Site icon Bambang Subaktyo's Blog

043 Menghentikan Korupsi

043 Menghentikan Korupsi

(melanjutkan tulisan KORUPSI: IMBAS KORUPSI)
10 Juni 2009

BAGAIMANA BISA MEMBERANTAS KORUPSI?

Saya tidak ingin memberantas korupsi, tetapi lebih suka MENGHENTIKAN korupsi, agar tidak ada lagi korupsi, atau meminimalkan tindak korupsi.

Pemberantasan korupsi seperti saat ini dilakukan KPK, hanya menangkapi tikus-tikus kecil yang kebetulan kelihatan nongol di depan lubangnya, tetapi tidak menghabisi sampai ke sarang-sarang tindakan korupsi. Tidak ke akar-masalah, tetapi hanya di permukaan yang kelihatan.

KENAPA?
Korupsi sudah mendarah-daging, sudah menjadi budaya, menjadi bagian dari kehidupan aparatur negara ini.

Cobalah dikaji pertanyaan/pernyataan berikut ini:
Hampir semua aparatur negara ini hidupnya tidak bebas korupsi! Adakah seorang aparatur yang bebas korupsi? Silahkan mengajukan dirinya!!!

Pertanyaan/pernyataan diatas terus saya ulangi berkali-kali di berbagai kesempatan interactive di beberapa radio, di beberapa seminar. Ternyata tak ada seorangpun yang menolak pernyataan (pertanyaan) saya itu. Jadi, pernyataan saya berikutnya adalah:

SEMUA APARATUR NEGARA INI HIDUPNYA TIDAK BEBAS KORUPSI!! So pasti tidak akan ada yang tidak setuju, toh selama ini tidak ada yang menolak pernyataan itu, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan di atas!

Mau coba!?

Dia tidak akan pernah menjawab pertanyaan ini, walaupun dipertanyakan berkali-kali dalam berbagai kesempatan. Bisakah saya dianggap sebagai pencemar nama baik, dituntut dalam pencemaran nama baik presiden!? Malah itu yang sedang saya tunggu dari dia. Lihat tulisan saya: “KEHIDUPAN TIDAK BEBAS KORUPSI” di buku pertama seri “Menuju Revolusi Mental”..

Kembali ke ‘bagaimana memberantas korupsi?’.

Untuk bisa menghentikan korupsi, kita tidak butuh KPK, karena KPK hanya menyanggupi pemberantasan apabila ada laporan dari anggota masyarakat tentang korupsi dengan nilai lebih dari 1 milyar, dan harus dengan bukti-bukti yang lengkap.

Bagaimana seseorang bisa punya bukti-bukti lengkap tentang kejadian korupsi yang nilainya lebih dari 1 milyar, kalau orang itu tidak tersangkut dengan kejadian itu … kan tidak mungkin dia bisa mendapatkan bukti-bukti otentik. MUSTAHIL!!! Coba bandingkan dengan logika yang saya gambarkan dalam tulisan: ‘PONARI, AMBULANCE, KESEHATAN, PONARI. Logikanya: aparatur negara sudah sedemikian cerdiknya dalam menutupi semua kemungkinan pembuktian kejadian korupsi. Bahkan seorang pengusaha yang telah membayar mereka tidak akan bisa (sulit sekali) membuktikan penyuapan itu. Apa dikira si aparatur akan membuat tanda terima pembayaran itu, berikut dengan meterai dan tanda-tangannya. Itu sih koruptor NAIF!

KPK hanya akan bisa menangkap mereka yang kebetulan tertangkap tangan saat serah terima uang suap atau kasusnya benar-benar transparan, tetapi kasus-kasus yang besar tidak akan pernah bisa terungkap. Yakin se-yakin-yakinnya!!! Lihat saja kasus Antasari, penuh kegelapan misteri dengan kasus penggelapan uang BUMN yang diperkirakan memberikan uang kepada beberapa orang tokoh yang saat ini sedang mencalonkan diri.

Lalu bagaimana kita bisa menghentikan korupsi di negara yang aparaturnya korupsi-berjamaah ini?

JUSTRU SANGAT GAMPANG!!!

Kita akan bermain moral, idealisme.
Kita bisa mulai dari setiap orang, anak-anak dan remaja, sampai mahasiswa. Kita ajak mereka untuk mulai bertanya kepada orang-tua masing masing. Kira-kira begini: “Pak/bu, apakah kehidupan kita ini semuanya dibiayai dari gaji yang resmi?”

Kalau sang bapak/ibu benar-benar orang yang ‘jujur’ (kojur: korupsi tapi jujur???) setelah ditanya anaknya, dan mengakui ketidak-benaran, lalu mengungkapkan fakta-fakta kenapa itu bisa terjadi, maka keluarga itu bisa mulai dengan perubahan untuk mulai berupaya hidup yang bebas korupsi.

Jadi, tanyakanlah: “Apakah sekolah, rumah, mobil, handphone, jalan-jalan (piknik, berlibur, tamasya!?), perawatan kesehatan, perawatan kebugaran, perawatan kecantikan, dan berbagai fasilitas wah itu benar-benar dibiayai dengan uang gaji sang bapak/ibu yang aparatur negara???”.

Kalau setiap anak/remaja/mahasiswa berani bertanya kepada orang-tua mereka, dan si orang tua masih bisa jujur, maka keluarga-keluarga itu bisa membahas masalah ini. Saya yakin sekali akan ada banyak keluarga aparatur negara yang akan menerima kenyataan ini, karena mereka sebenarnya orang-orang yang beragama dan masih mau mencoba mencari jalan yang lurus, kecuali memang mereka sudah keenakan dalam jalan yang tidak lurus. Saya yakin setiap remaja/mahasiswa masih punya idealisme, mereka masih menginginkan kebenaran dan ingin hidup di jalan yang lurus!

Saat doktrinisasi seperti ini saya lakukan di satu radio mahasiswa (di Grogol sana), dalam beberapa hari kemudian radio ini dibungkem, managemen diganti, penyiar-penyiarnya diganti, acara interactive pun diganti menjadi acara lagu-lagu. Penguasa takut kalau anak anak mereka terkena virus ‘Anti Korupsi’.

Di negara Republik Indonesia ini, semua orang mengatakan sebagai negara dengan warga beragama Islam paling banyak di dunia, jadi boleh dikatakan sebagai negara beragama. Tetapi lucunya, juga sebagai negara paling korup di dunia!?

Masih adakah keber-agama-an warga negara ini sebenarnya?

Ataukah keber-agama-an mereka itu hanya kedok belaka? Ritual beragama dijalankan, bahkan seperti orang-orang yang sangat alim, sholat 5 kali sehari, mesjid-mesjid mengumandangkan panggilan sholat sekeras-kerasnya, berdoa dengan megaphone yang kuat agar semua orang mendengar ada yang sedang berdoa. Tetapi korupsi juga getol!? MUNAFIKkah?

Untuk diketahui saja. Penulis sendiri tidak bisa mengatakan hidup bebas dari korupsi. Secara pribadi, penulis sangat yakin tidak pernah menjalankan korupsi yang merugikan negara dan bangsa. Tetapi secara sosial, jelas tidak bisa bebas dari unsur korupsi, karena ada saudara/keluarga yang hidupnya tidak bebas korupsi, jadi secara tidak langsung mau-tidak-mau ikut kebagian hasil korupsi mereka.

Apakah cara-cara negeri China yang menghukum mati para koruptornya bisa dijalankan di Indonesia? Mungkinkah cara-cara kejam itu bisa ditiru? Tanya dulu, aparatur yang mana yang akan melakukannya? Apakah si aparat itu sudah benar-benar bebas korupsi, sehingga dia bisa melakukan penghukuman-mati kepada yang lain? Jangan-jangan si aparatur judikatif itu yang paling tidak bebas korupsi, jadi harus paling duluan dihukum mati? Lihat tulisan ‘KEHIDUPAN TIDAK BEBAS KORUPSI’, dimana para jendral polisi itupun mengakui kehidupan tidak bebas korupsi mereka.

Apakah potong generasi bisa dilakukan? Nggak juga deh! Lupakan!

Kembali ke pemberantasan korupsi.

Untuk itu saya mencoba pemberantasan korupsi dimulai dari pembangunan moral, yang semula dinina-bobokan, yang terlelap dalam kenikmatan kehidupan tidak bebas korupsi, kembali ke keberagamaan, menggedor kemunafikan (sholat iya, korupsi iya, eh bohong lagi).

Saya berharap ada banyak remaja, mahasiswa yang bisa bergabung dalam pembangunan moral keluarga-keluarga Indonesia. Semua keluarga, bukan hanya keluarga aparatur negara saja, juga keluarga yang orang-tuanya bekerja di swasta, karena pengalaman saya ada banyak usaha-usaha para pekerja swasta yang juga berbau korupsi. Hal ini akan saya tuliskan dalam satu tulisan tersendiri: TIDAK BEBAS KORUPSI DI SWASTA.

Marilah semua keluarga-keluarga berdemokrasi, membahas bersama persoalan kehidupan yang tidak bebas korupsi ini. Mari kita sadari bersama kalau hal ini tidak baik untuk generasi penerus bangsa di masa mendatang. Demi anak-cucu kita bersama, demi keadilan, demi Pancasila, demi bangsa dan negara Indonesia.

Kalau sudah banyak keluarga menyadari telah berjalan tidak lurus selama ini, marilah bersama-sama kita merubah sistem yang sudah lama berjalan tidak benar ini. Jangan berharap para capres-capres yang akan bertanding itu akan bisa menghentikan korupsi, karena kehidupan mereka sendiri masih penuh dengan pertanyaan apakah sudah bebas korupsi? Darimana semua harta itu, dan bahkan yang sampai trilyunan rupiah itu? Apakah nilai kekayaan 22 milyar itu didapatkan dari tabungan uang gajinya? Fantastico!? Super-duper!?

Seorang diri merubah bangsa-negara ini tidak akan pernah bisa, tetapi secara bersama-sama pasti bisa!

Sudah siapkah para pembaca blog ini merubah diri dari kehidupan tidak bebas korupsi menjadi kehidupan yang bebas korupsi?

Kalau belum bisa, jangan mencuci dosa dengan ritual agama, atau pergi haji (buat yang Islam), itu hanya kemunafikan belaka.

Menghentikan korupsi tidak perlu KPK, tidak perlu hukuman mati a’la China, tetapi cara penyesalan bersama, pengakuan dosa bersama, kesadaran keluarga-keluarga, dimulai dari pertanyaan sederhana: “Pak, apakah biaya hidup kita selama ini dibayar dari uang gaji bapak?” Tanyakan kepada si bapak/ibu, tanyakan kepada om/tante, paman/pakde/bibik, saudara jauh dan dekat, kalau sudah berani tanyakan kepada tetangga, makin berani tanyakan kepada sang presiden!

Pasti ada yang bilang, jaman gini? nggak korupsi? Tolol kale’!

Ada ramalan, entah Ronggowarsito atau Joyoboyo, ‘yang edan semakin banyak, yang tidak edan nggak kebagian, tetapi jelas yang lebih baik adalah tidak edan’. Ramalan yang ternyata sudah pas banget terjadi saat ini di Indonesia.

Saya pilih tidak ikut edan, meski begitu saya pasti dikatakan edan karena merilis tulisan ini. Kata orang jawa: ‘sing waras ngalah’.

Kalau sampai tidak ada yang mau sadar diri dari kehidupan tidak bebas korupsi, karena sudah terlanjur enak, terlanjur jatuh cinta dengan kenikmatan kehidupan yang tidak bebas korupsi, atau tidak mau melepaskan semua kesenangan yang sudah diperoleh selama ini. Ya sudah, saya mau bilang apa. Silahkan saja.

Exit mobile version