Site icon Bambang Subaktyo's Blog

088 Para Penghianat Bangsa

088 Para Penghianat Bangsa

Jakarta, 8 Desember 2014

Silahkan baca artikel “Kekayaan Alam Indonesia” di buku “Yang di DEPAN menjadi PANUTAN”, buku pertama dari seri “Menuju Revolusi Mental”, pada topik “Bodoh atau Culas???”, apakah para pemimpin bangsa ini, para tokoh negara ini, para wakil rakyat negara ini sama sekali tidak tahu akan penjajahan oleh para pengusaha alien, yang datang dari negara asing (alien) itu, tidak tahu akan ulah para alien itu yang terus mengeruk kekayaan bangsa ini, selama 40 tahun lebih itu, dan apakah mereka tidak tahu kalau kontrak kontrak itu hanya menetapkan pembayaran bagi hasil kepada bangsa dan negara ini hanya dalam bentuk ROYALTI sebesar 1%, sudah selama 40 tahun lebih, dan kata ketua KPK juga tidak terbayarkan.

Jiwa yang tersesat atau setan yang tersesat kedalam jiwa mereka?

Lihatlah, bagaimana para penghianat itu telah mengijinkan para alien itu mencuri kekayaan bangsa, memberikan ijin kepada para alien itu mengeruk kekayaan alam Indonesia, membiarkan pencurian kekayaan laut Indonesia, membiarkan warganegara menjadi pekerja kelas bawah dengan upah rendah dengan siksaan dan deraan sampai hukuman yang mencabut nyawa mereka, lihatlah bagaimana para penghianat itu berbagi komisi dalam Arisan – Bancakan selama puluhan tahun, membiarkan rakyat sengsara, membiarkan rakyat dalam kesusahan dalam mendapatkan berbagai hak hidup mereka, pendidikan dibuat barang dagangan, kesehatan dijadikan ajang mencari keuntungan, segala hal dipersulit, dibiarkan berantakan, ekonomi biaya tinggi terjadi karena setiap tingkatan pergerakan usaha rakyat selalu dibebani dengan berbagai pungli, pembiaran pembiaran berbagai pungli yang jelas didepan mata, pemberian kekuasaan kepada raja raja kecil dimana mana untuk memungut berbagai sumbangan ‘sukarela’ dari rakyat, yang membiarkan pemerintah ini hanya mengurusi kartu-kartu belaka bukan mengurus warganegara, membiarkan perdagangan hukum, mengedepankan perdagangan buku, menutup mata terhadap perdagangan anak dan wanita (trafficking), dst dst.

Belum lagi, mereka terus membentuk kelompok kelompok milisi yang dipersiapkan sedemikian rupa agar bisa saling dibenturkan, bisa diadu dengan rakyat, dengan strategi dan skenario seakan akan kelompok itu akan membela suatu agama, memperjuangkan suatu idealisme yang luhur, padahal cuma sekedar kelompok srigala di antara para domba.

Para penghianat itu terus membiarkan munculnya kelompok yang tidak sejalan dengan Pancasila terutama sila pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa”, kelompok yang begitu gencar berteriak: “Tuhan-nya berbeda!”, sudah jelas kelompok itu melanggar dasar negara, tetapi begitulah keinginan para penghianat itu, membesarkan kelompok srigala agar bisa mengacaukan kehidupan para domba, rakyat jelata yang awam terhadap dunia politik, yang tidak mengerti akan strategi dan skenario para penghianat itu.

Para penghianat itu memang sengaja menyiapkan strategi dan skenario adu domba, pengkotak-kotakan warganegara sedemikian rupa agar rakyat terbelenggu dengan berbagai keruwetan dan tentu akan terlena di saat para penghianat itu dalam kelompok Arisan-Bancakan berbagi berbagai komisi dari para maling, pencuri, perampok, penjahat yang datang dari negeri alien.

Exit mobile version