ISLAM: KARTUN PENGHINAAN: MULTILEVEL PENGHINAAN

Tulisan ini dibuat di bulan Februari 2006, untuk menjawab permasalahan ‘KARTUN PENGHINAAN NABI’, yang waktu itu telah menimbulkan banyak kerusuhan di berbagai negara, dan jelas menimbulkan keresahan di Indonesia, karena adanya aksi-aksi kekerasan, sweeping orang-orang asing, dlsb. Memang sengaja tulisan ini dibuat setelah keresahan dan kerusuhan berjalan kurang-lebih 3 bulan, dan berbagai ucapan para tokoh, pimpinan negara, pimpinan agama, bahkan MUI dan ICMI sudah keluar yang intinya mereka ingin melakukan tindakan terhadap orang dan negara yang dianggap bertanggung jawab atas kartun itu.

Tulisan ini saya kirim ke berbagai media massa, kepada tokoh-tokoh berbagai agama, lembaga, partai, LSM, dll. Tulisan ini kemudian dibicarakan di satu lembaga Islam di Jawa Timur, kemudian diterjemahkan ke beberapa bahasa mancanegara, dan disebar-luaskan sampai ke luar negeri.

===============================================

KARTUN PENGHINAAN

Bayangkan saat Anda melihat lembaran ‘kartun penghinaan’ yang ditunjukkan oleh seorang teman. Apa yang Anda lakukan saat itu?
Apakah Anda akan menerima lembaran itu, kemudian membuat  fotocopy beberapa lembar dan menunjukkan kepada teman yang lain, memberikan selembar fotocopy kartun itu kepada setiap teman? Ataukah Anda akan menolaknya, bagaimana?

Bukankah dengan menyimpan lembaran itu berarti kita menerima hinaannya, apalagi kalau kita ikut membuat berlembar-lembar fotocopy, menunjukkan dan memberikan kepada orang lain, bukankah berarti kita ikut menjadi sumber penghinaan itu sendiri?

Bayangkan juga bila Anda adalah orang ketiga, sedangkan si teman adalah orang kedua yang membuat fotocopynya, kemudian Anda langsung marah kepada si teman karena telah menyebarluaskan penghinaan itu. Anda langsung merobek-robek lembaran-lembaran kartun itu sehingga si teman tidak bisa menyebar-luaskannya. Kalau Anda langsung menghentikan kegiatan si teman itu maka berhentilah penghinaan itu!! Penghinaan itu tidak akan berlanjut dari orang kedua kepada orang ketiga dst, tidak akan meluas ke seantero pelosok dunia. Maka berhentilah hinaannya.

MLP: MULTI LEVEL PENGHINAAN
Lihatlah sekarang, betapa banyak orang yang bergabung marah-marah kepada orang lain (orang Denmark, Eropa, Amerika) sebagai penghina orang yang kita cintai. Berapa banyak orang yang telah bergabung menjadi sumber-sumber penghinaan? Bukankah ini seperti MLP, Multi Level Penghinaan, dimana orang yang berada di suatu tingkatan menyebarkan penghinaan kepada orang-orang baru yang akan menjadi kaki-kaki baru dalam MLP yang kemudian memperbanyak lembaran-lembaran penghinaan dan melanjutkan proses penghinaan.

Lucunya, orang-orang yang berada paling bawah marah-marah kepada orang-orang paling atas dalam tingkatan MLP, kepada si pembuat kartun yang berada di Denmark sana!, kepada kedutaan negara-negara Eropa, Amerika? Melakukan kekerasaan kepada orang-orang yang bahkan tidak ada kaitannya dengan MLP itu sendiri, melakukan sweeping orang-orang yang tidak tahu-menahu, melakukan pengrusakan kantor-kantor kedutaan negara-negara yang mungkin tidak ikutan dalam MLP itu.

Sebenarnya yang menghina adalah banyak orang yang sudah berada dalam berbagai tingkatan MLP itu, mungkin teman-teman kita sendiri, bahkan mungkin ulama, politikus, tokoh negara, dan begitu banyak lagi orang di berbagai negara di dunia yang telah masuk kedalam MLP itu, mereka semua telah menyimpan dan menyebar-luaskan penghinaan itu. Seharusnya kita harus marah kepada setiap orang yang telah masuk kedalam MLP yang bebas iuran keanggotaan itu.

SUDAH TAHU TIDAK BAIK, KOK DISIMPAN dan DISEBAR-LUASKAN
Bersukurlah saya tidak pernah melihat, menerima lembaran itu, saya tidak perlu marah karenanya. Kalaupun ada seorang teman yang mencoba memperlihatkan lembaran itu, saya akan marah besar kepada si teman itu, langsung merebut semua lembaran yang dia miliki, tanpa perlu melihatnya, dan langsung merobek-robek lembaran-lembaran itu didepan dia, sambil mengatakan : “GOBLOK, sudah tahu penghinaan malah disimpan dan disebar-luaskan!”

Betapa bodohnya banyak orang yang telah dengan sengaja terus membuat berlembar-lembar fotocopy penghinaan itu dan terus menyebar-luaskannya.

Betapa bodohnya banyak orang yang terus-menerus marah kepada kedutaan dan negara Denmark, kepada negara-negara Eropa ataupun Amerika sebagai orang-orang yang menghina orang yang kita cintai sementara kita biarkan teman-teman kita sendiri terus menyebar-luaskan penghinaan itu! Seharusnya kita marah lebih keras kepada sang teman yang telah dengan sengaja menyimpan, memfotocopy, membagi-bagikan lembaran-lembaran penghinaan itu, sama seperti kemarahan kita kepada kedutaan/negara Denmark, kepada kedutaan-kedutaan negara Eropa ataupun Amerika. Mungkin rumah si teman penyebar-luas harus dirusak seperti orang-orang merusak kedutaan-kedutaan itu, karena si teman sudah pula ikut dalam MLP! Mungkin perlu sweeping bagi anggota MLP!

Bagaimana sikap pemerintah Indonesia dalam hal ini?
Pemerintah seharusnya segera mengeluarkan ketentuan untuk menangkap dan menghukum seberat-beratnya setiap orang yang dengan sengaja memperbanyak lembaran-lembaran itu dan apalagi menyebar-luaskannya sebagai usaha pengacauan keamanan negara!

Apa yang seharusnya Anda lakukan?
Marahlah kepada setiap orang yang dengan sengaja membawa dan menyebar-luaskan penghinaan itu, apakah dia seorang teman dekat, ulama, politikus, tokoh negara sekalipun, karena mereka adalah orang-orang bodoh yang telah menerima penghinaan itu yang diperlihatkan dengan sikap mereka: menyimpan dan menyebar-luaskannya.

Cobalah kita telaah lebih dalam, apakah perlu penghinaan itu disebarluaskan, ataupun marah-marah kepada orang yang berada di tingkatan paling atas dari MLP, sementara banyak orang malah terus bergabung menjadi kaki-kaki MLP dalam penghinaan orang yang kita cintai. Hentikanlah penghinaan itu! Jangan sebarkan, robeklah lembaran-lembaran itu, buang, bakar.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pencerahan bagi kita semua agar tidak terlibat secara langsung dan tidak langsung dalam penghinaan itu.

Jakarta, 22 Februari 2006

Ttd

Bambang Subaktyo
alamat & no HP sudah saya hapus!

=================================================

Dalam waktu 10 hari, semua mereda, baik di Indonesia maupun manca-negara. Semua diam seribu bahasa, seakan-akan tak pernah satu kata pun tentang kartun penghinaan pernah keluar dari mulut mereka: para tokoh agama, pemimpin negara dll.

SIAPA SIH YANG MAU  JADI ORANG GOBLOK, sudah menyimpan, memperbanyak (memfotocopy), menyebar-luaskan. DIAM ADALAH EMAS, begitu kira-kira pikiran mereka, daripada dikatakan GOBLOK, IYA KAN!?

Leave a Reply