084 Bukan Mimpi Biasa

084 Bukan Mimpi Biasa

*

Jakarta, 12 Januari 2015

Saat seorang rakyat berharap, berangan angan, berharap kehidupan di negeri ini menjadi baik, sejahtera, aman, sentosa, nyaman, bahagia, tidak ada korupsi, semua bisa bersekolah, semua hal teratur, semua pamong berdedikasi bekerja sepenuh hati demi bangsa, semua ponggawa berjaga dengan disiplin menjaga keamanan negara, semua kekayaan alam dikelola sendiri, semua hasilnya masuk kas negara untuk kemakmuran rakyatnya . . . lalu ada yang bilang: “Kamu mimpi ya!!!???”. Seakan akan bermimpi itu adalah hal yang buruk, yang tidak bagus, yang sia sia. Yang lain akan berkata: “Ah, cuma mimpi di siang bolong!”. Sebuah pernyataan yang merendahkan orang lain, seakan akan orang tidak bileh punya rencana, tidak boleh punya kehendak, tidak boleh punya cita cita, tidak boleh punya rencana, tidak boleh punya harapan, tidak boleh punya mimpi.

Jadi apakah yang dimaksud dengan mimpi?

Saya membedakan mimpi dalam 2 jenis:

– MIMPI BIASA

Mimpi biasa adalah mimpi yang datang saat kita tidur, bunga tidur. Mimpi ini tidak bisa dibatasi, bisa hadir karena alam bawah sadar menginginkan itu, bisa hadir karena adanya tekanan mental, adanya beban pikiran, stress, banyak masalah, ketakutan, dan bisa hadir karena adanya pesan dari alam gaib. Sebelum pergi tidur, ada yang berharap malam itu tidak mendapatkan mimpi (biasa), ada yang tak peduli apakah malam itu dia mendapatkan mimpi ataupun tidak, dan ada yang begitu berharap mendapatkan mimpi sebagai pesan dari alam lain dan terus menunggu setiap malam. Biasanya, orang normal menginginkan mimpi yang indah, mimpi yang menyenangkan, tidak menginginkan mimpi buruk, tidak berharap mendapatkan mimpi yang mengerikan, sementara itu, orang tak waras (gila, sakit jiwa, sakit ingatan) bisa bermimpi tentang hal hal yang aneh, yang tak biasa, yang tak bisa dimengerti orang biasa. Itulah mimpi biasa yang hadir di saat kita tertidur. Ada banyak buku tentang mimpi biasa, berisikan ramalan tentang berbagai mimpi biasa itu, ada banyak pandangan tentang berbagai mimpi biasa, ada yang logis ada yang tidak logis, ada yang masuk akal ada yang tidak, dlsb. Bermimpi berdasarkan usia: anak-anak punya mimpi yang sederhana, yang dewasa punya mimpi yang lebih dewasa, sampai ada yang mimpi basah, yang tidak berpendidikan punya mimpi yang terbatas, yang punya pengetahuan luas punya mimpi yang lebih jauh, lebih lengkap, lebih rinci dan lebih terarah.

– BUKAN MIMPI BIASA

Bukan mimpi biasa adalah impian yang dibentuk oleh daya pikir seseorang, kehendak, keinginan seseorang, ide, gagasan, cita cita, rencana jangka pendek atau panjang, harapan, visi, dll. MIMPI yang saya maksudkan dalam tulisan saya berikut adalah lebih ke ‘BUKAN MIMPI BIASA’ yang selanjutnya saya sebut sebagai ‘mimpi’ saja, sementara yang datang saat kita tidur saya sebut sebagai ‘mimpi biasa’.

Bermimpi (Bukan Mimpi Biasa)

Bermimpi adalah salah satu kemampuan manusia, sebuah kemampuan yang layak dimiliki oleh setiap manusia, kemampuan yang merupakan gabungan antara akal pikiran, logika, emosi, dan tentu spiritual. Kemampuan ini harus diasah melalui pengetahuan, pendidikan, pelatihan, dan spiritual. Untuk bisa bermimpi yang begitu jauh ke depan, begitu rinci, begitu menyeluruh, memperhitungkan berbagai faktor, diperlukan kecerdasan yang tinggi, semakin tinggi tingkat kecerdasan, semakin luas cakupan mimpinya tidak hanya bermimpi tentang dirinya, tetapi bisa mencakup ruang dan waktu yang lebih luas, sementara yang punya kecerdasan rendah, akan terlihat lebih egois, hanya bermimpi seputar hasrat dan nafsu pribadinya sendiri.

  • Setiap orang pasti punya mimpi, punya angan-angan, punya cita cita, punya keinginan, punya hasrat, punya ide, punya gagasan, punya harapan, punya rencana, dan punya strategi untuk merealisasikan mimpi itu. Hanya orang mati yang tidak punya mimpi.
  • orang biasa, dengan kecerdasan biasa hanya bermimpi seputar kehidupan dirinya sendiri, hanya sekedar perencanaan kehidupan duniawi,
  • orang berpendidikan, punya kecerdasan intelektual tinggi pasti punya mimpi yang selaras, dia tahu batasan mimpi sesuai dengan tingkat kecerdasan yang dia miliki,
  • orang yang punya kecerdasan emosional tinggi, pasti punya mimpi dengan kesadaran, dia tahu batasan sampai sejauh mana mimpi itu, dia tahu diri, dia bisa membatasi mimpinya,
  • orang yang punya kecerdasan spiritual juga punya mimpi, mimpi yang lebih mengutamakan orang lain, mimpi yang mengutamakan kebersamaan, bukan mimpi untuk kesenangan dirinya sendiri, mimpi yang lebih luas tetapi selaras dengan etika, adat budaya, hukum, alam dan lingkungan, juga dengan agama,
  • orang gila jabatan tentu bermimpi mendapatkan jabatan tinggi, gaji besar, posisi di tempat basah, hanya sekedar duniawi saja,
  • orang gila kekuasaan tentu bermimpi mendapatkan kekuasaan yang tak terbatas, punya harta dan uang berlimpah, ingin dihormati, ingin disanjung, kalau perlu dia paksakan kehendaknya agar orang lain tunduk dan mengakui kegilaan orang itu,
  • orang gila jabatan dan kekuasaan biasanya punya kecerdasan intelektual yang lumayan tinggi, tetapi mereka tidak punya kecerdasan emosional ataupun kecerdasan spiritual. Kalaupun di antara mereka terlihat rajin berderma, rajin menyumbang, itu hanya sekedar pencitraan, bukan karena punya kecerdasan emosional. Kalaupun mereka terlihat menjalankan ritual agama, begitu sering mencari titel keagamaan, begitu sering beranjangsana ke tanah suci, terlihat banyak beramal, sering menyumbang pembangunan rumah ibadah atau malah terlihat memiliki lahan dan membangun rumah ibadah, itu hanya sekedar tipuan belaka, hanya pencitraan, dan sebenarnya dia tidak punya kecerdasan spiritual,
  • orang gila ideologi sekaligus kekuasaan, biasanya berkelompok, dengan tingkat kecerdasan bervariasi, ada yang tinggi, ada yang sedang, ada yang rendah, mereka menggunakan berbagai cara untuk mengejar ego mereka bersama, mengedepankan kekerasan untuk mendapatkan kekuasaan, bahkan tidak segan melakukan pembunuhan. Dulu ada kelompok yang bermimpi sebagai ‘bangsa terpilih’, sampai sekarang mereka terus saja mengedepankan kekerasan, kemudian ada kelompok yang bermimpi sebagai ‘ras unggulan’ kemudian melakukan penjajahan atas bangsa bangsa lain yang sebagian mereka sebut sebagai ‘untermenschen’, juga melakukan pembunuhan genositas kepada ‘bangsa terpilih’ di perang dunia ke-2, terakhir ada kelompok ‘agama unggulan’ yang berusaha menguasai seluruh dunia, bertekad menghabisi ‘bangsa terpilih’ dan menaklukkan ‘ras unggulan’. Mereka tidak punya kecerdasan spiritual.

Apakah Mimpi Itu Layak?

Setiap orang boleh bermimpi sejauh yang bisa dia kreasikan, seindah yang dia inginkan, seburuk apapun yang diinginkan, untuk jangka waktu yang dia inginkan, tidak ada batasan usia, etika, adat, budaya, sosial, ekonomi, hukum, politik, agama, dlsb. Mimpi adalah pikiran seseorang, dan pikiran itu tidak ada batasan, bahkan bila orang bermimpi melanggar hukum sekalipun, orang tidak bisa dihukum karena mimpinya itu. Hanya si pemilik mimpi itu dan Tuhan yang tahu apakah mimpinya itu baik atau buruk.

Semakin tinggi kecerdasan intelektual, emosional dan apalagi spiritual yang dimiliki seseorang, maka mimpi orang itu juga tahu batasan, karena dia tahu apa yang dia impikan itu tidak lepas dari sepengetahuan Tuhan yang maha tahu.

Orang yang bejad akhlak, mental bobrok dan moral buruk, meski terlihat menjalankan ritual agama, kemungkinan besar punya mimpi yang juga melanggar hukum, melanggar etika, adat, budaya, hukum dan agama. Penampilan boleh terlihat sebagai orang alim, sebagai orang baik baik, yang ramah, suka menolong, suka berderma, tetapi itu hanya citra, hanya pencitraan. Apa yang ada di benak orang orang bejad itu, pasti sangat busuk. Lihat saja para oknum pejabat yang tertangkap dan dibawa ke pengadilan, mereka bisa tetap tersenyum, bisa tertawa, bisa ceria walau sedang menghadapi proses pengadilan, dan mereka tetap bergembira saat dijatuhi hukuman penjara. Begitu juga dengan keluarga mereka, mereka terlihat gembira selama proses pengadilan, dan tetap gembira saat hukuman dijatuhkan. Bukan hanya orang itu sendiri yang bejad akhlak, rusak mental dan moral, tetapi juga keluarganya. Sebenarnya, mereka sedang bermimpi di siang bolong, bagaimana mungkin uang haram bisa memberikan kehidupan yang penuh kebahagiaan. Memang terlihat ceria, terlihat gembira, terlihat bahagia, tetapi mereka saat itu sedang menipu diri mereka sendiri.

Apapun kualitas seseorang, mimpinya tetap bebas tak ada yang bisa menghalangi, pembatasan hanya ada pada kecerdasan spiritual, ada pada kesadaran orang itu terhadap kuasa Tuhan Yang Maha Mengetahui. Yang bisa mengadili mimpi seseorang bukan pengadilan manusia dengan hukum manusia, tetapi hanya Tuhan Yang Maha Adil yang bisa menentukan apakah mimpi seseorang itu layak atau tidak layak.

Jadi, setiap orang boleh bermimpi sebebas bebasnya, tidak ada yang boleh marah kalau mimpi orang itu tidak cocok dengan lingkungannya, walaupun mimpi itu tidak cocok dengan kondisi suatu masyarakat, walau mimpi itu extrim aneh sekalipun . . . selama tetap dalam kondisi sekedar bermimpi dan tidak merugikan orang lain, maka tak ada seorangpun yang boleh menentang mimpi orang itu. Ada seorang artis yang bermimpi menikah seperti pangeran dari negeri antah berantah, dalam satu pesta yang tak pernah bisa dibeli oleh rakyat biasa, dengan gaya dan busana bagaikan pangeran menikah dengan putri raja, begitu mewah, pesta di pulau dewata dengan prosesi yang begitu padat, begitu wah, acaranya disiarkan ke seluruh dunia, dst dst . . . (maaf, saya tidak pernah menonton acara itu), mimpi itu tidak bisa dilarang, tidak ada yang boleh marah, karena itu rejeki dia sendiri, usahanya sendiri. Tetapi ada yang sang artis lupa, dia menyelenggarakan acara bak cerita 1001 malam atau bagaikan dongeng H.C. Andersen, mirip cerita “Seorang putri dengan pangeran kodok”, mimpinya itu tidak mencerminkan kalau orang ini punya kecerdasan emosional, dia seperti meledek rakyat miskin di negeri ini. Apakah dia punya kecerdasan spiritual??? . . . entahlah.

Seseorang bisa saja bermimpi menyakiti orang lain, mengambil uang orang lain, menguasai harta milik orang lain. Selama itu hanya mimpi, orang itu tidak bisa dihukum. Hanya kalau orang itu telah merealisasikan mimpinya, benar terjadi dia menyakiti orang lain, benar terbukti mencuri uang orang lain, benar terbukti dia mengambil alih harta orang lain, maka dia harus ditangkap, dan pengadilan bisa menjatuhkan hukuman. Tetapi, meski hanya bermimpi dan tidak atau belum dilaksanakan, saat dia bermimpi ingin menyakiti orang lain, ingin mengambil uang orang lain, ingin menguasai harta milik orang lain, maka saat itu juga mimpi (niat) itu sudah tercatat oleh Yang Maha Tahu . . . maaf . . . soal apa hukuman untuk niat buruk, itu urusan Yang Maha Gaib.

Mimpi apapun itu tidak bisa dikatakan layak atau tidak layak, selama itu berada dalam alam mimpi, juga tidak bisa disalahkan atau dibenarkan oleh siapapun, itu hak daya pikir seseorang, tidak ada batasan soal mimpi, hanya orang itu sendiri yang bisa menentukan apakah mimpinya layak atau tidak, bukan orang lain.

Anda tidak punya mimpi?

Atau tidak bisa bermimpi?

Marilah kita bermimpi yang indah, yang baik baik untuk kita bersama . . .

Leave a Reply