077 Sehat dan Kesehatan
24 Desember 2014
- Sehat adalah satu kondisi dimana segala sesuatu berjalan normal dan bekerja sesuai fungsinya dengan semestinya. (ada banyak sumber terkait definisi sehat: menurut UU, WHO, dll)
- Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan)
Sehat itu tidak sekedar hidup normal, dan semua anggota badan dan organ tubuh bekerja sesuai fungsinya dengan semestinya, menurut WHO ataupun Undang Undang ada beberapa kriteria lain:
- Sehat Jasmani,
- Sehat Mental,
- Sehat Spiritual atau Rohani.
Seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya, keadaan sehat jasmani belum tentu berisikan mental yang sehat seperti pada orang gila (sakit jiwa), meski orang itu terlihat berbadan sehat tetapi perilaku dan cara berpikir orang itu tidak sehat, begitu juga meski jasmani (badan) orang itu tidak sehat bisa saja berisikan mental baja (tentu sangat sehat) seperti Stephen Hawking atau orang invalid yang berhasil melakukan perjalanan keliling Indonesia, meski cacat jasmani ternyata tetap bisa melakukan hal hal besar. Soal sehat spiritual (rohani) ini merupakan keharusan, harus ada dalam setiap orang yang sehat jasmani maupun yang cacat, mereka yang sehat spiritual biasanya sehat mental.
Mungkin ketiga hal itu bisa diwakili oleh IQ, EQ dan SQ walau belum tentu benar sepenuhnya, karena seorang Stephen Hawking pasti punya IQ, EQ dan SQ tinggi walau cacat jasmani.
Ada orang-orang yang berbadan sehat, dengan tingkat spiritual yang tinggi bisa saja salah jalan, mereka bermental baja berani berperang, tetapi mereka menjadi orang-orang sadis yang suka membunuh orang lain yang tidak mau ikut dengan aliran keagamaan mereka.
Begitu juga di Indonesia, ada banyak orang yang terlihat sehat, dengan perawatan kesehatan yang super mahal (selalu minta perawatan VVIP), terlihat punya IQ tinggi punya titel kesarjanaan kelas atas dengan jabatan tinggi di pemerintahan, terlihat punya EQ karena sering memberi amal dan sedekah, terlihat punya SQ tinggi – begitu rajin menjalankan ritual agama bahkan punya titel keagamaan hasil dari seringnya pergi ziarah ke tempat suci . . . toh mereka yang berpenampilan sehat di segala segi itu ternyata cuma KORUPTOR kelas paus!
Don’t judge the book by the cover!
Soal sehat dan tidak sehat seseorang tidak bisa dinilai dari penampilan seseorang karena itu cuma cover luar, hanya casing saja, buat saya, yang paling penting adalah bagian dalam yang tersembunyi di dalam badan seseorang, mental, jiwa, moral, EQ dan SQ yang seimbang.
Tampilan seorang yang terlihat ganteng, perlente, begitu berpendidikan, bertitel sarjana dan titel keagamaan, dengan jabatan tinggi, rumah mewah, mobil mewah, dst dst itu bisa jadi cuma tipuan, seakan akan taat peraturan, patuh hukum, sangat beretika, begitu alim (taat agama), dst padahal bisa jadi cuma seorang koruptor kelas paus.
Sungguh berbeda dengan orang pinggiran yang sudah tua renta, badan gelap tertimpa sinar matahari, tak punya uang cukup untuk makan apalagi untuk beramal atau bersedekah, cuma duduk paling belakang di rumah ibadah, tetapi orang itu tidak pernah kalah mental, tidak pernah takut miskin (sudah paling miskin), tidak punya apa apa, rumah pun sekedar berteduh dari panas tapi tidak bebas dari tetesan air hujan yang turun di atap rumah yang bocor, orang seperti itu terpinggirkan, tak dipandang sebelah mata, padahal mereka orang orang yang bermental baja, tak kenal menyerah, tak mau mencuri, tak ingin menguasai harta orang lain, tak iri dengan keadaan orang lain yang lebih baik . . . dst.
Jadi. Kita mau memilih sehat yang bagaimana!?
Buat saya, kedua contoh extrim itu tidak bisa dijadikan pilihan, tidak sebagai orang perlente yang koruptor juga tidak sebagai orang miskin yang tak punya apa apa meski bermental baja.
Buku seri Menuju Revolusi Mental ini diharapkan bisa membuka mata banyak orang agar tidak mengambil panutan seperti tipe koruptor tersebut diatas, juga jangan sampai ada orang-orang yang menderita seperti si bapak tua miskin itu. Kita perlu mencari jalan keluar dari kesemrawutan saat ini, dari mental mental munafik saat ini, menjadi mental mental baja yang tak kenal menyerah, yang tidak berkompromi dengan para koruptor itu, dan mau menaikkan derajad rakyat kecil.
Apa yang ingin kita capai!?
Target kita bersama: Sehat dalam segala segi, sehat badan, sehat mental, sehat spiritual bagi rakyat Indonesia, bukan hanya sebagian kecil tetapi secara keseluruhan.
Untuk itu perlu dirancang sistem sistem kesehatan yang menyeluruh yang bisa merubah keadaan yang ada selama ini, dari ‘IST’ yang ada menuju satu ‘SOLL’ yang jelas yaitu, rakyat Indonesia yang sehat badan, sehat mental dan sehat spiritual. Banyak hal perlu di-format ulang, dibongkar dan dibangun baru, karena sistem yang lama telah salah jalan.
Untuk siapa!?
Sehat dan kesehatan yang dibahas dalam buku ini, tidak hanya berlaku untuk rakyat Indonesia, tetapi berlaku umum, untuk kepentingan warga dunia, kita tidak bisa berusaha untuk mendapatkan status sehat atau mencari satu teknologi kesehatan hanya untuk satu golongan, hanya satu kelompok masyarakat saja, segala daya upaya dalam mendapatkan status sehat dan teknologi kesehatan harus bisa diterapkan, diaplikasikan ke semua orang, semua warga dunia . . .
- tidak bisa hanya suatu kelompok masyarakat yang bisa sehat sendirian sementara warga dunia yang lain sedang menderita berbagai penyakit,
- tidak mungkin negara maju yang menguasai sistem pengobatan (perawatan) kesehatan yang super canggih hanya menggunakan sistem itu untuk warganya saja, sementara warga dari negara terbelakang yang terpapar penyakit mematikan dibiarkan menderita, seperti beberapa keadaan yang lalu saat Flu burung, flu babi atau Ebola itu menyerang warga negara berkembang. Para dokter, para ahli dari negara maju segera datang ikut membantu menghadapi berbagai penyakit mematikan itu.
Obat dan Pengobatan
Obat adalah bahan, sesuatu yang digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari suatu penyakit, sementara pengobatan adalah cara, metode, teknik yang digunakan untuk menyembuhkan seseorang dari suatu penyakit.
Kita perlu mencari obat dan pengobatan yang terbaik, termurah, yang sederhana tetapi ampuh, yang bisa menyembuhkan, yang tidak meracuni badan sang pasien, tidak merusak badan sang pasien, mudah didapat, tersedia di berbagai lokasi penjualan. Obat alam perlu diutamakan bukan obat buatan pabrik yang data-datanya disembunyikan. Obat generik yang umum yang bisa diperoleh ataupun diolah sendiri lebih diutamakan, bukan obat obat yang dijadikan milik suatu kelompok saja, yang memberikan keuntungan kelompok tertentu saja.
Untuk siapakah sistem ini dipersiapkan?
Sehat atau sistem kesehatan, obat atau pengobatan yang dibahas disini tidak hanya berlaku untuk warga Indonesia saja, tetapi mempunyai lingkup internasional, apa yang ada, yang terjadi di belahan dunia manapun, sudah seharusnya menjadi pemikiran orang banyak dari seluruh dunia, dimana ada penyakit yang mengancam maka semua ahli di dunia perlu ikut mencari obat dan pengobatannya, begitu juga dengan obat yang ada di Indonesia, dalam hal ini kepemilikan berbagai herbal yang belum termanfaatkan dengan benar apalagi yang sudah ada selama ini sebagai warisan turun temurun dari nenek moyang itu bisa menjadi obat dan sistem pengobatan bagi warga dunia. Berbagai kemungkinan, obat dan pengobatan yang dimiliki setiap kelompok masyarakat untuk mencapai kesehatan harus disebar luaskan ke mancanegara, memberikan kesempatan bagi setiap manusia dimanapun mereka berada untuk mendapatkan berbagai obat dan pengobatan yang ada dengan mudah dan murah.
Obat yang selama ini ada di bumi Pertiwi, sudah diwariskan turun temurun dari nenek moyang merupakan obat obatan alami, KW-1, bukan buatan farmasi, KW-3, artificial, cloning dari obat KW-1. Obat alami, obat herbal ini, jelas punya nilai lebih daripada obat KW-3 yang artificial, karena memang dari alam, dari bagian tanaman, dari bagian hewan dan mineral. Kita punya banyak bahan-bahan alam, kita punya lahan: bumi Pertiwi yang bisa ditanami sepanjang tahun, dengan curah hujan hampir sepanjang tahun, dengan suhu temperatur yang hampir sama sepanjang tahun, berbagai tanaman tumbuh di negeri ini, dengan kemungkinan menjadi obat alami, kemungkinan yang belum digali dengan serius selama ini. Begitu banyak jenis tanaman yang bisa dijadikan obat, bisa dibudidayakan, bisa diolah, bisa dikelola dengan serius menjadi bahan dagangan bangsa Indonesia ke manca negara. Inilah opportunity (kesempatan) bagi Indonesia untuk mengedepankan berbagai herbal yang tumbuh di bumi Pertiwi.
Ada buah yang bisa digunakan sebagai obat atau untuk menjaga kesehatan: belimbing sebagai obat penurun darah tinggi, nanas sebagai penyedia vitamin C, sebagai obat kanker darah, ada ubi manis sebagai pencegah kanker, ada jambu biji untuk demam berdarah, daun buah mengkudu untuk kencing manis, kulit buah manggis untuk berbagai pengobatan, buah merah asal Irian untuk berbagai pengobatan, buah naga untuk menjaga kesehatan, kulit buah jengkol untuk kencing manis, terapi buah pete dan terapi kulit pete untuk berbagai pengobatan, dlsb. Tentang obat herbal ini, apa saja, bagaimana cara menggunakannya (pengobatan) bisa diperoleh di banyak media, ada yang sudah berbentuk buku buku resep herbal, ada yang disebarkan di internet, dipublikasikan di majalah dan tabloid, ditawarkan secara online ataupun di berbagai acara televisi.
Begitu banyak obat alami yang ada di bumi Pertiwi, bisa kita bawa ke hadapan publik mancanegara, bisa menjadi komoditas penghasil devisa, bisa menjadi kesempatan kerja bagi jutaan rakyat Indonesia, menjadi pekerja di berbagai linie dalam budidaya tanaman obat, dalam manajemen pengelolaan komoditas itu, menjadi tenaga ahli pemroses bahan-bahan obat, menjadi ahli ahli peracik obat, menjadi pengecer (penjual jamu, penjual bahan jamu seduh), menjadi peneliti obat herbal, menjadi pedagang mancanegara, dlsb.
Adanya obat herbal ini tidak hanya sebagai obat untuk mencapai status sehat bagi rakyat Indonesia, tetapi menjadi kesempatan kerja, menjadi komoditas ekspor, menjadi bahan pariwisata alam, dst.
Seorang teman punya akses ke publikasi leluhur berupa buku resep kuno dalam bahasa Jawa Kawi yang masih belum bisa diterjemahkan, karena buku itu begitu tua dan begitu tebal, penuh daya magis, untuk menterjemahkan buku itu perlu kesucian diri, harus menjalankan puasa lebih dulu dan selama ini sang pemegang buku baru bisa membaca dan menterjemahkan beberapa belas halaman. Sebelum bisa membaca buku itu perlu prosesi pensucian diri, perlu puasa selama beberapa belas hari, dan setelah itu dia hanya bisa membaca beberapa lembar saja, tenaganya sudah terkuras habis, dan perlu istirahat panjang. Ini bukanlah kisah 1001 malam yang penuh keanehan, tetapi sebuah kenyataan. Nyata sekali, leluhur kita punya ‘kesaktian’, punya kemampuan tinggi, punya kebudayaan tinggi, punya penghargaan yang sangat tinggi kepada karya karya Sang Maha Pencipta alam semesta, mereka sudah menuliskan berbagai resep, berbagai jangka (jongko), berbagai ramalan terkait perbintangan, waktu dan berbagai hal dalam bentuk buku primbon. Leluhur kita sudah berbudaya tinggi, lihat kenyataan munculnya fakta fakta di situs Gunung Padang yang menyatakan leluhur sudah punya kebudayaan, keberadaban di masa 25 ribu tahun yang lalu, sementara di daerah lain masih dalam era barbar, masih terbelakang dalam hal kebudayaan, dalam hal keberadaban. Lihat juga berita berita kemungkinan benua Atlantis adalah di Indonesia, dlsb. Kita punya kearifan yang sudah jauh sebelum bangsa bangsa lain, kenapa kita tidak gali lebih jauh, kita angkat kembali, kita pelajari, kita publikasikan demi kemaslahatan umat manusia, dan saat inilah massa (era) itu. Mari kita kembali ke alam, ‘back to nature’, kembali ke leluhur, kembali kepada Sang Maha Pencipta, pencipta alam semesta, pencipta semua umat manusia, kembali kepada satu kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber segala unsur, segala daya yang ada dalam kehidupan manusia.
Sang Maha Pencipta, Maha Pengasih Maha Penyayang, Maha Kuasa, tentu menciptakan alam semesta dalam keseimbangan, ada berbagai mahluk, ada berbagai tanaman, ada berbagai hewan, ada mineralian, ada bakteri, ada virus, ada penyakit . . . dan tentu ada disediakan olehNYA, berbagai obat untuk berbagai penyakit itu, dari bagian tanaman, dari bagian hewan, dari mineralian, dari berbagai unsur di alam kehidupan ini . . . semua ada tersedia, tinggal kita manusia sebagai ‘mahluk paling cerdas’ menggali harta karun itu untuk kebaikan kita semua, untuk kesehatan umat manusia.
Obat herbal, ada dan tiada!?
Herbal berasal dari kata herbs, tanaman yang bisa digunakan sebagai makanan, sebagai bumbu penyedap, pemberi rasa, sebagai obat, sebagai pewangi, dlsb. Ada begitu banyak bentuk/macam obat herbal:
- ada yang berbentuk kumpulan dari bahan bahan tanaman dikeringkan yang disebut sebagai jamu godok, ada yang berasal dari akar, batang, daun, umbi, kulit, daun bunga, bunga, buah, kulit buah,
- ada yang masih berbentuk bagian tanaman seperti apa adanya diambil dari pertanian, dari hutan, dari pohon tertentu (benalu teh), berupa daun (salam, jambu biji, mengkudu), akar atau umbi (laos, jahe, kunyit, bengle, ubi manis, dll), buah (pete, jengkol, mengkudu, naga, dll), kulit pohon (kina, dll), dlsb. Herbal ini masih seperti adanya, bisa diracik sebagai penambah rasa didalam masakan, bisa direbus dan dimakan sebagai obat, bisa dikeringkan kemudian direbus dan air rebusan itu diminum,
- ada yang berbentuk cairan hasil proses buah atau bagian tanaman tertentu, seperti cairan buah merah, cairan sari kulit manggis, cairan sari bawang putih, baik sebagai cairan tunggal (satu jenis buah/tanaman) atau berbentuk ramuan atau campuran beberapa herbal, ada yang dijual sebagai jamu gendong, ada yang dimasukkan ke dalam botol plastik dijual di toko serba ada dan di toko obat, ada cairan hasil destilasi seperti minyak kayu putih, minyak telon, dll
- ada yang berbentuk bubuk yang dapat digunakan sebagai bumbu masakan, atau ditaruh kedalam kapsul dan diminum sebagai obat,
- dlsb.
Khusus herbs seperti jahe, laos (lengkoas), kunyit, lada, kemiri, dll itu biasa dicampurkan kedalam masakan, sebagai penambah rasa, penghilang bau (amis), pewangi, dlsb. Bumbu masak ini sebetulnya obat herbal yang tidak disadari orang banyak. Masakan yang disiapkan menggunakan bumbu alami jelas lebih bermanfaat daripada masakan cepat saji yang dimasak menggunakan bahan penyedap artificial, karena rasa dan wangi yang muncul itu sekedar rekayasa laboratorium menggunakan bahan-bahan kimia.
Buku ini tidak membahas apa manfaat setiap herbs yang biasa kita pakai, informasi untuk setiap bahan herbs itu bisa kita baca dari berbagai sumber, seperti buku tanaman herbal, mencari dan membaca di internet dengan kata kunci “manfaat herbs tertentu”, misal “manfaat pete”, “manfaat jahe”, dlsb. Khusus untuk herbal buah pete, silahkan mencari dengan kata kunci “terapi pete”, akan muncul banyak informasi tentang terapi pete yang saya teliti selama 15 tahun, sejak tahun 1995 s/d 2010. Ada banyak manfaat terapi buah pete dan atau terapi air pete (air rebusan kulit pete), bisa untuk menyembuhkan asam urat, rheumatik, osteophorosis, darah tinggi, kencing manis, impotensi dlsb. Dengan pete sebagai herbal saja sudah begitu banyak kemungkinan pengobatan yang bisa dicapai oleh para peserta terapi, padahal itu cuma 1 macam buah saja. Kita punya begitu banyak pilihan. Obat dan pengobatan alami, yang telah disediakan oleh Sang Maha Pencipta, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ada dan tidak adanya obat herbal ini tergantung sudut pandang seseorang, ada yang memang tidak suka dengan obat KW-3 produksi pabrik farmasi, maka buat kelompok ini obat herbal itu benar benar ada, mereka terus mencari pengobatan menggunakan bahan bahan alami, memasak menggunakan bahan-bahan alam (bumbu masak), mengurangi berbagai makanan cepat saji, mengurangi jajan makanan restoran yang diperkirakan menggunakan bahan-bahan artificial sebagai penyedap dan pewangi makanan. Sementara bagi mereka yang sombong, merasa punya uang dan mengira bisa membeli pengobatan dari produk produk KW-3, mereka tidak mau tahu dengan herbal, mereka anggap herbal itu nonsens, banyak para ahli kesehatan yang menolak keberadaan herbal (obat / pengobatan), mereka katakan tidak ada penelitian ilmiah dengan obat dan pengobatan herbal. Buat kelompok terakhir ini, obat herbal itu dianggap tidak pernah ada. Kelompok ini sangat tidak percaya, kalau Sang Maha Pencipta telah menciptakan alam semesta dalam keseimbangan, ada berbagai mahluk, ada berbagai tanaman, ada berbagai binatang, ada mineralien, ada virus, ada bakteri, ada penyakit . . . Sang Maha Pencipta tentu telah menyediakan obat untuk berbagai penyakit itu, sudah ada sejak awal penciptaan itu! Oo . . . itu bukan obat farmasi, bukan rekayasa laboratorium, tetapi obat yang ada di alam, HERBAL!!!
Sekali lagi, kita rakyat Indonesia harus bersukur, kita punya bumi Pertiwi yang menyediakan begitu banyak ragam herbal, tersedia sepanjang tahun, kita punya tanah yang begitu subur, berbagai penyakit yang ada pasti ada obat herbalnya. Coba lihat ke bagian utara khatulistiwa atau ke bagian selatan khatulistiwa, semakin ke utara dan semakin ke selatan, tanaman itu semakin jarang, semakin sedikit ragamnya, jauh lebih sedikit daripada yang ada di bumi Pertiwi ini. Kita pasti punya banyak ragam herbal, dan itu belum dikelola dengan benar, belum diexplor dengan benar, hanya sebagian kecil yang jelas manfaatnya yang dipakai sebagai bumbu masak dan sebagai obat herbal, pasti masih ada berbagai macam herbal yang siap untuk diangkat ke permukaan, digunakan dalam pengobatan, untuk menghadapi berbagai penyakit yang ada di dunia. Dibudidayakan, dikelola dengan benar, dengan baik, dijadikan komoditas ekspor Indonesia ke mancanegara, kita akan mendapatkan devisa dari herbal, memberikan begitu banyak kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia dalam berbagai linie (bidang) pekerjaan terkait obat dan pengobatan herbal.
- Obat herbal dari bahan alam akan mendapatkan kesempatan untuk menggantikan obat farmasi
- Indonesia punya kesempatan untuk menjadi penyedia herbal dunia
- kondisi alam Indonesia, yang subur, dengan sinar matahari sepanjang tahun, dengan hujan yang turun hampir sepanjang tahun, dengan variasi hortikultura begitu besar yang masih belum diexplor, masih banyak sekali kemungkinan untuk …
- tetapi mempersiapkan kesempatan bagi rakyat Indonesia ke dalam industri padat karya, mereka bisa menjadi pengusaha, pedagang, petani dalam budidaya tanaman obat, tenaga trampil yang menyiapkan bahan-bahan herbal, tenaga ahli dalam meracik bahan bahan herbal menjadi obat, pedagang jamu yang menyiapkan jamu seduh, pedagang jamu gendong, dll.
Rempah rempah sudah sejak dulu menjadi komoditas perdagangan yang menguntungkan, sebagai bumbu masak, sebagai campuran herbal, campuran minuman, dll. Coba kita lihat, bagaimana sebuah negara kecil di Eropa yang telah menjajah Indonesia sekian ratus tahun, dan mereka berhasil membangun negaranya yang berada di bawah permukaan air laut dari hasil perdagangan rempah rempah alias bumbu dapur alias herbs alias herbal itu. Dan waktu dulu itu tidak banyak rempah rempah yang dianggap berharga yang mereka perjualbelikan. Hanya dengan berdagang (monopoli) rempah rempah saja mereka bisa kaya dan berhasil exist terus sampai sekarang . . . coba kalau sekarang kita jadikan begitu banyak herbal itu (termasuk bumbu dapur, alias rempah rempah) itu sebagai komoditas ekspor!? Kenapa tidak kita coba lagi sekarang, dengan lebih intensif dan lebih aman.
Mari kita lihat fakta fakta yang dipaparkan berbagai media internasional:
* Perusahaan farmasi menutupi data obat mereka: menceritakan bagaimana orang yang minum obat Tammy Flu untuk anti flu burung telah mengalami hallusinasi, di antara mereka yang kemudian berlanjut berusaha bunuh diri, dan ada yang menjadi korban. Dari “Big Pharma Plays Hide-The-Ball With Data”, Newsweek edisi 21 November 2014.
* Ebola bukanlah virus yang paling mengerikan, ada banyak virus lain yang telah membunuh lebih banyak dari Ebola, seperti rabies yang membunuh 50ribu orang per tahun, itu sudah 10 kali lebih banyak dari korban Ebola, kemudian virus flu yang membunuh 300ribu orang, kemudian ada Chikungunya epidemi di Karibik, sekitar 40ribu orang terpapar virus ini setiap minggu, begitu juga Florida sudah mulai mendapatkan serangan virus itu. Di Austria sampai pertengahan tahun 2014 sudah terdapat 6 orang yang terserang virus ini. Chikungunya dan Dengue fever mulai menyerang Eropa. Tahun 2007, 200 orang warga Ravenna terpapar virus Chikungunya. 3 tahun setelah itu, 2000 warga Francis bagian selatan terserang Chikungunya, jumlah yang tercatat dalam 2 tahun itu merupakan yang terbesar dalam kurun waktu 100 tahun selama ini. Kemudian 2 tahun sebelumnya Dengue juga menyerang Kroatia dan Francis dalam skala yang lebih kecil. Awal Agustus 2014, para peneliti Jerman pertama kali menemukan nyamuk abu abu pembawa Dengue di tempat paling utara pertama kali nyamuk dari daerah tropis ini ditemukan. Peneliti Herwig Kollaritsch dari Univeritas Wien menyatakan virus Dengue jauh lebih berbahaya daripada virus Ebola. Ebola tidak keluar dari Afrika sementara Dengue telah dibawa oleh para turis mancanegara ke Eropa, saat nyamuk dan sang pembawa itu bertemu maka menyebarlah virus Dengue. Berdasarkan data yang mereka himpun, korban Dengue sebanyak 20ribu orang per tahun memang secara prosentase sedikit dibanding jumlah orang yang terpapar, sekitar 50juta orang per tahun. Dari majalah Austria “profil” edisi ke-44 tahun ke-45, 27 Oktober 2014.
* Kejahatan mafia farmasi sudah mengglobal, mereka mendistribusikan obat palsu ke berbagai jaringan toko obat. Bisnis obat palsu ini sangat menggiurkan karena keuntungan dari penjualan obat palsu ini lebih besar dari perdagangan narkoba. Dari Wirtschafts Woche edisi 3 November 2014.
* Penyakit Diabetes mellitus (kencing manis, penyakit gula), berdasarkan data IDF (International Diabetes Federation):
– Kwartal I 2013 ada 347 juta penderita
– November 2013 ada 382 juta penderita
– Desember 2013 ada 385 juta penderita
jadi, sejak April sampai Desember ada 8 bulan dengan pertambahan (385-347) juta=38 juta selama 8 bulan. Pertambahan penderita ada sekitar 4 – 5 juta orang per bulan! Pertambahan pertahun antara 48 – 60 juta orang, dengan kematian sekitar 10% dari total penderita.
Diabetes akan menjadi penyakit no 7 di dunia sebagai penyebab kematian.
Desember 2013 ada 385 juta penderita, dengan perkiraan pertambahan sekitar 48-60 juta orang pertahun, maka mungkin saja saat (Desember 2014) sudah ada sekitar 430 juta penderita di berbagai negara, dan mungkin lebih banyak lagi pada kondisi pradiabetes (prediabets). Total perkiraan seluruhnya bisa 2 kali lipat atau sekitar 860 juta penderita di dunia.
DM tidak hadir sendirian, tetapi membawa bermacam penyakit lainnya, mulai dari kehilangan penglihatan (katarak, glaucoma,dll), kehilangan pendengaran, penyakit jantung, darah tinggi (hypertensi), komplikasi kaki (sampai harus amputasi), komplikasi kulit, menyerang saraf, Erectile dysfunction (male impotence, impotensi!), dll sampai menyerang kesehatan mental.
Sumber:
* http://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes_mellitus
* http://diabetesmelitus.org/#ixzz2RTtkd5zY
* http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs312/en/
* http://en.wikipedia.org/wiki/Diabetes_mellitus
* http://www.medicalnewstoday.com/info/diabetes/
* Dalam satu artikel majalah pria Penthouse bahasa Jerman edisi September 2007, 50% yang menghubungi konsultasi karena sudah tidak bisa berdiri (tidak bisa ereksi, alias impotens) adalah pria umur 20-30 tahun, untuk bisa bangun mereka menggunakan pil biru atau sejenisnya. Ada banyak penyebab keadaan tidak sehat itu, bisa dari gaya hidup modern, makanan yang dikonsumsi, kurang olahraga, dlsb. Di negara yang begitu bagus sistem kesehatan, dengan kesempatan untuk hidup sehat yang cukup tersedia, dengan sistem pengamanan obat dan makanan yang baik, keadaan ini sudah terjadi cukup mengerikan di usia itu. Bagaimana dengan kita, yang sejak dari pertanian sudah begitu banyak racun dipakai seperti insektisida, pestisida dan herbisida, kemudian bahan-bahan pengawet, bahan penyedap artificial, dlsb itu? Tidak ada pengamanan bahan pangan yang cukup baik, tidak ada cukup ruang untuk membentuk kesehatan masyarakat. Entahlah . . . tidak ada survey untuk itu!
Kita bisa belajar hidup sehat dan cara menyehatkan dari negara lain, kita bisa mengambil gambaran yang baik dari sana, menukar hal hal buruk yang ada di Indonesia dengan hasil pembelajaran kita dari luar negeri, dan kita kedepankan modal yang kita miliki (herbal dalam bentuk natura dan produk herbal) untuk disebarluaskan ke mancanegara untuk menyehatkan warga dunia dan menyejahterakan rakyat Indonesia.

