Site icon Bambang Subaktyo's Blog

085 Mimpi Besar Tentang Kehidupan

085 Mimpi Besar Tentang Kehidupan

Jakarta, 8 Januari 2015

Banyak tokoh dunia yang bermimpi akan kejayaan bangsa dan negaranya, mereka berharap, bercita cita, punya ide, punya gagasan, akan mencapai suatu keadaan yang terbaik bagi masyarakat, bagi bangsa, atau bagi negara mereka:

Mimpi dan Realisasi, Positif dan Negatif

Tokoh tokoh besar dunia punya mimpi besar masing-masing, mereka bermimpi yang indah tentang bangsa dan negaranya, tetapi realisasi mimpi itu ada yang positif dan ada yang negatif:

Kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual

Semua orang ingin bermimpi besar, sebesar-besarnya, seindah indahnya, dst. Batasan kecerdasan yang dimiliki seseorang (tokoh, atau siapapun) yang akan menentukan apakah mimpi besar mereka itu bermanfaat bagi orang banyak atau hanya terbatas pada diri si pemimpi, terbatas pada masyarakat dimana si pemimpi berada, terbatas pada suatu bangsa dimana si pemimpi berada, berada pada negara tertentu dimana si pemimpi berada.

Kelompok terakhir ini, berpikir (ini kenyataan sejarah) Tuhan memberikan keistimewaan kepada mereka, menjadikan mereka kelompok unggulan atau kelompok terpilih sementara yang diluar kelompok mereka hanya sekedar pelengkap kehidupan mereka, boleh dipergunakan seperti alat kerja (terjadilah penjajahan, perbudakan), boleh disingkirkan (terjadilah penghancuran dan pembunuhan, juga kenyataan). Dan kondisi yang pernah terjadi beberapa abad yang lalu itu kini sedang berulang kembali di dunia, ada kelompok yang merasa mendapatkan keistimewaan untuk memaksakan kehendak mereka, seakan akan mereka telah menjadi kelompok istimewa di mata Tuhan, dan barang siapa tidak tunduk atas kekuasaan mereka akan disirnakan.

Manusia seharusnya punya karakter lebih baik dari binatang, tetapi sebenarnya manusia punya kemungkinan untuk sama buasnya seperti binatang. Ingat: “Homo homini socius, homo homini lopus” yang kira-kira bermakna: manusia adalah mahluk sosial, tetapi manusia bisa menjadi srigala bagi yang lainnya.

Binatang punya kecerdasan emosional yang tinggi, binatang tidak membunuh sesama jenisnya, kecuali dalam pertarungan kekuasaan daerah, sementara manusia meski sudah cukup makan, cukup harta, jabatan tinggi, terpandang bisa saja seperti binatang yang tak kenal ampun, bahkan lebih buas. Singa memburu seekor mangsa, dia makan secukup perutnya, setelah itu ditinggalkan untuk binatang yang lain, untuk Hyena atau burung pemakan bangkai. Ular makan sesekali, sekali dia menelan yang cukup besar, dia akan tidur panjang, bisa sebulan sampai 3 bulan. Manusia, meski sudah punya harta tak habis 7 turunan, tetap saja kemaruk. Binatang punya kecerdasan emosional, sementara manusia yang seharusnya punya kecerdasan spiritual, malah bisa lebih buas dari binatang.

Mimpi atau bermimpi jelas tidak ada batasan, boleh boleh saja sekehendak hati seseorang, tetapi kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itulah yang membedakan, baik buruknya mimpi itu.

Exit mobile version