083 Kata Pengantar HKS
Jakarta, 8 Januari 2015
Buku “Hukum Kasih Sayang” ini merupakan buku ke-4 dari buku seri “Menuju Revolusi Mental” (MRM). Buku MRM merupakan rangkuman dari tulisan dan gagasan (ide) yang pernah saya buat sebelumnya. Beberapa artikel sudah saya tulis sebelum 1998 dan banyak ide gagasan itu malah sudah muncul sewaktu saya tinggal di Jerman Barat (1978 – 1986).
Dalam buku ke-4 ini, saya ingin menampilkan hal hal positif yang bisa kita capai dengan menerapkan Hukum Kasih Sayang. Posisi mental dan moral memang memiliki 2 sisi: negatif dan positif, tidak ada sedikit negatif atau sedikit positif atau netral. Sedikit negatif tetap negatif dan sedikit positif pasti positif, sementara netral dalam hal mental dan moral itu tidak ada, pasti menuju salah satu posisi, cenderung ke negatif atau ke positif. Kita akan melakukan perubahan mental dan moral dari sisi negatif menuju sisi positif.
Sudah cukup lama mental dan moral negatif menguasai hidup kita, sudah “Tresno jalaran soko kulino”, segala hal negatif sudah bisa diterima, biasa dijalankan oleh banyak orang, sudah tidak ada lagi rasa sungkan, tidak ada rasa malu saat melakukan pelanggaran hukum. Penampilan seseorang yang begitu alim, begitu intelek, begitu baik, penuh pencitraan, rajin menjalankan ritual agama, banyak memberikan sumbangan, terlihat mengedepankan kebenaran, begitu sering mengucapkan ‘anti korupsi’, rajin mengatakan ‘anti kejahatan’, sering ber-orasi mengajak orang lain menuju jalan kebenaran, dlsb . . . bukan jaminan kalau orang itu bermental positif.
Korupsi berjamaah sudah biasa, bahkan lembaga yang seharusnya mengedepankan agama dan pendidikan mental – moral malah merupakan lembaga yang paling korup. Begitu banyak oknum pejabat terlihat begitu rajin menjalankan ritual agama, begitu sering terlihat mengejar titel keagamaan dengan beranjangsana ke tanah suci, toh negara ini merupakan salah satu negara terkorup di dunia.
Mimpi di siang bolong
Dengan tulisan, gagasan yang saya rangkum di buku MRM, saya ingin mencoba merubah keadaan dari negatif menjadi positif, dari keadaan amburadul menjadi tertib, dari keadaan mental moral negatif menjadi positif, dari tidak sejahtera menjadi sejahtera, dst. Bukan hal yang gampang untuk melakukan perubahan, sebuah hal besar yang tidak mudah untuk dilakukan, memang sulit untuk dilakukan, karena masyarakat sudah terlanjur “Tresno jalaran soko kulino”, sudah mencapai “Alah bisa karena biasa”, sudah begitu terbiasa dengan keadaan negatif itu. Apakah perubahan ini merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan!?
Mungkin, ada orang yang mengatakan, apa yang saya tulis dalam buku MRM hanya sekedar mimpi di siang bolong, karena apa yang saya kemukakan dalam buku ini memang sulit untuk digapai, seperti melawan arus, melawan kebiasaan banyak orang, dimana mayoritas sedang bergerombol berenang ke hilir, saya sendiri malah ingin kembali ke hulu, back to basic, kembali ke titik awal. Ke titik awal untuk memulai segala sesuatu dari null lagi, memulai dengan pembaharuan dalam berbagai bidang.
Saat kebanyakan orang sudah begitu terbiasa dan bersenang senang dengan keadaan ini, ikut menikmati keadaan ini dengan terpaksa ataupun sukarela, saya ingin merombak yang ada, kembali kepada hal mendasar dalam kehidupan manusia, kembali kepada Yang Maha Kuasa, berpatokan pada 2 sifat utama YMK yaitu: “Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Sebuah kalimat yang dibaca hampir setiap saat oleh kebanyakan orang. Banyak dibaca, begitu sering dilafalkan tetapi sayang sekali tidak diterapkan secara nyata dalam kehidupan kita saat ini. Tidak terlihat ada rasa kasih dan rasa sayang.
Mungkin tulisan, ide dan gagasan saya itu cuma sekedar mimpi di siang bolong. Rasanya, tidak ada yang salah bila saya bermimpi di siang bolong sekalipun. Ketahuilah bahwa bermimpi adalah sebuah langkah awal untuk menuju penciptaan suatu karya. Tanpa mimpi besar tidak mungkin suatu karya akan tercipta. Pasti ada angan-angan akan suatu karya, ada mimpi mimpi yang hadir sebelum seorang seniman menciptakan suatu karya, begitu juga dalam pembaharuan ini, ada mimpi mimpi, ada ide, ada gagasan dan ada usaha.
Bila kita berandai andai ke cerita 1001 malam, ada mantera “Sim salabim” yang diucapkan seorang tokoh cerita, kemudian berbagai benda akan dihadirkan, dimunculkan, situasi dan kondisi lingkungan langsung berubah dalam hitungan detik. Tidak mungkin sesuatu (benda, karya, sistem, keadaan, apapun) itu akan ada hanya dengan mantra “Sim salabim” begitu saja secara acak, karena sebelum orang itu mengucapkan matera, dia pasti sudah punya bayangan akan apa yang dia inginkan. Dia punya angan-angan, punya mimpi yang bisa saja sudah menghantui dirinya selama bertahun tahun sebelum dia mendapatkan mantra itu.
Kita lihat seorang tukang sulap. Dia akan merancang lebih dulu apa yang ingin dia tampilkan, jauh sebelum dia mulai berlatih untuk suatu penampilan, pasti dia sudah punya impian tentang trik itu. Dia bayangkan dalam angan-angan, ditulis dan digambar, direncanakan, dianalisa dengan berbagai kemungkinan yang ada, dipertimbangkan berbagai hambatan yang mungkin ada, dan dicarilah satu cara (trik) agar permainan sulap itu bisa ditampilkan. Pasti ada mimpi dalam (sebelum) menciptakan suatu karya.
Memang tidak mudah menampilkan perubahan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak sekedar mengucapkan mantra “Sim salabim” maka perubahan itu terjadi. Keinginan untuk melakukan perubahan ini pasti menjadi mimpi banyak orang yang telah melihat bagaimana kondisi bangsa dan negara saat ini. Hanya anggota kelompok ‘status quo’ yang tidak menghendaki adanya perubahan, mereka ingin tetap pada kondisi kekacauan, agar mereka tetap bisa berjaya untuk kepentingan pribadi mereka.
Kalau orang mengatakan gagasan itu sekedar mimpi di siang bolong, memang ada benarnya juga, karena saya bisa bermimpi di siang hari, di sore hari, di pagi hari, di malam hari, di setiap saat bila ada kemungkinan untuk itu. Setiap hari saya membawa peralatan untuk mencatat berbagai ide, membawa mini tape recorder, voice recorder dan kamera untuk merekam berbagai hal yang muncul dalam benak saya, yang terlihat ada di depan mata. Dulu saat saya bekerja sebagai freelance konsultant bidang IT, saya membawa mini tape recorder untuk merekam tanya jawab dengan pelanggan, saya terbebas dari acara tulis menulis, rekam saja, kemudian di rumah baru didengarkan kembali dan membuat catatan untuk itu. Selain untuk mencatat percakapan itu, saya gunakan alat yang sama untuk mencatat berbagai ide dan gagasan yang muncul, mimpi mimpi yang hadir di benak saya, dan itu saya lakukan sampai sekarang, setiap saat, tidak cuma di siang bolong.
Wacana, atau keinginan melakukan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, merupakan mimpi mimpi banyak orang. Saya tidak sendirian, ada banyak yang punya ide dan gagasan yang sama. Perubahan besar mendasar menuju kebaikan memang tidak mudah dilakukan, bila hanya diinginkan dan dilakukan segelintir orang. Perubahan besar akan berhasil kalau ada banyak orang yang ikut mengusahakannya.
Saya tidak ingin sekedar bermimpi, saya ingin melihat apa yang saya impikan ini bisa tercapai, dan saya mengajak setiap warga Indonesia untuk ikut merealisasikan mimpi mimpi itu, demi kebaikan kita bersama.

