051 BUKU CETAK PELAJARAN SEKOLAH
[Artikel ini sudah terpasang di blog ini, merupakan bagian bawah dari page: Buku Cetak Pelajaran Sekolah. “Surat ke Media…” yang bagian atas itu dipisahkan, menjadi Artikel nomor 052. Artikel ini sedikit dirubah untuk dimasukkan ke buku MRM]
Mereka yang memiliki uang cukup (banyak) tentu tidak akan merasa berat untuk membeli buku-buku cetak sekolah bagi anak-anak mereka yang sedang belajar di SD, SMP, SMA atau yang setingkat dengan itu.
Tetapi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang tentunya berjumlah jauh lebih banyak daripada yang mampu, keharusan membeli buku cetak pelajaran sekolah bagi anak-anak mereka dari waktu ke waktu pasti terasa berat. Dan keharusan membeli buku cetak yang baru untuk tahun pelajaran yang baru itu tidak bisa dihindari meski anak yang lebih tua hanya berbeda 1 kelas dengan sang adik, karena buku si kakak tidak bisa diturunkan kepada adiknya, sang adik harus dibelikan buku cetak yang baru.
Penulis merasakan sendiri hal yang sama, buku si kakak tidak bisa digunakan oleh sang adik, kalaupun dipaksakan akan membuat sang adik kerepotan dalam mengikuti pelajaran, karena buku pelajaran tahun yang berbeda memiliki perbedaan yang sedikit-sedikit disana-sini, misalnya nomor soal yang berbeda, cerita yang sama dengan nama tokoh berbeda, soal yang sejenis dengan nilai yang dibedakan, dll. Kalau dipaksakan, bisa jadi sang adik akan terlihat seperti anak bodoh karena jawaban-jawaban atas soal-soal yang dibuatnya akan berbeda dengan teman-temannya yang menggunakan buku cetak tahun terbaru. Pernah terjadi beberapa kali buku cetak itu hilang, dan untuk itu perlu dicarikan penggantinya, yang ternyata dicari di beberapa toko buku tidak tersedia, karena saat itu sudah mendekati akhir kwartal pelajaran dan toko buku tidak memiliki persediaan buku untuk kwartal berjalan dan mungkin juga mereka sedang mempersiapkan buku-buku untuk kwartal berikutnya atau dengan kata lain, buku tahun pelajaran yang hampir selesai tidak (banyak) tersedia, karena mereka (mungkin) sudah fokus ke penjualan buku-buku tahun pelajaran berikutnya.
Bukankah hal itu memang normal terjadi? Siapa yang mau menumpuk atau mencetak buku tahun pelajaran yang sudah berjalan, kalau pada tahun berikutnya buku cetak itu tidak dibutuhkan. Salahkah toko buku ataupun penerbit dalam hal ini? Tentu tidak bisa disalahkan.
Dimana letak kesalahan dalam sistem buku cetak pelajaran sekolah dengan masa pakai 1 (satu) tahun itu?
Cobalah dilihat kasus besar yang mungkin bisa dilihat secara nasional. Dimana banyak terjadi bencana banjir hampir di seantero pelosok Indonesia, ada yang hanya beberapa hari terendam banjir, ada yang seminggu dan ada yang berminggu-minggu. Anak-anak korban banjir tidak bisa sekolah dan saat banjir surut, mereka tidak punya buku-buku untuk melanjutkan sekolah, sekolah-sekolah yang ikut terendam juga kehilangan buku-buku mereka. Buku-buku cetak rusak terbenam banjir.
Pertanyaannya: Apakah mereka yang kehilangan buku-buku cetak itu dapat membeli buku-buku cetak yang baru?
Andaikata mereka punya uangpun akan sulit mendapatkan buku-buku cetak untuk tahun berjalan, karena toko buku ataupun penerbit tentu tidak bersedia menumpuk buku-buku tahun berjalan, mereka sedang memikirkan bagaimana mencetak buku cetak yang baru dan menjualnya di tahun yang akan datang.
Bisakah dibayangkan bagaimana para korban bencana itu meneruskan proses belajar-mengajar mereka, para guru dan murid-murid itu? Bagaimana para guru akan menetapkan ulangan dan ujian mereka, karena guru-gurupun kehilangan buku-buku mereka? Jangankan memikirkan ujian nasional, ujian sekolah pun berat dilaksanakan, karena guru dan murid kehilangan buku-buku cetak mereka. Darimana mereka akan belajar? Darimana akan dibuatkan ulangan?
Coba dirubah skenarionya. Anggaplah buku-buku cetak itu tidak dirubah setiap tahun, misalkan saja sekali dibuat dapat dikatakan baku (masa pakai) untuk 10 tahun atau 5 tahun. Setiap ada yang kehilangan buku-buku cetaknya, mereka tentu bisa membeli yang baru di toko buku, dan toko buku tidak merasa rugi untuk menyimpan buku-buku cetak itu, mereka akan terus memajangnya di etalase penjualan mereka karena buku-buku itu tetap bisa dijual di tahun berikutnya dan penerbit juga tidak akan keberatan untuk mencetak ulang buku-buku itu karena tetap dapat dijual untuk tahun pelajaran berikutnya. Dengan strategi buku baku untuk 10 atau 5 tahun, bangsa yang sering kebanjiran ini tidak akan kesulitan mendapatkan buku-buku cetaknya. Proses belajar-mengajar dapat terus berlangsung walau bencana datang dan pergi.
Memang kehilangan buku-buku cetak itu tidak dialami seluruh anak negeri, tetapi keadaan tidak memiliki buku-buku cetak itu jelas akan mempengaruhi kualitas keseluruhan anak negeri ini sebagai penerus bangsa. Mereka yang kehilangan akan menghambat seluruh sistem pendidikan generasi penerus bangsa, mengancam pembangunan sumber daya manusia Indonesia! Akankah kita pertaruhkan masa depan bangsa dan negara Republik Indonesia hanya pada batasan pembuatan dan penerbitan buku-buku cetak yang berbeda dan berubah di setiap tahun pelajaran?
Hanya demi keuntungan dari penjualan buku-buku kita pertaruhkan masa depan seluruh bangsa Indonesia!? Kejayaan bangsa Indonesia?? Hanya demi profit???
Banyak orang pintar yang tidak akan bersedia merubah sistem pengadaan buku-buku cetak pelajaran yang telah berjalan selama beberapa puluh tahun belakangan ini, mereka lebih berpikir bagaimana membuat setiap orang tua harus dengan terpaksa membeli buku-buku cetak yang baru meski anak-anak mereka duduk di kelas yang berturutan. Bagaimana membuat buku-buku pelajaran dari tahun pelajaran yang telah berjalan tidak dapat digunakan lagi di tahun pelajaran yang baru, dan hanya itulah cara berpikir mereka. Mereka memang pintar dalam berbisnis, tetapi mereka melupakan kemungkinan hilangnya buku-buku dalam berbagai keadaan bencana yang terus datang silih berganti, keadaan yang menyebabkan sebagian anak-anak diantara generasi penerus bangsa ini kehilangan kesempatan belajar dengan baik karena mereka kehilangan buku-buku mereka dalam berbagai kejadian bencana selama ini, dan mereka tidak bisa mendapatkan buku-buku cetak karena buku-buku cetak tahun pelajaran berjalan sudah tidak ada di pasaran.
Begitulah kalau pintar keblinger, pikiran mereka para penentu kebijakan dan kebijaksanaan hanya sampai kepada bagaimana memaksakan sistem pengadaan buku dan penjualan buku cetak yang baru untuk tahun pelajaran yang baru tetapi lupa akan kesadaran akan kehidupan berbangsa dan bernegaranya, lupa akan masa depan bangsa dan negara. Mereka hanya pintar dalam mencari keuntungan dari sistem pengadaan buku cetak, tetapi sangat bodoh dalam melihat ketimpangan proses belajar-mengajar anak-anak bangsa.
Adakah jalan keluar dari berbagai kasus bencana yang terus silih berganti di seantero nusantara Indonesia? Ada sih! Kalau para penerbit dan toko buku memang punya sedikit kesadaran dan tanggung jawab kepada bangsa dan negara! Dimana saat bencana menghadang, mereka serta merta menyiapkan buku-buku cetak tahun pelajaran tahun berjalan, meski buku-buku itu tidak bisa dijual di tahun pelajaran yang baru (pergantian tahun ajaran mungkin hanya 2 atau 3 bulan dari kejadian bencana).
Adakah tanggung jawab dan kesadaran untuk sedikit merugi saat sebagian masyarakat di bagian lain Indonesia sedang menghadapi bencana?
Masalah berikutnya: Apakah para korban bencana mampu membeli buku-buku cetak yang baru! Kalau mereka tidak mampu??
Anggaplah mereka masih mampu, tetapi saat itu tinggal 1 atau 2 bulan ke akhir tahun pelajaran, mereka memang harus membeli buku-buku itu, karena diperlukan untuk belajar menghadapi ulangan akhir tahun. Lalu buku-buku baru harus dibeli, buku-buku yang baru dibeli harus dibuang karena tidak bisa dipakai oleh adik kelas.
MASA BAKU HARUS CUKUP LAMA
Sebenarnya, yang paling baik adalah menetapkan buku-buku cetak pelajaran sekolah berlaku untuk masa pakai 10 tahun atau 5 tahun. Kemudian buku-buku itu dimiliki oleh pemerintah daerah setempat, dipinjamkan kepada para siswa selama tahun pelajaran berlangsung. Setiap kekurangan buku langsung dipesan kepada toko buku atau penerbit, dan buku-buku yang baru dibeli tidak akan kehilangan gunanya ataupun harganya, karena tahun-tahun berikutnya akan dapat dipergunakan seterusnya.
Kalau bencana banjir terus datang dan datang lagi?
Mungkin perlu dicari teknologi lain yang memiliki kemampuan ‘waterproof’ atau ‘banjirproof’, tahan direndam dalam air, sekalian saja ‘schockproof, ‘antimagnetig’, dan jangan lupa harus ‘korupsi-free’, ‘kolusi-free’, dst. Bikin saja buku yang lembarannya menggunakan plastik tahan air, tetap jernih dan bening walau direndam lumpur berminggu-minggu.
Jakarta, 21 April 2005
Bambang Subaktyo, EDV.F.T.

