Gila…..! Anda atau saya yang gila?

Tulisan 12-02-99

Saya teringat sebuah lelucon lama yang entah milik siapa:
Ada seorang pemuda bernama Tono yang sudah cukup umur, dia dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena berperikelakuan kurang dari pemuda seumur. Sejak kecil Tono senang bermain ketapel (sebatang kayu yang dipahat, diberi tali karet, dan pelontar batu dari kulit, untuk berburu burung). Pada mulanya si orang tua berfikir hal ini adalah hobi, hobi berburu burung. Tetapi kebiasaan ini terus berlanjut sampai berumur 20-an tahun, kemana-mana membawa ketapel yang digantungkan di leher, membawa batu, dan terus mencari burung sebagai buruan. Hal yang diluar kebiasaan…
Tono kemudian dimasukkan ke rehabilitasi, RSJ. Bertahun-tahun dia diberi terapi pengobatan, pendidikan ketrampilan, dlsb., sampai satu saat terlihat Tono mulai melupakan ketapelnya, semua perawat, dokter, psikolog merasa senang dengan kemajuan si pemuda, mereka meneruskan pengobatan dan pendidikan untuk beberapa tahun kemudian.
Setelah dirasa cukup, dan Tono dianggap dapat kembali ke kehidupan bermasyarakat yang normal, maka diputuskan untuk memberikan sedikit ujian untuk mengetahui apakah dia sudah benar-benar waras. Untuk itu dilakukan sedikit wawancara.
Begini wawancaranya:
Psikolog: “Apakah anda sudah siap terjun ke kehidupan bermasyarakat seperti orang-orang lain?”
Tono: “Ya”
P: “Apa yang akan anda lakukan?”
T: “Ah saya ingin bekerja!”
P  “Lalu”
T: “Saya akan mencari pekerjaan”
P: “Wah bagus, lalu?”
T:. “Saya akan menabung”
P: “Bagus, lalu?”.
T: “Saya akan mencari pacar yang cantik, sexy, rajin, pintar masak…..”
P: “Bagus…bagus, lalu?”
T: “Saya akan ajak dia menikah.”
P: “Terus bagaimana?”
T: “Ya, saya nikahi dia, saya bikin pesta besar, dan ……”
P: “Terus…terus “
T: “Malam pertama, saya akan tidur bersama istri saya itu, ….”
Psikolog sudah tidak tahan lagi: “Lalu !?”
T: “Saya buka bajunya, saya buka kainnya ….”
P: “Terus…?”
T: “Saya buka BH-nya, saya raba-raba dia….”
P: “Ya… lalu gimana?” Psikolog sudah tidak tahan ingin mendengar akhir cerita si Tono.
T: “Saya buka celana dalamnya, …..”
P: “Lalu!?” Psikolog semakin penasaran dengan kemajuan si Tono.
T: “Saya ambil karet celana dalamnya, saya bikin ketapel…hehehe hihi haha.”
Masih gila dia…… masuk lagi. Psikolog, dokter, perawat, dan semua yang ada merasa kecewa berat akan hasil wawancaranya, ternyata terapi pengobatan yang sudah lama dilakukan tetap belum memberikan hasil yang diharapkan.

Masih Sakit! Masuk lagi!!
Saya teringat akan lelucon ini saat mencoba mengerjakan projek suatu lembaga administrasi daerah yang kebetulan sesuai dengan profesi saya. Nilainya cukup besar, sekitar 360 juta rupiah untuk tahap I, dari 3 tahapan dengan total 1.3 milyar rupiah.
Sebagian dari nilai itu, sekitar 250 juta dialokasikan untuk pengadaan hardware, sedangkan sisanya untuk pengadaan software. Hardware yang dibeli bernilai sekitar 150 juta, ditambah tetek-bengeknya menjadi nilai 250 jutaan, sedangkan software bernilai 110 juta, dengan spezifikasi yang tidak jelas, entah mau bikin apa. Penunjukan langsung dilakukan, pembelian dibayar oleh investor langsung, sedangkan software tetap tidak dijelaskan.
Saya sudah menyiapkan segala macam kebutuhan untuk pembuatan softwarenya, mulai dari strategi, technik, hal-hal yg akan diselesaikan, dst. Banyak deh. Juga ikut dalam beberapa pertemuan untuk membicarakan masalah itu.
Sampai satu saat terjadi gonjang-ganjing soal software yang akan dibuat, debat soal teknis dilakukan, ini rancangan saya, dan rancangan mereka tidak jelas. Dan seterusnya sampai kemudian diputuskan projek jalan tanpa rancangan dan diserahkan kepada tim pengawas Data Electronic, tanpa spesifikasi teknis yang benar……
Ternyata tanpa satu hasil yang pasti, projek dinyatakan selesai, software tidak pernah terlihat, tetapi projek jalan terus. Ternyata rancangan teknis yang indah, elegance, fungsional, bervisi masa depan, tetap tidak berguna dalam dunia mereka yang masih seperti semula sebelum Reformasi!

Kesan awal, wah mereka sudah rada waras, eh buntut-buntutnya masih tetap saja mereka gila ketapel tuh. Ternyata semua jerih payah saya selama berbulan-bulan itu hanya sia-sia belaka, karena sebenarnya semua kegiatan itu hanya skenario dan ritual untuk menutupi segala kegilaan main ketapel mereka selama ini, dan sebenarnya nilai 360 juta itu hanya jadi 6 komputer saja. Nilai pasar sebenarnya cuma sekitar 90 juta, dan nilai selebihnya ya dibagi-bagi!!

Ternyata pengawas yang seharusnya mengawasi jalannya projek jenis ini, tidak hanya bertugas mengawasi tetapi bertekad menguasai pelaksanaan projek tsb., dan ternyata forum yang dibuat untuk penentuan siapa yang melaksanakan projek tsb, menerima keadaan itu dengan tegas dan tanpa keraguan sedikitpun, mereka setuju projek dilaksanakan oleh tim pengawas. Mereka tahu akan hal ini, dan saya hanya dijadikan korban mereka. Hanya sebagai pelengkap agar kelihatan waras!

Saya jadi teringat kembali kepada lelucon si orang gila diatas. Saya pikir mereka sudah mulai waras, atau paling tidak sudah mau mengurangi nilai kegilaannya dan nilai korupsinya sedikit demi sedikit, merubah kebiasaan lama menyikat uang rakyat melalui projek-projek fiktif tanpa hasil yang bisa dipertanggung-jawabkan secara profesional. Ternyata setelah diikuti sampai detik-detik terakhir….. sampai saat “celana dalamnya dibuka”, eh masih saja kembali kepada kebiasaan lama, “ambil karetnya… bikin ketapel!!!”.

Ternyata kegilaan yang sudah berjalan selama 30 (tiga puluh) tahun, tetap belum bisa hilang walau telah diperingatkan dengan Reformasi dengan korban yang tidak sedikit, krisis moneter, dan segala kejadian, kerusuhan, penjarahan, dan ketimpangan-ketimpangan sosial, bahkan dengan teriakan rakyat yang minta keadilan, tetap tidak merubah perikelakuan mereka. Sayangnya saya nggak bisa nuntut kemana-mana, cuma bisa nulis cerita ini saja.

Semua masih gila….. atau saya yang tidak normal?

Leave a Reply