak yang sekecil-kecilnya. Kalau sampai ada pemeriksaan, toh bisa bermain mata lagi.
Mau bagaimana lagi? Mungkin sudah JONGKO-nya begitu … semua edan, yang tidak edan tidak keduman!?
