014 SUHARTO TIDAK PUNYA SE-SEN-PUN!?

014 SUHARTO TIDAK PUNYA SE-SEN-PUN!?

*

Pernyataan mantan presiden tersebut benar adanya, bukan bohong!

Adalah satu kenyataan dimana uang ‘sen’ memang tidak dimiliki ataupun pernah dilihat oleh seseorangpun di bumi Indonesia ini. Siapa yang pernah melakukan transaksi dalam bentuk serah-terima uang sen? Kalau dalam perhitungan di atas kertas bisa saja terjadi …….. tetapi dalam bentuk serah-terima uang sen, mungkin sejak beberapa puluh tahun ke belakang tidak pernah terjadi.

Kenyataan tersebut benar adanya. Siapa yang akan berhitung dengan nilai SEN lagi? Jangankan 1 SEN, 10 sen ataupun 99 sen, sedangkan nilai Rp. 10, Rp. 25 bahkan Rp. 50 saja hampir tidak dipakai lagi. Banyak Supermarket akan memberikan sebuah permen sebagai pengganti uang Rp. 25 atau Rp. 50. Sedangkan kembalian bernilai Rp. 10, Rp. 5 ataupun Rp. 1 malah dianggap tidak ada lagi. Langsung dibulatkan ke bawah, jadi Rp. 0 !?

Pada kejadian lain, penulis pernah melihat bagaimana seorang petugas penjual bensin (pompa bensin) menerima beberapa uang logam Rp. 25-an, yang langsung melemparkan uang logam itu ke lantai, dianggap tidak bernilai!

Bagaimana dengan dunia Informasi, Bisnis dan Perbankan di Indonesia?

Dalam dunia Informasi: suatu nilai transaksi akan disimpan di dalam media penyimpan data, dan diproses lebih lanjut oleh komputer. Pada kebanyakan aplikasi Bisnis yang tersedia belakangan ini, terutama aplikasi yang berjalan secara otomatis (bukan Lotus atau Excel atau sejenis worksheet), hanya memberikan variabel dengan kesempatan penyimpanan nilai sebesar 15 DIGIT: 999 999 999 999 999, yang memberikan kemungkinan pencatatan nilai sebesar 999 trilyun. Kelihatannya cukup besar, nyatanya tidak demikian.

Kenyataannya: Bisnis dan Perbankan di Indnonesia tidak dapat menggunakan 15 digit itu seluruhnya, tetapi masih dikurangi dengan 3 digit di belakang untuk tanda ‘,’ dan 99 sen menjadi: 999 999 999 999 ,99.===>12 digit di depan koma + koma + 2 digit di belakang koma Dengan posisi tersebut, nilai terbesar yang dapat disimpan atau diproses oleh aplikasi bisnis (kebanyakan !!) adalah nilai 999 milyar 999 juta 999 ribu 999 rupiah dan 99 sen, tidak sampai 1 trilyun.

Banyak bahasa program bisnis yang dibuat dengan bahasa program seperti FOXPRO, DBASE, COBOL, bahkan BASIC (untuk BISNIS) hanya memberikan kemungkinan penyimpanan nilai sebesar 15 digit (dengan 3 digit di belakang untuk sen dan koma).

Banyak produk aplikasi bisnis buatan luar negeri yang hanya memberikan kemungkinan yang sama, terutama program dari Amerika. Untuk para pe-bisnis di Amerika, 15 digit tersebut dianggap cukup besar bagi banyak orang, karena sudah mencapai nilai 999 milyar 999 juta 999 ribu 999 dollar dan 99 sen US-dollar! Hanya sedikit pe-bisnis disana yang memiliki nilai mencapai 15 digit tersebut atau melewati nilai tersebut, yang ternyata untuk penggunaan di Indonesia hal ini tidak cukup lebar lagi, karena banyak transaksi di Indonesia yang melewati daya tampung variabel 15 digit tersebut.

Berapa Sen Yang Dimiliki Bapak Suharto?

Mari kita hitung perkiraan uang rupiah yang dimiliki oleh Bapak Suharto.
Berdasarkan banyak perkiraan orang, dari berita-berita baik di dalam negeri maupun di luar negeri, ada yang bilang beliau memiliki uang senilai 4 milyar US-dollar, ada yang menyebut nilai 16 milyar US-dollar bahkan pernah ada yang menyebut sampai 30-40an milyar US-dollar.

Bila nilai 4 milyar US-dollar itu ditukarkan ke rupiah, dengan kurs Rp. 10.000 / 1 US$:
4 000 000 000 US$ X Rp. 10 000 / 1 US$ menjadi 40 000 000 000 000 atau sama dengan 40 trilyun rupiah, yang besarnya 14 DIGIT !

dan bila nilai 16 milyar US-dollar yang ditukarkan ke rupiah:
16 000 000 000 US$ X Rp. 10 000 / 1 US$ menjadi 160 000 000 000 000 atau sama dengan 160 trilyun rupiah, yang besarnya 15 DIGIT !

Baik posisi 40 trilyun rupiah ataupun 160 trilyun rupiah akan menyebabkan aplikasi bisnis biasa akan meledak, karena tidak mampu menyimpan nilai tersebut. Kebanyakan aplikasi bisnis biasa hanya mampu menerima 12 DIGIT di depan koma dan dua DIGIT dibelakang koma, terutama aplikasi bisnis yang berjalan di PC.

Sebagai solusi nilai tersebut diatas hanya dapat dicatat menggunakan ke 15 digit secara penuh tanpa pencatatan nilai SEN: “999 999 999 999 999”.

Jadi, dengan demikian pernyataan beliau tersebut “tidak punya se-SEN-pun” benar adanya, karena tidak mungkin lagi berhitung dalam sen. Lagipula buat apa berhitung di belakang koma (sen), karena nilai di depan koma tersebut sudah sangat besar, maka nilai di belakang komma (SEN) dapat di abaikan.

PERMASALAHAN DALAM DUNIA BISNIS DI INDONESIA

Transaksi (ataupun rekapitulasi transaksi) yang bernilai lebih dari 1 trilyun rupiah saat ini tidak dapat dicatat menggunakan aplikasi bisnis biasa, karena nilai tsb sudah melebihi kapasitas kemungkinan pencatatan variabel nilai transaksi yang hanya mengijinkan 12 DIGIT di depan koma, koma, dan 2 DIGIT di belakang koma.
Transaksi seperti pembangunan gedung ASTEK yang nilainya diperkirakan lebih dari 1 trilyun sudah tidak dapat dicatat lagi, karena ketidakmampuan kebanyakan aplikasi bisnis yang ada.

Pinjaman bernilai lebih dari 100 000 000 US$ yang bila dirupiahkan menjadi 1 000 000 000 000 (1 trilyun) rupiah, tidak dapat dicatat menggunakan aplikasi bisnis yang ada, karena sudah 13 DIGIT di depan koma.
Perusahaan besar, terutama perbankan akan menghadapi masalah ini dan tidak dapat mengelak dari permasalahan, karena aplikasi bisnis yang tersedia hanya memberikan kemungkinan pencatatan nilai 15 digit (termasuk koma dan 2 digit dibelakang koma).

KRITIS dan BERBAHAYA

Pada masa ekonomi sulit dengan nilai tukar rupiah yang rendah, dan harga-harga membubung tinggi, dimana hampir semua transaksi bernilai +/- 5 kali lipat dari nilai-nilai tahun lalu, maka pencatatan setiap transaksi menjadi bernilai +/- 5 kali lipat atau lebih. Dan dengan kurs US$ yang cukup tinggi saat ini, mencapai lebih Rp. 10 000 / 1 US$, maka setiap transaksi dollar akan juga berlipat ganda daripada tahun-tahun yang lalu.

Keadaan ini akan mengganggu jalannya aplikasi bisnis yang banyak dipakai oleh bara pe-bisnis dan perbankan di Indonesia. Rekapitulai nilai transaksi yang dilakukan pada akhir tahun 1998 akan berlipat ganda dan akan melewati kemampuan pencatatan variabel dalam aplikasi bisnis yang ada. Nilai-nilai rekapitulasi tersebut akan melewati kemampuan daya simpan 15 DIGIT (12 digit di depan koma, koma, dan 2 digit di belakang koma) yang menyebabkan meledaknya aplikasi bisnis yang dipakai karena terjadinya “overflow” dalam proses perhitungan rekapitulasi.

Tanpa pengaruh “Millenium Bug” (Year 2000-bug), atau tanpa huru-hara dan dalam keadaan aman-damai sekalipun, permasalahan ini akan menyebabkan sistem pelaporan keuangan banyak perusahaan menjadi kacau. Banyak perusahaan akan mengalami gangguan dalam penggunaan aplikasi bisnisnya, terutama pada perusahaan-perusahaan besar; perusahaan dengan pinjaman dollar yang cukup tinggi (lebih dari 100 juta US$) yang menggunakan perhitungan akuntansinya dalam mata uang rupiah; ataupun perbankan. Memiliki komputer baru untuk tahun 2000-an ataupun tidak akan sama saja pengaruhnya. Overflow yang menghadang di akhir tahun ini (bisa saja sudah terjadi sebelum akhir tahun), akan membuat banyak perhitungan menjadi kacau, nilai-nilai perhitungan jadi tidak akurat, laporan akuntansi jadi tidak tepat, yang akhirnya bisa saja mengembalikan kepada perhitungan dan pelaporan secara manual.

WANTI-WANTI SESEPUH INDONESIA

Bapak Suharto cukup baik dalam hal ini, beliau memberikan wanti-wanti dengan cara jawa, untuk berhati-hati dalam hal ini, karena kita sedang menghadapi masalah dalam dunia Bisnis dan Perbankan di Indonesia, yang kemungkinan besar tidak akan berjalan wajar karena nilai rupiah yang sudah demikian rendahnya.

Jelas beliau tidak bermaksud berkata bahwa beliau tidak punya apa-apa, karena beliau punya banyak harta (kata George Aditjondro!) yang perlu dibuktikan lebih lanjut. Beliau cuma bilang tidak punya uang SEN, karena memang sudah wajar orang Indonesia tidak pernah melihat uang sen apalagi memiliki se-SEN-pun.

LANGKAH-LANGKAH YANG PERLU DIAMBIL

Untuk mengantisipasi keadaan kesalahan perhitungan rekapitulasi akhir tahun dan untuk masa mendatang, dapat dilakukan perubahan dalam 2 langkah: langkah jangka pendek dan langkah jangka panjang. Kedua kemungkinan yang ada bukan merupakan jalan keluar yang enak untuk diterima oleh banyak orang. Tidak enak bagi pengusaha, tidak juga untuk pemerintah, dan bisa juga tidak enak bagi masyarakat banyak. Tetapi itulah yang mungkin dilakukan.

Langkah Jangka Pendek

Melakukan modifikasi semua aplikasi bisnis yang ada agar tidak perlu lagi menyimpan nilai sen, sehingga semua 15 digit yang ada dapat dipergunakan untuk pencatatan nilai rupiah tanpa sen. Dengan 15 digit, aplikasi bisnis dapat menyimpan nilai sampai Rp. 999 999 999 999 999 (atau = 999 trilyun 999 milyar 999 juta 999 ribu 999 rupiah).

Tidak mudah untuk dilakukan, karena semua aplikasi yang ada harus di modifikasi, dan semua data yang ada harus dikonversikan ke variabel 15 digit tanpa sen, dan semua nilai sen yang ada harus di-eliminir (dihilangkan) dengan pembulatan kebawah atau keatas menjadi 1 rupiah.

Biaya modifikasi akan cukup tinggi, karena banyak modifikasi yang perlu dilakukan, banyak data yang perlu dikonversikan, dan hilangnya nilai sen dikalikan jumlah transaksi yang selama ini ada. Dan terutama bila aplikasi bisnis yang ada tsb dibuat oleh software-house dari luar negeri, misal dari Amerika atau Eropa, akan dikenakan biaya yang tinggi karena kurs dollar yang cukup tinggi saat ini. Untuk aplikasi bisnis buatan lokal, modifikasinya mungkin tidak semahal aplikasi dari luar negeri, tetapi bisa saja timbul kendala yang lain.
Bila perlu ganti saja dengan aplikasi sejenis yang baru dengan requirement kemampuan 15 digit tanpa koma (tanpa sen!), bukan modifikasi tapi ganti total (rasanya sih belum ada!).

Langkah Jangka Panjang

Langkah jangka panjang ini sebetulnya milik pemerintah Indonesia.
Pemerintah dapat menyatakan bahwasanya SEN tidak perlu ada lagi, hanya bilangan rupiah penuh yang perlu dicatat, dengan pembulatan keatas atau kebawah sesuai jumlah sen yang ada (kalau ada).
Mengijinkan perhitungan dan pelaporan akuntansi dalam valuta asing, misal US-dollar, dan mengabaikan rupiah.

Bila sen tetap akan ditampilkan, maka perlu dilakukan pemotongan nilai rupiah minimal sebesar 100 rupiah menjadi 1 rupiah, bisa juga 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Wah … wah.

Atau

Melakukan perundingan dengan MICROSOFT dan para pembuat program di luar negeri seperti Borland, dll, yang membuat bahasa program C, FOXPRO, D-Base, COBOL, BASIC, ACCESS, PASCAL, BASIC (Quick, Visual), JAVA, dll. agar memberikan kemungkinan pencatatan tidak hanya 15 DIGIT tetapi 20 DIGIT misalnya. Rasanya sulit, karena kita tidak punya daya tawar-menawar yang kuat untuk menghadapi mereka.

Langkah manapun yang ditempuh, tetap berakibat berat bagi pengusaha, pemerintah maupun rakyat, terutama bila pemotongan rupiah dilakukan. Langkah yang diambil untuk mengatasi masalah ini akan membawa risiko yang tidak sedikit.

Dilakukan susah …. tidak dilakukan juga susah.

Pesan penulis

Masalah variabel 15 digit sebagai pencatat informasi nilai transaksi bisnis ini sebenarnya bukan barang baru, penulis sudah mengetahui hal ini lebih dari 10 tahun yang lalu, tetapi hal ini sebelumnya tidak menjadi masalah karena nilai transaksi yang ada masih dapat ditampung oleh variabel tsb. Baru belakangan ini variabel tsb telah mendekati posisi jenuh, karena nilai transaksi yang ada semakin membesar berkaitan dengan harga-harga dan kurs dollar yang naik berlipat ganda, sekaligus nilai rupiah yang semakin merendah, mengakibatkan nilai-nilai transaksi juga berlipat hampir menjadi 5 kali bahkan lebih.

Menghadapi masalah ini, penulis tidak dapat memberikan solusi matang, baik kepada pemerintah ataupun pengusaha. Penulis hanya mencoba memberikan gambaran sedikit banyak mengenai keterkaitan antara rendahnya rupiah dan kemungkinan “meledaknya” sistem aplikasi bisnis yang ada karena terjadinya overflow pada pencatatan nilai transaksi yang lebih besar daripada variabel yang disediakan ataupun overflow pada saat proses perhitungan (rekapitulasi) transaksi dilakukan.

Penulis serahkan permasalahan ini kepada yang berwenang (pemerintah) yang kemudian mengerahkan para cendekiawannya untuk mencarikan solusi matang dalam mengatasi masalah overflow proses pencatatan dan perhitungan transaksi aplikasi komputer yang ada, baik langkah jangka pendek ataupun jangka panjang.
Satu hal yang penulis coba tekankan, harap permasalahan overflow ini tidak dianggap enteng, karena menyangkut kelangsungan hidup banyak perusahaan di Indonesia pada saat ini dan masa mendatang.

Dikirim 19 Mei 1999

Bambang Subaktyo EDV.F.T.

One thought on “014 SUHARTO TIDAK PUNYA SE-SEN-PUN!?

Leave a Reply