POLISI, SUTANTO: PEMBELAAN TERHADAP KELOMPOK AGAMA YANG DIAKUI NEGARA
Awal tahun 2008 jendral polisi Sutanto mengeluarkan pernyataan yang isinya kira-kira: polisi hanya akan membela kelompok yang agamanya diakui negara. Pernyataan ini tentu saja diliput oleh media massa: media cetak, televisi dan radio. Banyak reaksi dari berbagai pihak terhadap pernyataan itu, banyak yang menentang, tapi ada juga yang setuju. Pernyataan sang jendral tidak memberikan kenyamanan bagi masyarakat, tetapi mengundang pertentangan lebih jauh, baik di media massa, juga di program interaktiv di radio.
Seperti biasa, saya menunggu sampai ada cukup banyak komentar (pernyataan, protes) di radio, baru saya ikutan berbicara. Saya ikut berbicara di radio Utankayu, sekitar minggu ke 2 bulan Februari 2008.
Inilah kira-kira pernyataan saya menjawab pernyataan sang jendral:
“Saya sangat kagum kepada polisi, kepada kepolisian Republik Indonesia. Saya sangat kagum kepada jendral Sutanto. Polisi Indonesia saat ini pintar-pintar. Jendral Sutanto pun sangat pintar.
Bayangkan, saat terjadi tawuran, kerusuhan antara 2 kelompok, mereka dengan cepat bisa mengetahui identitas ke 2 kelompok itu. Kelompok yang satu berwarna HIJAU, ini kelompok yang agamanya diakui negara, kelompok yang lain berwarna ABU-ABU, itu kelompok yang agamanya tidak diakui negara. Bila kelompok HIJAU dipukuli kelompok ABU-ABU, maka polisi akan segera membela. Kalau kelompok ABU-ABU yang dipukuli kelompok HIJAU, biarkan saja, karena agama si ABU-ABU toh tidak diakui negara. Lihat saja, betapa pintarnya Sutanto dan polisi, dalam sekejab, begitu mereka melihat 2 kelompok tawuran, mereka dengan segera bisa tahu yang mana HIJAU yang mana ABU-ABU. Jadi langsung bisa membela mereka atau membiarkan saja. Mereka sangat pintar karena bisa melihat warna kelompok.
Atau polisi akan menahan tawuran sebentar untuk memeriksa KTP mereka yang tawuran?
“Stop dulu, periksa KTP! Nanti boleh dilanjutkan!” Periksa KTP, apa agamanya diakui negara atau agamanya tidak diakui negara.
Penyiar ikut nimbrung: di KTP kedua kelompok bisa sama-sama Islam!
Kalaupun bisa distop, bisa jadi agama di KTP dari kedua kelompok itu sama, bisa sama-sama Islam.
Polisi kan begitu pintarnya, tanpa memeriksa identitas, mereka bisa langsung membedakan, yang mana kelompok HIJAU, yang mana kelompok ABU-ABU. Jadi dengan sekejab mereka bisa tahu, kelompok HIJAU digebuki kelompok ABU-ABU, segera lindungi! Kalau kelompok ABU-ABU yang digebuki kelompok HIJAU, biarkan saja.
Atau mungkin saja, kelompok yang agamanya diakui negara itu berbulu panjang sekujur tubuhnya, sedangkan kelompok yang agamanya tidak diakui negara itu gundul, plontos, tidak ada bulu sama sekali. Jadi begitu ada tawuran, siapapun bisa melihat dan langsung mengambil tindakan.
Seharusnya polisi sebagai pengayom masyarakat, tidak perlu membuat perbedaan siapa dengan agama apa yang akan dibela, dan siapa yang tidak perlu dibela. Polisi kembali ke tugas utama mereka, melindungi masyarakat, siapapun yang sedang dianiaya harus dilindungi, siapa yang menganiaya orang lain harus dihukum, tanpa embel-embel agama. Kembalilah kepada tugas utama kalian sebagai pelindung, pengayom masyarakat, siapapun harus dilindungi. . .
(Sebetulnya komentar saya waktu itu lebih panjang dari apa yang saya tulis di atas. Kalimat berikut merupakan penutup dari komentar saya.)
Pertanyaan saya: “Sutanto itu sangat pintar atau sangat bodoh?”

