Site icon Bambang Subaktyo's Blog

081 Manipulasi Persepsi, Skenario Adu Domba

081 Manipulasi Persepsi, Skenario Adu Domba

16 Desember 2014

Sebelum kita bisa melihat sesuatu dengan benar, perlu kita perjelas dulu sudut pandang kita. Apakah kita melihat sesuatu itu dari luar ber jarak jauh, atau dari dalam suatu sistem, kedua posisi itu akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Seperti pepatah lama: “Gajah di pelupuk mata tak tampak, kutu di seberang lautan tampak”. Pepatah ini menggambarkan posisi (lokasi) sudut pandang seseorang terhadap sesuatu, suatu permasalahan, suatu keadaan, suatu situasi, suatu kondisi yang sedang berlangsung. Yang dekat belum tentu melihat dengan jelas, hanya melihat secara kasar dan terbatas, yang dari jauh bisa melihat secara jelas dan lebih luas, lebih menyeluruh.

Seseorang yang berada di dalam kereta yang sedang bergerak hanya akan bisa melihat sebagian badan luar kereta saat kereta itu berbelok. Dalam track lurus seorang penumpang tidak bisa melihat bagian belakang dari kereta, tetapi saat berbelok, si penumpang bisa melihat dari jendela ke arah belakang kereta, itupun bila si penumpang berdiri di sisi bagian dalam dari tikungan, kalau dia berdiri di sisi bagian luar tikungan dia tidak bisa melihatnya.

Seseorang yang berada di pinggir lintasan kereta, juga tidak bisa melihat kereta yang lewat itu secara keseluruhan, mungkin hanya sekedar kelebatan bayangan tak berbentuk. Untuk melihat keseluruhan kereta dari luar, orang harus berada pada posisi cukup jauh dari kereta itu sehingga kecepatan kereta berapapun tetap dapat terlihat sebagai kereta. Terlalu dekat malah terlihat samar, terlalu jauh hanya sekedar sebuah titik, hanya pada jarak tertentu maka kereta itu terlihat jelas dan utuh. Kereta konvensional mesin uap, masih bisa dilihat dalam jarak dekat, bisa terlihat dengan jelas sebagai kereta, tetapi kereta modern super cepat, 300 km/jam atau lebih, tidak akan bisa terlihat dengan jelas dari jarak dekat, hanya sekedar bayangan. Saat kita mundur beberapa puluh meter, mulai terlihat gambaran samar kereta bergerak cepat, mundur lagi ratusan meter, baru terlihat gambaran yang lebih jelas, mau melihat lebih jelas lagi perlu mundur lagi ke belakang.

Ada cara lain untuk melihat apa yang ada di dalam kereta yang bergerak cepat, anggaplah dalam suatu lingkaran yang cukup besar dan kita berada di tengah lingkaran, yaitu dengan ikut berputar searah gerakan kereta, harus cukup cepat dengan kecepatan sudut yang sama dengan kecepatan kereta itu berputar, maka kereta dan isinya akan tampak jelas. Di fotography hal ini disebut ‘Freezing a moving object’ atau ‘Panning’, dimana seorang fotographer mengambil gambar benda yang bergerak cepat dengan menggerakkan kamera (berputar pada poros) mengikuti gerakan benda yang akan dipotret. Hasilnya, benda itu akan tampil jelas sementara latar belakang atau apapun yang ada di belakang benda itu apalagi yang ada di depan benda itu akan tampil blur (samar).

Keterbatasan sudut pandang seseorang akan mempengaruhi daya pikir, daya penerimaan seseorang terhadap sesuatu yang sedang dia lihat. Orang ini akan melihat sesuatu didepannya sebagai suatu yang samar, dan kalau dia biarkan terus keadaan ini, maka daya pikirnya mengatakan begitulah tampang benda itu, hanya samar, kalau terus menerus dia berada di posisi itu, dia akan mengatakan, oo itu benda (samar samar) itu adalah kereta yang sedang lewat dengan cepat.

Persepsi dan sudut pandang bisa dimanipulasi, bisa dibuat sedemikian rupa, seakan akan satu keadaan, suatu kondisi sedang berlangsung, bisa saja seseorang diberi informasi yang salah terus menerus, maka dia akan berpandangan bahwa suatu hal adalah demikian seperti informasi yang telah diserapnya selama itu. Sekelompok orang bisa juga dimanipulasi dengan berbagai cara, dengan berbagai idealisme, dengan berbagai pandangan berdasarkan adat, budaya, agama, atau suatu patokan lain, sehingga kelompok orang itu memiliki pandangan yang diinginkan, melakukan apa yang telah direncanakan oleh si Mind Master alias sang dalang.

Teori Konspirasi

16 Desember 2014
Untuk melihat pembentukan persepsi atau sudut pandang, dan cara berpikir seseorang atau sekelompok orang, saya tampilkan contoh yang sebetulnya pernah terjadi di Indonesia, dan bukan cuma sesekali tetapi telah dijalankan dalam banyak operasi militer terselubung.

Skenario pembunuhan di hari hari X

Seorang serdadu yang ditugaskan melakukan operasi militer, entah dimana saja mereka berada, tidak perlu mengerti apa yang mereka lakukan di suatu hari mereka ditugaskan untuk melakukan penyerangan ke suatu lokasi, kepada suatu kelompok. Mereka bergerak seperti robot di pabrik manufacturing yang terprogram, berdasarkan perintah untuk menyerang dan menghabisi lawan mereka. Seorang jenderal perang juga belum tentu tahu skenario apa yang sedang dipersiapkan oleh sang panglima perang. Seorang jenderal diberi perintah menyerang pada satu hari tertentu, ke satu target tertentu, dan pada hari tertentu lainnya diperintahkan menyerang target yang lain. Kemudian, bisa saja jenderal yang memimpin satu pasukan di ujung barat diberi perintah menyerang ke timur, jenderal yang berada di timur diberi perintah menyerang ke utara, dlsb. Mereka bergerak seseuai ketentuan, tanpa bisa menolak perintah yang diberikan.

Perintah telah diberikan, sang pimpinan pasukan harus menjalankan perintah, tanpa tahu ada apa dan kenapa, tabu untuk menolak atau mempertanyakan perintah dari panglima.

Semua serdadu tidak menyadari bahwa mereka telah menjalankan penyerangan, pembunuhan di hari hari yang sama yaitu di hari tertentu itu. Sang jenderal mungkin tidak sadar akan hal ini. Perintah diterima dan dijalankan tanpa dipikirkan kenapa di hari tertentu itu harus ada penyerangan dan pembunuhan. Di hari X yang lain, bisa saja pasukan yang lain dengan pimpinan yang lain yang dikerahkan untuk melakukan penyerangan dan pembunuhan ke tempat tertentu.

Itulah satu contoh, bagaimana satu persepsi, satu pandangan orang yang berada di dalam suatu grup tertentu tidak bisa mengetahui apa yang terjadi, karena mereka berada di bagian dalam dari grup itu. Mereka yang berada dalam suatu sistem, bisa dimanipulasi sedemikian rupa untuk menjalankan satu rencana tertentu, dan mereka tidak bisa melihat kenapa atau ada tujuan apa dalam gerakan gerakan itu. Yang mereka tahu, hanya hari tersebut mereka menyerbu dan menghancurkan musuh di suatu lokasi.

Hanya orang yang berada di luar dari grup (kelompok, sistem) itulah yang bisa melihat adanya satu persamaan, yaitu hari hari yang sama dalam berbagai penyerangan dan pembunuhan itu. Mereka yang berada di dalam grup penyerang itu tidak sadar bahwa mereka telah diperintahkan melakukan penyerangan dan pembunuhan di satu hari tertentu yang sama, di hari X yang sama. Mereka melihat kegiatan menyerbu itu sebagai satu perintah atasan kepada bawahan, apa yang menjadi tujuan dari sang panglima terlihat samar buat mereka, dan mereka memang tidak boleh mempertanyakan apa maksud dan tujuan dari suatu penyerangan, penyerbuan dan pembunuhan itu apalagi menolak melakukan perintah.

Hanya orang yang teliti, berada di luar grup, diluar kelompok itu, tidak punya kepentingan yang sama dengan kelompok itulah yang bisa melihat ada apakah gerangan dari begitu banyak gerakan penyerangan itu, kenapa terjadi di hari hari yang sama, yaitu hari X!? Siapakah yang menjadi penggerak begitu banyak kejadian di hari X itu? Apa maksud dan tujuan dari gerakan gerakan yang banyak makan korban jiwa itu!? Apa maksud dari skenario penyerangan dan pembunuhan di hari hari yang sama itu, untuk apa??

Hanya orang yang bersih dari pengaruh kelompok itu, berpikir jernih, tidak ada keberpihakan kepada para penyerang ataupun kepada para korban, yang bisa melihat ada apa dibalik gerakan pembunuhan itu. Tentang siapa yang menjadi panglima, dan apa maksud pembunuhan di hari hari yang sama itu, tidak perlu diungkapkan, karena tulisan ini hanya terkait kepada Persepsi dan Sudut Pandang, hanya sekedar contoh.

Kelompok Milisi

Begitu juga dengan sekelompok milisi yang dibentuk oleh orang-orang tertentu yang bisa jadi merupakan bawahan dari sang Mind Master. Anggota milisi tidak perlu tahu apa tujuan sang panglima, bahkan anggota terbawah tidak perlu tahu siapa panglima yang sebenarnya, mungkin pimpinan tertinggi yang mereka lihat bukanlah panglima yang sebenarnya, dan mungkin cuma sekedar boneka yang ditempatkan di posisi pimpinan.

Apalagi keanggotaan milisi itu hanya berdasarkan paham dangkal tentang suatu agama, hanya sekedar tahu tentang suatu idealisme sederhana, tidak ada suatu keterbukaan tentang maksud dan tujuan dari kelompok itu, tidak ada usaha untuk membukakan pengetahuan para anggota. Semakin rendah pengetahuan anggota kelompok itu akan semakin baik, semakin mudah diarahkan, semakin mudah diberi perintah untuk melakukan gerakan gerakan yang merugikan kelompok lain, merugikan orang lain di luar kelompok itu.

Seseorang yang tak punya tujuan, tidak punya pengetahuan, tidak punya cukup pendidikan, hanya daya pikir yang sederhana, tidak punya pekerjaan, tidak punya masa depan, tidak ada harapan untuk bisa mendapatkan pekerjaan (penghasilan) yang pasti, maka orang orang seperti ini sangat mudah untuk dijerumuskan kedalam kelompok kelompok milisi itu. Elit kelompok tahu jelas bagaimana memanipulir daya pikir orang-orang seperti itu, kemudian memberi orang-orang itu doktrin yang sesuai dengan paham sederhana orang-orang itu, maka ikutlah mereka kedalam kelompok milisi tertentu. Mereka siap berkorban harta dan nyawa demi idealisme dangkal, mereka tidak bisa melihat apa yang sedang diskenariokan oleh orang-orang di tingkat atas.

Milisi dan skenario hari X

Kelompok milisi memang dibentuk untuk dikorbankan. Seperti kelompok rakyat terlatih, pengamanan swakarsa, atau kelompok pembela idealisme tertentu, pembela agama tertentu, semua itu hanya sekedar pengumpulan massa untuk satu pengorbanan di satu kesempatan tertentu. Kapan waktu pengorbanan itu tidak diketahui anggota kelompok milisi, hanya sang dalang tertinggi yang tahu.

Satu kelompok milisi A dikirim untuk menyerang suatu kelompok K yang dikatakan cenderung dekat kepada idealisme kiri, padahal belum tentu kelompok K itu benar benar beridealisme kiri. Saat kelompok A menyerbu, kelompok K diberitahu kalau penyerbu itu adalah kelompok beridealisme kiri yang akan melakukan pembunuhan. Kedua kelompok merasa pada jalur benar, maka baku hantam terjadi. Keduanya merasa benar, keduanya berburuk sangka kepada kelompok yang lain sebagai kelompok buruk dan jahat. Sang dalang tertinggi akan memfasilitasi kedua kelompok agar keduanya berbenturan dan terjadilah korban pada hari X!

Setelah itu dikirimlah pasukan untuk menghabisi kedua kelompok, pasukan diberi informasi kalau kedua kelompok itu beraliran kiri. Soldadu tentu tidak perlu bertanya dulu apakah informasi itu benar atau tidak, yang penting jalankan perintah. Habislah kedua kelompok itu, lalu disebarlah informasi kepada khalayak umum bahwa kedua kelompok itu telah dihabisi oleh kelompok kiri. Cerita pun berlanjut, berita tersebar luas, ada kelompok kiri bersenjata lengkap melakukan penyerangan dan pembunuhan, semua orang marah dan baku hantam satu sama lain. Semua menjadi korban karena sang dalang ingin terjadi pembunuhan di hari X!

Sang dalang menerapkan teori ‘The Prince’ dari Machiavelli, suatu cara melakukan peredaman pergolakan, ketidakpuasan dengan menempatkan orang-orang yang berbeda dari kelompok yang akan dikuasai. Jadi kalau ada pergerakan gesekan milisi dengan milisi di suatu daerah, misal di timur, maka dikirimlah pasukan dari daerah barat untuk menghabisi pergesekan itu. Pasukan dari barat tentu saja tidak mengerti apa yang sedang terjadi di daerah timur itu, yang penting jalankan tugas, lihat, serbu dan hancurkan. Lain kali ada pergesekan di daerah barat, baik hal itu karena ketidak sesuaian paham warga daerah barat atau memang diskenariokan sedemikian rupa, maka dikirimlah pasukan dari selatan untuk menyelesaikan hal itu. Pasukan selatan jelas tidak perlu bertanya apakah situasi dan kondisi disana itu asli atau hasil pabrikasi rancangan seorang dalang, yang penting, serbu dan hancurkan.

Milisi A dan milisi K diadu domba, lalu dikatakan ada gerakan kelompok kiri yang dibenci orang, padahal tidak ada sama sekali gerakan itu, kejadian itu adalah hasil pabrikasi (rencana terperinci dan terstruktur) dari sang dalang, dan kemudian sang dalang bisa menugaskan salah satu pasukan dari daerah lain untuk ‘menentramkan’ daerah pergolakan itu. Dan itu bisa saja terjadi di hari X!

Skenario borong sembako

Permainan persepsi, manipulasi keadaan yang sangat matang dan dijalankan dengan rapi adalah kejadian tanggal 8 Januari 1998, dan tanggal 15 Januari 1998, keduanya sama terjadi pada hari Kemis. Bukan sebuah kebetulan, tetapi ada sebuah skenario di belakang itu.

Pada tanggal 8 Januari 1998, hari Kemis. Tiba tiba muncul sebuah isu, entah darimana dimulai, telah menyebar di Jakarta. Isu itu mengatakan akan terjadi kekurangan sembilan bahan pokok (SEMBAKO), akan terjadi pemutusan jalur distribusi sembako, dan cadangan sembako yang berada di toko, di pasar, di supermarket itulah yang tersisa.

Begitu banyak warga terpancing isu itu, mereka segera menyerbu toko, supermarket, pasar, mereka segera memborong berbagai bahan pangan, sembako dan berbagai keperluan masyarakat langsung dibeli warga, beras, gula, minyak goreng, susu, kopi, susu anak, mie instan, dlsb. Warga menyerbu dan memborong dengan kalap dan ketakutan tidak kebagian, ada yang setelah selesai belanja membawa barang belanjaan itu pulang ke rumah dan segera menuju toko (supermarket) yang lain yang sekiranya masih memiliki cadangan barang. Warga panik karena ada isu akan terjadi hambatan penyediaan sembako, semua barang pangan, mentah ataupun produk siap saji segera diborong, banyak toko supermarket terlihat kosong, barang barang yang ada sudah dibeli habis oleh warga. Warga kaya segera menyiapkan kendaraan dan memasukkan semua barang belanjaan ke kendaraan mereka, lalu bergerak menuju supermarket yang lain, memborong di tempat lainnya . . . toko dan supermarket segera membuat batasan jumlah barang yang boleh dibeli setiap pelanggan.

Tanggal 8 Januari 1998, skenario borong habis itu terjadi nyaris sempurna, hampir semua warga terpancing untuk memborong berbagai barang sembako di berbagai outlet. Tidak hanya itu, siaran radio yang waktu itu masih menjadi andalan rakyat untuk mendapatkan hiburan dan informasi juga telah dimanipulasi. Semua siaran radio gelombang FM, di semua pemancar radio hanya memperdengarkan lagu dangdut yang sama. Dan hal ini juga terjadi sampai ke kota Malang. Banyak orang berpikir sendiri sendiri, mengira radio mereka yang rusak karena hanya bisa mendengar lagu yang sama di seluruh pemancar yang ada. Begitu juga di radio gelombang AM, semua pemancar yang ada di gelombang AM juga memperdengarkan lagu dangdut yang sama. Sementara di gelombang multiband SW UHF maupun VHF semua frekuensi pemancar yang dikenal telah di-jammer (di-jam) dan hanya memperdengarkan suara desis atau brum, tidak ada satupun pemancar yang dikenal bisa menyiarkan berita, tidak ada informasi apa yang telah terjadi.

Semua orang seperti berada didalam kereta yang bergerak cepat dengan jendela tertutup rapat, dan semua mengikuti skenario itu, karena persepsi mereka telah dibentuk (dimanipulasi) sedemikian rupa, seakan akan sembako langka, tidak ada distribusi tambahan, hanya tersisa di outlet yang ada.

Seminggu kemudian, tanggal 15 Januari 1998 skenario yang sama diulang kembali, dan warga tetap bisa diprovokasi, persepsi mereka kembali dimanipulasi dan aksi borong sembako kembali terjadi. Siaran radio kembali dimanipulasi persis sama seperti pada tanggal 8 Januari.

Sebuah ‘psy war’ menerapkan teori psikologi masa, memancing emosi warga dan menutup jalur komunikasi – informasi, sangat ter-rencana dengan management yang rapi dan menggunakan teknologi cukup canggih dan berkekuatan besar yang mampu meng-cover siaran semua frekuensi (gelombang) di hampir seluruh Jawa. Siapakah yang bermain!? Kontra intelijen nasional atau internasional? Bukan pekerjaan mudah untuk menutup semua pemancar yang ada di gelombang FM dan AM dan memperdengarkan satu lagu yang sama di setiap pemancar itu. Siapa Mind Master kali ini!?

***

Kejadian (skenario) diatas bisa terjadi karena persepsi yang terbatas, karena kesengajaan pembatasan informasi, karena pengkotak-kotakan masyarakat, karena kurangnya pengetahuan masyarakat, dan memang merupakan strategi dan skenario penguasa agar mereka bisa tenang duduk-duduk di atas singgasana tanpa gangguan dari rakyat yang tidak suka akan keadaan di negara itu.

Rakyat dibiarkan baku hantam satu sama lain, agar rakyat sibuk dengan urusan masing masing, agar rakyat tidak punya kesempatan untuk melihat bagaimana sang penguasa telah berkolaborasi dengan pengusaha alien dalam menyedot kekayaan alam bangsa.

Exit mobile version