BRAINSTORMING IDEA

BRAINSTORMING IDEA
Ada begitu banyak permasalahan yang berada di sekitar kita, di dalam kehidupan setiap orang, setiap warganegara, sebagai seorang anak manusia => terutama mereka yang sedang berada di Indonesia. Karena tempat berikutnya tentu di ALAM-BAKA.

BISA karena biasa => BERSAMA KITA BISA

Kita memang sudah terbiasa dengan berbagai keadaan, situasi, kondisi, tingkah laku, sikap, cara, adat, moral, etika dari masyarakat dimana kita berada. Apakah keadaan itu menyenangkan ataupun tidak, kita menerimanya begitu saja, barangkali itu yang dikatakan pasrah, buat orang jawa dikatakan sebagai sikap NRIMO, terima saja, jalani saja. Begitupun dengan situasi, kondisi dstnya yang ada di seputar kita, sudah dianggap biasa, kita bisa menerimanya. Jadi kalau ada seseorang mengatakan ‘BERSAMA KITA BISA’ maka pernyataan itu sebenarnya biasa-biasa saja.

Kita bisa mengambil satu keadaan yang setiap hari ditemui warga kota, kota Jakarta misalnya. Kita bisa melihat dan mengalami situasi perjalanan saat ini yang macet dan macet setiap hari tanpa kenal waktu, bisa pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, bahkan di hari liburpun tidak ada pengecualian, jalanan kita bisa macet. Kenapa?

Apa penyebab kemacetan itu, apakah hanya karena ada begitu banyak kendaraan, atau karena warga lebih suka berkendaraan sendiri-sendiri memenuhi jalanan daripada naik kendaraan umum, mungkin saja warga tidak bersedia naik kendaraan umum karena kotor, tidak nyaman, pengap, apek, panas, dlsb?

Tentu sudah biasa kalau kita melihat seorang anak dari lingkungan tertentu bersekolah di lingkungan lain yang jauh dari rumahnya. Kenapa? Oh, sekolah yang dituju itu sekolah unggulan.

Kita tahu, ada warga yang tinggal di bagian kota yang satu harus pergi ke tempat kerja yang berada di sisi kota yang lain, ada yang di Depok bekerja di Mangga Dua, dari Bekasi ke Kebayoran, dari Kebun ke Cikampek, dari Bintaro ke Sunter, dst dst dlsb.

Biasa! Itu sudah biasa! Bukan barang baru! Tidak aneh! Buat apa dipikirkan!?

Contoh lain lagi, perjalanan kereta rel listrik pagi hari dari Bogor ke Jakarta dan sebaliknya di sore hari, bagaimana warga berjejalan (dijejalkan!?) dalam gerbong-gerbong kereta, bagai ikan asin dalam besek dijual di pasar, menjadi satu, himpit-himpitan, pria-wanita saling bersinggungan saling dorong menempel tanpa jarak. Dimanakah mui (huruf kecil, karena tidak berharga di mata saya) itu, kenapa mereka diam saja? Dimanakah fatwa-fatwa mereka yang sakti-sakti itu!? Kemanakah mereka selama ini, atau hanya mencari projek label halal yang berduit itu!?

Ah itu kan sudah biasa, mereka sudah terbiasa dengan keadaan itu, mereka senang dan tenang-tenang saja, dan menikmati setiap posisi yang mereka hadapi setiap hari. Saat si ‘Otong’ menempel di bokong nona manis yang tepat di mukanya, saat double bemper menempel di punggung, Asyik-masyuk, semua senang, si pria senang, si nona mungkin juga!?

Lihat lagi di situasi yang lain, pagi hari saat anak-anak berangkat sekolah, ada anak-anak SMP berkendaraan motor, tanpa helm, berboncengan bahkan bertiga. Normal-normal! Biasa aja tuh!
Kenapa dipermasalahkan!?

Nah bagaimana dengan musim penghujan, genangan air dimana-mana, banjir datang silih berganti, kadang di sisi kota yang itu, lain kali yang sono, besok di rumah kita, dst. Kenapa banjir, kenapa air hujan menggenangi jalan protokol, si presiden pun terjebak banjir, tidak masalah kok.

Kita menganggap semua itu sebagai hal yang biasa, bisa dijalani, bisa diterima. Karena sudah terbiasa, maka segala kejadian itu BISA diterima, ok-ok saja. Bahkan aparatur negara ini yang kebanyakan hidup tidak bebas korupsi, berkecukupan atau malah berkelebihan, mereka mendapatkan kehormatan dalam kehidupan masyarakat, mereka dianggap orang-orang terhormat, sebagai kelas borjuis atau malah aristokrat-ningrat. Sementara mereka yang menjalani hidup lurus dalam kekurangan, tidak berani berbuat negativ, malah mendapat julukan sebagai ‘masyarakat pembawa masalah’ diusir, ditangkap, dikirim ke lembaga anu, di buang ke daerah entah-berantah.

Kita juga menganggap itu semua biasa, kita tidak perlu mempermasalahkan hal itu. Kita bisa, bersama kita bisa.

Pada keadaan lain, dimana kita tahu bagaimana gaji aparat-aparat itu, kita lihat bagaimana mereka hidup mewah. Tapi jangan pernah sekalipun menuduh mereka korupsi! Karena tuduhan korupsi itu akan menjerat kita menjadi tertuduh dalam pencemaran nama baik, dan kita akan segera diseret hamba-hukum (atau budak-hukum), masuk penjara dengan cepat, diadili dengan segera. Jadi kalau sudah tahu akan keterbalikan hukum itu, siapa yang akan berani menuduh para aparat itu melakukan tindak korupsi. Padahal kita bisa saja melakukan dengan cara terbalik seperti mereka. Bahkan saya biasa teriak di acara interaktiv di radio: “Coba tanyakan ke SBY, apa dia beli Cikeas dengan uang gaji!?”. Adakah beliau bersedia menjawab pertanyaan itu?

Buat kebanyakan orang, ah itu sudah biasa, bisa diterima akal, bisa, bersama kita bisa.

Buat banyak orang, berbagai contoh keadaan di atas itu merupakan hal biasa. Memang buat sebagian kecil saja, seperti saya, hal-hal itu seharusnya dirubah, diperbaiki, diselesaikan, dicarikan jalan keluar yang baik, bukan malah dibiarkan saja terjadi detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun.
Apakah masyarakat sudah gila? Atau jangan-jangan masyarakat yang sudah terbiasa, bisa, ‘bersama kita bisa’ itu malah menuduh orang-orang seperti saya yang gila sendirian. Lebih konyol lagi, mereka mengatakan, kamu kan tidak ada di dalam (istilah mereka) maka bisa ngomong begini, coba kalau kamu di dalam mungkin akan lebih nekat. Logika kita sudah terbolak-balik.

Untuk mempermudah pengunjung, pengantar BRAINSTORMING ini dipisahkan dengan topik-topik yang akan saya upload di blog ini.

Satu ulasan pendek untuk masalah keseharian yang sederhana (BANJIR) yang ternyata dapat dikaitkan dengan ideologi yang paling tinggi yaitu AGAMA:

* AGAMA DAN BANJIR: PENYERAPAN AIR HUJAN VS PEMBANGUNAN KOTA
Kita bisa melihat saat berkendaraan di berbagai jalan, baik protokol maupun bukan, dimana pembangunan telah terjadi sedemikian rupa, begitu egois menutup keseluruhan lahan tanpa peduli akan air hujan yang turun, bahkan bangunan mesjidpun banyak yang dibangun sepenuh-penuhnya menutup lahan dan tidak sedikitpun menyisakan tanah untuk penyerapan. Padahal mesjid yang dibangun oleh para pemuka agama itu seharusnya menjadi percontohan bagi umatnya bagaimana memperlakukan alam-lingkungan. Kita melihat ada begitu banyak pemerkosaan atas alam-lingkungan. Seharusnya pemerintah (melalui instansi terkait) sudah menjalankan pembatasan besaran penutupan lahan, agar air hujan yang turun terserap oleh tanah, bukan malah membiarkan pembangunan itu sebegitu rakus, betonisasi seluas-luasnya, bikin gedung sebesar-besarnya tanpa memikirkan rakyat yang tinggal di daerah rendah yang akan menerima kiriman air dari penolakan sedemikian banyak pemerkosa alam-lingkungan!

Topik-topik, artikel, SMS, dll dapat dilihat di “BRAINSTORMING: TOPIK-TOPIK“

Leave a Reply