090 Rasa Kasih dan Rasa Sayang
Jakarta, 4 Januari 2015
Setiap orang yang mengatakan dirinya ber-agama, pasti berusaha untuk mencintai Tuhan, ingin mendapatkan balasan cinta dari Tuhan, ingin mendapat berkah, ingin mendapatkan berbagai kemudahan dalam hidupnya, sukses dalam berbagai bidang, sehat, sejahtera, bahagia, dst.
Kita berusaha untuk berkomunikasi dengan Tuhan dengan menjalankan ritual agama, sebagai pernyataan cinta kepada Tuhan, menjauhi berbagai larangan yang ada, menjalankan berbagai ketentuan yang telah ditetapkan.
Dalam usaha mendapatkan cinta balasan itu, banyak yang begitu tekun menjalankan ritual, bahkan tidak sekedar menjalankan ritual, ada yang terus berdoa sepanjang hari, ada yang berdoa selama beberapa hari terus menerus, meminta berbagai kemudahan, minta dilepaskan dari berbagai persoalan yang menimpa dirinya. Ada yang menjalankan tapa brata sampai berpuasa 40 hari 40 malam, ada yang puasa mutih (hanya makan nasi dengan garam dan air putih), ada yang tapa pendem, dikubur layaknya orang mati, ada yang ngebleng selama berhari hari, terus berdoa di ruang gelap tanpa makan tanpa minum dan tidak tidur, dlsb.
Ada yang memakai pakaian berciri khusus, penampilan berciri khusus dan berperilaku seperti warga masyarakat dimana agama itu berasal (berawal).
Banyak yang berusaha membuka komunikasi langsung dengan Tuhan, mendekatkan diri dengan Tuhan, mencoba mirip berdasarkan ciri ciri kebanyakan pemeluk agama itu, seakan akan kalau belum mirip maka belum lebur dalam beragama.
Apakah hanya dengan terus menerus berdoa, tampil mirip dengan masyarakat pemeluk agama itu, maka kita akan mendapatkan berkah dari Tuhan?
Banyak sekali variasi tingkatan orang:
- Ada yang hanya berdoa saja, sekedar menjalankan ritual demi dirinya sendiri, tanpa peduli akan hal hal lain di sekeliling dirinya.
- Ada yang getol menjalankan ritual, tampil dengan segala ciri khusus, tetapi tidak peduli kepada orang lain di sekitar dirinya, hidup bersenang senang sementara 1 miliar warga dunia sedang kelaparan yang pergi tidur dalam keadaan perut kosong. Kalau dia punya uang digunakan untuk beranjangsana ke tanah suci, dan agar terlihat sangat alim, dia pergi berulang kali.
- Ada yang punya banyak uang, kemudian membeli tanah yang sangat luas kemudian membiarkan tanah itu tidak produktif, sementara 9 miliar manusia penduduk dunia memerlukan makanan.
- Ada yang membeli sebidang tanah yang luas kemudian membangun sepenuh penuhnya di atas lahan itu, tidak memberikan kesempatan bagi air hujan untuk masuk kedalam tanah, membiarkan air hujan yang turun dari langit itu mengalir ke jalan, ke parit, kemudian mengalir ke tanah yang rendah dan menggenang disana menjadi banjir, menyusahkan warga yang tinggal di daerah yang lebih rendah itu.
- Ada yang punya modal besar, membeli ijin konsesi dari pihak berwenang, kemudian membabat hutan itu, menghabisi segala sumber daya alam yang ada di hutan itu, termasuk berbagai kesempatan hortikultura, menggantinya dengan tanaman monokultur yang tidak ramah lingkungan.
- Ada yang begitu getol mencuri dari bangsanya, menumpuk uang curian itu di bank di luar negeri dan di dalam negeri, kemudian memberikan sebagian kecil uang curian itu untuk kegiatan ritual keagamaan, bahkan membangun rumah ibadah, dan menggunakan uang itu untuk membeli titel keagamaan dengan berkali kali beranjangsana ke tanah suci.
- Ada banyak pemimpin yang mendapatkan amanat dari rakyat dengan culas membuat kontrak kontrak kolaborasi dengan pengusaha alien tanpa memikirkan kepentingan bangsa, hanya memberikan bagian bagi bangsa ini dalam bentuk Royalti senilai 1% yang sudah berjalan selama 40 tahun lebih, dan itupun tak terbayarkan. Para pemimpin itu menampilkan diri mereka sebagai orang-orang suci yang gemar menjalankan ritual agama, gemar mengejar titel keagamaan, tetapi tidak peduli kepada rakyatnya.
- Ada yang tidak punya apa apa, terus berusaha membantu orang lain dengan berbagai usahanya, berusaha mengedepankan kepentingan bersama, mencarikan kesempatan buat orang banyak, mencarikan peluang bagi orang banyak agar sehat dan sejahtera sementara untuk dirinya sendiri dia tidak pernah berusaha melebih lebihkan.
- Ada yang tidak mementingkan agama apapun tetapi berusaha menyejahterakan warga masyarakat negaranya, mencarikan pekerjaan, mempersiapkan tempat tinggal, memberikan pendidikan, menyediakan sistem jaminan kesehatan, dan mempersiapkan berbagai penunjang kehidupan manusia.
Ada begitu banyak variasi tingkatan kehidupan manusia terkait dengan Tuhan dan dengan sesama. Ada yang memang karena keinginan pribadi maka dia bersikap seperti itu, ada yang mengatas namakan agama maka orang itu berbuat begitu. Ada yang menjalankan kasih sayang karena begitu sering diucapkan dalam berbagai kesempatan bincang agama, ada yang mengedepankan kebencian karena begitulah yang diucapkan para pemuka agamanya.
Yang manakah yang terbaik?
Ibarat cinta kepada seorang janda
Seorang pria ingin mengajak seorang janda menikah. Janda itu membawa anak-anak dari perkawinan sebelumnya, tentu dia mencintai anak-anak itu. Sang pria tidak bisa hanya mengumbar cinta kepada si janda sementara dia tidak peduli kepada anak-anak sang janda. Sang janda tidak akan membalas cinta sang pria kalau pria itu tidak peduli kepada anak-anak sang janda. Pria itu harus berusaha memberikan sedikit cinta kepada anak-anak itu, sebagai bukti dia cinta kepada sang janda. Mereka akan menikah kalau memang ada cinta yang tulus, saling berbalas cinta. Tanpa cinta, pernikahan itu akan terus bermasalah.
Apalagi cinta seseorang kepada Tuhan, Tuhan yang telah menciptakan begitu banyak manusia di dunia, ada 9 miliar orang di seluruh dunia. Ada 9 miliar manusia hasil karya Sang Maestro, tentu tidak bisa diacuhkan begitu saja. Mereka perlu diberi perhatian juga. Anda mencintai Tuhan, maka berikan sedikit cinta kepada 9 miliar manusia ciptaanNYA itu, hanya sedikit cinta yang diperlukan, bukan kebencian yang diarahkan kepada mereka.
Bagaimana Anda bisa dibilang cinta kepada Tuhan kalau Anda mengobral kebencian kepada manusia yang lain itu, entah karena beda suku, beda bangsa, beda warna kulit, beda ideologi, beda agama atau perbedaan lain.
9 miliar manusia yang ada di dunia, tidak boleh kita terlantarkan, kita harus membantu mereka, tidak bisa begitu saja kita hanya memikirkan kesenangan kita sendiri, 9 miliar itu merupakan ciptaan Sang Maha Kuasa, perlu kita beri sedikit KASIH, kita beri sedikit perhatian. Kalau kita tidak memberikan perhatian kepada semua 9 miliar manusia itu, paling tidak kita mulai dengan yang ada di negara kita sendiri, sekitar 250 juta manusia yang perlu kita beri sedikit rasa KASIH.
Mungkin memberi perhatian kepada 250 juta manusia itu masih terlalu banyak buat seorang rakyat biasa, kita bisa memperkecil cakupan wilayah yang perlu kita beri perhatian, mungkin hanya sekitar tempat tinggal kita, sebatas warga di satu kota dimana kita bertempat tinggal, atau mungkin kita persempit lagi, sebatas satu kelurahan, atau satu area rukun tetangga.
Hanya diperlukan usaha memberikan sedikit KASIH kepada orang lain tanpa membedakan apa, siapa, kelompok apa, suku, bangsa, warna kulit, warna rambut, ideologi ataupun agama mereka, bukan kebencian yang extrim kepada yang berbeda itu. Ingat apapun, siapapun orang itu juga ciptaanNYA juga. Hanya satu penciptanya, Sang Maha Pencipta, Yang Maha Esa.
Buat seorang rakyat biasa memang tidak punya kemampuan untuk memberikan perhatian kepada semua orang (250 juta) itu, bisa dipersempit sebatas kemampuan orang itu dalam memberikan kasih kepada orang yang ada di sekitar tempat tinggalnya saja . . . tetapi untuk seorang pemimpin bangsa, jelas berkewajiban untuk memberikan perhatian kepada seluruh warga Indonesia itu.
Sebagai pemimpin, orang itu harus memperhatikan kebutuhan rakyatnya, apakah cukup makan, bagaimana kesehatan mereka, apakah punya tempat tinggal, apakah ada yang tidak punya pekerjaan, siapakah yang miskin, siapa sedang sakit apa, bagaimana mempersiapkan bahan pangan untuk rakyatnya, bagaimana agar mereka bisa sehat walafiat, bagaimana kondisi tempat tinggal mereka apakah aman atau berada di tempat rawan bencana, dst. Kemudian sang pemimpin harus berusaha menjaga kekayaan alam Indonesia agar bisa dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia sesuai pasal 33 UUD’45 . . . dst.
Seseorang yang berada di posisi terbawah, hanya rakyat biasa akan berkewajiban sebatas kemampuan sebagai rakyat biasa, semakin tinggi jabatan seseorang semakin luas cakupan wilayah yang menjadi tanggung jawabnya, maka semakin besar kewajiban orang itu, semakin banyak yang harus di beri perhatian. Seorang lurah punya berkewajiban mengurus warga satu kelurahan, seorang camat mengurus warga satu kecamatan, seorang gubernur mengurus satu provinsi, dan seorang presiden mengurus warga satu negara. Setiap pembantu presiden jelas punya kewajiban mengurus kebutuhan warganegara sesuai bidang pekerjaan yang diamanatkan kepada orang itu.
Sebagai pemimpin, tentu tidak bisa dia makan kenyang sendirian, sementara rakyatnya masih ada yang kelaparan, dia tidak bisa memperkaya dirinya sendiri sementara rakyatnya masih ada yang miskin tidak punya apa apa. Jadi pengelolaan sumber daya alam itu tidak boleh diberikan kepada orang asing sementara rakyatnya tidak menerima bagian yang cukup. Lihatlah, bangsa ini hanya mendapatkan bagian dalam bentuk royalti sebesar 1% dan hal itu sudah berlangsung 40 tahun lebih . . . itupun tidak terbayarkan.
Apalagi kalau sang pemimpin itu hanya menikmati hidupnya sendiri, hanya bernyanyi nyanyi, bermain sosial media, bermain internet dan hanya bermain pencitraan saja, tidak melakukan hal hal yang bermanfaat buat rakyatnya. Pemimpin yang demikian itu tidak punya rasa kasih. Kalau sudah tidak punya kasih, bagaimana dia mau membuktikan cinta kepada Sang Maestro, Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Keber-agama-an orang itu patut dipertanyakan. Jangan jangan cuma sekedar pencitraan saja, hanya mengaku aku sebagai orang alim, sebagai orang baik, padahal dia tidak peduli kepada orang lain, tidak peduli kepada rakyatnya, hanya sekedar mengejar nafsu perut dan nafsu bawah perutnya sendiri.
Cinta kepada Tuhan harus punya rasa Kasih
Kalau kita mengaku beragama, kita berusaha menjalankan ritual agama, harus juga siap memberikan rasa kasih kepada sesama kita, kepada setiap orang sebagai mahluk ciptaan Sang Maha Kuasa. Ada rasa cinta, maka harus berbagi kasih kepada orang lain yang ada di sekitar kehidupan kita. Itu jelas sebagai kewajiban seorang manusia.
Seperti cuplikan berikut:
Raja Ram Mohan Roy, an educated Bengali, at Calcutta in 1828, menulis: “the true way of serving God is to do good to man.” … dari buku “Concepts of Hinduism”. (Maaf, saya lupa nama pengarangnya)
Kalau kita tidak berusaha memberi kasih kepada orang lain, maka usaha kita untuk menampilkan cinta kepada Tuhan itu tidaklah lengkap. Kalau seorang rakyat biasa yang tidak punya kemampuan apa apa, dan dia tidak bisa memberi bantuan kepada orang lain, itu tidak bisa dikatakan dia tidak berusaha merealisasikan cintanya, mungkin memang dia tidak punya apa apa untuk diberikan kepada orang lain. Tetapi membantu orang lain, tidak harus dengan memberikan materi, memberi uang, memberi makanan, atau benda lain, kita bisa membantu orang lain dengan moril, dengan jasa, dengan pikiran, dengan tenaga, dengan usaha usaha lain, paling tidak menghormati keberadaan orang lain dengan perbedaan yang ada di orang itu. Jangan sampai, tidak mau memberikan sedikit kasih tetapi malah menampilkan kebencian kepada orang lain.
Hargai CiptaanNYA
Kita harus menghargai apa yang telah Tuhan ciptakan selama ini, alam semesta berikut isinya, ada berbagai mahluk diantaranya ada manusia, ada tanaman, ada binatang, dlsb. Kita beri sedikit KASIH kepada berbagai mahluk ciptaanNYA, dan kita berikan rasa SAYANG kepada alam (lingkungan, tanaman, binatang, dlsb) ciptaanNYA. Bukan kebencian atau ketidakpedulian yang ditampilkan.
Cinta, Kasih dan Sayang
Berikut ini beberapa kondisi hubungan antara Cinta dengan Kasih, dan dengan Sayang:
- kalau Anda bilang CINTA kepada Yang Maha Kuasa, maka Anda harus memberikan KASIH kepada mahluk ciptaanNYA,
- kalau Anda tidak memberikan KASIH kepada sesama malah lebih suka menebar kebencian kepada sesama umat sebagai mahluk ciptaanNYA, berarti sebenarnya Anda tidak CINTA kepada Yang Maha Kuasa, Anda cuma mengejar cinta egois semata, keber-agama-an Anda cuma palsu belaka,
- kalau Anda bilang CINTA kepada Yang Maha Kuasa, Anda sudah berusaha memberikan KASIH kepada sesama umat mahluk ciptaanNYA, maka Anda harus memiliki rasa SAYANG kepada alam dimana berbagai mahluk itu hidup,
- kalau Anda tidak punya rasa SAYANG kepada alam dimana berbagai mahluk hidup itu bertempat tinggal, jelas Anda sebenarnya tidak punya rasa KASIH kepada sesama umat mahluk ciptaanNYA, maka Anda sebenarnya tidak punya CINTA kepada Yang Maha Kuasa, Anda cuma seorang egois, Anda sebenar benarnya tidak beragama, ritual agama yang Anda jalankan cuma sekedar topeng pencitraan belaka.
Jadi kalau Anda bilang beragama, agama apapun, Anda berusaha menampilkan CINTA kepada Tuhan, sudah pasti Anda memberikan KASIH kepada sesama manusia, dan Anda harus punya rasa SAYANG kepada alam dimana manusia itu hidup. Anda harus memelihara alam agar alam memberikan manfaat bagi manusia.
Sebaliknya kalau Anda tidak peduli kepada orang lain, menebar kebencian kepada sesama manusia, apalagi tidak peduli kepada alam, merusak alam sehingga lingkungan rusak dan membawa bencana, Anda sebenarnya tidak punya rasa CINTA kepada Tuhan, karena Anda tidak menghargai ciptaanNYA, Anda sebenarnya cuma seorang egois, hanya mengejar kepentingan pribadi, hanya mencari keuntungan pribadi, dan Anda sebenar benarnya tidak tahu sifat utama Sang Maha Kuasa yaitu: Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berarti Anda tidak kenal Tuhan, hanya menyembah materi bukan menyembah Tuhan.
Hukum Kasih Sayang
Dalam hubungan kita dengan sesama manusia, sebaiknya tidak mengkaitkan dengan agama, apapun agama orang lain, itu merupakan hak pribadi, tidak perlu membedakan perlakuan karena beda agama, tidak membedakan karena beda suku, beda bangsa, beda warna kulit, beda type rambut, beda bentuk mata, beda ideologi, beda negara, semuanya sama di mata Tuhan, semuanya merupakan ciptaanNYA. Berikan sedikit kasih bukan kebencian.
Jangan mempersulit hidup orang lain, bantulah mempermudah hidup orang lain. Pelihara alam dengan sebaik baiknya, jangan merusak alam lingkungan tempat tinggal manusia, kelola alam agar memberikan manfaat yang sebesar besarnya bagi kehidupan manusia.
Dalam kehidupan kita sebagai manusia di dunia bersama 9 miliar manusia di dunia, dengan bumi ini sebagai penopang kehidupan manusia, diperlukan hukum yang sederhana, Hukum Kasih Sayang, hukum yang mengatur KASIH antara sesama umat manusia, mengedepankan rasa SAYANG kepada alam agar umat manusia bisa hidup aman, nyaman, sehat, dan sejahtera.
Semua kegiatan kehidupan manusia harus berdasarkan hukum kasih sayang:
- harus memberikan manfaat bagi orang banyak, bukan mencari keuntungan hanya demi diri sendiri sementara orang banyak mengalami kerugian,
- tidak harus memberikan keuntungan bagi orang lain, tetapi jelas tidak boleh merugikan orang lain,
- tidak boleh membahayakan orang lain,
- tidak boleh mengganggu orang lain,
- tidak boleh menghalangi orang lain,
- tidak boleh merusak ruang hidup orang lain, tidak boleh merusak hak milik orang lain,
- tidak boleh mengancam kehidupan orang lain,
- tidak boleh mencuri hak milik orang lain,
- dst.
Dalam banyak buku suci agama sudah ada terdapat hukum kasih sayang, sudah tercantum penerapan Kasih dan Sayang antar umat manusia, antara manusia dengan alam, sudah ada sejak ribuan tahun yang lampau. Sayang sekali, ayat ayat itu hanya sekedar hafalan, seperti ayat yang menyebut 2 sifat Tuhan: “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”, begitu sering dilafalkan, begitu sering diucapkan . . . toh tidak dinyatakan dalam aksi memberi rasa Kasih, memberi rasa Sayang. Hanya minta kepada Tuhan agar diberi Kasih, diberi rasa Sayang tetapi tidak memberikan rasa itu kepada orang lain, kepada alam lingkungan.
Kalau Anda mengatakan diri Anda beragama, Anda akan memberikan rasa Kasih kepada sesama umat manusia, memberikan rasa Sayang kepada alam lingkungan.
Sebagai rakyat biasa, tentu segala hal diatas itu berlaku atas dirinya dalam hubungan dengan orang lain, dengan masyarakat tempat tinggalnya, dan lebih jauh dengan warga dunia yang manapun juga, cuma ruang lingkupnya terbatas, dipersempit sebatas ruang gerak dia sebagai rakyat biasa.
Tetapi, sebagai seorang pejabat, pemegang amanat rakyat, Hukum Kasih Sayang harus benar benar dia kuasai dalam penetapan kebijakan, dalam penerapan kebijakan dan kebijaksanaannya. Apakah kebijakan itu adil kepada setiap orang, apakah kebijakan itu aman bagi umat manusia, apakah kebijakan itu memberikan manfaat bagi banyak orang? Jelas dia tidak boleh menggunakan kesempatan sebagai pejabat untuk mengambil keuntungan pribadi, atau memberikan keuntungan kepada kelompok tertentu karena pertemanan, atau memberikan keuntungan kepada pengusaha alien tanpa peduli kepentingan bangsa. Tidak perlu mendapatkan keistimewaan yang membedakan dirinya daripada orang lain, karena di mata Tuhan jelas tidak ada perbedaan. Keistimewaan adalah keuntungan pribadi!

