087 Penjajahan Oleh Orang Asing
Jakarta, 8 Desember 2014
Sudah sejak ratusan (ribuan) tahun yang lalu ada begitu banyak orang asing datang ke Indonesia. Ada banyak orang asing yang datang ke Indonesia dan kemudian menguasai berbagai sumber daya di Indonesia itu sebenarnya berjiwa penjajah, mereka datang bukan untuk membawakan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, tetapi ingin menguasai kekayaan bangsa dan negara Indonesia.
Itu sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, Belanda yang pernah menjajah Indonesia, mungkin juga orang Portugis, orang Spanyol, orang Inggris, Jerman, Jepang, China, Korea, Amerika, Perancis, dll … mereka hanya ingin menguasai kekayaan alam yang ada di Indonesia. Soal manusia yang ada di bumi Indonesia ini, mereka tidak peduli sama sekali. Jadi, orang asing itu tertarik datang ke Indonesia karena ada keinginan merampok kekayaan Indonesia.
Jepang tidak hanya pada masa penjajahan yang 3,5 tahun itu mereka menguasai Indonesia, pada masa HMS berkuasa, mereka juga berusaha menancapkan pengaruh mereka dalam berbagai faktor perekonomian Indonesia, dengan membayar lembaga tertentu agar menjadi pembisik dari dalam pemerintahan HMS. Kondisi dimana mereka cukup jauh mempengaruhi waktu itu, sampai menyulut peristiwa MALARI (5 Januari 1974), dimana mahasiswa turun ke jalan untuk mengusir Jepang dari Indonesia, yang akhirnya malah menjatuhkan Jenderal Soemitro dari jabatannya sebagai PANGKOPKAMTIB waktu itu. Pengaruh Jepang tetap masih berlangsung sampai saat ini, dimana mereka tidak ingin Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun industri otomotif sama sekali, dan di masa itulah (sekitar 1970-an), mereka melalui lembaga study itu berhasil mengarahkan pemerintah untuk tidak memberikan ijin usaha rancang bangun otomotif lokal. Mereka berhasil mempengaruhi pemerintah untuk mengeluarkan peraturan pembatasan jumlah merek mobil yang boleh beredar di Indonesia, dan tentu saja yang banyak mendapatkan kesempatan adalah merek merek dari sang saudara tua itu.
Sudah dari dulu, mereka mengaku aku sebagai ‘saudara tua’, sayang sekali cuma saudara tua yang agak kurang ajar, mereka memaksa rakyat Indonesia bekerja sebagai romusha, sebagai pekerja berbagai konstruksi di berbagai wilayah Indonesia dan tentu saja tanpa bayaran! Mereka bilang kita adalah saudara mereka, dan mereka adalah saudara tua, agar kita mau membantu mereka menghadapi sekutu, ternyata mereka memang saudara tua yang kurang ajar. Rasanya sih, sikap kurang ajar itu masih terus berjalan sampai sekarang. Lihat saja, rancang bangun otomotif karya anak bangsa yang sebetulnya cikal bakal kendaraan MPV itu tiba tiba dihentikan produksinya, digantikan dengan kendaraan yang diberi merek yang sama tetapi dibuat di negara tetangga Indonesia.
Kalau kita langsung melihat ke Freeport, disana ada banyak pengusaha alien, yang katanya berasal dari negara polisi dunia, Amerika! Tetapi lihatlah, mereka dengan senang dan gembira bersedia membayar Royalti kepada bangsa dan negara Indonesia yang besarnya hanya 1%, sudah berlangsung selama 40 tahun lebih, dan kata ketua KPK, itupun tidak terbayarkan!
Ada lagi, sekelompok pengusaha garment dari negara ginseng, tiba tiba mereka hengkang bersama sama, kabur begitu saja dengan menutup pintu pabrik pabrik garment yang ada di KBN (kawasan berikat nusantara) di Cakung sana. Kabur begitu saja, tidak membayar gaji dan pesangon para pekerja pabrik. Pada hari yang sama, buruh dan karyawan dari beberapa pabrik itu sampai di depan pintu gerbang pabrik pabrik yang ditutup, gerbang digembok para pekerja tidak bisa masuk. Para boss boss dari negeri ginseng itu secara bersama sama menghilang. Para buruh segera mengakuisisi pabrik pabrik dan berusaha menjual asset pabrik, dan ternyata pabrik berikut segala peralatan kerja yang ada disitu merupakan barang sewaan dari pihak lain. Mereka tidak mendapatkan apa apa, mereka tidak bisa menuntut para boss yang sudah melarikan diri keluar negeri.
Ada lagi 2 pengusaha negara Alien yang bekerja sama dengan lembaga penyedia air minum (yang tak layak minum itu), mereka berasal dari 2 negara di Eropa, negara besar … tetapi ternyata mereka tidak bisa membereskan managemen lembaga itu. Tetap saja tidak beres, kualitas air tidak layak minum, pasokan tak selalu ada, harga terus naik. Mereka itu sebenarnya ingin membantu atau ingin melakukan apa di Indonesia? Atau mereka sebenarnya cuma sekelas pembantu belaka!? Buat apa pemerintah daerah bekerja sama dengan mereka, kalau mereka tidak bisa berbuat apa apa, hanya minta bayaran kontrak dan ternyata hasilnya tidak memuaskan. Bayangkan, hanya mengurus air saja mereka tidak mampu, atau jangan jangan mereka cuma ingin membuat barang kebutuhan masyarakat Jakarta itu semakin turun kualitasnya.
Belanda berhasil menjajah Indonesia selama 350 tahun. Mereka datang berbisnis rempah rempah, akhirnya berhasil menjajah, berhasil memanipulasi kehidupan rakyat Indonesia, mereka menerapkan sistem tanam paksa, mereka mengadu domba antar kerajaan, memecah belah rakyat Indonesia, mengambil berbagai pustaka kuno, benda benda bersejarah, dlsb, dst.
Negara tetangga seperti Malaysia pun menjadi maling-sia berbagai produk Indonesia, berbagai jenis kebudayaan Indonesia berusaha mereka aku-aku sebagai kebudayaan asli mereka. Itu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Terakhir ternyata banyak kapal nelayan mereka mencuri ikan di perairan Indonesia, mencuri dengan setengah legal setengah ilegal, mencuri dengan ijin yang dibeli dari oknum tertentu.
Orang asing itu dulu datang ke Indonesia dengan berbagai cara, mereka datang dengan embel embel perdagangan, ada yang datang dengan kekuatan armada perang lalu mengaku saudara tua, ada yang datang dengan berdasi penuh gaya ternyata cuma sekelas perampok tak ber-etika, ada yang datang membawa budaya dan agama, ternyata berusaha menguasai Indonesia dengan budaya mereka yang tingkat budaya di negara asalnya malah ketinggalan jauh dari Nusantara dulu. Kita lihat situs Gunung Padang, yang ternyata berumur sekitar 25 ribu tahun lalu dan sudah berbudaya tinggi, sementara di daerah / benua lain masih sekelas barbar.
Para raja Nusantara masih punya welas asih, mereka diterima berdagang di Indonesia, diberi tempat untuk berusaha, diberi kesempatan untuk menyebarkan budaya asing itu, lalu orang orang yang telah diberi kebaikan itu lupa diri, mereka malah menjungkir-balikkan sistem pemerintahan yang ada waktu itu.
Kalau seperti sang saudara tua, yang datang dengan armada perang waktu itu, mereka berhasil mengusir Belanda sang penjajah 350 tahun itu, tetapi kemudian malah sang saudara tua berubah menjadi saudara tiri, lain bapak, lain ibu, lain daerah/negara, menjadi begitu kejam kepada bangsa ini, hal itu masih bisa diterima akal logika. Tetapi welas asih yang diberikan kepada sekelompok orang yang datang membawa budaya asing, diberikan tempat untuk tinggal, diberikan tempat untuk berdagang, diijinkan membuka usaha perdagangan, diberikan tempat untuk mengajarkan budaya asing itu, kemudian mereka malah menyerbu sang pemberi segala fasilitas itu, tanpa memberi SMS janjian perang tanding, tiba tiba tanpa RSVP langsung datang membawa puluhan ribuan tentara perang dengan peralatan perang yang lengkap, langsung menyerbu dengan senjata terhunus, tanpa ba bi bu lebih dulu, tidak mengatakan alasan mereka mau berperang, apakah karena sakit hati, mau menuntut balas, tidak ada satu maklumat perang, dan menyerbu saat ada perayaan kerajaan, bukankah itu lebih keji daripada ulah sang saudara tua!?
Kenapa orang asing berbuat seperti itu?
Karena mereka tidak punya rasa kasih, tidak punya rasa sayang kepada bangsa lain. Seakan akan mereka adalah kelompok yang lebih tinggi budayanya, lebih tinggi kedudukannya, lebih benar, lebih dibenarkan oleh Yang Maha Kuasa. Kenapa bisa begitu!?
Mereka punya agama dan budaya yang berbeda, mereka yang menggambarkan kedudukan mereka lebih tinggi di mata Tuhan daripada bangsa Indonesia. Mereka waktu itu menggambarkan adanya Tuhan Tuhan yang berbeda, mereka menyatakan Tuhan mereka yang lebih benar dan sesembahan yang berbeda bagi rakyat Indonesia. Buat sebagian penjajah itu, bangsa mereka adalah bangsa unggulan, sementara bangsa bangsa lain cuma sekedar ‘untermenschen’, hanya sekelompok manusia kelas rendah, yang boleh mereka serbu, boleh mereka bunuh, boleh mereka hancurkan, boleh mereka perbudak, boleh mereka rampok kebebasan hidupnya (hak asasi manusia) dan boleh mereka rampok kekayaannya.
Sampai sekarang, prinsip dasar kehidupan mereka masih mirip seperti dulu, bahkan si pengusaha alien yang terus merampok kekayaan alam bangsa Indonesia, mereka tetap berprinsip bahwa mereka lebih berhak untuk hidup sejahtera, boleh hidup berkelebihan dibanding rakyat Indonesia sebagai pemilik kekayaan alam itu. Mereka tetap menyedot kekayaan alam itu, sampai sekarang, mereka tidak mau mengembalikan kekayaan alam itu kepada sang pemiliknya yaitu bangsa Indonesia.
Inti utama dari status mereka: mereka tidak kasihan kepada bangsa ini, mereka tidak punya rasa sayang kepada bangsa ini. Mereka hanya sekelompok manusia egois, rakus, tak bermoral, jahat, curang, licik, kejam dan sifat sifat buruk lainnya … meski mereka terlihat begitu agamais, begitu penuh kehormatan, berpakaian necis dan perlente, baju jas dan berdasi, berkendaraan mewah dan rumah mentereng … tapi sebenarnya mereka cuma barbar, cuma sekedar phytecanthropus erectus belaka, meski mereka perlente berbaju jas pakai dasi bermobil mewah dan tinggal di rumah mentereng ternyata cuma manusia purba berjalan tegak.
Lalu, kok bisa mereka bercokol disana, diperbolehkan merampok kekayaan bangsa, menyedot segala isi Bumi Pertiwi itu tanpa rasa sungkan, siapa yang mengijinkan mereka!?
Tentu saja ada para kolaborator yang membuka kesempatan bagi orang asing itu agar bisa mengangkangi kekayaan Indonesia itu, mereka itu para penghianat bangsa, yang tentu saja punya sifat sifat yang sama dengan kelompok barbar penyedot kekayaan alam itu. Mereka ini juga mencontoh perilaku para barbar itu, berpakaian necis dan perlente, kendaraan mewah dan rumah mentereng, tampil begitu berkelas, padahal sih, cuma penghianat bangsa. Siapakah mereka?
Apakah para penghianat itu cuma sekelas kacung kelas bawah, yang mau dibohongi para juragan, para barbar itu? Tentu saja, seorang kolaborator itu tidak mungkin cuma sekelas kacung belaka, mereka harus punya posisi dan kedudukan yang tinggi yang bisa membuat dan berhak menandatangani kontrak kontrak jahat itu. Siapakah mereka? Tebak saja sendiri, tidak susah kok!

