Site icon Bambang Subaktyo's Blog

068 9 Milliar Penduduk Dunia

068 9 Milliar Penduduk Dunia

1 Desember 2014

Kita hidup di dunia tidak sendirian, ada 9 miliar penduduk dunia:

Di tahun 2100, penduduk dunia diperkirakan akan mencapai 11 miliar orang.

Menurut jurnal ilmiah di Amerika Serikat, 2 miliar tambahan populasi yang diramalkan pada tahun 2100 akan terjadi banyak di Afrika dengan tingkat kelahiran yang tinggi. Selain itu, diperkirakan juga akan ada sekitar 70 persen populasi manusia yang tidak stabil sebelum pengujung abad ini.

Penduduk Asia ada sekitar 4,4 miliar akan naik menjadi 5 miliar.

Saat ini, kita merupakan bagian dari 9 miliar penduduk dunia, 9 miliar manusia yang ada di sebuah planet biru, 9 miliar manusia berbagi ruang, berbagi sumber daya dari planet yang sama, menghirup udara yang sama, makan dari bumi yang sama, energi sebagian ada di bumi yang sama, sebagian lagi dari alam semesta. Rakyat Indonesia yang berjumlah 241.452.952 orang merupakan warga dunia, menjadi bagian dari 9 miliar orang di dunia yang menggantungkan hidupnya dari sumber daya yang ada di bumi ini. Kita harus berbagi dalam menggunakan berbagai sumber daya itu, kekayaan alam yang ada di Indonesia tidak hanya menjadi milik warga Indonesia tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan umat dunia. Hanya kebetulan saja, kekayaan alam itu ada di Indonesia, atau dengan kata lain, juga sebuah kebetulan negara yang disebut Indonesia berada di kawasan Nusantara yang kaya raya ini. Apa yang ada di kawasan Nusantara ini bukan hanya milik sebuah negara, bukan hanya milik rakyat Indonesia, tetapi juga milik seluruh umat manusia. Ingat, siapa pencipta alam semesta termasuk dunia, termasuk kawasan Nusantara ini … Tuhan YMK sebagai pencipta adalah pemilik seluruh kekayaan yang ada di alam semesta, juga umat manusia yang ada di bumi ini merupakan kreasiNYA, maka kita sebagai satu mahluk ciptaanNYA harus mau berbagi kekayaan yang dititipkan kepada kita itu bersama seluruh umat manusia yang lain.

Jangan hanya berpikir untuk diri sendiri, tetapi cobalah untuk mulai berpikir apa keterkaitan kita kepada 9 miliar orang itu. Jangan hanya berpikir bagaimana kita sendiri cukup makan atau malah makan terlalu banyak, kemudian makanan di piring tidak dihabiskan, sementara yang 1 miliar warga dunia saat ini sedang hidup dalam kelaparan, mereka pergi tidur dalam keadaan perut kosong.

Mentang mentang punya uang berlebih, sanggup membeli makanan dalam jumlah banyak, lalu dengan sombong atau acuh tak acuh hanya memakan sebagian kecil dari porsi yang ada di piring … itu saja sudah sikap yang salah, malah bisa dikatakan kurang ajar karena tidak menghargai makanan. Ambil atau beli makanan sebanyak yang kita mampu makan, jangan berlebih, itu sebuah penghargaan kepada Sang Maha Pencipta atas karyaNYA, apa yang ada di bumi ini yang telah kita jadikan makanan.

Dengan memakan habis makanan yang kita ambil, pesan, beli itu sudah cukup bagus. Meski sikap ini tidak secara langsung menolong warga 1 miliar yang kelaparan, tetapi kita sudah berusaha menghargai makanan itu, mengingat akan adanya sebegitu banyak warga dunia yang tidak punya makanan.

Kalau kita beragama, maka kita akan berusaha memberikan kehidupan yang layak bagi orang lain, berusaha menyehatkan orang lain, berusaha menyejahterakan orang lain, dan kalau mampu kita harus bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Ada 9 milliar umat manusia yang merupakan hasil ciptaanNYA! 9 milliar umat manusia yang berbeda warna kulit, berbeda warna rambut, berbeda type rambut, berbeda bentuk mata, berbeda bangsa, berbeda bahasa, berbeda agama dan kepercayaan, berbeda adat budaya, berbeda negara . . . semua itu adalah ciptaanNYA, hanya ada satu yang menciptakan semua umat itu, berikut alam semesta, yaitu SANG MAHA PENCIPTA, YMK (Yang Maha Kuasa).

Jadi, kita tidak bisa hanya mementingkan diri sendiri, kita harus memikirkan keberadaan orang lain di sekitar kita, tidak bisa kita membiarkan umat manusia yang berbeda warna kulit, berbeda warna rambut, berbeda type rambut, berbeda bentuk mata, berbeda bangsa, berbeda bahasa, berbeda agama dan kepercayaan, berbeda adat budaya, berbeda negara itu mengalami kesulitan, karena kita sama, merupakan ciptaanNYA. Kalau kita mencintai Sang Maha Pencipta, YMK, maka sudah seharusnya kita memberikan kasih kepada semua ciptaanNYA itu, karena setiap warga dunia adalah hasil karya Sang Maha Pencipta. Kita juga harus menyayangi alam semesta yang juga merupakan hasil karya Sang Maha Pencipta.

Jangan pernah membeda bedakan umat manusia karena perbedaan yang ada itu, semuanya sama, meupakan hasil karya Sang Maha Pencipta. Jangan pernah mengatakan “Tuhan-nya berbeda”, karena Sang Pencipta itu hanya ada satu! Bukan 2 apalagi banyak, hanya ada Tuhan Yang Maha Esa, bukan maha banyak. Pencipta semua yang ada itu cuma satu, karya ciptanya yang bermacam ragam, jadi kita harus menghargai hasil karya Sang Maha Pencipta, yaitu umat manusia di dunia.

Jangan hanya berpikir bahwa kelompok Anda yang paling benar, yang paling berhak dari yang lainnya atas suatu kekayaan alam yang ada di bumi ini. Kekayaan alam itu ada untuk semua umat manusia, setiap orang harus berusaha maksimal menjaga, membudidayakan setiap unsur yang ada di bumi ini, demi kepentingan orang banyak. Lahan yang ada harus digunakan sebaik baiknya agar bermanfaat bagi orang banyak, bukan dibiarkan terbengkalai atau malah dirusak. Jangan juga lahan yang seharusnya secara alamiah menjadi lahan resapan air hujan malah ditutup dengan beton sepenuh penuhnya, seluas luasnya, tanpa memberikan kesempatan bagi air hujan untuk masuk ke dalam tanah. Sikap mentang mentang bisa membeli sepetak tanah di lokasi mahal, sebidang tanah luas di lokasi strategis kemudian membangun sebesar besarnya di tanah ‘hak milik’ itu tanpa memberikan kesempatan air hujan meresap ke dalam tanah.

TANAH HAK MILIK!?

Ada istilah ‘tanah hak milik’ … tolong jawab pertanyaan ini, bagaimana kita melakukan jual beli dengan Sang Pemilik Alam Semesta itu? Kapan transaksinya? Di notaris PPAT yang mana? Berapa nilai jual beli saat itu?

Mentang mentang sudah menjadi ‘hak milik’, lalu bisa semau gue menutup tanah ‘hak milik’ itu!? Lalu air hujan yang turun dibiarkan mengalir ke jalan dan menggenang di daerah yang rendah. Genangan semakin banyak, akhirnya menjadi banjir … pemilik tanah ‘hak milik’ yang menyebabkan banjir itu sudah memperkosa alam, merugikan warga yang berada di daerah rendah dengan kiriman air banjir itu.

Boleh saja, istilah ‘hak milik’ itu diterapkan, digunakan untuk pembatasan lahan yang digunakan seseorang, tetapi janganlah membuat orang lain kesusahan, janganlah memperkosa sifat alam, air hujan harus masuk kedalam tanah, bukan dialirkan ke jalanan dan menjadi banjir di tempat lain.

Seorang pemimpin suatu kelompok seharusnya menyiapkan peraturan hukum yang membatasi usaha setiap orang di atas lahan yang dianggap ‘hak milik’ itu, pembatasan yang adil, dimana seseorang yang merasa memiliki tanah itu, walau entah jual beli itu terjadi dengan Sang Pemilik tunggal, tetap saja harus ada pembatasan, pengaturan agar setiap orang menerima apa yang telah disiapkan oleh alam, direncanakan oleh Sang Penguasa Tunggal itu, agar terjadi keadilan dalam penggunaan segala unsur yang ada di bumi, demi kehidupan umat manusia secara keseluruhan.

Negara, bangsa yang menggunakan idealisme kapitalisme, materialisme, liberalisme yang mengijinkan penguasaan alam dan mengexploitir alam sedemikian rupa dengan brutal, sebenarnya bukanlah negara atau bangsa yang beragama, mereka cuma sekelompok barbar yang berbaju jas, berdasi, bermobil bagus, bertempat tinggal di gedung mewah, mereka tidak pernah menghargai Sang Maha Pencipta. Ke-agama-an mereka cuma artificial, cuma semu, cuma sekedar pencitraan, seakan akan mereka beragama, padahal sama sekali tidak beragama. Apalagi apa yang para pengusaha dari negara Alien itu lakukan di bumi Pertiwi ini, mereka menyedot kekayaan alam dengan buas seperti binatang buas, padahal binatang pun tahu batasan, tidak akan makan lebih banyak daripada yang bisa dia muat kedalam perutnya, setelah makan cukup dia tinggalkan untuk binatang yang lain. Para pengusaha dari negara Alien itu memang tidak punya agama, karena mereka terus menerus menyedot kekayaan alam bumi Pertiwi, merusak alam bumi Pertiwi dan hanya memberikan manfaat yang kecil bagi rakyat Indonesia, hanya sekedar Royalti 1% selama 40 tahun lebih dan itupun kata ketua KPK tidak terbayarkan!?!?!?

Kalaupun mereka itu menyebut diri mereka manusia, pasti manusia dengan jiwa yang rusak, mental yang bobrok!!! Begitu juga para kolaborator, para penguasa negeri ini yang telah mengijinkan para pengusaha negara Alien itu melakukan penyedotan dan pengrusakan alam bumi Pertiwi … sama sama jiwa rusak, mental bobrok.

Jangankan memberi bantuan kepada 1 miliar warga dunia yang kelaparan, mereka itu (pengusaha negara Alien dan kolaborator cs-nya) malah menghancurkan bumi, demi kapitalisme, liberalisme, materialisme!!! Demi ego ego pribadi mereka, demi sikap barbar mereka!!!

Dengan sikap mereka seperti itu, masih berani mereka menyebut diri mereka sebagai bagian dari kelompok terhormat, sebagai orang-orang terhormat, sebagai kelompok yang memiliki keistimewaan lebih daripada kelompok lain, daripada bangsa lain, lebih baik dari rakyat Indonesia yang telah mereka bohongi selama puluhan tahuan!?

Tolong menolong

Segala sesuatu di dunia ini pasti ada keterkaitan satu sama lainnya, antara satu warga dengan warga lainnya dengan masyarakat dimana dia tinggal, antara warga suatu negara dengan warga negara lainnya, antara warga bumi dengan warga bumi yang lain yang bertempat tinggal nun jauh dari pandangan mata, semua saling bersaudara. Sudah seharusnya kita saling tolong menolong satu sama lainnya. Bukan saling menghancurkan satu sama lain, bukan yang satu mengexploitir yang lain, bukan yang satu menyedot kekayaan yang lain, tetapi harus saling berbagi, saling melengkapi satu sama lainnya, saling bantu membantu.

Keturunan Teori Darwin

Kalau memang orang merasa sebagai ciptaanNYA, sebagai salah satu dari sekian miliar ciptaanNYA, maka sudah seharusnya orang-orang saling bantu membantu. Kecuali, dan hanya kecuali, seseorang itu merasa bukan saling bersaudara dengan warga bumi yang lain, mungkin orang itu lebih percaya kalau dirinya adalah keturunan ‘teori Darwin’, alias Nyomet (keturunan Monyet)!

Rasanya sih, banyak warga dunia lebih memilih disebut sebagai keturunan ‘teori Darwin’. Buktinya banyak yang saling membunuh satu sama lain demi berbagai alasan. Ada yang menyebut negara mereka sebagai polisi dunia tetapi begitu membenci warga negara lain karena berbeda paham, berbeda kepentingan, dan di sisi lain, perusahaan dari negara polisi dunia itu telah menghancurkan bumi Pertiwi dengan menyedot sumber kekayaan alam Indonesia dengan begitu greedy, begitu rakus, begitu brutal, kemudian menghancurkan alam Indonesia secara langsung dan tidak langsung, dan hanya memberikan bagian kepada bangsa ini sekedar Royalti sebesar 1% yang sudah berlangsung selama 40 tahun lebih, itupun tak terbayarkan. Kerjasama perusahaan dari negara Alien itu bersama para kolaborator dari negeri ini telah menghancurkan kehidupan rakyat Indonesia secara tidak langsung, dengan mengambil kekayaan bangsa ini dan tidak memberikan bagian dengan berkeadilan. Jadi buat mereka itu sudah selayaknya tidak usah disebut sebagai saudara karena mereka memang tidak ingin bersaudara dengan bangsa bangsa kulit berwarna seperti kita bangsa Indonesia, terbukti jelas, fakta jelas, 40 tahun lebih mereka begitu tega mencuri kekayaan bangsa ini dengan begitu culas. Tepatlah kiranya bagi mereka itu disebut sebagai keturunan ‘teori Darwin’.

Bukan hanya mereka, ada juga berbagai kelompok milisi bersenjata ringan sampai lengkap dan berat, mereka terus menerus melakukan teror kepada warga dunia yang lain, dengan alasan membela agama, membela Tuhan!?!? Sungguh naif apa yang mereka lakukan. Tuhan Sang Maha Pencipta sudah ada jauh, ribuan tahun, jutaan tahun sebelum agama mereka diturunkan, dan bermacam agama itu toh diturunkan oleh Sang Maha Pencipta sendiri, kenapa agama mereka harus dianggap yang paling benar, yang paling berkuasa, yang paling berhak untuk menghabisi warga dengan agama yang berbeda!?

Apakah dengan alasan Tuhan-nya berbeda, beda agama maka beda Tuhan!? Sungguh hebat mereka yang mengatakan Tuhan itu ada banyak! Apakah mereka pernah pergi ke alam ‘sana’, beranjangsana ke alam gaib, kemudian disana mereka melihat ada beberapa ‘Tuhan’ yang mewakili beberapa agama!? Kemudian, mereka kembali ke alam dunia ini, dan menyebarkan temuan mereka … “OOOO Tuhan-nya berbeda, Tuhan-nya ada banyak!”.

Hebat sekali mereka yang beralasan beda Tuhan, beda agama, maka warga beda agama harus dihabisi kalau tidak mau ikut masuk ke agama mereka. Orang orang itu bukan lagi disebut orang gila, tetapi lebih mungkin disebut warga keturunan ‘teori Darwin’, karena mereka sebenarnya tidak mau mengaku manusia yang lain itu sebagai saudara, apalagi kalau tidak se-agama dengan mereka. Jadi jelas perilaku mereka lebih dekat sebagai mahluk liar, sebagai binatang daripada sebagai manusia.

Sungguh picik cara berpikir mereka. Tuhan saja membiarkan setan, iblis, demon, dan mahluk dunia gelap itu tetap berkeliaran, tidak langsung dihabisi. Setan, iblis, dlsb itu tetap ada sampai sekarang, tetap exist! Bukankah kekuasaan Tuhan itu begitu besar, akan sangat mudah untuk menghilangkan mereka dari alam maya. Toh itu tidak dilakukan, tetap dibiarkan … tiba-tiba sekelompok keturunan ‘teori Darwin’ mengatakan agama mereka yang paling benar, dan mereka merasa mendapatkan wahyu, wangsit, ketetapan yang mengijinkan mereka membunuh orang lain karena tidak se-agama, karena tidak mau masuk agama mereka!?!? Kenapa mereka bisa lebih berkuasa daripada Sang Maha Pencipta, yang membiarkan setan, iblis, dlsb itu tetap ada, yang membiarkan begitu banyak pendosa tetap berkeliaran di muka bumi ini. Para pendosa itu termasuk warga dari negara Alien yang telah merampok kekayaan bangsa lain, merusak alam di negara lain. Mereka tetap ada sampai sekarang, tidak langsung dipunahkan begitu saja!?

Sadarlah, kita semua bersaudara! 9 miliar manusia itu bersaudara! Soal bisa berbeda warna kulit, beda warna mata, beda kecil kecil itu tetap sama sama manusia ciptaan Yang Maha Kuasa. Perbedaan itu merupakan rahasia Sang Maha Pencipta.

Hidup Damai di Bumi

9 miliar manusia seharusnya saling tolong menolong … kalau memang merasa manusia yang bersaudara, yang berasal dari sumber yang sama yaitu ciptaan Sang Maha Pencipta yang Esa, cuma satu. Agama apapun sumbernya sama, Tuhan sudah ada sebelum agama itu ada, bukan baru ada setelah suatu agama itu ada.

Saat ini kehidupan di dunia sudah semakin berat, ruang untuk menanam tanaman bahan pangan sudah banyak tergerus, berubah menjadi lahan perumahan. Di Indonesia banyak petani kehilangan tanah garapan karena kurang perhatian dari pemimpinnya, terjadi banyak persengketaan antara petani dengan perusahaan bermodal kuat yang ingin merubah lahan pertanian menjadi perkebunan monokultur. Import bahan pangan dari luar negeri juga mengalir deras, para pamong lebih suka mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional dengan membeli dari luar negeri daripada memomong para petani. Lebih mudah mengeluarkan ijin import bahan pangan, daripada mengurus berbagai masalah pertanian yang merepotkan dan hanya menghasilkan uang kecil. Ijin import pasti lebih menguntungkan, bisa langsung dapat uang besar dari si pembeli ijin pemasukan bahan pangan dari luar negeri. Komisi bagi hasil jelas lebih besar didapat dari pengusaha besar daripada dari para petani. Beras import, buah import, sampai garam yang hanya perlu menjemur air laut dengan sinar matahari juga sudah diimport, gula import, kacang kedele bahan tahu tempe juga import, dlsb.

Jangankan ikut menolong 1 miliar warga dunia yang kelaparan, menjadi penghasil bahan pangan untuk keperluan rakyat sendiri pun tidak mampu. Sebenarnya bukan tidak mampu, tetapi banyak oknum pamong lebih suka bermain DO (dokumen order), lebih suka jual beli bermacam DO untuk import bermacam bahan pangan keperluan nasional.

Selain itu, lahan pertanian juga tergerus berubah fungsi menjadi ruang industri, lahan perumahan, atau berpindah tangan ke orang ber-duit tetapi tak mau menanam. Distribusi pupuk tak berjalan mulus. Managemen air untuk pertanian kalah oleh kepentingan beberapa pengusaha bermodal kuat. Air gunung disedot dan dijual sebagai air kemasan.

Exit mobile version