086 IST dan SOLL
1 Januari 2015
Dalam beberapa artikel yang ada di buku “Menuju Revolusi Moral” terdapat istilah ‘IST’ dan ‘SOLL’. Kedua kata ini berasal dari bahasa Jerman, IST berarti adalah, ialah, dan SOLL berarti seharusnya, semestinya, harus begitu, harus begini, demikianlah seharusnya.
- Istilah ‘IST’ menggambarkan suatu keadaan, kenyataan yang dihadapi, yang diperoleh, yang sebenarnya ada pada masa kini dan sebelumnya,
- sedangkan ‘SOLL’ merupakan suatu kondisi, keadaan yang diharapkan, yang direncanakan, yang seharusnya terjadi sejak diberlakukannya ‘SOLL’ itu, dari masa lalu, sekarang dan atau masa yang akan datang.
I S T
IST adalah suatu kondisi, keadaan yang sedang berlaku (berlangsung) dari masa yang lalu sampai saat ini. Kondisi, keadaan, situasi, atau apapun itu dapat diterima melalui pancaindra manusia, dapat dilihat, didengar, dirasakan dengan hati, dirasakan dengan lidah, dengan kulit:
- suatu sistem yang sedang berlaku didalam suatu masyarakat,
- prinsip hukum yang sedang berlaku, KUHP, jelas terlihat ada banyak anekdot untuk masalah hukum: kasih uang habis perkara, tak punya uang perkara jadi panjang, jangan melaporkan kehilangan kambing nanti bisa kehilangan kerbau,
- sikap suatu masyarakat secara umum terhadap peraturan dan hukum yang berlaku, begitu banyak yang melanggar peraturan, begitu banyak “Wong edan”, yang tidak ikut ‘edan’ malah jadi bulan-bulan-an, yang tidak mau ikut korupsi berjamaah akan disingkirkan,
- kebijakan dan kebijaksanaan pemerintah dalam memanage berbagai hal terkait kehidupan berbangsa dan bernegara, lebih banyak mengurus kartu kartu kartu daripada mengurus nasib warga,
- perilaku, sikap, karakter para pamong, para ponggawa dalam kegiatan mereka,
- keadaan sosial suatu masyarakat, kondisi ekonomi suatu masyarakat,
- keadaan suatu negara sampai detik detik yang lalu,
- gaya kehidupan suatu masyarakat saat ini, seperti: acuh terhadap peraturan, tak taat hukum, tidak kenal sopan santun, kasar, penggunaan kekerasan, mengedepankan keistimewaan, mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli kepada orang lain,
- perilaku, sikap, karakter suatu masyarakat yang dapat dirasakan dengan pancaindra, jelas terlihat dilakukan banyak orang, dapat dibaca dari berbagai tulisan bagaimana suatu masyarakat bersikap, jelas terdengar dalam berbagai pemberitaan, meski tidak terlihat, secara tidak langsung keadaan itu dapat dirasakan, dapat diperkirakan benar adanya karena sudah “Tresno jalaran soko kulino”, sudah “Alah bisa karena biasa”,
- bahkan kita bisa merasakan secara langsung bagaimana kondisi makanan kita saat ini, yang serba cepat (fast food), instan, penuh dengan bahan kimia, dengan racun (toxin, poison), penuh dengan bahan bahan tidak layak makan, itulah kondisi makanan yang ada saat ini. Makanan yang penuh toxin, poison dan dirt (TPD) itu tidak hanya disajikan oleh warung makan pinggir jalan, warung makan kelas exklusif juga bisa berlaku curang, mereka ingin untung sebesar besarnya, tidak peduli kalau makanan itu menyebabkan orang mudah terkena penyakit, dan cepat berpulang,
- keadaan sistem transportasi umum yang begitu semrawut, saling silang di jalan, saling balap satu sama lain, dalam usaha mereka mendapatkan banyak penumpang, untuk bisa mengejar setoran, mereka tidak peduli keamanan atau kenyamanan penumpang ataupun pengendara yang lain, dengan anekdot: “Bayar 2000 perak aja . . . kok ya mau selamat!”, nyawa penumpang tidak lebih dari 2000 perak!,
- dlsb.
S O L L
SOLL merupakan satu perjanjian, satu persyaratan, satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh suatu masyarakat, suatu bangsa, suatu negara, berisikan segala sesuatu yang seharusnya dicapai, yang harus ditampilkan, dijalankan, diterapkan, disiapkan, direalisasikan, dijaga agar tercapai. SOLL terbentuk dari gabungan etika, adat, budaya, agama, hukum, sosial, ekonomi, dlsb.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, SOLL harus ditetapkan sesempurna mungkin yang memperhitungkan segala aspek (faktor) etika, adat, budaya, agama, hukum, sosial, ekonomi, dlsb itu. Untuk membentuk SOLL tentang suatu hal, diperlukan pemahaman akan berbagai faktor atau persyaratan yang berkaitan dengan hal tersebut.
Tinggi atau rendahnya kualitas penetapan SOLL tergantung dari orang atau kelompok yang memasang SOLL itu, tergantung pada kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual para perancang SOLL.
Beberapa contoh kejadian terkait IST dan SOLL:
Manusia harus makan
SOLL: Orang sehat adalah yang makan 3 kali sehari: pagi, siang dan malam, minimal sekian XXX kalori untuk pria dewasa, untuk anak-anak misal YYY kalori, dengan teori 4 sehat 5 sempurna, cukup gizi dan sehat.
- IST (1): ada 1 miliar penduduk dunia yang pergi tidur dalam keadaan perut lapar, mereka mungkin hanya makan sekali sehari, dan jumlah asupan kalori mereka jauh dari nilai YYY kalori, dibawah nilai besaran untuk anak-anak. Mereka kurus, bagaikan tulang berbalut kulit.
- IST (2): ada begitu banyak orang pengidap obesitas (kegemukan), terutama di Amerika, mungkin sepanjang hari cuma makan dan makan. Badan mereka gemuk dan gombyor.
- IST (3): ada banyak warga Indonesia yang makan sekedar makan, ada yang cuma makan nasi dengan garam, cuma setumpuk nasi dengan lauk a’la kadarnya, mereka tidak punya uang untuk membeli ikan, telur, daging ataupun buah. Ada banyak orang mampu yang tak mau memasak sendiri, lebih suka membeli makanan di warung, tetapi makanan yang dibeli itu tidak sehat karena dicampur dengan berbagai racun. Racun itu ada sejak bahan pangan itu ditanam, ada pestisida, insektisida, herbisida, kemudian ada bahan pengawet seperti borak atau formalin, kemudian saat diproses ditambahkan bahan kimia penambah rasa, pewarna textil, dlsb.
Berbahagia dan tidak berbahagia
SOLL: Berbahagia kalau orang lain bahagia, tidak bahagia kalau melihat orang lain tidak bahagia, senang kalau orang lain dalam kondisi senang, dan tidak senang kalau orang lain dalam kondisi tidak senang (susah). SOLL yang sederhana, tetapi cukup sulit untuk dicapai, tidak banyak orang yang berhasil mencapai tingkatan ini, orang tersebut harus punya tingkat emosional yang baik dan tingkat spiritual yang baik pula.
IST: Berbahagia melihat orang lain dalam kesusahan dan kesulitan, dan benci (tidak bahagia) saat melihat orang dalam kondisi senang dan berbahagia. Yang muncul disini lebih banyak rasa iri, dengki, cemburu, dan marah terhadap apa yang diperoleh orang lain. Hal ini bisa terjadi karena faktor ketidakmampuan seseorang dalam hidupnya yang mungkin penuh kesulitan, kesusahan, kesengsaraan, tidak bisa menerima keadaan, tidak mampu menjalani satu kehidupan dengan iklas dan pasrah. Bahkan seseorang yang sudah memiliki harta yang berlimpah bisa juga terpapar virus iri, dengki, cemburu dan dendam.
Urusan di pamongpradja
SOLL: Segala urusan seharusnya mudah, murah, sederhana, cepat, lancar, sekali jalan, satu pintu!!!
IST: Mengurus berbagai keperluan di pamongpraja ternyata susah, mahal, rumit, lambat, berbelit belit, bolak balik, dan banyak pintu . . . agar muncul uang pelicin, uang siluman, uang dedemit, uang genderuwo dan uang setan lainnya (Mungkin ada banyak disana!?).
Ingat MOTTO mereka: Segala urusan yang bisa dibikin susah kenapa harus dibikin mudah! Yang bisa dipermahal kenapa harus dibikin murah! Yang bisa dibikin rumit kenapa dibikin sederhana. Kalau bisa diperlambat kenapa harus dibikin cepat! Kalau bisa dibuat berbelit belit kenapa harus dibikin lancar! Kalau bisa dibikin bolak balik kenapa harus dibikin sekali jalan! Kalau bisa dibikin banyak pintu kenapa harus dibikin satu pintu!
Berbagi sumber daya
SOLL: Berbagai sumber daya yang ada di bumi digunakan bersama sama dengan semua warga dunia yang lain. Berbagai lahan, ruang, tanah yang punya potensi untuk menghasilkan bahan pangan akan diusahakan secara intensif, efektif, efisien dan dengan cara yang ramah lingkungan, tidak merusak alam agar menghasilkan bahan pangan yang cukup bagi umat manusia, yang tidak mengandung racun (toxin & poison) di dalam bahan pangan itu, didistribusikan dengan cara cara yang juga tidak merusak lingkungan dan tidak merusak bahan pangan itu.
IST: Berbagai sumber daya yang ada di bumi dikuasai, dimonopoli, disedot dengan rakus oleh sekelompok pengusaha alien, ditumpuk dan ditimbun sedemikian rupa agar menjadi barang langka bernilai tinggi dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar besarnya. Usaha untuk menguasai sumber daya itu dilakukan dengan cara manusiawi (maksudnya: manusia serakah), dengan cara berkolaborasi dengan penguasa negara (daerah) setempat, dengan cara curang, hanya memberikan sebagian kecil bagi warga setempat, bagi rakyat negara tersebut, seperti di Indonesia, hanya diberi bagian dalam bentuk royalti senilai 1% dan sudah berjalan selama 40 tahun lebih. Ada juga yang melakukan penguasaan suatu daerah / negara dengan melakukan kejahatan kemanusiaan, dengan menyebarkan bibit penyakit yang mematikan, dengan melakukan penyerbuan negara tersebut secara militer, melakukan pengeboman, pembunuhan sporadis dengan alasan yang dibuat buat, seperti penyerbuan negara Irak dengan alasan adanya instalasi nuklir yang ternyata tidak terlihat nyata keberadaannya, tetapi karena ada emas hitam disana (minyak bumi!).
Sumber daya alam menjadi alasan politik, strategi bisnis, mengejar keuntungan, untuk merendahkan suatu bangsa, untuk melakukan peperangan, melakukan penyerbuan militer, melakukan trik intrik pembunuhan suatu masyarakat (genositas), alasan penguasaan suatu daerah (negara) demi keamanan dunia, dst. Meski negara yang melakukan berbagai strategi penguasaan daerah dan sumber daya alam itu terlihat sebagai negara dengan warga yang alim beragama, tidak tertutup kemungkinan mereka menjalankan berbagai kejahatan dengan alasan alasan yang mereka siapkan, alasan kemanusiaan, alasan keamanan dunia, alasan menghentikan ancaman dari daerah (negara) yang mereka tuju. Kalaupun tidak melakukan strategi kekerasan militer, mereka melakukan penguasaan dengan cara tipu daya yang terlihat legal dimata hukum padahal cuma berisi keculasan keculasan mereka, seperti pengusaha alien dan para kolaborator penghianat bangsa dan negara yang menguasai SDA Indonesia.
Jelas, para pelaku tersebut diatas tidak punya kecerdasan emosional apalagi kecerdasan spiritual!!! Mereka memang punya kecerdasan intelektual yang sangat tinggi, mereka punya teknologi canggih, peralatan perang super canggih, mesin pembunuh super canggih, laboratorium kimia super canggih untuk memproduksi bakteri dan bibit penyakit mematikan, mereka jagoan dalam psikologi masa, mampu merancang strategi adu domba, strategi penghancuran, membuat berita artificial untuk mengecoh suatu masyarakat, membodohi negara negara terbelakang . . . meski mereka terlihat menjalankan ritual agama mereka, ternyata mereka sama sekali tidak punya kecerdasan spiritual. Apalagi negara yang penduduknya banyak menderita obesitas itu, mereka begitu gencar makan makan dan makan, lupa kepada 1 miliar penduduk dunia yang kelaparan, mereka begitu getol menjalankan ritual agama, tapi jelas terlihat tidak ada kecerdasan spiritual!!!
Tuhan Yang Maha Esa
SOLL: Tuhan dikenal di berbagai agama sebagai Sang Maha Pencipta alam semesta. Penciptaan bumi berikut segala yang ada di atas bumi telah terjadi entah berapa puluh (ratus) ribu tahun atau mungkin sudah jutaan tahun yang lampau. Begitupun dengan penciptaan mahluk bumi bernama manusia, dikatakan berawal dari Nabi Adam dan Siti Hawa (Adam & Eva), kemudian entah bagaimana caranya bisa bersuku suku, berbangsa bangsa, ada beberapa jenis warna kulit, ada beberapa jenis tipe rambut, beberapa jenis mata manusia, dst. Tentu saja, semua itu merupakan hasil karya Sang Maestro, Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.
IST: Kenyataan yang ada, berbagai bangsa, berbagai manusia dengan ragam warna kulit, ragam warna rambut, dst itu telah melakukan pengelompokan antara bangsa, antara warna kulit, antara negara, antara agama, dan masing masing menampilkan kebencian satu sama lainnya. Mengatakan bahwa yang berbeda agama adalah menyembah beda Tuhan, Tuhan yang berbeda dengan yang mereka sembah. Secara tidak disadari ataupun secara sadar, mereka telah mengatakan ada beda Tuhan, ada Tuhan yang berbeda, ada banyak Tuhan, tidak cuma satu, ada Tuhan yang berbeda yang menciptakan bangsa tertentu, ras manusia tertentu, Tuhan yang berbeda bagi setiap agama. Lebih parah lagi, ada kelompok warga yang mengatakan mereka adalah ras unggulan (Arya), yang lain mengatakan mereka adalah bangsa terpilih, kemudian kedua kelompok ini mengatakan bahwa manusia yang bukan dari ras atau dari bangsa mereka adalah cuma ‘untermenschen’, manusia rendahan, manusia yang tidak unggulan, sekedar warga buangan, dan di kedua kelompok ini pernah terjadi pembunuhan genosida, kelompok Arya mencoba menghabisi kelompok terpilih pada masa perang dunia ke-2 dulu.
Kenyataan yang ada, muncul rasa iri, dengki, cemburu dan dendam antara warga suatu bangsa dengan bangsa yang lain, suatu ras kepada ras yang lain, suatu kelompok penganut agama tertentu kepada pemeluk agama yang lain. Mereka tidak ingin orang-orang yang berbeda bangsa, beda ras, beda kelas, dan beda agama itu menyembah Tuhan yang sama . . . harus beda Tuhan, Tuhan yang berbeda!
Iri, dengki, cemburu dan dendam itu muncul dalam berbagai tampilan yang secara sadar atau tidak disadari dengan perilaku mereka masing-masing.
IST dan SOLL dalam kehidupan nyata
Untuk mengetahui sedikit lebih mendalam tentang IST dan SOLL, saya berikan sebuah contoh dalam kehidupan nyata yang akan kita bahas, yaitu Trotoar atau ruang untuk pejalan kaki.
Trotoar untuk pejalan kaki
IST:
Kenyataan yang ada. Hanya sedikit trotoar yang benar benar berfungsi sebagai ruang untuk pejalan kaki, banyak trotoar berubah fungsi:
- ada yang menjadi tempat berjualan (kaki lima),
- ada yang menjadi tempat parkir,
- ada yang sulit untuk dilewati, ada lumpur, genangan air, tidak rata,
- ada banyak penghalang di trotoar itu sehingga pejalan kaki tidak leluasa berjalan diatasnya,
- ada yang dipasangi tiang tiang pembatas atau batu besar agar kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat tidak bisa lewat diatasnya atau parkir diatasnya, tetapi pejalan kaki yang membawa koper dorong atau membawa kereta bayi sulit lewat di antara penghalang itu,
- di beberapa tempat ada besi pengkait diatas beton penutup lubang sanitasi, dan besi itu mencuat keatas yang bisa menjebak kaki pejalan kaki,
- di beberapa tempat lain, trotoar itu sempit, ada beton atau tiang jembatan penyeberangan yang menjadi penghalang bagi pejalan kaki,
- gelap di saat malam hari,
- ada trotoar diatas saluran air sanitasi yang terbuka tanpa penutup, lubang itu dalam, berisi air kotor dan bau,
- dlsb.
Jelas sekali kita bisa merasakan bagaimana sikap, perilaku, karakter dari para pamong yang seharusnya merencanakan, membangun, dan merawat trotoar itu sebagai sekelompok orang-orang yang tak peduli akan orang lain, sebagai warga, sebagai pejalan kaki.
Ada projek peremajaan trotoar, terkesan asal jadi, tidak rata, banyak jebakan kaki, ada trotoar yang menjadi lahan usaha raja raja kecil penguasa daerah tertentu, yang disewakan kepada masyarakat untuk berdagang, dijadikan etalase (show room) furniture (barang bekas), dijadikan lahan parkir. Sebagian warga mengambil trotoar untuk kegiatan sehari hari mereka, dibangun pos ronda (keamanan) menutup trotoar, dibangun pos polisi, dijadikan tempat kongkow (duduk duduk) para tukang ojek, mereka taruh bangku panjang menutup trotoar, mereka bergerombol disitu, ada warga menaruh pot pot bunga besar di trotoar, dan ada pemerintah daerah membangun pot tanaman selebar 1 meter hampir sepanjang trotoar, hanya menyisakan trotoar selebar 30 cm atau tidak sama sekali, dan terlihat jelas para pejalan kaki berjalan di jalan raya.
SOLL:
- seharusnya. Seharusnya trotoar itu benar benar bisa digunakan oleh pejalan kaki,
- pejalan kaki bisa lewat dengan leluasa, cukup lebar agar 2 orang yang berbeda arah bisa saling berpapasan, bersih dari berbagai halangan,
- tidak berbahaya, tidak ada besi jebakan yang bisa membuat orang jatuh tersandung,
- terang di waktu malam, aman,
- permukaannya harus cukup rata agar pejalan kaki yang membawa koper dorong atau kereta bayi tidak mendapatkan kesulitan, mudah dilalui orang cacat,
- tidak dijadikan lintasan kendaraan bermotor roda dua atau roda empat,
- tidak dijadikan tempat parkir kendaraan,
- tidak dijadikan ruang untuk berjualan.
Jadi segala hal baik yang harus ada pada trotoar itu menjadi SOLL, menjadi persyaratan yang harus terpenuhi pada saat trotoar itu dirancang (digambar, direncanakan), dibangun (direalisasikan), juga saat merancang berbagai konstruksi yang berhubungan, diatas trotoar atau di dekat trotoar seperti bangunan, dinding tembok, jembatan penyeberangan, harus memperhitungkan persyaratan yang ada, juga pekerjaan perbaikan saluran air (sanitasi, got, parit) yang berada dibawah atau disamping trotoar harus tetap memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki, bila terpaksa pejalan kaki tidak bisa lewat diatas trotoar, dan harus melintas di jalan raya, harus dipersiapkan pengaman untuk menjamin keselamatan pejalan kaki dari sambaran kendaraan.
Tanpa melihat siapa yang merancang, siapa yang memberi perintah pembuatan trotoar itu, atau siapa yang memberi ijin pembangunan konstruksi yang mengambil sebagian trotoar, saya bisa merasakan ada yang missing di otak mereka, ada kebuntuan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) dalam diri pamong tersebut. Pamong, pemerintah daerah, lembaga penyelenggara fasilitas umum tidak bisa memenuhi SOLL, kita bisa lihat dengan mata kepala kita bagaimana IST yang ‘kacau balau’ di berbagai sudut kota.
Mereka belum mengerti apa itu trotoar, untuk apa ada trotoar, kenapa trotoar harus dibuat sedemikian rupa, apa yang boleh ada di trotoar, apa yang tidak boleh ada disana, dst . . . dst.
Sekedar merancang SOLL dari trotoar saja sulit untuk dipenuhi, karena pamong di pemerintah daerah dan di lembaga penyelenggara fasiitas umum itu masih belum paham benar akan arti tugas mereka sebagai penyelenggara fasilitas umum.
Beda prinsip, beda SOLL
Pada pembahasan diatas mengenai trotoar, SOLL yang ditampilkan adalah SOLL secara umum yang berlaku di mancanegara, dengan persepsi wawasan mancanegara, berprinsip kepada rasa sosial dan rasa kasih secara umum yang berlaku di mancanegara.
Untuk saat ini, saya kira prinsip yang dipakai para pamong penyelenggara fasiitas umum itu berbeda, yaitu hanya sekedar membuat rancangan seadanya, tidak tahu akan tujuan dari penyediaan (pembangunan) trotoar, hanya sekedar jadi proyek (sekedar komisi), memang ingin membagi lahan dengan para raja raja kecil di seluruh wilayah, maka SOLL yang terbentuk bisa jadi seperti itu, dan IST yang ada memang sesuai dengan SOLL yang mereka ‘ciptakan’. Prinsip mereka bukan demi kebaikan masyarakat pengguna trotoar (pejalan kaki) tetapi menjadikan trotoar sebagai bagian dari ladang usaha pembentukan proyek proyek komisi.
Bisa jadi prinsip yang dipakai dalam perancangan SOLL trotoar adalah prinsip orang bodoh, jelas terlihat, mereka tidak tahu apa tujuan adanya trotoar, tidak mau belajar dari berbagai sumber meski sering beranjangsana ke mancanegara, begitu sering melakukan study banding ke berbagai negara, tetapi otak mereka kering atau cuma ada di dengkul, rasa sosial mereka rendah dan rasa kasih mereka tidak ada maka mereka ‘ciptakan’ rancangan SOLL yang sedemikian rupa agar menguntungkan mereka.
Trotoar: Persepsi masyarakat
Masyarakat biasa menghadapi keadaan trotoar yang ‘tidak benar’, sudah terbiasa berjalan di jalan raya, sudah biasa menemui keadaan trotoar memang seperti itu, sudah ‘tresno jalaran soko kulino’, masyarakat tidak pernah kecewa dengan keadaan trotoar itu, mereka berjalan diantara pot pot bunga yang ada di trotoar, berjalan melintas di jalan raya bila trotoar itu tidak bisa dilewati, menghindar atau melompat lompat bila ada lubang besar menganga di tengah trotoar, dst. Warga masyarakat sudah terbiasa dengan keadaan itu, mereka tidak pernah mengeluh atas keadaan trotoar yang ‘tidak benar’ itu. Benar atau tidak benar sudah tidak dipedulikan lagi, mereka terima apa adanya.
Kalau ada seorang pejalan kaki sampai jatuh terjungkal karena kakinya terjebak besi pengkait yang terpasang di atas penutup saluran di tengah trotoar, atau terjerembab masuk ke lubang saluran yang tak tertutup atau saat hujan deras air tergenang, saluran air yang terbuka itu tidak terlihat, kemudian seorang anak jatuh ke saluran dan terseret air deras sehingga merenggut nyawanya, atau seorang pejalan kaki tersambar kendaraan saat melintas di jalan raya, atau . . . atau . . . berbagai kejadian buruk lainnya, begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi di trotoar yang tak layak pakai . . . lalu siapakah yang bertanggung jawab!?
Para pamong penyelenggara fasilitas umum tidak peduli akan kemungkinan ada warga yang celaka akibat trotoar yang tidak benar, mereka acuh tak acuh dengan kondisi trotoar. Bila terjadi kecelakaan, maka (inilah IST dari sikap, perilaku pamong) sang pejalan kaki yang dipersalahkan, kenapa tidak hati hati, kenapa meleng, kenapa tidak waspada, kenapa tidak lewat jalan lain . . . dlsb, sementara sang pamong itu tidak kelihatan batang hidungnya, adem ayem entah dimana, mungkin sedang menikmati hasil komisi proyek trotoar itu.
Masyarakat tidak paham akan hak mereka, mereka berhak mendapatkan trotoar yang layak jalan, mereka sudah terbiasa dengan keadaan ini, mereka sudah tidak peduli lagi akan kualitas trotoar itu, tidak peduli apakah trotoar itu ada atau tidak ada, tidak ada bedanya buat mereka dan kemungkinan besar mereka merupakan salah satu warga yang telah ikut menggunakan trotoar untuk kepentingan mereka, berdagang di trotoar, menaruh furniture di trotoar, parkir dan melintas disana. Persepsi masyarakat terbentuk karena kebiasaan mereka sehari hari, termasuk masalah trotoar.
Trotoar: Hak dan Kewajiban
Warga masyarakat punya hak untuk mendapatkan trotoar yang layak, masyarakat tidak tahu bahwa itu adalah hak mereka, mereka seharusnya menuntut hak mereka.
Penyelenggara daerah wajib menyediakan trotoar yang layak, selama ini mereka tidak mau tahu bahwa itu adalah kewajiban mereka, mereka tidak menjalankan tugas mereka dengan baik.
SOLL menghasilkan IST
Untuk mendapatkan kehidupan (IST) yang nyaman, aman, sejahtera, adil, dlsb diperlukan SOLL yang ‘sempurna’. SOLL perlu dipersiapkan dengan baik. Meski sudah ditetapkan dengan ‘sempurna’ belum tentu menghasilkan IST yang baik, apalagi SOLL yang memang sudah buruk, pasti akan menghasilkan IST yang lebih buruk.
SOLL itu harus dirancang oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang tinggi.
Banyak pamong punya beberapa gelar terpampang di depan nama mereka, terlihat punya titel kesarjanaan tinggi sebagai gambaran kecerdasan intelektual yang tinggi, punya titel keagamaan toh ternyata tidak punya kecerdasan emosional ataupun kecerdasan spiritual. Ketidakhadiran kecerdasan emosional dan spiritual itu dapat terlihat dalam waktu perancangan SOLL berbagai hal penunjang kehidupan masyarakat, mereka tidak bisa mencapai SOLL yang baik.
Kualifikasi perancang SOLL
Pamong yang berwenang, harus merencanakan SOLL untuk setiap hal yang ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang-orang ini harus punya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam kualitas prima, bukan yang artificial, bukan cuma sekedar bertitel kesarjanaan tinggi, bukan sekedar suka berderma, suka menyumbang, suka beramal, bukan sekedar menjalankan ritual agama, bukan sekedar suka pergi mencari titel keagamaan, tetapi harus sebenar benarnya punya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual asli berkualitas!
Bagaimana merencanakan SOLL?
Untuk berbagai bidang kehidupan antar manusia, SOLL itu bisa dirancang sedemikian rupa agar memberikan keamanan, kenyamanan, keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan orang banyak, bukan memberikan keuntungan sebagian kecil orang, bukan hanya memperhatikan kepentingan sekelompok orang, tetapi harus berlaku umum.
SOLL harus menjaga kepentingan setiap warga, agar tidak ada benturan kepentingan antar warga, tidak boleh ada yang merugikan, tidak ada yang dirugikan akibat suatu rancangan.
Dalam hal trotoar, pemikiran pamong, persepsi pamong perencana sarana ini harus sesuai dengan perilaku warga, dia harus mampu menempatkan dirinya sebagai pejalan kaki, bagaimana seorang pejalan kaki itu bergerak di trotoar, dimana bahaya itu mengancam, bagaimana menghilangkan bahaya itu, dimana suatu kecelakaan bisa terjadi, bagaimana meminimalisasi kemungkinan kecelakaan itu, dst.
SOLL: Manusia dan Yang Maha Gaib
Soal SOLL yang mengatur kehidupan antar warga, sebagai manusia, tentu para pamong bisa membuat rancangan itu dengan mudah (SOLL berikutnya lagi), tetapi bagaimana dengan SOLL yang mengatur hubungan manusia dengan Yang Maha Gaib?
Membuat SOLL yang mengatur kehidupan antar manusia saja sudah penuh persyaratan, apalagi mengatur hubungan manusia dengan Yang Maha Gaib. Tentu sangat berbeda, diperlukan penalaran yang jauh lebih tinggi, diperlukan kecerdasan emotional dan kecerdasan spiritual yang lebih mapan, tidak sekedar memiliki kecerdasan intelektual dengan penampilan banyak gelar kesarjanaan, atau sekedar penampilan berbagai titel keagamaan sebagai tanda seseorang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual.
Pamong tidak bisa begitu saja membuat peraturan apalagi pelarangan terhadap usaha seorang warga menjalin hubungan dengan Yang Maha Gaib, mengatur bagaimana seseorang atau sekelompok orang menjalankan agama yang diyakini mereka, tidak begitu saja membuat pelarangan, apalagi menyatakan apa yang mereka yakini itu sebagai salah.
Diperlukan pemahaman yang jauh lebih tinggi, penalaran yang lebih jauh, yang memperhatikan ketentuan hubungan antar manusia yang tidak boleh saling merugikan, tidak boleh saling menghambat satu sama lain dalam kegiatan orang per orang.
Sungguh sulit untuk bicara SOLL dalam masalah agama, ini urusan dunia gaib, sesuatu yang gaib tentu tidak mudah dipahami. Hanya Yang Maha Gaib lah yang tahu akan hal ini. Seorang manusia bisa membuat berbagai interpretasi tentang masalah ini. Kalau seseorang bisa punya banyak interpretasi, bagaimana dengan sembilan miliar orang di dunia, minimal ada sembilan miliar interpretasi, menjadikan masalah ini semakin rumit dan ruwet. Begitu banyak orang mengaku-aku sebagai yang paling sah menjadi wakil Sang Maha Gaib, dan yang lain semakin curiga dengan mereka.
Untuk masalah agama, sebaiknya kita ambil perwakilan langsung dari Sang Maha Gaib itu, dalam bentu 2 sifat utama: “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”, sifat yang pasti ada di setiap agama apapun: rasa KASIH dan rasa SAYANG.
Dengan 2 sifat itu, rasa KASIH dan rasa SAYANG, dapatlah SOLL dalam masalah agama kita rancang. SOLL disini dikembalikan kepada hubungan antar manusia itu sendiri, dimana kita semua sebenarnya bersaudara, karena merupakan ciptaanNYA, ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, maka sepatutnya kita peduli satu sama lainnya, menjaga hubungan satu sama lainnya, menerapkan rasa kasih dari yang satu kepada yang lain.
Atas dasar rasa KASIH, tidak boleh saling merugikan, biarkan saja orang lain menjalankan ritual agama yang mana, toh kita tidak pernah tahu, siapa yang lebih baik dimata Yang Maha Gaib, siapa yang bebas hukuman nanti, siapa yang berbuat amal lebih dimata Yang Maha Gaib.
Setiap orang adalah hasil karyaNYA, sudah barang tentu kita harus menghargai sang MAESTRO, Tuhan pencipta alam semesta, berarti kita harus menghargai orang lain, siapapun, apapun bangsa / suku / warna kulit / warna rambut orang itu, juga apapun agamanya, karena setiap orang adalah hasil karyaNYA. Kalau Yang Maha Gaib itu tidak setuju dengan kegiatan seseorang yang merupakan ciptaanNYA itu, kenapa pula orang itu harus dihadirkan di muka bumi ini, pasti ada rahasia dalam usaha penciptaanNYA itu … suatu rahasia yang tidak diketahui oleh seorang manusia biasa.
Sebagai catatan:
Dalam topik diatas, baru rasa KASIH yang ditampilkan, sedangkan rasa SAYANG akan ditampilkan di artikel yang lain.
