Di Indonesia, saat seseorang sakit, orang itu punya beberapa pilihan berobat: ke ahli kesehatan, ke lembaga kesehatan, ke pengobat alternatif (dukun atau shinshe), kepada para ‘mumpuni’ (orang pintar), kepada pemilik benda benda aneh semacam batu Ponari yang dikatakan bisa menyembuhkan, dll. Di media cetak dan televisi banyak ditawarkan berbagai cara pengobatan dan berbagai obat obatan untuk berbagai macam penyakit.
Bicara pengobatan, tentu kita bicara obatnya. Ada yang dibuat pabrik obat secara massal dan yang diambil dari natura (alam – lingkungan, kebun, perkebunan, halaman). Obat buatan pabrik itu, ada yang merupakan imitasi dari obat herbal dari alam, imitasi yang diproduksi secara massal, atau memang herbal asli yang diproses sedemikian rupa menjadi obat kemasan yang mudah dalam pendistribusian, penjualan dan penggunaannya. Sementara obat yang diambil secara natura (apa adanya dari alam) bisa berupa buah, daun, kulit buah, kulit pohon, batang, akar, umbi, dlsb itu perlu diproses secara mandiri, dikeringkan, dipotong potong (di-iris, digunting), digodog (direbus), diseduh, dlsb.
Jelas sekali, dulu, di zaman dulu, pada awalnya para tabib (ahli pengobatan) pasti belum mengenal obat kimia, mereka pasti mengambil obat-obatan dari alam dalam berbagai bentuk. Hal ini memang belum saya teliti, tetapi secara logika, besar kemungkinan begitulah adanya. Hal ini bisa dilihat di banyak buku buku warisan para leluhur yang berisi rahasia obat obatan dari berbagai macam tumbuhan atau bahan natura lainnya. Tentu saja warisan leluhur Nusantara akan berbeda dengan warisan leluhur orang Afrika, orang China, orang Indian Amerika atau yang lainnya, karena perbedaan alam lingkungan dimana orang orang itu berada.
Baru setelah orang mengenal teknologi farmasi, bagaimana bisa membuat imitasi kimiawi dari obat alam yang ada itu, dibuatlah obat-obatan itu secara massal (induistrialized), bisa dibuat banyak tanpa ketergantungan ketersediaan bahan alami. Kemudian, riset demi riset, penelitian demi penelitian dijalankan untuk mendapatkan berbagai macam obat yang bisa diproduksi massal oleh para pabrikan. Peneliti dari benua Eropa dan pabrikan dari benua Eropa banyak menemukan berbagai obat (kimia!) yang kemudian dipasarkan ke seluruh dunia. Mereka mengemas obat obatan yang sebelumnya ada tersedia secara alami (natura) menjadi pil, kapsul, syrop, bubuk atau bentuk yang lain, dan menjualnya ke seluruh dunia.
Nah … saat ini, ada banyak perusahaan pembuat obat di seluruh dunia, ada banyak ahli kesehatan, ada banyak lembaga penjual obat … semua saling bersaing, berusaha menjual sebanyak banyaknya, mencari keuntungan … tentu semaximal mungkin … maka terjadilah perselingkuhan yang satu dengan yang lainnya. Tentu sang produsen obat itulah yang memegang tongkat komando, mereka mengatur siasat dan strategi untuk bisa menjual produk mereka sebanyak banyaknya, mereka memberi berbagai hadiah (gratifikasi) kepada para penulis resep, kepada lembaga kesehatan, kepada lembaga penjual obat … dst. Mereka ini menjadi SUBJEK yang menentukan keuntungan … dan OBJEKnya tentu para pencari kesehatan, si orang sakit, para pasien. Apakah obat yang ditulis itu benar adanya, atau hanya sekedar placebo atau vitamin, atau tidak terkait dengan penyakit yang diderita … itu jelas tidak perlu diperhatikan, karena jabatan para penulis resep itu begitu agung, dan diatur sedemikan rupa sehingga para pasien itu sekedar menjadi OBJEK OBJEK penderita tidak bisa menolak apa yang tertulis di resep … apa yang diberikan, itu rahasia!
=====Silahkan baca di Majalah FORUM Keadilan=====
FOKUS ‘SELINGKUH DOKTER DAN PERUSAHAAN FARMASI’ di majalah FORUM Keadilan No. 32, 15 Desember 2013, hal 37 – 45 ada beberapa artikel ditulis oleh Erwin Purba: ‘Kolusi Dokter dan Pabrik Obat Rugikan Pasien’ dan ‘Hati-hati, Dokter Bisa Jadi Koruptor’, kemudian disusul artikel WAWANCARA dengan YLKI: ‘Tugas Pemerintah Menurunkan Harga Obat’, hal 47 – 51.
Dalam tulisan itu dikatakan, para ‘penulis resep’ itu bisa mendapatkan hadiah, fasilitas dan berbagai pembiayaan atas jasa mereka menuliskan barang barang produksi perusahaan obat tertentu. Dikatakan juga, omzet perusahaan perusahaan obat itu setahun sekitar 50 – 60 trilliun rupiah, dengan perkiraan 20% menjadi biaya promosi, biaya yang diperuntukkan bagi orang orang yang berhasil meenjual obat obat itu, baik lembaga yang menjual secara langsung maupun mereka yang sekedar meenuliskan resep obat obat itu ataupun yang menawarkan obat itu kepada para penulis resep.
Memang sudah menjadi rahasia umum, kalau orang orang yang menjadi ahli kesehatan itu banyak menjadi penulis resep pesanan perusahaan pembuat obat dengan imbalan bermacam hal. Saya kutip dari hal 37: ‘Bukan hal yang aneh dalam satu resep terdapat sampai lima jenis obat, padahal yang dibutuhkan pasien sebenarnya cuma tiga jenis obat. Ada obat yang tidak perlu diberikan, tapi tetap ditulis dalam resep.’
==================================================
Ada seorang teman yang berkeluh kesah tentang pemberian obat dari para penulis resep di lembaga kesehatan tertentu, yang tidak menyembuhkan malah memperparah kesehatan ibunya, sehingga adik sang teman marah dan mengirimkan ‘bogem mentah’ kepada sang penulis resep. Sang ibu sampai kurus kering, dengan berat tidak sampai 20 kg. Akhirnya mereka mengeluarkan sang ibu dari lembaga itu. Mereka beralih ke obat herbal, dan sang ibu berangsur kembali gemuk, tetapi penyakit maag akut itu terus mendera, datang dan pergi bertahun tahun. Sejak minggu lalu sang teman memberikan terapi pete kepada ibunya, ternyata, dalam hitungan hari sakit maag akut itu telah pergi menghilang … (mungkin takut dengan bau pete!?). Terapi pete telah membuktikan sekali lagi keampuhannya. Hal yang sama juga pernah terjadi dengan ibu mertua saya yang juga mengalami penyakit serupa, umur kedua ibu ini memang hampir sama, sekitar 70 tahun.
Kembali ke ‘GAMES OF LIFE: OBAT KIMIA atau OBAT HERBAL’. Sakit atau berpenyakit merupakan penderitaan bagi banyak orang tetapi juga berarti semacam games (permainan) bagi kalangan tertentu yang tidak peduli akan nyawa orang lain, mereka secara berkelompok bermain main dengan nyawa dan harta orang lain, demi menangguk untung yang sebesar besarnya. Yang satu menuliskan resep obat sebanyak banyaknya, yang lain menjual sebanyak banyaknya, yang pegang komando memproduksi sebanyak banyaknya, kemudian yang pegang kemudi kebijakan dan kebijaksanaan tentu mendapatkan jatahnya juga. Mereka menjadi SUBJEK (pemain) dan para pasien menjadi OBJEK penderita, keluarga pasien menjadi OBJEK pelengkap penderita-an. Para pemain GAMES OF LIFE mengumpulkan bonus koin demi koin diatas penderitaan orang banyak.
JADI, SAAT ANDA SAKIT dan MAU SEHAT, Anda mau pilih obat kimia atau obat herbal, terserah Anda, itu keputusan orang perorang. Tetapi kalau Anda tidak ingin jadi OBJEK permainan mereka, Anda pasti sudah tahu, kembali ke ALAM, ke NATURA, pilihlah ahli pengobatan yang bermoral, beretika, beragama, yang mau menghemat uang Anda, yang mau menyembuhkan Anda dengan tulus, dan yang mau menuliskan resep HERBAL.
TETAPI … jangan konsumsi sembarang herbal, karena sudah ada banyak obat herbal yang diproduksi masal di pabrik obat herbal yang mencampurkan bahan kimia (bukan asli dari alam) dan tetap menyebutnya sebagai produk herbal. Selain itu, ada banyak pengobat alternatif yang juga tidak selalu bisa dipercaya. Pilihlah herbal yang masih lebih dekat ke alam daripada yang lebih dekat ke pabrikan, yang masih dalam bentuk natura (seperti apa adanya dari alam: buah, daun, akar, umbi, kulit, dll), bukan barang imitasi atau tiruan.
Pabrikan obat itu datang dari benua Eropa, mereka memproduksi obat obat dan menjualnya ke seluruh dunia, padahal masyarakat Eropa sendiri sudah lama beralih ke obat herbal, entah sudah berapa puluh persen obat kimia itu digantikan obat herbal. Yang pernah saya tahu, sudah lebih dari 50% obat diganti dengan herbal. Mereka menemukan obat obat kimia tetapi tidak mereka gunakan sendiri, malah mencari obat yang asli dari alam, karena mereka memang tahu risiko penggunaan obat imitasi. Yang asli dari alam jelas lebih baik daripada yang imitasi buatan manusia.
Saya PERCAYA akan kebesaran Allah YMK yg menciptakan alam semesta beserta isinya, ada berbagai mahluk, ada binatang, ada tanaman, ada bakteri, ada virus, ada penyakit, dan saya yakin, YMK juga menyediakan obat untuk setiap penyakit yg ada di muka bumi. Itulah obat herbal!
Jadi, kalau masih ada yang asli dalam bentuk NATURA kenapa ambil yang imitasi!
Jakarta, 14 Desember 2013, 20:23
