078 Kerusakan Lingkungan dan Kesehatan

078 Kerusakan Lingkungan dan Kesehatan

27 Desember 2014

Suhu udara terasa begitu panas, hujan turun tak tepat waktu, kekeringan dan kebanjiran silih berganti, longsor terjadi di banyak tempat, bukan hanya di Indonesia, begitu juga banjir besar juga terjadi di mancanegara. Iklim tak menentu, berubah rubah tak sesuai jadwal, Natal tak bersalju terjadi tahun ini (2014), baru tanggal 26 Desember 2014 turun salju. Daerah yang sebenarnya tidak pernah turun salju malah mendapatkan kiriman salju. Cuaca dingin extrim terjadi di beberapa tempat menjelang musim dingin, serangan udara panas sampai 40 derajat menyerang Eropa di musim panas, musim panas menjadi lebih panjang . . .

Musim panas yang lebih panjang, suhu udara panas itu tidak hanya menjadi beban bagi sebagian orang Eropa, karena disana tidak banyak yang memasang sistem pendingin udara, tetapi bahaya serangan nyamuk menjadi lebih besar. Nyamuk punya waktu lebih panjang untuk mengembara ke Eropa bagian utara, saat bertemu dengan warga pembawa (trager) virus Dengue atau virus Chikungunya maka nyamuk mendapatkan pasokan virus untuk disebarluaskan.

Seorang trager adalah orang yang pernah berwisata ke negara tropis dan pernah menjadi korban ‘gigitan’ nyamuk tetapi tidak langsung jatuh sakit, dia hanya menjadi media pengembang biakan saja. Kemudian dia pulang ke negerinya, dan saat dia digigit nyamuk yang tepat, berpindahlah virus itu ke nyamuk itu, tersebarlah virus itu.

Pencemaran alam (lingkungan) telah terjadi dimana mana, banyak orang tidak peduli akan kerusakan (pengrusakan) alam yang terjadi, bencana alam terjadi dimana mana, banjir, longsor, angin topan (tornado), air dan tanaman tercemar berbagai unsur dan bakteri, penyakit karena pencemaran air dan tanaman terjadi tidak hanya di negara berkembang tetapi juga melanda negara maju. Selain itu ada rekayasa genetik dari tanaman yang disiapkan sebagai bahan pangan ternyata tidak hanya tanaman itu saja yang berubah genetikanya tetapi berikut dengan bakteri yang ada di tanaman itu ikut berubah, menjadi lebih ganas, lebih kuat terhadap obat anti bakteri.

* South Asia landslides ‘on the rise’
By Navin Singh Khadka Environment reporter, BBC News.
Sumber: http://www.bbc.com/news/science-environment-18872398

* World’s Most Extreme Weather Events So Far in 2014.
By Jon Erdman. Published Feb 28 2014 02:24 PM EST weather.com
Sumber: http://www.weather.com/science/news/2014-world-extreme-weather-events-20140226#/1

  • Indonesia punya banyak bencana, bergilir dari satu daerah ke daerah lainnya, silih berganti, dari kebanjiran, tanah longsor, angin puting beliung, gempa bumi, gunung meletus, dst. Frekuensi bencana semakin tinggi, karena kerusakan alam. Data tentang bencana banyak disediakan berbagai media, tetapi tidak jelas berapa yang besaran yang paling benar. Berita atau artikel tentang bencana bisa dilihat di internet. Jelas bukan karena alam ingin membuat susah manusia, tetapi manusia yang tidak menjaga alam – lingkungan.
  • Serangan angin topan, tornado, puting beliung di Amerika terlihat semakin sering dan semakin tinggi daya rusaknya. Keseimbangan alam terjadi, penyeimbang antara kerusakan yang disebabkan oleh manusia dibalas dengan kerusakan yang disebabkan oleh alam.

Mungkin di Amerika atau Eropa tidak terjadi pengrusakan alam separah yang ada di khatulistiwa, tetapi perusahaan perusahaan dari negeri Alien itu telah menyumbang pengrusakan alam di Indonesia, mereka menyedot kekayaan alam Indonesia, merusak dan tidak berusaha memperbaikinya kembali. Keseimbangan telah diusahakan oleh alam itu sendiri. Mungkin inilah rahasia alam semesta. Orang Jawa bilang: ‘Ketulah’, orang Hindu bilang itu ‘Karma – Darma’. Lebih parah lagi, mereka cuma memberikan bangsa negara Indonesia bagian dalam bentuk Royalti yang besarnya cuma 1% dan sudah berjalan selama 40 tahun lebih, itupun tak terbayarkan!

Dengan ‘pemberian’ bagian berjudul Royalti sebesar 1% selama 40 tahun lebih dan tidak terbayarkan itu, telah membawa penderitaan bagi rakyat Indonesia sebagai pemilik kekayaan alam itu. Penderitaan selama 40 tahun lebih itu pasti membawa dampak buruk kepada alam lingkungan Indonesia, rakyat berusaha mengolah tanah dengan cara cara yang kasar, mereka berusaha mendapatkan hasil bumi sebesar besarnya tanpa pertimbangan keseimbangan alam, ditambah lagi ada banyak pengusaha negeri asing lainnya yang mendapatkan hak konsesi untuk merubah jutaan hektar hutan heterogen menjadi perkebunan monokultur, mereka membabat hutan dengan kasar secepat cepatnya agar bisa segera menanami lahan itu dengan tanaman monokultur agar sesegera mungkin mendapatkan keuntungan dari perkebunan mereka, jadi mereka melakukan penebangan dan pembakaran hutan sesuka hati mereka. Lihat juga para kolaborator yang bekerja sama dengan para pengusaha Alien itu, mereka menjadi pemilik lahan dimana mana, mereka hanya sekedar ingin mencuci uang haram mereka, menukarkan uang komisi itu dengan berbagai bidang tanah, tapi tidak mereka pelihara, mereka membangun villa villa di daerah peresapan air, mereka tutup tanah untuk resapan air itu dengan betonan bangunan yang luas.

Rakyat berusaha mencari kesempatan bercocok tanam di setiap lokasi yang ada, hutan, bukit dan lereng gunung mereka jadikan lahan bercocok tanam, pohon pohon besar mereka tebang, dan jelas hasil akhirnya bisa kita lihat belakangan ini temperatur naik dan naik terus, hujan salah waktu, kekeringan terjadi karena air tidak diresapkan di gunung yang gundul, banjir pun merebak kemana mana karena air hujan tidak ditahan di bagian hulu, tanah di gunung sudah tidak bisa menahan air karena gundul, air turun tidak bisa meresap, akhirnya berkumpul di tempat yang lebih rendah menjadi banjir.

Kenaikan temperatur di khatulistiwa 1 derajad bisa berdampak kenaikan yang lebih tinggi di bagian utara khatulistiwa dan di bagian selatan khatulistiwa, 1 derajad di khatulistiwa bisa menambah beberapa derajad di bagian yang lebih ke utara atau ke selatan, semakin ke utara dan semakin ke selatan kenaikan akan semakin tinggi. Lihatlah kondisi musim panas di Eropa yang bisa mencapai 40 derajad (di tahun 2003!) dengan korban 14,802 orang akibat serangan panas di Perancis.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Gelombang_panas_Eropa_2003

Ada banyak tulisan mengenai dampak kenaikan temperatur bumi, dan itu bermula di khatulistiwa! Kenaikan 1 derajad di khatulistiwa bisa menambah beberapa derajad panas di bagian utara khatulistiwa, dan terus ke atas bisa bertambah menjadi belasan derajad. Dengan kenaikan temperatur bumi, terjadi peningkatan bermacam bencana di mancanegara, benua es di kutub mencair, terjadilah kenaikan permukaan laut, ada banyak pulau yang tergenang air laut, ada negara pulau yang terpaksa ditinggalkan karena sudah tertutup air laut, banyak kekeringan, banyak gagal panen, dlsb. Begitu banyak permasalahan muncul karena global warming.

http://saveourearth10.blogspot.com/2009/10/efek-global-warming-pada-cuaca-dunia.html
http://gogreenindonesia.blogspot.com/2008_12_01_archive.html
Ada banyak sekali artikel, tulisan terkait global warming, terkait kenaikan suhu bumi, jadi tidak perlu dibeberkan lagi, silahkan baca di internet, Anda tidak akan kekurangan bahan bacaan.

Jadi, soal bisa hidup itu bukan lagi masalah sehat atau sakit, bukan hanya terkait dengan penyakit, atau obat dan pengobatan belaka, tetapi terkait juga dengan keadaan alam lingkungan yang sudah rusak belakangan ini. Udara panas, serangan udara panas telah membunuh banyak orang orang tua di Perancis karena dehidrasi, karena mereka tidak terbiasa dengan udara yang begitu panas dan datang tiba tiba. Kalau di negara seperti Perancis, kondisi itu bisa didokumentasikan, berapa korban meninggal yang secara langsung terkait kondisi serangan panas bisa ditampilkan, mereka membuat dokumentasi yang rinci tentang berbagai keadaan, tetapi di negeri seperti Indonesia, tentu saja kematian seseorang yang ada entah dimana tidak akan dicatat, tidak didokumentasikan dengan rinci, berapakah orang yang telah meninggal karena perubahan cuaca itu? Pasti tidak ada yang akan bisa menjawab. Kalaupun ada beberapa sumber berita, tidak ada gambaran pasti mengenai jumlah kejadian, jumlah korban. Lihatlah soal jumlah bencana di tahun 2014, ada yang menulis sekitar 120-an kali dalam setahun, ada yang menulis 200-an kali, ada yang menulis 300-an kali . . . entah yang mana yang paling benar. Itulah adanya.

Kenapa bisa begitu?

Selama ini yang diurus memang cuma kartu, kartu dan kartu. Soal keabsahan suatu kartu, itu tidak jadi hal yang penting, suruh saja seseorang membawa berbagai kartu sekaligus untuk menampilkan identitas orang itu. Yang mana paling valid, entah!?

Mau bukti, coba saja pergi mengurus hal formal, kita pasti diminta membawa fotocopy KTP, fotocopy KK, surat pengantar RT, surat pengantar RW, surat pengantar Kelurahan, bahkan ada juga yang minta surat keterangan berkelakuan baik dari aparat keamanan setempat, bahwa kita tidak tersangkut ini atau itu atau itu yang lain. Semua amburadul adanya. Itu nyata!!!

Jadi, kematian seorang TKI di luar negeri bisa saja tidak terlacak, dimana orang itu bertempat tinggal di Indonesia, karena semua surat surat yang dimiliki orang itu cuma ASPAL, asli tapi juga palsu. Ada yang masih dibawah umur dikatakan sudah cukup umur, ada yang menggunakan nama dan keterangan identitas orang lain bahkan paspor orang lain agar bisa pergi bekerja ke luar negeri.

Semua menjadi abu abu, gelap, samar samar, tak jelas. Itulah adanya!

Mereka lebih suka mengurus kartu kartu itu, karena ada kepeng disitu, ada komisi disitu, soal rakyat itu hidup atau mati, sakit atau sehat, punya pekerjaan atau cuma pengangguran, dlsb itu tidak menjadi pemikiran para pamong selama ini. Cuma kartu, kartu dan kartu saja!

Tanaman Oko-bio, Organik dan Anorganik

Hidup rakyat kecil sudah terpuruk, mereka berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan hasil dari berbagai kegiatan mereka. Sebagai petani, untuk bisa mendapatkan untung sangat sulit, ada begitu banyak mafia yang ikut bermain, mafia bibit, mafia pupuk, mafia distribusi, dlsb. Untuk bisa mendapatkan pinjaman sangat sulit, mereka terjerat mafia kredit.

Lahan pertanian yang ada harus digenjot agar menghasilkan panen yang maksimal. Untuk itu mereka menggunakan berbagai cara, termasuk menggunakan insektisida, pestisida, herbisida agar mendapatkan hasil yang maksimal. Soal kemudian hasil panen itu tercemar bahan bahan kimia, tidak menjadi perhatian mereka, mereka tidak peduli akan hal itu, yang penting mereka bisa terus bercocok tanam.

Racun sudah diserap oleh berbagai hasil bumi, kemudian hasil bumi itu didistribusikan, dijual ke pasar, ke supermarket, dlsb. Sebagian hasil pertanian, perkebunan dan peternakan yang cepat rusak (busuk) akan diberi bahan pengawet, tentu dicari yang paling gampang diperoleh dan paling murah, dipakailah borax dan formalin (pengawet mayat). Bertambahlah racun itu.

Sebagian racun pengawet sudah ditebar saat hasil bumi itu akan masuk jalur distribusi, sebagian lagi ditebar di lokasi pengecer atau penjualan, di toko ataupun supermarket besar hal ini bisa terjadi. Bertambah lagi racun yang dikandung hasil bumi itu. Kemudian hasil bumi itu disimpan di lemari pendingin, ditambahkan atau tidak sengaja mendapatkan salmonela.

Lalu hasil bumi itu diproses di warung makan, di restoran, ditambahkan lagi pengawet lain, ditambahkan penyedap artificial, pewarna artificial, rasa dan wangi artificial. Ada yang digoreng dengan minyak bekas, ada yang digoreng dengan oli, ada yang ditambahkan plastik kedalam minyak goreng . . . dst . . . dst. Jangan lupa, bahan-bahan kadaluarsa dan bahan-bahan yang kotor juga ikut dimasukkan kedalam proses persiapan makanan, tidak dibersihkan dengan benar, bahan beku tidak dicairkan dan dicuci dengan benar. Lengkaplah sudah . . .

Sadarkah kita akan kemungkinan itu!?

Itulah yang terjadi setiap detik dalam kehidupan kita saat ini, yang satu meracuni yang lain!

Bagaimana kita bisa sehat!?

Lebih lanjut, bisakah kita mendapatkan makanan yang sehat, dengan kondisi pertanian, perkebunan dan peternakan yang tidak memikirkan kemaslahatan orang banyak yang hanya berusaha mendapatkan hasil yang maksimal dengan menggunakan berbagai racun untuk menggenjot hasil produksi mereka?

Bagaimana dengan bermacam racun yang telah dicampurkan, baik di sisi produsen, di sisi distribusi, di sisi penjualan, di sisi prosesing makanan, dlsb itu?

Rakyat kecil (petani, peternak, dll) terpaksa menempuh jalur salah karena tidak ada perhatian dari para pamong. Para pamong hanya sibuk mengurus kartu, kartu dan kartu. Sebagian pamong di tingkat tertinggi malah cuma jadi kolaborator pengusaha dari negeri Alien, mereka menjadi anggota arisan – bancakan hasil komisi dari kolaborasi itu. Bahkan para anggota dan ketua partai partai berlambang agama berperilaku sangat jauh dari keagamaan mereka, mereka hanya sibuk mencari kesempatan untuk naik menjadi ketua arisan – bancakan itu. Mereka sibuk menyembunyikan harta mereka dengan berbagi skenario, antara lain dengan membuat segala sesuatu yang bisa dibuat sulit semakin menjadi lebih sulit, segala yang mudah dibuat sulit, yang sederhana dibuat jadi rumit, yang murah dibuat menjadi mahal, yang seharusnya bisa langsung jadi dibuat menjadi berbelit belit. Yang penting agar rakyat sibuk dengan berbagai kartu, kartu dan kartu itu.

Ada yang menikah siri di berbagai tempat atau punya banyak istri simpanan, menjadikan istri istri siri/simpanan itu sebagai celengan, tempat menyembunyikan uang dan harta haram mereka.

Sehat dengan makanan sehat

Bagaimana mungkin bisa hidup sehat, kalau makanan yang tersedia saat ini sudah begitu tercemar dengan berbagai racun yang ada, yang sengaja dimasukkan kedalam bahan makanan dalam berbagai linie kegiatan produksi bahan pangan sampai kegiatan persiapan masakan siap saji.

Tidak mudah mendapatkan bahan makanan yang benar benar diproses dengan cara bebas racun, yang biasa disebut bahan Okologi atau Bio-product, karena untuk menghasilkan bahan pangan yang bebas racun itu perlu biaya tinggi. Jangankan di Indonesia, di Jerman saja yang sudah begitu maju, cukup sulit untuk bisa bertahan sebagai petani/peternak Okologi (Bio-product) itu.

Lihatlah bagaimana 50% peserta konsultasi masalah sulit ereksi adalah pria di umur 20 – 30 tahun (Penthouse Jerman, September 2007), itu jelas akibat makanan mereka yang tidak sehat, ditambah dengan gaya hidup modern yang membuat jiwa mereka tertekan. Kalau di negara maju saja sudah begitu parah, bagaimana dengan kita di Indonesia? Tapi maaf, di Indonesia tidak ada survey untuk itu . . . karena memang para pamong tidak peduli akan hal ini, mereka masih sibuk mengurus kartu, kartu dan kartunya saja.

Kerusakan alam, lingkungan telah berdampak kepada kehidupan rakyat secara langsung dan tidak langsung. Alam yang menjadi lebih pelit dalam memberikan hasil panen perlu digenjot dengan tebaran racun dimana mana. Masa tanam yang menjadi lebih pendek atau jadwal masa tanam yang tidak jelas karena perubahan musim penghujan dan masa kering, ditambah dengan datangnya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kering itu, menambah kesulitan petani, mereka terpaksa mengakali dengan menggenjot hasil panen dengan tebaran racun. Jadilah bahan pangan kita penuh dengan berbagai racun insektisida, pestisida dan herbisida di hulu produksi bahan pangan, ditambah lagi dengan bahan pengawet, kemudian penyedap artificial, pewarna artificial, dlsb . . . jadilah makanan kita penuh dengan toxin, posion, dan dirt!

Sehat dengan kegiatan fisik

Sehat itu bukan sekedar tidak sakit. Untuk bisa sehat bukan sekedar mendapatkan kesempatan untuk bisa berkunjung ke PUSKESMAS tanpa biaya, atau sekedar bisa mendapatkan kesempatan rawat inap di rumah sakit, tetapi sehat itu juga termasuk bagaimana badan, pikiran, kegiatan warga itu bisa sehat, bisa mendapatkan kesempatan berolahraga, bisa melakukan kegiatan luar rumah dengan leluasa, bisa menjalankan silaturahmi antar warga setiap saat di tempat dan ruang yang sesuai … apakah kesempatan untuk ber-sehat tersebut tersedia saat ini?

Rakyat akan diberikan jaminan kesehatan, tetapi rakyat tidak bisa berolahraga di tempat yang layak, mereka mencoba berolahraga di jalanan. Rakyat terpaksa mencari tempat untuk bersilaturahmi di mall, di pusat perbelanjaan, di pinggir jalan yang berdebu, bahkan belakangan banyak warga berpasang-pasangan duduk-duduk di atas motor mereka di atas jembatan layang, karena hanya tempat itulah yang masih gratis, sementara di tempat lain mereka harus membayar biaya parkir. Di jembatan itu tidak ada yang melarang mereka untuk duduk bercengkrama, tidak ada yang peduli dengan keberadaan mereka disana.

Saya melihat di beberapa sudut ibukota, anak-anak berkumpul di jalan, di tengah jalan, mereka mencoba untuk bermain bola, berlari-larian di jalanan ramai, dan sering juga saya melihat mereka memblokade jalan umum pada hari-hari tertentu, pada malam malam tertentu seperti di akhir pekan agar mereka bisa mendapatkan ruang untuk bermain dan berolahraga. Mereka tidak punya ruang (lahan) yang memang khusus dipersiapkan bagi mereka, tidak punya ruang aman bagi mereka untuk bermain. Yang ada jalanan yang keras dan tidak aman bagi mereka, dan mereka sudah dibiasakan untuk menjadi penguasa jalanan agar mereka bisa bermain dan berolahraga.

Ketiadaan ruang bermain yang aman, ruang silaturahmi yang nyaman, tempat berolahraga yang bebas dari bahaya, bukan saja menghalangi kesempatan warga untuk bisa sehat dengan olah tubuh, tetapi sekaligus mengancam mental dan moral anak-anak generasi penerus bangsa dengan kegiatan menguasai jalanan, latihan menutup jalan umum menjadi tempat mereka bermain dan berolahraga, mereka tidak peduli akan keselamatan dirinya ataupun orang lain, mereka tidak peduli bahwa itu adalah sarana umum, bukan milik pribadi, mereka tidak peduli akan keberadaan orang lain, mereka berani mengusir pengendara atau pejalan kaki, bahkan kadang mereka sengaja melakukan penghalangan orang yang akan lewat, kemudian belajar mengganggu wanita yang lewat disitu, dst.

Kalau anak-anak sudah dibiasakan semau gue di jalanan, maka anak-anak akan menjadi anak jalanan, sedari kecil belajar keras, belajar acuh, belajar mengganggu, belajar kurang ajar kepada orang lain, dst.

Para pamong telah menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat dengan membiarkan pembangunan wilayah mereka tanpa memikirkan kebutuhan warga untuk melakukan olah tubuh, untuk berolahraga, untuk bersilaturahmi, untuk belajar etika, belajar mengatur emosi, belajar fair (sportifitas), belajar menerima kekalahan . . . semua wilayah telah dibiarkan dibeton, dibangun habis, tidak disisakan ruang ruang untuk berolahraga, bersilaturahmi, beristirahat, dlsb. Selain tidak tersedianya ruang ruang tersebut diatas, juga tidak ada lagi ruang penyerapan air hujan, karena ijin pembangunan telah diberikan kepada para pemilik modal untuk membangun seluas luasnya, menjual setiap jengkal tanah yang telah dibeton habis. Para pamong tidak peduli kepada alam dan lingkungan, yang penting mereka bisa terus menjual kartu, kartu dan kartu (surat ijin mendirikan bangunan) tanpa persyaratan penyerapan air hujan, tanpa ruang hijau pertukaran udara, CO2 dengan O2. Lihatlah, hujan satu jam saja sudah begitu banyak genangan air dimana mana, lalulintas tidak bergerak karena terhalang genangan air. Berapa kerugian karena pembakaran bahan bakar di jalanan yang macet itu?

Belum lagi kita membahas soal transportasi umum dan polusi udara akibat permainan kartu para pamong, mereka hanya mengejar penjualan kartu ijin trayek, sebanyak banyaknya dan mahal, yang akhirnya menjadikan sistem transportasi itu amburadul, semua saling balap membalap, saling silang di jalanan, saling seruduk, ngebut semau gue, berhenti di tempat berbahaya (bagi penumpang), membuat macet dengan ngetem di sembarang tempat, di tempat dilarang stop, di tempat dilarang parkir bahkan di ujung perempatan jalan. Hal ini dibahas di buku pertama seri Menuju Revolusi Mental, “Yang Di Depan Menjadi Panutan”.

Logam berat yang ada di udara berpolusi itu menghambat perkembangan otak anak. Polusi merusak kesehatan, dan sistem jualan kartu ijin trayek itu secara langsung dan tidak langsung telah ikut merusak mental dan moral anak-anak generasi penerus bangsa!

Leave a Reply