– Telinga (kuping) ada untuk mendengar, baik tentang yang baik maupun yang buruk.
– Mata ada untuk melihat, yang cantik, buruk rupa, yang baik maupun yang jahat.
– Mulut dan lidah ada untuk berbicara, tentu sebaiknya yang baik dan bermanfaat. SEMOGA!
Saya melihat, membaca, mendengar dari banyak sumber, baik orang-orang yang tahu, dari surat kabar, media, juga dari internet, kalau selama ini bangsa ini hanya mendapat bayaran ROYALTI dari para pengelola SDA Indonesia. Royalti yang besarannya hanya 4,5% SAJA.
Apakah para pemimpin bangsa ini memang sudah begitu patuh kepada orang asing, sehingga begitu saja mau menanda-tangani kontrak-kerja yang begitu sedikit memberikan manfaat bagi bangsa & negara?
Ataukah mereka itu begitu bodohnya, sehingga mau saja menerima besaran 4,5% untuk pengerukan SDA-nya!? Kalau hanya setahun-dua-tahun itu terjadi, masih bisa diterima akal, tetapi kalau kontrak-kerjanya sampai puluhan tahun, dua-puluh tahun atau lebih dengan kondisi hanya menerima ROYALTI 4,5%, apakah mereka tidak merasa rugi?
Semisal suatu kelompok masyarakat punya empang (kolam ikan) yang tentu penuh berisi ikan, dan suatu perwakilan masyarakat itu menyewakan kepada orang asing karena masyarakat itu tidak mampu membeli joran-pancing, kemudian si wakil-wakil ini mau saja menerima bagian hanya sebesar 3,5% saja selama puluhan tahun. Apakah tidak lucu? Apakah joran-pancingnya lebih berharga dari isi empang? Mana lebih mahal isi empang itu atau joran-pancingnya? Kalau memang empang itu tidak bernilai tinggi tentu si orang asing tidak akan mau explorasi ataupun exploitasi empang itu. Kenapa kita tidak berusaha sendiri secara mandiri, tidak perlu dengan joran-pancing, kalau perlu dengan tangan telanjang tanpa alat asalkan mandiri, kemudian menjual hasilnya untuk membeli joran-pancing. Kenapa???
Jangan-jangan si wakil-wakil (para ‘pemimpin’) itu memang malas untuk mandiri, maunya cuma ongkang-ongkang kaki terima komisi, sementara si masyarakat pemilik empang (secara bersama) cukup diberikan 4,5% saja.
=====================================
Kembali ke SDA Indonesia. Kalau tidak ada calon ‘pemimpin’ yang berani merubah porsi penerimaan Indonesia dari 4,5% (sudah puluhan tahun kan!) menjadi 95,5%, buat apa memilih mereka. Bangsa ini sudah dibodohi selama puluhan tahun, sudah selayaknya sekarang ini semua pengelolaan SDA itu diserahkan kepada anak-anak bangsa. Kita cukup membayar si orang asing itu ROYALTI atas teknologi yang mereka pasang. Kalau perlu diusahakan dengan tangan telanjang tanpa teknologi mereka.
Mungkinkah? Maukah kita? Siapkah mereka (para ‘pemimpin’)?


dapatkah politik bersifat netral dan haruskah politik bersifat netral……………..??????????