048 INDUSTRI OTOMOTIF

048 INDUSTRI OTOMOTIF

Sebetulnya saya ingin sekali menceritakan masa lalu saat saya sekolah di Stuttgart, Jerman Barat, di kota itu ada Mercedes Benz dan Porsche, tetapi ceritanya panjang dan rasanya hal ini tidak perlu dituliskan di buku ini, mungkin di kesempatan lain, satu saat nanti di buku Otobiography.

Beberapa inti utama dari tulisan industri otomotif:

  • Indonesia tidak punya masa depan di industri otomotif kendaraan penumpang,
  • sebuah proses panjang perlu dilalui dari membuat design awal sampai sebuah kendaraan itu bisa diproduksi massal,
  • kondisi pembanding: setiap produsen otomotif Jepang bisa saja dalam setahun mengeluarkan beberapa model baru, sementara produsen otomotif Jerman butuh waktu panjang untuk menghasilkan suatu produk, dari rancangan awal sampai menjadi produk jadi butuh waktu bisa 5 tahun, 10 tahun dan ada juga yang lebih dari itu atau malah batal diproduksi meski sudah beberapa tahun uji coba.

Sebuah kendaraan yang akan diproduksi akan disiapkan secara matang, selama bertahun tahun, tidak sekedar mencetak blok mesin, merubah pelat besi menjadi bagian karoserie, tidak sekedar menyambung bagian demi bagian dengan mesin las atau dengan mur dan baut, ada banyak pertimbangan lain yang perlu dijalankan:

  • uji ketahanan cuaca,
  • uji ketahanan mesin,
  • uji ketahanan perjalanan buruk,
  • uji aerodynamik untuk efisiensi dan komfort,
  • uji ketahanan dalam kecelakaan,
  • uji perbandingan produk baru itu dengan produk lain yang sejenis dari perusahaan lain (dari negara yang sama juga dari negara lain),
  • uji perbandingan teknologi yang dipasang dengan produk lain,
  • survey dan riset pemasaran, kemungkinan produk itu laku di pasaran,
  • dlsb.

Kita telah ketinggalan untuk starting, mungkin sudah ketinggalan puluhan tahun, bisa saja lebih dari dua atau tiga puluh tahun tertinggal, kita bahkan tertinggal dari negara Korea Selatan yang memproduksi mobil KIA, Hyundai itu.

Saya ingat, dulu (mungkin di tahun 1976), seorang teman (teman dari teman) mencoba membuat MORINA (mobil rakyat Indonesia), dia mencoba menggabungkan chassis kendaraan MPV sebagai dasar rancangannya, sebuah PUCH bekas perang, dengan mesin merek Morris (Inggris). Dia berhasil membangun mobil sederhana berbentuk kotak, mobil yang mungkin merupakan rancangan awal dari mobil Kijang yang kotak.

Sang teman berusaha mendapatkan izin untuk memproduksi kendaraan itu, tetapi waktu itu sang pemimpin besar melarang pembuatan kendaraan itu, tidak ada satu lembar izinpun yang berhasil dia peroleh. Mungkin ada lembaga yang terkait negara ‘saudara tua’ sumber dari berbagai produsen otomotif yang melakukan lobi-lobi ke sang pemimpin agar tidak ada usaha pembangunan kendaraan dalam negeri. Sang teman patah semangat, dan dia selanjutnya hanya berkutat di kendaraan off-road sekedar bisa dipakai untuk pergi berburu.

Selama ini, perusahaan otomotif dari negara ‘saudara tua’ itu memang memproduksi berbagai kendaraan di pabrik-pabrik yang ada di Indonesia, tetapi hanya sekedar menjadi pemain LEGO saja, hanya menjadi pemasang potongan-potongan bagian dari kendaraan. Ada rencana besar dibalik dibangunnya pabrik pabrik itu, agar mereka bisa memproduksi dengan harga yang jauh lebih murah dibanding memasukkan kendaraan itu dalam bentuk CBU (complete built up) dan memang pemerintah waktu itu menginginkan agar kendaraan dibuat di Indonesia, masuk dalam katagori CKD (complete knock down) alias masuk sebagai pretelan dan diassembling di Indonesia, bukan dirancang di Indonesia.

Kemudian ada kendaraan yang dirancang di Indonesia, yang diberi nama Kijang, yang merupakan cikal bakal semua kendaraan MPV lainnya yang ada di dunia, karena sebelumnya hanya ada kendaraan berbentuk sedan atau berbentuk jip sejenis kendaraan perang atau mobil bus pengangkut penumpang, bukan MPV yang ukurannya tidak jauh berbeda dengan sedan tapi bisa memuat banyak penumpang yang kemudian disebut mini-bus.

Seharusnya Kijang itu bisa terus diproduksi di Indonesia, apalagi setelah masa 25 tahun itu terlewati, maka bebaslah kendaraan dan teknologi yang terpasang di kendaraan itu untuk selanjutnya diambil alih oleh perusahaan Indonesia. Tetapi ternyata sang ‘saudara tua’ itu lebih jago lagi, kendaraan itu dihentikan diproduksi di Indonesia, langsung digantikan dengan produk lain yang waktu itu dirancang dan dibuat di negara tetangga. Selesailah nasib kendaraan MPV kotak-kotak itu, lepaslah harapan untuk bisa memproduksi kendaraan itu untuk keperluan penggunaan dalam negeri.

Dalam hal industri otomotif, sebetulnya kita bisa dan mau belajar dari negara China. Mereka langsung memproduksi kendaraan roda dua berdasarkan rancangan dari negara ‘saudara tua’ begitu masa berlaku hak paten itu terlewati. Setelah suatu paten melewati masa 25 tahun, maka setiap orang dimanapun bisa membuat ‘cloning’ dari teknologi itu tanpa harus membayar royalti kepada pemilik rancangan itu. China langsung memproduksi MOCHIN (motor China) yang diproduksi begitu banyak dan dijual sampai ke Indonesia. Model kendaraan dan rancang bangun mesin itu benar-benar sama dengan yang asli milik sang ‘saudara tua’, semua ditiru habis, dijiplak 100% dan tidak perlu malu-malu karena begitulah adanya, suatu rancangan akan bebas diproduksi siapa saja, setelah masa 25 tahun hak paten itu terlewati.

Sang ‘saudara tua’ tidak bisa berkutik mengalami penjiplakan yang sudah menjadi sah karena peraturan paten telah terlewati, mereka tetap tidak suka akan hal itu dan pernah mengajak duel produsen MOCHIN itu di pengadilan karena masalah penggunaan sebuah ‘SEAL’ yang dikatakan sebagai rancangan baru dan masih masuk dalam jangka waktu perlindungan hak paten.

Kalau saja, kita mau mengambil contoh dari negara China, kita bisa langsung mengambil alih (membeli tentunya!) semua rancangan yang terkait dengan kendaraan Kijang itu, dan selanjutnya diproduksi sendiri dengan nama lain, misal Rusa atau Menjangan. Tetapi, lagi-lagi sang pemimpin tidak peduli akan hal ini, mereka membiarkan sang Kijang yang asli rancangan anak negeri diganti dengan produk lain yang dirancang di luar negeri. Hilanglah kesempatan emas untuk menjadi produsen kendaraan asli Indonesia.

Kembali ke masa lalu, kondisi di tahun 1970-an, dimana sang ‘saudara tua’ begitu gigih mempengaruhi kebijakan pemerintah saat itu, melalui lembaga yang mereka sokong (bayar) agar terjadi pembatasan hanya mengijinkan penjualan produk otomotif sejumlah (belasan) merek kendaraan yang masuk Indonesia dan terutama tentu saja kendaraan produksi sang ‘saudara tua’ itu. Waktu itu, ada pembebanan biaya masuk kendaraan CBU yang tinggi dan rancangan menurunkan harga (biaya) mengarahkan industri otomotif ke pembangunan pabrik assembling kendaraan bermotor di Indonesia.

Kemudian melalui lembaga tersebut, mereka mempengaruhi pemerintah agar tidak ada kesempatan bagi ‘pribumi’ untuk mencoba mendirikan usaha rancang bangun kendaraan bermotor sendiri. Tentu saja tidak mungkin kebijakan itu gratis adanya, dan sudah barang tentu ada kemungkinan imbalan bagi penghadangan keinginan warga ‘pribumi’ untuk memulai usaha rancang bangun kendaraan bermotor lokal. Greedy sudah mengalahkan nasionalisme.

Dulu, industri kendaraan penumpang masih cukup sederhana, mungkin dengan mesin pres sederhana atau bahkan dengan palu, sebuah bentukan lekukan spatbor kendaraan bisa disiapkan dan hal ini masih dilakukan sampai sekarang dalam produksi kendaraan mewah terbatas yang ‘hand made’ (buatan tangan). Meski dikatakan ‘hand made’, perancangan kendaraan itu pasti sudah menggunakan software komputer (aplikasi) design yang canggih untuk mendapatkan bentuk indah, pengerjaan yang presisi dan sambungan antar bagian karoseri yang mulus – halus. Jadi keinginan memulai suatu usaha industri otomotif waktu itu sebenarnya lebih kepada bagaimana seseorang yang punya visi kedepan akan bisa berhasil membangun industri ini, bila saja sang pemimpin tidak terpengaruh oleh godaan sang ‘saudara tua’, dan memberikan dukungan kepada anak negeri untuk memulai usaha itu. Kalau cikal bakal waktu itu diijinkan berkembang, mungkin kita sudah punya industri otomotif sendiri.

Secara umum, industri kendaraan penumpang saat ini sudah begitu maju, mereka tidak butuh banyak pekerja manusia, mereka sudah menggunakan robot-robot yang bekerja automatis selama 24 jam tiada henti.

Para pemilik industri kendaraan penumpang itu tidak mau membayar pekerja manusia yang:

  • selalu cerewet dengan berbagai kondisi,
  • tidak mau bekerja 24 jam,
  • minta libur di akhir pekan, minta libur di hari raya,
  • minta cuti atau libur panjang,
  • tidak mau melakukan pekerjaan membosankan yang itu-itu saja selama sehari penuh dan berbulan-bulan, mereka minta variasi pekerjaan dan itu memang diharuskan,
  • minta kenaikan gaji, minta tunjangan sosial dan tunjangan lain-lain,
  • minta kenaikan jabatan, minta perubahan tugas kerja,
  • sering tidak masuk dengan alasan sakit atau alasan lain,
  • hari tertentu seperti hari Senin pekerja manusia akan mengalami penurunan kualitas kerja, tidak presisi, produk yang dihasilkan secara utuh di hari Senin biasanya menjadi produk gagal,
  • saat ada kejadian yang tidak menyenangkan dalam kehidupan pribadinya akan terbawa ke tempat kerja, dan saat penuh kegembiraan emosinya juga bisa mengganggu kualitas kerja,
  • dlsb.

Sementara robot akan mengerjakan pekerjaan yang sudah ditentukan misal robot ‘las titik’ yang mengelas pada titik titik tertentu di karoseri mobil, dengan hasil presisi yang relatif sama sepanjang waktu, tanpa menggerutu akan pekerjaan yang membosankan itu, tidak perlu berhenti untuk makan siang atau ke toilet, hari libur ataupun hari raya akan siap sedia mengerjakan tugas yang sama tanpa rasa bosan, tidak ada emosi, tidak ada pikiran yang mengganggu, ia akan terus mengelas titik titik yang sudah ditentukan dengan presisi yang sama, bekerja tanpa berhenti, 24 jam setiap hari. Robot hanya akan berhenti untuk perawatan rutin atau apabila ada kerusakan, setelah itu dia akan melakukan tugasnya kembali mengelas titik titik yang sama dengan presisi yang sama.

Para pemilik perusahaan kendaraan tentu lebih memilih menggunakan robot robot untuk mengerjakan tugas-tugas yang bagi manusia sebagai tugas yang membosankan itu. Satu robot pekerja bisa menggantikan beberapa orang pekerja manusia. Berapa nilai perbandingan antara 1 robot pekerja dengan berapa pekerja manusia itu tidak saya peroleh, tetapi kalau menggantikan 4 orang pekerja manusia itu sudah hitungan kasar paling rendah.

Satu hari ada 24 jam, ada 3 shift pekerja, masing-masing 8 jam dipotong istirahat dan lain-lain mungkin pekerja manusia hanya bisa optimal 6 jam bekerja itupun dengan kualitas presisi yang berbeda. Jadi satu orang pekerja paling banyak bisa optimal hanya 6 jam, 3 X 6 jam = 18 jam optimal bekerja. Robot bisa bekerja 24 jam tanpa henti tanpa perlu istirahat tanpa perlu berhenti dengan alasan ke toilet atau hal lain, berarti robot sudah menggantikan 4 orang pekerja, belum lagi robot bisa terus dipekerjakan pada akhir pekan dan hari raya. Jadi 1 robot bisa saja menggantikan sampai 10 orang pekerja.

Penerapan (penggunaan) robot pekerja di negara dengan upah pekerja yang tinggi tentu sangat menguntungkan, apalagi di negara negara maju pekerjaan kasar juga tidak disukai warganya, mereka lebih suka mengambil pekerjaan kantoran yang bersih, yang tidak bising, tidak kotor, tidak membosankan, penuh variasi, di negara negara seperti itu penerapan robot pekerja masih bisa diterima, tetapi di negara padat penduduk dengan ketrampilan rendah seperti Indonesia, hal ini tidak cukup bagus … tetapi biarkanlah para pengusaha itu menggunakan robot robot pekerja di perusahaan pembuat kendaraan itu, asalkan di luar Indonesia.

Lagipula, Indonesia tidak perlu ikut ambil bagian dalam kegiatan usaha pembuatan kendaraan itu, kita cukup menjadi pemakainya saja. Harus diatur sedemikian rupa agar jumlah kendaraan tidak semakin banyak. Ada banyak hal yang perlu dianalisa agar masyarakat mau menggunakan kendaraan umum, agar penggunaan kendaraan pribadi itu semakin dikurangi, dst, dlsb.

Sudah Terlambat 30 Tahun!

Kalau sekarang mau ikutan di kancah industri seperti itu, sebaiknya lupakan saja. Sudah kasep-sep-sep banget. Kementerian Riset dan Teknologi Jerman di tahun 1970 bersama-sama perusahaan perusahaan automobil mereka, merancang Projek Auto 2000 untuk mendapatkan kendaraan dengan teknologi yang sesuai dengan keadaan masa depan, yang bagus, efizien, hemat bahan bakar dst. Mereka sudah terbiasa dengan teknologi rancang bangun kendaraan, sudah terbiasa membuat mesin dan kendaraan, dengan modal pengalaman itupun mereka perlu rencana 30 tahun untuk mendapatkan kendaraan yang terbaik. Kalau cuma mau membuat mobil sekelas mobil LEGO, karoseri dibikin dengan teknologi sederhana, masih menggunakan frame (chasis) bawah X, Y atau apalah, kemudian karoseri diatasnya dibuat dengan tangan atau mesin pres dan digabungkan dengan blok mesin buatan entah darimana, itu sih bisa bisa saja, tetapi pasti sudah jauh ketinggalan zaman, mungkin tidak irit, polusinya diluar ambang batas yang diizinkan, tidak aerodynamis, dlsb.

Jadi, kita terlambat 30 tahun untuk memulai industri otomotif, mungkin lebih jauh lagi!

Membangun Industri Otomotif?

Jadi, tidak sekedar menekan tombol menghidupkan rangkaian mesin produksi maka suatu benda akan diproduksi, tidak sekedar assembling (menyatukan) balok balok LEGO yang satu dengan yang lainnya, kemudian suatu produk siap dijual.

Tidak sekedar punya uang ‘tak berseri’ ratusan atau ribuan triliun rupiah, bisa membeli mesin mesin dan peralatan rancang bangun industri kendaraan penumpang (mobil) kemudian bisa ikut meramaikan pasar industri otomotif. Uang berapapun tidak akan cukup, kalau si pemilik uang itu tidak punya ‘kasih’, tidak punya hati, tidak menghargai orang lain yang lebih rendah tingkat sosial-ekonominya, tidak punya rasa nasionalisme (ini ruang lingkup yang lebih kecil), tidak menghargai sesama umatnya Tuhan (ini ruang lingkup yang lebih luas!). Kalau mental dan moral sang pemilik uang itu tidak baik, yang paling sederhana, bisa dilihat dari: bagaimana orang ini mendapatkan uang yang trilliunan rupiah itu, kemudian, bagaimana orang ini ataupun keluarganya memperlakukan rakyat biasa, adakah orang ini dan keluarganya punya rasa kasih kepada orang miskin, adakah mereka memikirkan nasib orang lain!?

Membentuk industri otomotif tidak sekedar punya uang banyak, kemudian mengadakan semua kebutuhan industri otomotif: gedung, bangunan pabrik, mesin, peralatan kerja, dan memperkerjakan banyak orang. Keberadaan itu semua tidak menjamin usaha orang ini akan bertahan lama. Kalau sang pemilik modal memang tidak pernah punya rasa sosial (SQ) atau juga tidak punya rasa emosi (EQ) kepada orang lain, bagaimana dia akan memperlakukan para pekerjanya, seperti menghargai hasil kerja pekerja rancang bangun (desainer), memberikan kesempatan berkarier kepada setiap orang tanpa embel-embel pertemanan atau hanya atas dasar kekeluargaan, anggota keluarga yang tak tamat SD bisa diangkat menjadi manager, sementara sarjana pintar tak dikenal hanya bertahan pada posisi sekedar supervisor atau asisten sang manager yang tak tamat SD itu. Dan hal ini benar terjadi dan berlangsung cukup lama! Bahkan seorang penggiat otomotif yang kebetulan anak seorang mantan petinggi negeri ini juga tidak bisa menjalankan industri otomotif, karena tidak punya SQ dan EQ. Uang yang digunakan dan kesempatan yang dia terima itu bukan karena kemampuan diri sendiri tetapi hasil penggelapan uang rakyat, dan karena mereka tidak punya SQ dan EQ, hanya berpatokan kepada sistem pertemanan alias kolusi dan nepotisme, maka usaha mereka jelas tidak bisa berlanjut.

Sudah sebaiknya kita lupakan saja industri otomotif itu, berikan kesempatan kepada produsen yang sudah ada untuk tetap menempatkan pabrik assembling mereka di Indonesia dengan ketentuan tidak memasang robot-robot pekerja di pabrik pabrik itu.

One thought on “048 INDUSTRI OTOMOTIF

  1. Saya suka sekali artikel ini, memang seperti itu lah de facto keadaannya. SDM kita banyak yang berkualitas, namun dari segi kuantitas dan penyebarannya tidak lah rata. Jadi ya susah juga mau bikin industri ini itu yang tidak hanya butuh tenaga otot saja. Etos kerja, mental, cara pandang ‘n cara pikir itu penting bagi proses pengerjaan. Proses menentukan hasil…

    Lebih baik kalo kita sekiranya fokus pada industri pendukung semisal body repair atau pun komponen (kendala di metalurgi, bahan material dasar penyusun komponen). Di Tegal sudah ada industri semacam itu, bahkan sudah mampu buat turbocharger untuk diesel engine.

    Alangkah baiknya membidik bidang energi terbarukan, karena masa keemasan fossil fuel sudah akan lewat. Alam Indonesia ‘n keadaan geografisnya support sekali bagi bidang ini. Sayang mindset rakyat masih mindset abad ke-18. Saat belum ada orang asing yang mengambil kesempatan, diam saja. Saat nanti ada orang asing yang ambil kesempatan dan lebih maju, dikatakan ambil keuntungan dari kita. Itulah mindset abad ke-18… too bad, so sad… 🙁

Leave a Reply