Site icon Bambang Subaktyo's Blog

Penutup: Mengungkap Misteri Buah Pete

Penutup: Mengungkap Misteri Buah Pete

Segala sesuatu dalam hidup ini pasti ada manfaat, ada makna, ada hal-hal yang belum tentu terlihat dengan begitu saja, ada yang perlu digali, ada yang perlu diteliti, ada yang perlu direnungkan, ditelaah, dicerna dalam pikiran, direnungkan, dibicarakan, didiskusikan, dipertanyakan, disampaikan kepada masyarakat, dicoba, dst. Itulah proses mencari jawaban atas sesuatu hal yang ditemui dalam kehidupan ini. Kalau apa yang saya ketahui ini kemudian hanya saya simpan sendiri, hanya sekedar bermanfaat bagi diri sendiri, maka pengetahuan akan sesuatu itu hanya bernilai rendah.

Saat suatu makna, arti penting dari sesuatu itu dimaklumatkan kepada umum, disosialisasikan kepada khalayak ramai (orang banyak, masyarakat), maka nilai makna sesuatu itu akan meningkat tinggi sesuai dengan pengakuan manfaat orang banyak atas sesuatu itu. Begitu juga dengan Terapi Pete ini, jelas terbukti punya manfaat dan bukan hanya bernilai rendah, tetapi bernilai tinggi. Sudah tidak bisa diperkirakan lagi berapa banyak orang yang menjadi peserta terapi, entah berapa banyak yang sudah tahu akan terapi ini? Yang mengetahui akan adanya terapi ini jelas sudah cukup banyak, bahkan sudah mencapai mancanegara, bisa diperkirakan sudah ada warga dari 31 negara yang membaca tentang terapi ini. Hanya tinggal menunggu waktu saja, dimana pete akan menjadi komoditas internasional.

Kesederhanaan resep terapi pete ini jelas memudahkan banyak orang untuk menjalankannya. Hanya perlu merebus buah berikut kulit pete selama 2-3 menit, beberapa menit untuk mendinginkan dan memisahkan buah dari kulitnya, kemudian memotong motong kulit pete dan merebusnya paling lama 15-20 menit. Buah pete dimakan, air pete diminum … simple saja. Hanya perlu dilakukan 2 minggu terapi utama, setelah itu cukup sekali seminggu saja. Setelah setahun atau sesuai kebutuhan boleh kembali menjalankan 2 minggu terapi utama. Buat mereka yang masih sehat hanya perlu seminggu berturut menjalankan terapi utama, yang sudah mulai punya penyakit butuh 2 minggu, yang sudah punya kompilasi penyakit butuh waktu bisa sampai 3 bulan menjalankan terapi utama.

Berdasarkan statistik kunjungan memang terlihat lebih banyak pria yang mengakses page terapi pete, karena ada ‘umpan’ SLOW VIXGRX (SV) itu. Dan berdasarkan pantauan secara langsung, memang begitu mudah mengajak para pria ikut terapi pete dengan tawaran SV itu. Bila satu pria terpancing, berani mencoba, dan kemudian berhasil menemukan sensasi SV, maka dengan cepat ‘getok tular’ terjadi, si peserta pria itu akan segera ‘sesumbar’ akan pencapaian stamina & power yang dia dapatkan. Dari satu pria menjalar kepada banyak pria dan seterusnya menjadi multi level ‘menjerumuskan’.

Sementara bagi wanita, terapi ini mudah diterima oleh mereka yang berumur sekitar 40-60 tahun karena kemampuan menghilangkan asam urat yang begiu simple, begitu mudah, begitu cepat, hanya hitungan 3-4 hari saja, hanya dalam seminggu seseorang bisa tampil berubah, dari gerakan lamban penuh rasa nyeri, seminggu kemudian bisa tampil begitu lincah, riang, bebas dari ancaman rasa nyeri. Seorang ibu dengan inisial BL, berhasil dalam 3 (4) bulan membuat satu kelompok pengajian dengan 400 (500) peserta wanita berumur sekitar 50-60 tahun terbebas dari rasa nyeri asam urat. Di bulan Januari 2015 saya kembali bertanya kepada BL, apakah masih ada di antara para peserta pengajian (semua wanita!?) yang terlihat menderita asam urat? BL mengatakan, dia tidak melihat peserta yang masih menderita asam urat. Getok tular berjalan begitu masiv, minggu demi minggu selama 12 sampai 16 minggu, para peserta pengajian saling bercerita keberhasilan mereka lepas dari asam urat dengan resep yang sederhana. Terapi air (kulit) pete!

Dari pengalaman saya dalam 4 tahun sosialisasi terapi pete, saya menemukan banyak orang yang sebelumnya tidak berani (suka) makan pete, tetapi berani minum air pete, kemudian malah menjadi penikmat buah pete (rebus) setelah mendapatkan kesehatan mereka, benar benar puas dengan manfaat buah/kulit pete, mereka terus mencari pete, bahkan tidak sedikit yang terobsesi dengan terapi ini, terutama para pria di umur 30-45 tahun, dimasa masa mereka membutuhkan stamina & power dalam urusan 4X4. Para peserta ini berhasil membahagiakan pasangan mereka, para istri pun puas dengan manfaat pete walau tidak secara langsung menjalankan terapi ini, ada beberapa cerita dari para pria itu, sebelum ikut terapi mereka sering bertengkar, dan setelah mereka berbahagia terlihat perubahan sikap istri mereka, menjadi rukun, setiap pagi dan sore menyiapkan kopi, ada yang dengan rajin membelikan rokok, membelikan dan menyiapkan pete, dan rajin melarang suami mereka agar tidak bertetangga sampai malam. Karena itulah waktu bagi mereka bersatu padu menggalang kebahagiaan.

Soal kesehatan jelas sudah terbukti dengan terapi ini, soal kehidupan sudah bisa diterima kalau terapi ini benar benar bermanfaat dalam kehidupan kita, soal kebahagiaan, itupun sudah dibuktikan banyak peserta, banyak pasangan yang merasakan kebahagian, hanya tinggal soal kesejahteraan yang belum tercapai.

Pada awal sosialisasi, harga pete per lanjar (papan) berada pada kisaran Rp3000-Rp5000, sesekali naik menjadi sekitar Rp7000, di toko serba ada dijual pada harga Rp9500. Memang pernah terjadi pete begitu langka sampai seorang peserta berani membayar Rp25000 perlanjar, karena dia begitu ingin menjalankan terapi. Belakangan ini, pete semakin mudah didapat, harga pete pada kisaran Rp2000-Rp3000, di pasar tertentu dijual Rp5000 untuk 3 lanjar.

Pada awal sosialisasi, saat masih beberapa ratus peserta, dengan harga Rp3000-Rp5000, saya melihat lonjakan kenaikan harga karena sesuai dengan teori pasar, ada supply terbatas dan demand yang meningkat, sampai satu waktu harga mencapai Rp25000 per lanjar, itupun masih tetap dibeli. Memang normal, sesuai teori pasar, para penjual pasti merasakan naiknya permintaan pete, semakin lama semakin banyak peserta terapi yang mencari pete. Satu saat saya memperkirakan sudah ada sekitar 10000 (sepuluh ribu) orang peserta. Kebutuhan pete jelas meningkat, penjual berani memasang harga tinggi, mereka terus meminta kepada para agen alias pengepul pete untuk menyediakan pete lebih banyak lagi. Pengepul tentu ingin memperbesar volume ketersediaan pete, mereka merambah ke daerah daerah potensi pete yang sebelumnya tidak mereka garap. Saya yakin, jumlah pemain (pengepul) pete juga ikut berkembang, mereka semakin jauh merambah daerah yang lebih jauh lagi. Pohon pohon pete yang sebelumnya tidak dikomersilkan, tidak dilirik, segera diserbu pengepul. Pengepul menggelontorkan pete ke setiap pasar, dan seseuai teori pasar, supply membesar, harga saat ini berada pada kisaran Rp2000-Rp3000.

Ada satu perubahan di satu kampung, di Ciampea Bogor. Terjadi pada seorang pemilik 3 pohon pete. Setahun yang lalu pada masa panen, orang ini masih menjual secara borongan kepada pengepul, untuk setiap pohon diborong sekitar Rp1.000.000,- (satu juta rupiah), tetapi pada musim pete di akhir 2014, dia tidak mau menjual borongan lagi, setiap hari dia ambil saja sekitar 4-5 bendul (kelompok pete) berisi 20-25 lanjar pete yang cukup matang, dan dia jual keliling kampung dengan harga Rp2000-Rp2500 per lanjar, sekitar 4 bendul dia titipkan di warung di pinggir jalan raya. Sudah sekitar 6 minggu, setiap hari dia mendapatkan sekitar RP200.000. Persediaan masih banyak di pohon pete untuk beberapa minggu kedepan.

Banyak warga (pria) kampung ini yang berjualan bermacam barang di Jakarta, mereka belakangan rajin pulang kampung setiap akhir pekan berkat terapi air pete (alias SV!). Mereka inilah yang menjadi penyebar terapi pete di kampung itu. Getok tular terus terjadi, peserta semakin banyak, maka konsumsi pete di kampung itu semakin hari semakin tinggi, demand terbentuk … maka si pemilik pohon pete tidak mau menjual borongan lagi, jual saja pete itu keliling kampung. Semoga hal ini juga terjadi di berbagai pelosok daerah lainnya.

Dari pantauan saya, beberapa peserta pete yang masih punya lahan di kampung, mereka sudah menanam pohon pete, ada yang menanam 3 pohon pada sekitar 4 tahun yang lalu, ada yang menanam 6 pohon, ada juga yang menanam sampai 20 pohon. Ada diantara pohon pete itu yang sudah mulai belajar berbuah.

Proses belajar demand & supply pete ini berlangsung terus. Yang sudah tahu manfaat pete, dan mengerti akan kemungkinan naiknya kebutuhan pete, mereka langsung menanam pohon pete. Yang sebelumnya dijual borongan, berubah menjadi penjual langsung. Pohon yang sebelumnya tidak dipanen sudah mulai digarap para pengepul. Pengetahuan warga di daerah akan hal ini akan merubah perlakuan mereka terhadap pete yang sebelumnya diacuhkan, ada satu kemungkinan pendapatan baru dari pete. Sekarang mereka menjaga pohon pete setiap malam agar tidak dirampok oleh tetangga (itu kenyataan!).

Secara internasional, pemberitahuan (sosialisasi) manfaat pete masih terus berlangsung. Untuk meningkatkan demand internasional, perlu penggarapan lebih lanjut. Sementara supply di dalam negeri juga perlu dipersiapkan, pengetahuan masyarakat akan budidaya pete perlu digalakkan, pemberitahuan akan manfaat pete tetap perlu dilakukan, agar warga di daerah mau menanam lebih banyak lagi pohon pete. Pengalaman si pemilik pohon pete di Ciampea ini pasti akan dialami banyak pemilik pohon pete di berbagai daerah.

Daya tarik di pihak pengguna dan daya tarik di sisi penyedia sudah dibangun, tinggal menunggu waktu (masa pembelajaran) bagi kedua pihak (sisi) ini, akan menjadikan pete sebagai komoditas yang bernilai tinggi. Perlu diingat, saat ini ada sekitar 10% penduduk dunia yang jelas terpapar Diabete mellitus (penyakit kencing manis, gula darah), ada sekitar 900 juta calon pembeli pete ada di mancanegara! Potensi yang lumayan bagus untuk tataniaga pete secara internasional.

Jebakan bonus SLOW VIXGRX ternyata cukup ampuh untuk menjebloskan banyak warga menjadi peserta terapi pete aktif, mereka menjadi pecandu pete (terobsesi), mereka memaksakan diri untuk terus mengkonsumsi pete setiap hari, mereka juga bergiat menjadi penyebar terapi, secara sukarela mereka mengumbar cerita akan kemampuan pete … (semoga bukan mengumbar nafsu!?), mereka membuat permintaan pete melonjak, dan membuka mata banyak pemilik pohon pete akan adanya kebutuhan pete.

Saya yakin, soal KESEJAHTERAAN bisa tercapai dengan adanya pete. Memang tidak semua orang akan menjadi pemilik pohon pete, menjadi penjual pete, ikut dalam tataniaga pete, ikut menikmati kesejahteraan secara langsung lewat tataniaga ini. Tetapi bila ada begitu banyak keluarga di Indonesia yang tahu akan manfaat pete, mereka bisa menjaga kesehatan dengan biaya yang relatif rendah, terjadilan penghematan uang secara nasional, dan uang itu bisa digunakan untuk membayar keperluan lain.

Itulah proses pembelajaran masyarakat akan pete. Kepada warga masyarakat diajarkan manfaat pete, permintaan akan meningkat, sebagian warga yang punya lahan akan menanam pete, supply akan terus berusaha mengimbangi demand, sementara itu pasar internasional juga digarap, pembelajaran demand – supply internasional dilakukan, sampai satu saat terjadilah tataniaga pete secara internasional. Semoga saja, saat demand internasional terbentuk, penyedia di berbagai daerah sudah juga siap.

Jakarta, 18 Februari 2015

Jumat, 19 Februari 2015 diupload ke PT4L

Exit mobile version