Site icon Bambang Subaktyo's Blog

#7 Sosialisasi Terapi Pete

#7 Sosialisasi Terapi Pete

2010/2011: Mulai sosialisasi terapi pete

Saya hanya ingat sosialisasi terapi pete mulai dijalankan di tahun 2010/2011. Soal kapan tepatnya, bulan apa, atau tahun pastinya, sudah tidak perlu dinyatakan, yang penting adalah sosialisasi segera dimulai, sama seperti di tahun 1995 saat memulai terapi pete.

Di tahun 2010 itu, setelah menjalankan penelitian terapi pete selama 15 tahun (1995-2010), saya anggap penelitian itu sudah cukup meyakinkan. Sudah cukup lama dan cukup bukti. Sudah tiba waktunya untuk disebar-luaskan secara terbuka untuk membantu banyak orang, baik di Indonesia maupun dunia.

Uji coba selama 15 tahun dalam kalangan terbatas sudah cukup meyakinkan, sudah ada beberapa penyakit yang bisa dibantu-sembuhkan dengan pete dan terapi pete terutama Diabetes mellitus cs (DM, penyakit gula, kencing manis berikut kawanan penyakit yang datang bersama DM). Maka, terapi pete ini harus segera disebarkan, sekaligus melanjutkan penelitian dan menguji-coba-kan kepada kalangan yang lebih luas lagi, dengan jenis penyakit yang lebih bervariasi.

Tentu saja tidak semua penyakit bisa dibantu-sembuhkan dengan terapi pete ini, … tetapi asalkan penyakit itu berhubungan dengan darah atau kelemahan fungsi organ karena usia atau karena TPD, saya kira akan bisa dibantu dengan terapi pete, kecuali penyakit yang sama sekali tidak berhubungan dengan darah atau kelemahan fungsi organ, seperti sakit yang menyerang dari luar tubuh dan hanya berada di permukaan kulit, seperti sakit panu. Tetapi kalau sakit gatal di kulit karena alergi makanan, saya pastikan hal ini masih bisa dibantu dengan terapi pete. Hanya sakit yang satu ini: ‘sakit hati’ yang pasti tidak akan bisa dibantu.

Beberapa penyakit yang berhasil diuji selama 15 tahun pertama: asam urat, rhematik, hipertensi, Diabetes mellitus (DM), impotensi, kelumpuhan karena stroke.

Khusus Diabetes mellitus (DM) merupakan satu penyakit yang dianggap no 7 di dunia yang paling mematikan. DM dapat dibantu-sembuhkan dengan terapi pete bukan hanya dibantu kontrolkan kadar gula darah. Memang, kata para ahli kesehatan dunia, DM tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikontrol saja. Penderita DM di dunia saat ini ada sekitar 350 juta orang yang terdiagnosa, dan dalam jumlah yang sama yang tidak atau belum terdiagnosa karena memang tidak mendapatkan perawatan atau pengawasan dari pemerintah negaranya. Jumlah total kemungkinan terkena diabetes bisa saja sudah sekitar 10% dari penduduk dunia atau sekitar 700 juta jiwa!, dan jumlah ini terus bertambah besar setiap tahun. Lihat tulisan “347 JUTA PENDERITA DIABETES MELLITUS (DM)” yang saya pasang di blog, berisikan uraian penyakit DM dan penyakit bawaan akibat DM, seperti penyakit hipertensi, penyakit jantung, disfungsi ereksi, dll. Jadi kalau bisa mengalahkan DM, maka penyakit yang lain itupun bisa disingkirkan.

Pertimbangan saya, setelah terapi ini disosialisasikan lebih luas, maka akan semakin banyak orang ikut menjalankan terapi untuk menghadapi bermacam penyakit mereka, maka pembuktian demi pembuktian akan kemampuan pete akan tampil dengan sendirinya.

Uji coba selama 15 tahun dalam kalangan terbatas, dengan beberapa orang peserta sebagai kelinci percobaan, termasuk saya sendiri, sudah memperlihatkan bahwa terapi ini bisa membantu-sembuhkan bermacam penyakit. Terapi ini hampir tidak punya efek samping karena terapi ini menggunakan bahan alami, dan kekuatannya telah direndahkan (pete direbus 3 menit). Jadi terapi ini aman untuk disebar-luas-kan.

Setelah penelitian di kalangan terbatas, diperlukan penelitian lebih lanjut dalam skala yang lebih besar untuk mengetahui kebenaran terapi ini, diperlukan uji coba dalam ruang yang lebih luas dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak dan jenis penyakit yang bermacam-ragam, maka terapi ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas. Setiap orang yang bersedia menjalankan terapi ini, akan menjadi pasien (peserta) sekaligus menjadi kelinci percobaan baru, untuk membuktikan kebenaran kemampuan pete membantu sembuhkan jenis penyakit yang pernah diuji dalam kalangan terbatas maupun menguji kemampuan pete menghadapi jenis penyakit yang belum pernah diuji. Semua peserta akan membuktikan kebenaran keampuhan terapi pete sekaligus menjadi pionir dalam percobaan penyembuhan jenis penyakit yang belum pernah diuji dengan terapi pete.

Jadi… sebenarnya terapi pete ini milik banyak orang, bukan milik saya sendiri, karena saya hanya sebagai inisiator saja. Ada begitu banyak orang yang telah terlibat dalam uji coba terapi pete ini selama ini, hampir 19 tahun sejak 1995 s/d 2014. Mereka dengan sukarela mau menyisihkan sedikit uang belanja untuk membeli pete dan menjalankan ritual proses persiapan memasak pete/merebus kulit pete, sebagian dari mereka dengan sukarela menyampaikan informasi keberhasilan terapi pete ini kepada saya dan banyak di antara mereka yang giat menyebarkan terapi ini kepada masyarakat secara aktif (sengaja) ataupun pasif (tidak sengaja).

Jadi, untuk kesediaan mereka mencoba dan menguji pete itu, saya perlu mengucapkan banyak terima kasih kepada setiap orang yang telah ikut menjalankan terapi pete ini, terutama kepada mereka yang telah dengan berani mencoba menerapkan terapi ini dalam kurun waktu 15 tahun pertama, dan terima kasih kepada mereka yang ikut terapi sejak sosialisasi 2010/2011, karena mereka percaya kepada saya, mereka mau menerapkan terapi ini, ikut membuktikan kemampuan terapi ini dan tentu juga kepada mereka yang berani menguji terapi ini untuk menghadapi berbagai jenis penyakit yang sebelumnya tidak pernah diuji dalam kurun waktu 15 tahun pertama.

Pada awal sosialisasi, cara penyampaian terapi ini dilakukan secara lisan mengajak teman, saudara, dan orang-orang yang ditemui dalam berbagai kesempatan, kemudian mencetak buku resep dan membagikannya pada setiap kesempatan … kemudian penyebaran dilakukan melalui internet, email, blog di wordpress, facebook, facebook page “Pete Therapy 4 Love”, dll. Sebagian di antara peserta juga melakukan penyebaran dari mulut ke mulut, terjadi getok tular dari satu orang kepada banyak orang yang kemudian peserta baru itu melanjutkan menceritakan keberhasilan mereka kepada orang lain (saudara, teman, kerabat, dll) … terus sambung menyambung.

Untuk menyebarkan secara lebih luas, saya tulis buku Terapi Pete, dan dengan harapan buku Terapi Pete ini bisa mencapai warga di kota/daerah lain yang tidak tersentuh penyebaran per internet, buku ini saya coba tawarkan ke beberapa penerbit untuk diterbitkan dan dijual di toko buku, tetapi tidak ada yang bersedia menerbitkannya. Jadi saya putuskan menjadikan buku-buku Terapi Pete sebagai ebook (pdf dan epub) yang dapat diunduh oleh siapapun dari pelosok manapun menggunakan komputer, tablet ataupun HP. Setiap orang boleh mengunduh buku-buku itu, boleh mencetaknya, boleh memberikan file ebook itu kepada orang lain. Bebas, free, gratis!

Saat buku Terapi Pete versi 1 dilepas, bulan Mei – Juni 2012, peserta terapi baru sekitar 600 orang. Kemudian saya mengajak 2 orang teman yang biasa memberikan bantuan penyembuhan (pengobatan) alternatif, pak Agung di Rawamangun dan pak M Nasro SH di Kendal. Pak Agung (PA) biasa mengobati 30-50 orang pasien perhari, hampir semua pasien bisa diberikan jalan keluar dengan terapi pete. PA sebagai penyembuh alternatif itu biasa menolong banyak orang menghadapi bermacam penyakit, tetapi dia sendiri waktu itu sering sakit, katanya sih punya gejala sakit jantung, beberapa kali saya mendapat info kalau dia tidak buka praktek karena sakit … sebetulnya sudah beberapa tahun sebelumnya saya tahu akan hal itu tapi saya belum bisa menawarkan terapi pete kepada PA, karena dia berprofesi penyembuh alternatif, saya kira dia pasti tahu obatnya, ternyata untuk dirinya sendiri hal itu tidak berlaku, dia terus sakit-sakit-an, lalu suatu hari saya tawarkan terapi pete, dan setelah beberapa lama terapi, dia terlihat sehat, bukan hanya ikut terapi sekedar makan pete 1 atau 2 lanjar per hari, dia malah terobsesi dengan pete, dia makan pete 3 X 10 butir sehari. Setelah dia sembuh, saya anjurkan ke PA untuk memberikan terapi pete kepada pasien-pasiennya. Kemudian, beberapa kali saya menanyakan kondisi pasien-pasien yang dia anjurkan terapi pete … banyak pasien yang merasakan perubahan kesehatan mereka, sembuh dari bermacam penyakit, merasakan penambahan daya dalam kegiatan romantis mereka, lebih bertenaga dan punya daya tahan lebih baik.

Bersama 2 teman itu, kami berhasil menyebarkan terapi pete kepada banyak orang. Dari puluhan peserta menjadi ratusan dan selanjutnya ribuan orang yang ikut terapi. Saat buku versi 4 dilepas, 26 September 2012, kami bertiga memperkirakan jumlah peserta terapi pete sudah lebih dari 2000 orang. Saat buku versi 5 dilepas, 30 Juli 2013, kami perkirakan jumlah peserta sudah lebih dari 10.000 orang.

Bagaimana mungkin jumlah peserta menjadi begitu banyak?

Itu bisa terjadi, karena sistem getok tular.
Pengalaman saya, satu saat saya pernah mengajak 20 orang ikut terapi, dan pada setahun pertama sosialisasi, saya bisa mengajak sekitar 600 orang. Setelah mengajak 2 teman penyembuh alternatif, jumlah peserta itu naik dengan lebih cepat lagi. Penyebaran itu tidak hanya kami bertiga, tetapi banyak peserta terapi juga melakukan penyebaran di lingkungan mereka. Memang yang berhasil mereka ajak itu bervariasi, ada yang hanya mampu menularkan terapi ini kepada 3 – 5 orang saja, tetapi ada juga yang berhasil menularkan kepada 100 orang lebih dalam masa 3 bulan, dan itupun dilakukan secara pasif. Ada yang begitu mudah menularkan terapi ini, tetapi ada juga yang begitu sulit untuk mengajak orang lain untuk ikut terapi.

Contoh: Seorang ibu (initialnya: BL) penjual minuman di depan SMP 3 Manggarai, dia ikut terapi sekitar 6 bulan yang lalu (sekitar Februari 2014). Usia BL sekitar 50 tahun. Saat saya melihatnya, dia terlihat tidak sehat, berjalan lamban, berat dan tidak fit. Jadi saya tanya kepada BL perihal kesehatannya, dia pun bercerita, waktu itu merasa berat saat berjalan, susah tidur, kaki sering kesemutan dan sulit bangun dari duduk di lantai. BL kemudian ikut terapi, dalam waktu seminggu dia berhasil sehat, gerakannya lincah, berjalan cepat dengan mudah, bangun dari duduk tidak ada halangan, tidak ada rasa sakit yang menghambat. Semakin hari semakin sehat dan hal itu jelas terlihat oleh orang lain yang mengenalnya, dengan mudah terlihat ada perbedaan dalam gerakannya. BL setiap minggu ikut pengajian dengan peserta pengajian sekitar 300 orang dimana usia ibu-ibu pengajian itu sekitar 50 – 60 tahun. Dia bercerita, sekitar 3 bulan yang lalu ada ibu-ibu yang melihat perubahan dirinya, terlihat sehat, berjalan ringan, dan mudah saja untuk bangun dari duduk di lantai saat pengajian, sementara hampir semua ibu-ibu itu perlu ‘menyeringai’ kesakitan dulu saat akan bangun dari duduk. Ibu-ibu teman pengajian mempertanyakan hal kesehatan dirinya, apakah minum jamu atau berobat ke ahli kesehatan? … BL pun bercerita soal minum air rebusan kulit pete. Teman teman pengajian itu semula heran, kok bisa. BL hanya mengatakan: “Coba saja sendiri” … dan menceritakan resep pengolahan kulit pete. Seminggu kemudian, mereka yang telah ikutan minum air rebusan kulit pete, saling bercerita … ternyata benar. Seperti biasa, ibu-ibu tentu senang bergosip, mereka meneruskan cerita keberhasilan itu kepada teman yang lain, tentu kepada keluarganya juga. Hampir setiap pengajian, ada saja teman pengajian yang kembali bertanya kepada BL … dia pun disebut sebagai ‘provokator’ kesembuhan. Beberapa hari lalu saya bertanya kepada BL, apakah banyak dari peserta pengajian yang ikut terapi pete, dari 300 orang peserta itu apakah masih ada yang terlihat masih kesulitan saat bangun dari duduk di lantai? … BL menjawab, masih ada, tetapi sudah jarang terlihat. Dari pengalaman si ibu ini, memperlihatkan hasil terapi yang jelas terlihat orang lain, langsung terlihat dengan mata telanjang, ternyata lebih efektif dalam meyakinkan banyak orang untuk ikut terapi pete. BL dalam 3 bulan bisa menyebarkan terapi pete kepada ratusan teman pengajian secara pasif, hanya memperlihatkan keadaan dirinya yang terlihat sehat, dia berhasil menularkan terapi pete kepada ratusan orang.

Sejak sosialisasi 2010/2011, banyak orang ikut menjalankan terapi, mereka membuktikan kebenaran kemampuan terapi pete, sebagian di antara mereka juga mencoba meneruskan terapi ini kepada orang lain di lingkungan kehidupan mereka, kepada sanak keluarga, teman, tetangga atau orang yang ditemui. Hanya sebagian kecil dari para peserta itu yang bisa saya pantau secara langsung, mereka memberikan pernyataan (pengakuan) akan kemampuan terapi pete, juga ada banyak hal-hal baru yang saya terima dari mereka.

Selain membuktikan kemungkinan/kemampuan yang sudah pernah saya jelaskan, mereka juga penasaran mencoba terapi itu untuk menghadapi hal-hal baru yang mereka dan saya juga belum tahu sebelumnya, bahkan ada teman yang mencoba menyembuhkan binatang peliharaannya dengan air rebusan kulit pete dan berhasil.

Saya sudah tidak bisa membuat perkiraan berapa banyak peserta terapi pete, entah sudah berapa banyak. Penyebaran melalui internet juga mencapai ke mancanegara, dan ada seorang profesor bernama Mr. Dr. Thohe Pou M.A. Ph.D, (Assistant Professor of Geography in National Defence Academy (NDA), Pune. Dia berasal dari Senapati District, Manipur) dia minta agar buku Terapi Pete diterjemahkan ke bahasa Inggris. Sudah saya terjemahkan, 2 buku.

Pengunjung mancanegara berasal dari: United States, Malaysia, Singapore, Germany, Canada, Australia, Israel, Switzerland, Thailand, Saudi Arabia, Japan, Hong Kong, Taiwan, Timor-Leste, United Arab Emirates, Republic of Korea, United Kingdom, Ukraine, Norway, Netherlands, Peru, Morocco, Brunei Darussalam, Italy, New Zealand, Spain, Serbia, Brazil, Russian Federation, China, France, Philippines, Iceland, Jordan.

Warga United States (of America) berkunjung sebanyak 913 kali, dari Malaysia 121 kali, Singapore 47 kali, Germany 37 kali … dst.

Ada juga penyebaran di antara peserta pria yang lebih mengandalkan kepada manfaat terapi ini dalam hal kegiatan 4X4, efek Slow Vixgrx itu. Kalau sudah bicara kegiatan 4X4 ini, mudah sekali membuat para pria tergiur untuk ikutan, hanya dengan menceritakan ‘success story behind the curtain’ … padahal itu sebenarnya merupakan efek sampingan dari terapi pete, anggap saja bonus.

Ada beberapa cerita penyebaran akan ditulis di “#8 Keberhasilan Terapi Pete“, testimoni peserta terapi.

Jumat, 29 Agustus 2014, 13:11 diupload ke PT4L

Exit mobile version