Site icon Bambang Subaktyo's Blog

HERBAL: KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN

HERBAL: KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN

Setelah saya periksa ulang: ternyata obat (produk) herbal telah dilarang di Eropa sejak 2004 dengan masa transisi selama 7 tahun sampai 30 April 2011. Setelah tanggal tersebut, semua bahan obat herbal atau produk herbal tidak boleh lagi ada di rak penjualan toko toko obat di Eropa.

Obat herbal hanya boleh dijual di Eropa bila sudah menjalani masa uji pakai selama 30 tahun dan 15 tahun di antaranya berada di Eropa, obat itu harus didaftarkan dan mendapat lisensi dari badan kesehatan Eropa.

Jelas sulit bagi obat herbal Indonesia yang sedang booming saat ini untuk bisa masuk pasar Eropa. Untuk bisa masuk pasar Eropa suatu herbal harus punya pengalaman uji pakai 30 tahun seperti diuraikan di atas, atau mendaftar untuk uji penelitian kelayakan keamanan kebenaran obat herbal yang nilainya lebih dari £80,000 sampai £120,000.

* New EU regulations on herbal medicines come into force
* EUROPE TO BAN HUNDREDS OF HERBAL REMEDIES

Ada gambaran pelarangan obat herbal itu terjadi karena campur tangan mafia farmasi yang sudah menggurita disana, mereka berhasil melobi petinggi Uni Eropa untuk menerbitkan larangan peredaran obat herbal dengan berbagai alasan, a.l. keamanan masyarakat dari bahaya obat herbal.

Dari gambaran di atas, obat herbal dalam berbagai bentuk seperti pil, kapsul, bubuk, teh sachet, cairan, dll yang merupakan produksi pabrik rumahan Indonesia dengan teknologi sederhana itu akan sulit masuk pasar Eropa.

Memang ada obat herbal anti angin dari SM yang dibuat di pabrik modern, berhasil dijual di negara negara barat, tapi baru satu itu saja.

Obat herbal Indonesia akan sulit menembus pasar negara Eropa atau Amerika, kecuali bisa memenuhi persyaratan yang ada: 1) telah mengalami uji pakai selama 30 tahun dengan 15 tahun diantaranya di Eropa; 2) telah menjalani uji penelitian kelayakan dengan biaya £80,000 sampai £120,000.

Kedua kemungkinan itu sama sama sulit untuk ditempuh oleh perusahaan obat herbal Indonesia berskala usaha kecil menengah kecuali perusahaan sekelas SM itu yang juga baru punya satu produk (anti angin) yang berhasil menembus pasar negara barat.

Meski begitu sulit untuk bisa masuk pasar obat herbal Eropa, masih ada pengecualian yaitu import bahan natura sebagai bumbu dapur rempah yang memang disebut sebagai HERB. Herbal dalam bentuk natura inilah yang bebas dijual di pasar Eropa, Amerika, Australia atau ke negara mana pun di dunia. Seperti merica, paprika, pala, jahe, vanilla, kunyit, kayu manis, cengkeh, dll, yang bisa terus dijual ke mancanegara.

Jadi pete bisa dikirim ke Eropa sebagai buah atau bumbu dapur, bahan makanan yang kemudian bisa mereka rebus sendiri sesuai kebutuhan sebagai sayur (lauk, makanan) atau sebagai obat.

Khusus buah pete kupas yang dikemas dalam plastik, sudah banyak terdapat di toko toko makanan eksotis orientalis di Eropa, Amerika, Australia dll. Selanjutnya, tinggal bagaimana bisa mengirimkan buah pete utuh berikut kulit ke pasar mancanegara karena ada satu permasalahan kecil saat pengiriman buah pete utuh yaitu adanya penyelundup kecil didalam buah pete yaitu ULAT. Sejauh mana kemungkinan pengiriman buah pete yang mengandung ulat itu? Akan dilarang, dimusnahkan, atau sampai harus masuk karantina dulu??? Hal ini yang belum diketahui.

Ada hambatan lain lagi untuk berbagai bahan obat herbal yang berasal dari negara di luar Eropa, apakah dibudidayakan secara organik, bebas dari pestisida, diambil dengan cara yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan?

Jelas tidak mudah untuk bisa menjual obat herbal ke Eropa, tapi saya yakin, pete dapat dijual ke pasar Eropa sebagai buah atau bahan makanan, sebagai produk natura yang memenuhi beberapa persyaratan di atas, bebas pestisida (karena ada ulat), tidak merusak lingkungan dan berkelanjutan. Dengan pembungkus yang sesuai, pete bisa dikirim ke Eropa atau Amerika dan akan tetap fresh untuk waktu 3-4 minggu.

Sementara herbal yang lain akan sulit dijual ke pasar internasional. Pete jelas bisa membawakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia…

Exit mobile version