Site icon Bambang Subaktyo's Blog

067 INDONESIA KAYA RAYA?

067 INDONESIA KAYA RAYA?

Sebagai rakyat Indonesia, sering kita mendengar pernyataan-pernyataan pejabat pemerintahan yang menyatakan bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya raya, kaya dengan sumber daya alam yang masih terkandung di bumi nusantara ini, ada minyak, gas, batu bara, emas, bauxit, dll, kita memiliki tanah yang subur, apa saja yang ditancapkan ke tanah akan jadi tanaman, sumber daya manusia yang besar, dst. dst.

Sebuah pernyataan yang membuat kita menjadi bangga, bangga karena kita hidup di bumi nusantara yang kaya, bangga akan kemampuan bangsa kita untuk mengolah dan mengelola kekayaan bumi nusantara.

Ada banyak sumber daya alam kita yang di kelola oleh pengusaha-pengusaha Indonesia secara mandiri atau dengan bantuan negara lain, dan tidak sedikit yang pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada pengusaha asing.

Hutan Indonesia sudah di-kapling-kan kepada banyak pengusaha, ada yang dapat puluhan hektar, ratusan, ribuan, dan bahkan ada yang mendapatkan jutaan hektar sekaligus. Demikian juga kepulauan dan lautan, sudah ada yang dimiliki perorangan ataupun perusahaan baik untuk tempat tinggal, peristirahatan, usaha, atau yang lain, bahkan ada yang mulai merambah pegunungan juga. Tentunya kita tidak perlu khawatir, karena tanah (hutan) kita ada berjuta-juta hektar, pulaunya ada 7000 pulau, gunungnya ada puluhan (ratusan ?). Luas dan lebar.

Harta = Kekayaan

Menurut rumus (formula) akuntansi yang biasa dipakai adalah: HARTA = KEKAYAAN, dimana bila seseorang atau badan, baik sebagai pribadi ataupun sebagai perusahaan yang memiliki banyak HARTA berarti memiliki KEKAYAAN yang setara dengan harta tersebut, dimana harta tersebut dapat saja dibeli dengan MODAL yang kita miliki. Jadi rumusan awalnya: HARTA = MODAL

Tetapi rasanya kita telah silap akan suatu hal, dimana banyak HARTA tidak selalu KAYA, karena harta tersebut dalam bentuk barang, peralatan, kendaraan, bangunan, dll bisa didapatkan dengan cara kredit alias berhutang. Jadi HARTA tsb berasal dari MODAL sendiri dan dari HUTANG. Maka rumus yang berlaku menjadi HARTA = HUTANG + MODAL.

Kalau kita telaah sedikit mendalam: kalau saja HUTANG kita 0, jelas KEKAYAAN bangsa Indonesia akan sangat besar nilainya, dan kalau saja hutang ada dan lebih kecil dari harta yang ada, kekayaan bangsa Indonesia masih juga besar. Tetapi apa yang terjadi kalau hutang itu sangat besar nilainya, dan saat besaran hutang itu kita bagi rata dengan jumlah penduduk Indonesia, maka setiap orang harus menanggung bagian hutang yang sangat besar seperti sekarang ini, apa yang dapat kita sebut sebagai KAYA RAYA. Kalau KAYA akan HUTANG bisa saja. Tentu saja keadaan ini membuat rakyat Indonesia sangat menyesal.

Dan saat ini kita sudah berhutang cukup besar, senilai >140 milliar dollar, dan itu masih akan ditambah dengan hutang yang akan diambil berikutnya senilai >50 milliar dollar lagi. Dan bila nilai hutang yang ada tersebut dibagi dengan jumlah rakyat Indonesia, maka setiap orang perlu menanggung hutang sebesar: 200 milliar dollar X kurs/210 juta penduduk= Rp. ????. per kepala.
Bayi yang baru lahir pun akan miskin jadinya.

200milliar dibagi 210 juta orang = 200.000.000.000 / 210.000.000 alias +/- 1000 US$ per orang = 6.5 juta rupiah per orang!!! Kalau dianggap hutang ini langsung jatuh tempo, dengan bunga per bulan 2%= Rp. 130.000,- Bayangkan kalau setiap orang hanya bisa membayar rata-rata Rp. 5.000 per hari, bisa dikatakan per bulan kita hanya sanggup membayar biaya bunganya saja . . . sedangkan hutang pokoknya tidak akan pernah terbayar sampai kita mati!!! GIMANA DONG, saya, Anda semua sudah miskin!!!

Hutang?

Sebetulnya buat apa kita berhutang, kalau kita memang kaya raya ?

Jadi dengan beban hutang yang demikian besar, rakyat Indonesia harus menanggung beban 2 kali lipat:

Selama ini rakyat Indonesia tidak pernah diberikan informasi mengenai pengolahan dan pengelolaan kekayaan alam Indonesia, semuanya terkesan ditutup-tutupi, lihat saja Freeport di Irian, atau Busang, atau Pertamina, dll. Kita tidak pernah diberikan gambaran mengenai berapa hasilnya, kemana hasilnya, dll.

Jangankan menikmati, tahu pun tidak !!!

Bayangkan masyarakat di sekitar projek-projek pengolahan dan pengelolaan kekayaan alam itu, mereka tidak pernah menikmati hasil kekayaan alam yang ada di daerah mereka. Mereka telah di rampok!

Hutang yang didapat dari luar negeri digunakan untuk membangun banyak industri ber skala besar, yang kebanyakan tidak tepat sasaran.

Industri Besar

Kita sudah memiliki banyak Industri Besar yang dibangun oleh pemerintah (kata pemerintah!!!), baik industri berat (metal, kimia) maupun industri perkebunan dan kehutanan. Banyak industri dibangun dengan pinjaman dari luar negeri dengan nilai yang besaaaaaar sekali.

Ada banyak pertanyaan yang timbul dari usaha pemerintah membangun banyak industri tsb:

Apabila pembangunan industri tsb dapat memberikan nilai tambah kepada rakyat? Apabila benar, tentunya rakyat di sekitar lokasi industri tsb tidak akan melakukan protes, karena kehidupan mereka juga ikut ter-angkat. Tetapi kenyataannya, rakyat di sekitar lokasi industri tsb tidak banyak menikmati hasilnya. Lihat saja di perkebunan kelapa sawit saat ini, rakyat hanya dijadikan buruh dengan gaji yang kecil. Padahal sebelumnya tanah garapan rakyat diambil alih (baik dengan sukarela diserahkan oleh rakyat, atau dengan persuasi, atau dengan paksaan dan kekerasan) dan mereka hanya mendapatkan ganti rugi yang sangat kecil, dengan janji-janji bahwa kehidupan mereka dengan adanya industri perkebunan akan juga ter-angkat.

Kenyataannya, jauh dari benar, jauh dari janji-janji, jauh dari impian mereka, mereka hanya menjadi budak (buruh, kata halusnya). Dan setelah reformasi, mereka menuntut pengembalian tanah garapan mereka, mereka memperlihatkan ke-tidak-rela-an mereka yang selama ini dipendam.

Buat apa ada industri kalau tidak membawa kemakmuran bagi rakyat dan hanya menambah kekayaan beberapa gelintir orang seperti pengusaha dan pejabat pemerintahan saja.

Kalau demikian sama saja dengan penjajahan oleh bangsa sendiri, jadi jelas saat reformasi mereka menuntut pembebasan tanah yang dikuasai oleh industri dan pengusaha yang dianggap sebagai penjajah model baru, eh ORBA.

Industri Tidak Tepat Sasaran

Ada banyak pembangunan industri yang tidak tepat sasaran, karena:

Tidak tepat guna

Industri yang sebenarnya tidak perlu dibangun dengan biaya negara, misalnya saja industri kapal terbang yang belum memberikan hasil penjualan yang mendekati nilai pembiayaannya. Teknologi yang diterapkan tidak bisa menyamai teknologi dari industri negara yang memulai industri tsb dari dasar.

Industri kendaraan penumpang yang diambil dari negara lain begitu saja dengan cara membeli secara borongan, dengan model kendaraan yang juga fail dalam penjualannya.

Seharusnya kita mulai membangun sendiri industri kendaraan penumpang dari dasar, dan dimulai dari kendaraan niaga pengganti becak / bajaj / ojek yang berlanjut kepada kendaraan penumpang yang murah dengan teknologi sederhana sebagai pengganti (pengimbang) Kijang / Panther dlsb sejenis. Dan selanjutnya berpindah kepada kendaraan penumpang yang lebih comfort dst.

Demikian juga dengan industri perkapalan, sekiranya dimulai dengan perencanaan kapal-kapal murah dan kuat untuk para nelayan dan dijual kepada nelayan dengan cara pembayaran yang murah, sederhana dan menguntungkan kedua belah pihak.

Tidak memberikan kemakmuran bagi rakyat

Ada banyak projek-projek industri besar yang tidak memberikan kemakmuran bagi rakyat dan malahan menyengsarakan rakyat di sekitar area lokasi projek. Tanah mereka diambil begitu saja tanpa kompromi, mereka digusur dan diusir, yang menolak akan mendapatkan tekanan dan kekerasan aparat, dan setelah industri itu berjalan, rakyat tidak mendapatkan manfaat yang cukup untuk kehidupan mereka. Jadi jangankan makmur, untuk hidup-pun mereka susah. Hasil kekayaan alam tidak diberikan kepada rakyat setempat, malah dipindah-tangankan tanpa satu prosedur yang terbuka bagi rakyat.

Pada akhirnya bukan kemakmuran yang diperoleh rakyat setempat, malah kelaparan yang terorganisir yang mereka alami. Rakyat setempat telah dibuat kelaparan agar mereka tidak dapat berontak, agar mereka tidak dapat bangkit untuk melawan penguasa dan pengusaha di daerah tsb.
Contohnya: Irian dengan Freeport, atau Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatra

Tidak layak

Ada juga industri besar, yang dibangun dengan moto: sekali tembak semua hancur, dengan contoh pabrik gula yang dibangun di Timor-Timur oleh keluarga HMS yang menggunakan bahan baku import dari Australia, yang katanya akan menggantikan produksi seluruh pabrik gula yang ada selama ini.

Tidak layak, karena dibangun dengan dana pinjaman yang besar, tanpa jaminan yang cukup dan dengan sasaran menghancurkan pabrik sejenis yang ada sebelumnya. Seharusnya kita mencoba memperbaiki pabrik sejenis yang ada, atau membangun pabrik yang menggunakan bahan baku lokal (tebu) dengan membangun perkebunan tebu di tempat yang layak yang akan memberikan pekerjaan bagi banyak orang, bukan dengan begitu saja melakukan import.

Tidak menyertakan banyak sumber daya manusia

Motto yang sebelumnya selalu di-dengung-dengung-kan pejabat pemerintah yaitu pembangunan industri padat karya yang layak, dan memberikan kemakmuran bagi banyak orang. tidak dilakukan oleh pemerintah, dan bahkan keluarga dari mantan presiden telah melakukan pelanggaran dengan membangun pabri dengan teknologi robot. Padahal produknya sendiri tidak layak.

Dibangunnya pabrik Timor menggunakan teknologi robot yang tidak memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang juga tidak memberikan kemakmuran bagi rakyat.

Tidak aktuel,

IPTN telah dikembangkan untuk dijadikan industri pesawat terbang yang besar, tetapi usaha ini sebetulnya melawan arus, dimana teknologi pesawat terbang telah jauh kedepan, dan IPTN mencoba masuk di-tengah perkembangan dengan teknologi yang tidak cukup aktuel, sehingga produksi pesawat yang dihasilkan tidak memiliki nilai jual yang baik, tidak menghasilkan penjualan yang cukup untuk mengimbangi biaya yang telah dikeluarkan.

Tidak melestarikan lingkungan,

Banyak industri yang ada tidak mencoba menjaga lingkungan, mereka hanya mengexploitir sumber daya alam, tanpa mencoba melestarikan lingkungan, dan kalau ada hanya merupakan kedok / topeng untuk menghindarkan kecaman.

Hal ini banyak terlihat dari banyak kegiatan industri yang dibangun tanpa pengelolaan hasil limbahnya dengan baik, limbah yang dikeluarkan oleh kegiatan industri dibiarkan mengalir ke saluran irigasi pertanian dan perikanan, yang kemudian merusak kehidupan masyarakat di seputar industri tsb, dimana pertanian dan perikanan menjadi gagal, air sungai untuk mandi dan air minum menjadi berwarna dengan rasa yang tidak keruan, dan tidak dapat diminum bahkan menyebabkan penyakit kulit.

Cara-cara memulai usaha industri kehutanan atau kehutanan banyak dilakukan tanpa pemikiran untuk melestarikan lingkungan. Pengusaha dan kadang sekaligus penguasa melakukan babat-hutan dengan cara yang tidak memikirkan lingkungan, mereka tidak melakukan tebang pilih, dan setelah ditebang tidak mempersiapkan tanaman pengganti, kalaupun disediakan jumlah yang disediakan tidak cukup atau hanya sekedar agar terlihat ada tanaman pengganti. Yang terakhir terjadi kebakaran hutan, karena cara babat-hutan yang dilakukan dengan sembrono. Babat-hutan dilakukan dengan membakar hutan tersebut, agar proses pembukaan hutan berjalan dengan cepat dan murah. Cara babat-hutan dengan api ini merembet secara cepat dan tak terkendali mencapai areal hutan disekitarnya.

Diluar kesengajaan pembakaran hutan, pengusaha hutan juga tidak mempersiapkan diri dengan regu / pasukan anti kebakaran hutan, mereka membiarkan hutan terbakar tanpa usaha yang berarti untuk memadamkan kebakaran yang terjadi. Setiap kebakaran yang terjadi dinyatakan sebagai ulah dari rakyat perambah hutan yang sebenarnya tidak pernah melakukan hal tsb secara besar-besaran.

dan tidak-tidak yang lainnya

23 April 1999, 9 Juni 1999

Exit mobile version