037 GAJAH VS SEMUT / KUTU
27 Agustus 2012
Beberapa hari belakangan ini terdengar istilah semut akan melawan kelompok gajah. Tidak lazim kalau semut akan dikeroyok sekawanan gajah, biasanya seekor gajah yang dikeroyok kelompok semut. Tetapi inilah yang terjadi.
Semut-semut yang melihat keadaan ini merasa terpanggil untuk menghimpun kekuatan melawan kelompok gajah.
Kita pasti ingat akan sebuah PERIBAHASA lama: ‘GAJAH di PELUPUK MATA tak tampak, KUTU di SEBERANG LAUTAN tampak’, yang artinya: ‘kesalahan/permasalahan besar yang ada di diri (depan) kita tidak terlihat sementara kesalahan orang lain yang tidak berarti jelas terlihat atau malah dibesar-besarkan’ atau ‘kita selalu membesar-besarkan kesalahan orang lain sementara kita berusaha menghilangkan kesalahan yang kita miliki’.
Kalau kita anggap Jakarta sebagai sebuah lingkaran yang penuh dengan gajah, maka gajah-gajah itu tidak akan bisa melihat tanah yang mereka pijak, karena badan seekor gajah yang satu akan menutupi mata gajah yang lain. Gajah-gajah itu tidak akan bisa melihat apa yang terjadi dengan tanah yang mereka pijak, karena mereka tidak melihat ataupun memang tidak peduli lagi dengan apapun yang ada diatas tanah/lingkaran itu. Gajah-gajah itu terus berkutat bagaimana bisa mempertahankan kegendutan badan mereka. Mereka sudah mencapai tahap ‘BISA’, mereka sudah begitu lama ‘BIASA’ dengan tingkah laku penggendutan badan mereka, lama-kelamaan menjadi ‘TERBIASA’ dengan perilaku penggendutan diri sendiri, sampai satu saat mereka mencapai tahap ‘BISA’ menerima tingkah laku egois bersama itu sebagai ‘BUDAYA’ bersama, ‘BISA’ melupakan kehidupan mahluk lain, bisa semut, manusia ataupun alam semesta. Nah kalau sudah sampai tahapan ‘BISA’ ini dan terus diLANJUTKAN-diLANJUTKAN terus, maka segala kesalahan besar (GAJAH) yang ada didalam kehidupan mereka pasti tidak akan pernah terlihat.
Belum lagi kalau kita kaitkan dengan peribahasa: ‘alah bisa karena biasa’ atau peribahasa jawa: ‘tresno jalaran saka kulino’. Dengan demikian para gajah itu tidak akan tahu ataupun sadar akan berbagai kesalahan yang sudah berjalan lama di dalam lingkarannya selama ini, karena sudah mencapai tahap ‘BISA’ dengan penuh kesadaran. Segala yang tidak normal tetapi telah berjalan lama itu sudah dianggap normal, persepsi sudah terbentuk menerima keadaan yang tidak normal sebagai normal, ‘TRESNO’ akan keadaan tidak normal itu sudah terbentuk karena faktor waktu, faktor kejadian yang berkepanjangan. Tidak terlepas kemungkinan keadaan tidak normal diterima sebagai normal itu merupakan strategi untuk menggendutkan badan para gajah.
Apa saja keadaan tidak normal yang telah menjadi ‘BISA dan TRESNO’ itu?
- Lihatlah ada berapa ZEBRA-CROSS yang benar-benar untuk zebra menyeberang jalan, bukan untuk manusia! Zebra cross adalah rangkaian garis-garis putih di tengah jalan yang menghubungkan satu sisi jalan ke sisi lain di seberang jalan. Tetapi di tengah-tengah, di median pemisah jalan itu ada taman, ada rumput, ada tanaman yang sekiranya memang untuk zebra bisa makan rumput atau tanaman. Atau malah ada pagarnya sekalian, agar zebra bisa bermain lompat-lompatan disitu … jadi bukan untuk manusia menyeberang kan!?
- Lihatlah, bagaimana kendaraan roda 2, roda 4 atau lebih bisa berhenti berlama-lama persis di jalanan yang dipenuhi rambu dilarang parkir atau bahkan didekat rambu dilarang berhenti (STOP). Hal ini sudah berjalan lama sehingga muncullah ‘TRESNO jalaran saka kulino’ itu. Sudah tidak salah lagi deh.
- Lihatlah, bagaimana moda transportasi baru dibuat, dijalankan, tetapi moda transportasi ini tidak menggantikan moda transportasi yang ada (meREPLACE sebagian yang ada), tetapi menjadi tambahan moda baru. Karena sayang kalau izin-izin trayek itu hilang kalau kita menggunakan sistem REPLACE, iya kan!? Kemungkinan rancangan MRT yang akan segera dilaksanakan itu juga tidak menggunakan pemikiran sistem REPLACE tetapi tetap sebagai tambahan moda baru, yang akhirnya tidak akan mengurangi kepadatan arus lalulintas. Kemungkinan terburuk, memang kepadatan harus tetap ada agar sebagian anggota masyarakat mau berpindah ke moda transportasi yang baru. Jadi jumlah kendaraan umum itu harus tetap seperti apa adanya, 1) karena sayang menghilangkan izin trayek yang sudah berjalan lama (sebagai pemasukan kan!?), dan 2) tentu agar jalan tetap padat yang memaksa seseorang mau naik moda transportasi baru yang memiliki keistimewaan itu.
- Lihatlah ada banyak trotoar yang berlubang besar, dimana dibawahnya ada saluran (got, sanitasi) yang cukup dalam dan lubang itu bisa ada disana selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terus dibiarkan. Para gajah tidak pernah melihat itu karena memang tidak pernah berfikir akan hal itu, tidak tahu akan bahayanya karena sudah terbiasa naik kendaraan mewah dalam kecepatan tinggi karena selalu menggunakan vor-rijder! Dan jelas karena mereka tidak pernah berjalan kaki lewat daerah berlubang itu. Masyarakat setempat sudah mencapai tahap ‘BISA’ menerima kenyataan dan keadaan itu, mereka sudah ‘tresno jalaran saka kulino’, mereka tidak menggubris lagi keberadaan lubang-lubang itu, mereka berjalan saja di jalan raya, karena kalau berjalan di trotoar malah bisa terjerembab masuk selokan yang tidak tertutup itu.
- Lihatlah rencana jalan layang Antasari ke blok M yang belum selesai dan bagaimana proyek MRT akan segera dijalankan padahal lokasinya tidak jauh dari lokasi jalan layang Antasari. Lihat juga bagaimana nasib dengan tugu-tugu MONORAIL di sepanjang jalan Rasuna Said (Kuningan) dan jalan Asia Afrika yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Rakyat sudah merasakan ketidaknyamanan selama proses pembangunan itu, tetapi tidak segera diselesaikan. Berapa uang rakyat telah dihamburkan untuk proyek-proyek itu, berapa kerugian rakyat secara materiil dan non materiil saat proyek itu berjalan dan sekarang saat proyek itu dibiarkan terbengkalai. Seharusnya ada orang atau lembaga yang disalahkan karena ketidak-becusan pelaksanaan proyek itu, karena uang rakyat telah dibuang percuma … jangan dikatakan kalau itu uang pinjaman, karena nantinya tetap akan dibayar dengan uang rakyat juga kan!?
- Lihatlah adegan rumah cantik yang sudah lama dihancurkan meski hal itu dilarang oleh undang-undang perlindungan bangunan bersejarah … sudah 8 bulan tidak jelas, apakah dikembalikan ke bentuk semula atau siapa yang bertanggung jawab akan penghancuran rumah cantik itu … atau mungkin gajah berkumis takut kepada gajah gendut yang lebih berkuasa sebagai dalang penghancuran rumah cantik itu??? Masyarakat di-nina-bobokan dalam perjalanan waktu agar mencapai tahapan ‘BISA’ menerima keadaan itu, menjadi ‘tresno jalaran saka kulino’. Lama-lama masyarakat akan lupa, begitu kan!?
Kutu/Semut Sang Pendatang Baru
Tidak demikian dengan seekor kutu yang berada diluar lingkaran, kutu itu akan dapat melihat keadaan di dalam lingkaran itu dari luar lingkaran. Kutu dengan mata baru, perasaan baru akan lebih mudah menyerap ketidak-normalan yang sudah lama dianggap normal, menyerap ketidak-benaran yang sudah lama dianggap benar, ketidak-nyamanan yang sudah lama dianggap nyaman … dst.
Kali ini, kita melihat ada kompetisi antara GAJAH melawan SEMUT atau GAJAH melawan KUTU.
Buat saya para GAJAH yang ada di pelupuk mata itu memang tidak kelihatan, yang terlihat adalah para semut (atau kutu) yang begitu rajin bekerja. Para GAJAH itu tidak terlihat karena selalu sibuk menggemukkan badan mereka yang sudah kelewat gemuk, sibuk menggelembungkan pundi-pundi kekayaan mereka, terus menumpuk karung-karung makanan, berbagi kesejahteraan di antara para gajah. Mereka tidak membantu kesejahteraan para semut, mereka terus menginjak-injak ruang hidup para semut.

