039 SUBWAY-MARINE
Kepada redaksi yth. Wxxxx Kxxx
Saya berharap Anda mau mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi dalam pembangunan SUBWAY yang pernah diajukan oleh pemda DKI JAYA. Kita perlu menangguhkan projek ini, kalau pada akhirnya hanya akan dijadikan projek pembengkakan kantong para pejabat negara yang korup, dan membiarkan sarana ini menjadi lahan pembantaian rakyat kecil, dengan kecelakaan-kecelakaan akibat bocornya lorong-lorong SUBWAY yang setara dengan kebocoran pembangunan projek-projek.
Ingat!!! Mereka-mereka sebagai pejabat negara, dan birokrat ataupun keluarga mereka tidak pernah merasakan bagaimana naik KRL yang seperti setumpuk ikan teri dalam kantong plastik. Jadi mereka tidak pernah merasakan pahit-getirnya rakyat kecil dalam melakukan perjalanan dengan KRL, dan mereka hanya tahu bagaimana enaknya naik mobil mewah yang empuk, bersih, harum, dan adem, yang dibeli dari hasil korupsi mereka.
Saya terpaksa menuliskan masalah SUBWAY ini secara anonim, demi kenyamanan dan keamanan perjalanan naik kereta api, demi semua orang, agar mereka-mereka pengambil keputusan tidak asal ‘jeplak mulut’ saja. Agar kita tahu apa yang akan kita hadapi saat SUBWAY dibangun, jangan sampai hanya rakyat kecil yang dikorbankan demi kenikmatan bermobil mewah si pejabat yang korup, agar para ulama dan Kiai mau melihat kenyataan yang ada, jangan teriak-teriak masalah politik dan kepemimpinan negara, tetapi mulai melihat bagaimana ‘perjinahan virtual’ dan ketidak-senonohan yang terjadi dalam perjalanan KRL, dan mau memperjuangkan sarana perhubungan yang sopan, nyaman, dan aman bagi wanita muslim.
SUBWAY atau SUBMARINE atau SUB-WAY-MARINE
Kalau saja Terminal terpadu Manggarai benar dibangun, dengan luas 75 HA, akan menjadi terminal yang terbesar di Asia Tenggara, dan mungkin juga di Dunia. Mungkin kemegahan ini akan masuk di Guiness-Book of Record sebagai terminal terbesar di dunia.
Selain itu Indonesia akan mendapatkan predikat penemu transportasi model baru yang menggabungkan SUB-WAY dan SUB-MARINE, sebagai kendaraan yang berjalan dibawah tanah dan sekaligus didalam air
Hal ini dapat tercapai bila saja satu saat terminal terpadu ini kena banjir tahunan seperti yang dialami pada awal tahun 1996, dimana 200 dari 265 kelurahan di Jakarta ter-rendam air (alias terbenam dalam banjir), sehingga tentu saja lorong-lorong sub-way yang ada akan berisi air, dan bilamana kereta sub-way ini dipaksakan berjalan, maka jadilah ia SUB-MARINE (kapal selam) di lorong SUB-WAY, dan selanjutnya disebut sebagai SUBWAY-MARINE.
SUB-WAY-MARINE
Sebetulnya ini bukan ide yang buruk, malahan merupakan ide yang cemerlang, karena penggabungan kedua sistem ini akan memberikan satu transportasi massa; yang cukup murah perawatannya. Karena:
- 1. tidak memerlukan bantalan rel ataupun relnya sekaligus,
- 2. kerusakan rel maupun bantalannya tidak akan terjadi lagi,
- 3. tidak memerlukan banyak poros roda, karena tidak diperlukan roda lagi,
- 4. gerakan alat transportasi ini cukup mudah, seperti kapal selam yang ngambang,
- 5. tahanan dan gesekan antar metal (rel dengan roda) dapat dikurangi/hilang,
- 6. perawatan cukup mudah, karena tidak memerlukan penggantian bantalan maupun relnya, cukup dengan penggantian air yang ada dalam lorong sub-way,
- 7. dapat menggunakan bermacam cairan untuk mengisi lorong tersebut, baik air jernih, air tawar, air laut, ataupun air payau, dan malahan dapat untuk iklan air kemasan seperti ATUA (sengaja diplesetkan) dsb,
- 8. kegiatan transportasi tidak perlu dihentikan walaupun banjir sudah melanda seluruh Jakarta,
- 9. kebocoran lorong, dan perembesan air tanah kedalam lorong tidak mempengaruhi kelancaran perjalanan,
- 10. perusahaan negara (BUMN) seperti PT. PAL dan PERUMKA dapat bekerja sama dan memproduksi kendaraan amphibi ini secara masal, sehingga keduanya dapat berproduksi kembali, dengan membuat kereta – kapal selam ini,
- 11. memberikan kegiatan perdagangan yang baru, baik kaki-lima, maupun supermarket maupun pasar yang ada, dengan menjual banyak perlengkapan perjalanan dengan SUB-WAY-MARINE, seperti plastik isi udara (oxigen), celana renang, baju renang, snorkel, dlsb … yg merupakan peralatan SOS saat subway-marine ini mengalami kebocoran, yg mungkin (pasti) akan terjadi, iya kan, lihat saja KRL yg ada sekarang kacau balau. Bayangkan kaki lima saat menjajakan dagangan model baru ini: “Celana renang!!! Snorkel!!! Plastik isi udara!!! Kacamata renang!!!”
Saya berharap, pemda DKI Jaya tidak memaksakan kehendaknya membangun jalur SUBWAY, karena pasti akan menelan korban cukup banyak. Kenapa?
Lihat kenyataan yang ada, banjir ataupun genangan air yang cukup dalam akan terjadi bila hujan turun dalam waktu 1-2 jam saja, pasti lorong-lorong SUBWAY akan langsung tergenang air atau malah penuh dengan air, karena ada kebocoran dimana-mana setara dengan kebocoran dana projek yang terjadi dimana-mana.
Belum lagi tabrakan KA yang belakangan terjadi berturut-turut, nah kalau hal ini terjadi di dalam lorong SUBWAY, siapa yang jadi korban!?
SUBWAY dibangun, maka pejabat negara dan anggota MPR/DPR harus naik SUBWAY
Boleh saja SUBWAY dibangun, tetapi semua pejabat negara, birokrat, anggota MPR/DPR, dan terutama para pejabat pemda DKI berikut pejabat Departemen Perhubungan harus menggantikan kendaraan dinasnya dengan transportasi SUBWAY. Harus !!!. . . cabut kendaraan dinas mereka, dan diganti dengan karcis abonemen SUBWAY.
Mungkin untuk itu, mereka sudah bisa mulai belajar naik kereta KRL dulu, agar mereka-mereka ini yang cuma asal ‘jeplak mulut’, bisa merasakan bagaimana naik kereta yang seperti ikan teri dalam kantong plastik, ditumpuk-mpuk, panas, pengap, bau, dst. Juga para ulama, Kiai dari MUI diharuskan naik KRL kemana-mana, agar mereka merasakan bagaimana enaknya naik KRL, punggung kena bemper eh ‘tetek’ pelajar putri dan si ‘Otong’ didepan kena bokong si mbok yang bahenol. Bagaimana kalau para penumpang yang berlainan jenis itu saling berhadap-hadapan, mungkin perjalanan dalam kereta ikan teri akan menjadi lebih meriah lagi, lumayan buat dempet-dempet bini orang dan ‘perjinahan virtual’.
Cuma herannya, itu ulama dan Kiai kayaknya setuju-setuju saja!!! Mungkin enak sih! Atau kereta ikan teri boleh disebut sebagai sarana perhubungan XXX.
Kalau saja para pejabat negara, birokrat, dan anggota MPR/DPR sudah terbiasa naik KRL barulah SUBWAY-MARINE dibangun. Dan dengan pengalaman perkereta-apian yang ada sekarang, dapatlah dibuat SUBWAY-MARINE yang menyenangkan, bebas ikan teri, segar, aman, tidak tabrakan, cepat, bersih, dan seterusnya. Tapi buat yang senang dempet-dempetan mungkin mereka akan menggerutu, karena tidak bisa merasakan bemper atau bokong si pelajar putri ataupun si mbok yang bahenol.
Semoga saja setelah pengalaman ber-KRL, maka para pejabat negara, anggota MPR/DPR, juga ulama dan Kiai tidak asal ‘jeplak mulut’ lagi, karena sudah merasakan langsung nikmatnya naik kereta ikan teri. Dan semoga mereka tidak hanya teriak-teriak untuk membangun SUBWAY demi kantong mereka yang sudah tebal, tetapi demi kelancaran perhubungan yang sebenarnya bukan perhubungan XXX. Agar kebocoran tidak terjadi, baik di lorong SUBWAY maupun saat membangun projek ini. Agar tabrakan antar KA tidak terjadi dalam lorong SUBWAY, apalagi tabrakan punggung dengan bemper wanita atau si Otong dengan bokong si mbok yang bahenol.
Jakarta, 6 Agustus 1996 / 22 Mei 2000 / di blog: 8 Juni 2009
Ttd
Mas Bei
* * *
Nama samaran saya selama ini: Bambang Bakti dan mas Bei.
Saat di Jerman, sebagai editor majalah PPI-pusat dan sebagai penulis saya menuliskan: ‘bei mas Bambang’ lalu dibalik jadi ‘bambang mas bei’ sejak itu saya menuliskan ‘mas Bei’ di dalam beberapa tulisan saya. Terutama pada tulisan ‘Kemis-Kemis: Nogodino Suharto’, dan ‘Keris Songsong Majapahit: Mega sulit dihubungi rakyat kecil’. Untuk kedua tulisan ini, harap sabar, saya tidak mau cepat-cepat melepasnya.
* * *
Jakarta, 6 Mei 2015: Saya menulis surat itu pada tahun 1996, mengirimkan ke media pada 22 Mei 2000, memasang di blog pada 8 Juni 2009. Waktu itu belum ada gerbong khusus wanita. Mungkin setelah surat itu sampai ke media, baru ada pemikiran untuk memisahkan penumpang.

