di jalan satu arah
ada banyak motor melawan arah
sudah begitu tak mau mengalah
kalau ditegur . . . malah
balik marah-marah
mereka merasa tak bersalah
ramai-ramai melawan arah
ada apakah?
. . .
apa mereka meniru pemerintah?
. . .
keadaan sudah parah
saya sudah gerah
bicara bak orang latah
berkali-kali . . . sudah
jangankan berubah
malah …
dibantah-bantah
dengan penuh amarah
dibilang saya salah arah
melawan arah . . . !!!
Kok jadi begitu!?
Ya begitulah, semua sudah terbolak-balik. Semua ketidak-benar-an itu sudah menjadi kebiasaan bersama, semua biasa melawan kebenaran. Sudah terbiasa . . . menjadi ‘bisa’. Maka benarlah semboyan mereka: “bersama kita bisa!” bersama dalam ketidak-benar-an!
Kalau keparat kecil mengambil keuntungan kecil dari setiap keadaan, kemudian ditegur, maka merekapun menjawab, “keparat besar kan ambil untung besar . . . kalau begitu saya nggak salah, cuma ambil untung kecil kok!”.
Hari-demi-hari keparat-keparat kecil itu mencuri, dalam hati mereka ada pembenaran karena mereka merasa mengambil sedikit sementara keparat-keparat besar telah mengambil keuntungan yang berlipat-lipat kali lebih besar. Kata meraka: “biasa toh . . . mantep toh . . . enak toh . . .”, Keparat besar tentu lebih mantep lagi toh . . .
Kalau ada yang jujur-kojur alias jujur sengsara, mereka ramai-ramai bilang: “BODOH . . . TOLOL . . . GOBLOK! Kenapa nggak ikutan!? Karena seharusnya ‘bersama kita bisa'”.
Kalau begitu, konklusinya:
– yang benar itu yang melawah arah, bersama melawan kebenaran
– kebenaran dan ketidak-benaran tergantung jumlah pengikutnya, benar dan salah tergantung jumlah
– kalau mayoritas berada dalam ketidak-benaran, maka mayoritas-lah yang benar!
– minoritas yang berkejujuran malah dianggap melawan mayoritas, minoritas-lah yang salah!
– mayoritas yang benar arah, minoritas yang melawan arah!
Dunia sudah terbalik . . . tak salahlah kalau banyak bencana ada dimana-mana, alam sudah gerah.
Manusia sudah salah kaprah!
Apa jawaban para keparat tentang tulisan saya ini?
Oh mudah saja, merekapun berkata: “coba elu’ sendiri yang jadi keparat, pasti elu’ orang bisa lebih keparat daripada kami, itukan cuma soal kesempatan, karena elu’ tidak punya kesempatan untuk jadi keparat, maka elu’ bilang kami-kami ini keparat!” Oh, mental dan moral mereka sudah sekarat. Dunia bisa segera kiamat.
