Kesehatan dan Kebahagiaan

Kesehatan dan Kebahagiaan

Dengan pengalaman UJI-COBA berdasarkan waktu selama 15 tahun, kemudian asumsi (kesimpulan) diatas diproyeksikan kepada kehidupan masyarakat, maka bisalah diperkirakan apa yang terjadi dalam kehidupan banyak rumah tangga saat ini, atau lebih spezifik lagi bagaimana kemampuan para pria dalam urusan 4X4 saat ini yang menurun setelah usia 45 tahun keatas bahkan ada yang lebih dini mengalami penurunan ini, adanya hambatan yang dialami para pria dan suami-istri terkait urusan itu.

Selanjutnya kita bisa mencoba mendalami keadaan yang terkait penurunan stamina dan power, sekedar ber-andai-andai, tetapi saya yakin hal ini terjadi secara nyata:

  • 1) banyak pria mengalami hambatan dalam soal 4X4 karena penurunan stamina dan power, mereka mengalami DE (dysfungsi ereksi) dan atau ED (eyakulasi dini) alias tak mampu berdiri atau cepat kalah dalam pertempuran,
  • 2) jumlah penderita Diabetes mellitus (DM) di dunia saat ini ada sekitar 10% dari penduduk dunia atau hampir sekitar 900 juta orang, dan penyakit DM ini pasti diikuti oleh gerombolan penyakit lainnya dan tentu ada DE dan ED. Kalau 50% dari jumlah penderita DM itu adalah pria, berarti ada kemungkinan sekitar 450 juta pria yang bermasalah dalam hal DE dan ED … jumlah yang lumayan besar!
  • 3) pria yang tidak terpapar DM juga bisa mengalami DE dan atau ED, seperti yang saya alami dalam percobaan jeda (tidak, berhenti) makan pete selama 1,5 tahun itu, yang terjadi saat saya di usia sekitar 48 tahun dengan gaya hidup yang relatif lumayan sehat. Dengan demikian, ada kemungkinan, jumlah pria yang terkena DE dan ED bisa lebih tinggi dari nilai diatas,
  • 4) kondisi DE dan ED itu bisa saja tidak disadari, tidak pernah terpikirkan karena banyak hal, mungkin begitu sibuk dengan berbagai kegiatan (pekerjaan) sehingga tidak ada kesempatan untuk berpikir kesitu, tidak punya waktu dan kesempatan untuk mengetahui keadaan itu, sudah tidak peduli akan hal itu, sudah tidak ada gairah pada kedua orang (pasangan), atau pernikahan itu berjalan cukup lama dan mereka sudah seperti 2 sahabat, seperti saudara dan tidak terpikirkan akan urusan intim lagi,
  • 5) kecenderungan hambatan ini sudah bisa ditemui pada pria dalam usia 20-30 tahun (berdasarkan artikel Penthouse Jerman edisi September 2007), dan berdasarkan pengamatan selama sosialisasi banyak yang berusia dibawah 40 tahun sudah mengalami DE dan ED. Usia semakin tinggi, semakin banyak pria mengalami hambatan ini,
  • 6) banyak hubungan suami-istri yang bermasalah karena urusan 4X4, banyak yang kecewa karena tidak mendapatkan kebahagiaan dalam urusan ini, perceraian dan perselingkuhan menjadi usaha banyak orang untuk mendapatkan kepuasan dalam urusan ini,
  • 7) pria berusia diatas 50 tahun mulai kehilangan gairah dan sebenarnya juga kehilangan stamina dan power, sebagian di antara pria itu menyalahkan istri mereka, menyalahkan keadaan pernikahan mereka, mengatakan kalau istri mereka sudah tua tidak menggairahkan lagi sehingga suami suami mengalami DE (juga ED), mereka mencoba mencari daya tarik dari wanita yang lebih muda yang mereka anggap lebih menggairahkan … padahal permasalahannya berada di sisi sang pria yang sudah mengalami penurunan kemampuan, pria-pria ini mulai mencoba jajan keluar rumah, mencari WIL (wanita idaman lain), ada yang sekedar jajan sesekali, ada yang mencari istri muda atau istri simpanan, sang istri pertama memang tidak diceraikan, kata mereka masih ‘cinta’ … padahal sang pria pada usia itu cuma menjaga citra dan takut direndahkan karena bercerai atau takut akan sangsi jabatan sebagai pamong maka tak berani bercerai,
  • 8) lihatlah gejala penjualan dan promosi (fashion show) baju dalam (baju tidur, lingerie) wanita yang super sexy (seronok), yang semakin marak di mancanegara terutama negara barat, ini merupakan usaha kaum wanita untuk menambah gairah pasangan mereka, ibarat body (orang) yang sama dalam tampilan yang berbeda, atau gejala ‘Fifty Shade of Grey’ (FSG), atau SDM (sadomasoistik), yang dicoba dipraktekkan oleh pasangan-pasangan demi membangkitkan gairah dengan inovasi atau improvisasi (khayalan) berbeda, mereka berusaha menjalin hubungan 4X4 dengan pasangan (orang) yang sama dengan balutan berbeda dengan gaya berbeda dengan cara yang berbeda,
  • 9) kalau di negeri negeri maju mereka berusaha bertahan dengan orang yang sama dengan mencoba balutan yang berbeda yang lebih sexy (lingerie), dengan gaya dan cara yang berbeda (FSG dan SDM), di negeri kita para pria terutama yang sudah mapan mencari pembenaran dengan mengatakan pasangan mereka sudah tua sudah tak menggairahkan, sudah tak ada percikan cinta (gairah), mereka mencari body yang baru dengan gaya kawin siri, yang pria mencari istri simpanan atau istri muda, yang wanita mencari brondong (pria muda, jauh lebih muda) atau teman intim lain (PIL, pria idaman lain, gigolo) …
  • 10) yang paling jelas, kita bisa melihat di koran, tabloid, majalah, iklan-iklan penawaran obat-obat pembangkit gairah, pembangkit kekuatan untuk bisa bangun dan berdiri berlama-lama, iklan itu ada dimana mana, kios kios kecil penjual obat khusus bertebaran diberbagai sudut kota, di televisi ditawarkan berbagai terapi untuk meng’ON’kan kembali si Otong, atau penawaran penjualan berbagai obat, berbagai pil, kapsul dan berbagai peralatan pembangkit dan pemuas dahaga secara online, itu semua merupakan perwakilan keadaan ke(tidak)mampuan juang para pria saat ini dan hal ini berlaku secara luas di mancanegara,

Pembahasan gambaran diatas:
Untuk point 1) itu benar bisa terjadi, seperti point 3) itu saya alami secara langsung dalam uji-coba jeda 1,5 tahun. Kondisi DE dan ED bisa menghampiri seorang pria yang baru berumur 20-30 tahun seperti (lihat point 5))yang ditulis dalam satu artikel di majalah Penthouse Jerman, dan berdasarkan pengamatan selama sosialisasi saya mendapatkan beberapa pria berumur antara 30-40 tahun yang sebelumnya mengalami ketidak-mampuan itu dan setelah ikut terapi mereka mendapatkan stamina & power yang jauh dari sebelumnya. Selain itu ada beberapa pria yang berumur diatas 60 tahun yang sudah mengalami belasan tahun keadaan ‘tidur panjang’, dan kembali bangun dalam hitungan hari setelah ikut terapi.

Untuk point 2), penderita DM sekitar 10% dengan kemungkinan bisa lebih besar dari itu, karena di banyak negara (developing countries dan under-developing countries) tidak ada usaha (atau hanya sekedarnya saja) dari pemerintah negara negara itu untuk melakukan pemeriksaan warga mereka terkait penyakit itu, jadi ada lebih banyak lagi warga negara negara itu yang tidak masuk hitungan.

Pada point 4), banyak pria yang tidak sadar akan DE, sudah tidak berpikir soal urusan intim. Tetapi pada point 5), pria usia 20-30 tahun sudah bermasalah dengan hal itu. Dan dari pengamatan (catatan) saya, ada banyak orang orang yang saya kenal di usia 40-50 tahun yang telah bercerai karena masalah itu, atau mereka mencoba mencari kepuasan dengan berselingkuh, seperti point 6) diatas.

Pria yang sudah mengalami hambatan, kehilangan gairah dengan pasangannya, bisa saja mengikuti keadaan pada point 4), tetapi mereka yang punya jabatan, punya pendapatan besar, didukung dengan alasan diijinkan oleh agamanya, mereka mencoba mencari pemuasan urusan ini dengan mencari WIL, mencari istri muda, melengkapi hidupnya dengan istri simpanan, dengan gaya kawin siri atau jajan sate diluar rumah seperti point 7) dan point 9). Hal ini benar terjadi! Mereka mencari sensasi ketegangan dalam urusan itu seperti para pendaki gunung yang mencoba memanjat tebing curam, semakin terjal semakin tinggi adrenalin terpompa. Untuk urusan ‘pembangunan’ si Otong, mereka membeli obat obat pendorong (lihat point 10)). Kalau dilakukan sesekali memang terlihat begitu indah, begitu menggairahkan, tetapi kalau sering sering menggunakan obat obat pendorong buatan pabrik itu bisa kena serangan jantung atau stroke!

Pada point 8), masyarakat dunia berusaha untuk mengatasi keadaan DE dengan merancang baju dalam (tidur) wanita yang sexy, yang berbeda untuk membangkitkan ‘Pandangan Hidup’ pasangan mereka. Tidak hanya itu, saat ini ada usaha usaha untuk membangkitkan ‘Bayangan Hidup’, angan-angan, khayalan dalam bentuk PHONE-SEX (Premium Call) atau SEX-ONLINE agar pria atau wanita bisa bergairah dalam urusan itu. Mereka dari negara negara maju masih berusaha untuk setia kepada pasangan masing masing, maka gairah dicoba dikembangkan dengan lingerie yang seronok, dengan khayalan FSG atau SDM, usaha usaha untuk tetap setia satu sama lain, dengan body yang sama tapi balutan yang berbeda, dengan gaya dan cara yang berbeda. Coba saja lihat katalog lingerie, khayalan yang ditawarkan ada bermacam macam, ada yang terbuka disana, ada yang ditutup disini, ada yang bergaya perawat, ada yang bergaya anak sekolah, ada yang bergaya hero(in bagi wanita), ada yang bergaya wanita pekerja, bergaya wanita desa, dlsb. Kalau masyarakat maju berusaha membangkitkan gairah dengan merancang khayalan yang sexy (lihat point 9)) dan mencoba bertahan dengan pasangannya, mencoba setia, di masyarakat dengan agama yang mengijinkan ‘kawin lagi’ dan ‘kawin siri’, maka sang pria yang pejabat atau punya kemampuan ekonomi tinggi akan berusaha memelihara istri muda, istri simpanan atau teman kencan (WIL). Akhirnya seperti yang terjadi saat ini di Indonesia, para pejabat itu hanya sekedar mengikuti nafsu perut dan bawah perut mereka, korupsi untuk bisa membiayai ‘kawin lagi’ dan ‘kawin siri’ dengan istri muda, istri simpanan atau WIL mereka. Di satu sisi pria yang pejabat itu punya daya beli kuat, di sisi lain ada banyak wanita wanita muda yang butuh kehidupan enak bergelimang harta tanpa kerja keras, mereka punya daya jual kuat, terjadilah jual beli di antara mereka. Terjadilah PERSELINGKUHAN sampai PERZINAHAN! Coba saja searching di internet tentang perselingkuhan, perilaku salah ini begitu marak dan dianggap trendy!?

APA YANG BISA DIPERBUAT?

Ada beberapa upaya untuk menghadapi hal itu.
1) Merubah sudut pandang soal sex
2) Tetap setia kepada pasangan masing masing
3) Pernikahan harus cukup jauh beda usia
4) Terapi Pete

1) Merubah sudut pandang soal sex

Sex adalah kegiatan manusiawi yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan (recreate, rekreasi, hiburan, refreshing) dan merupakan kegiatan procreation (reproduksi) untuk mendapatkan keturunan. Setiap orang perlu kebahagiaan dengan ataupun tanpa procreate. Dengan melihat kondisi bumi yang mulai penuh sesak dengan manusia dan terlihat keterbatasan ‘resources’ untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia saat ini, maka procreate itu tidak menjadi keharusan lagi. Saat ini ada 1 miliar warga dunia yang kelaparan, pergi tidur dalam keadaan perut kosong.

Sex menjadi kegiatan procreation dan recreate, menjadi hak dan kewajiban setiap orang dalam hubungan dengan pasangan mereka. Setiap orang berhak dan wajib untuk mendapatkan kepuasan dalam hal sex, tetap harus dalam kegiatan yang penuh etika, bermoral dan sesuai ketentuan yang berlaku, sesuai ketentuan sebagai manusia bukan sebagai binatang buas. Dibutuhkan kesetiaan dalam menjalankan hubungan antar manusia dalam jangka panjang, bukan sekedar suka menjalankan kewajiban untuk jangka pendek atau hanya menuntut dari sang pasangan, tidak berpindah pindah (berganti ganti) pasangan seperti layaknya binatang, tidak boleh mengganggu pasangan yang lain dan hal ini ada dalam ketentuan berbagai agama bahkan sampai ke 10 Perintah Allah juga sudah dicantumkan, tidak boleh selingkuh (adultery) dan adultery ini merupakan kejahatan terberat dalam berbagai agama.

Jadi, kita harus berusaha untuk menikmati kehidupan bersama pasangan kita untuk jangka panjang, kita harus bisa menggali suasana baru yang terus menggairahkan pasangan kita, mencoba kegiatan baru, mencoba cara baru, mencoba gaya baru, mencoba balutan baru, mencoba khayalan yang berbeda bersama pasangan kita … dan itu bisa berlangsung selama puluhan tahun! Kita harus mencoba membangun kesadaran bersama dalam hal ini, bukan dengan segera menuduh yang lain tidak membangun gairah lalu segera mencari pengganti, tetapi belajarlah terus untuk membangun kesadaran akan kebahagiaan bersama. Para pria harus mulai belajar soal ini lebih luas lagi, lihatlah berbagai promosi pakaian dalam wanita, ajaklah pasangan Anda untuk membalut diri dengan ke-sexy-an, dengan lingerie yang menarik untuk menambah gairah, bacalah berbagai literatur bagaimana bisa saling membahagiakan satu sama lain. Carilah jalan keluar dari kesibukan, dari ketidak beresan keadaan saat ini, rubahlah suasana, bangun komunikasi soal ini. Cari buku TANTRIC dan KAMASUTRA, belajarlah dari situ bagaimana merubah variasi agar tidak sekedar MISSIONARY-style.

Lembaga terkait hal ini, jangan terlalu ketat dalam pembatasan penampilan gairah, karena bagaimanapun hal ini diperlukan oleh setiap orang untuk mendapatkan kesegaran demi kebahagiaan bersama. Bukan menutup nutupi gairah tetapi membiarkan kawin siri berlangsung semau maunya. Perlindungan bagi kaum wanita perlu lebih diutamakan, kebahagiaan juga hak kaum wanita, bukan sekedar hak sang pria saja. Apakah boleh wanita bersuami melakukan kawin siri dengan pria lain!? Cobalah berkeadilan!? Perlu pembahasan lebih lanjut soal ini.

2) Tetap setia kepada pasangan masing masing

Setiap insan apapun jenis kelaminnya perlu kebahagiaan sex yang berkeadilan. Jangan sekedar karena sang istri sudah tua, kemudian dituduh sebagai pihak yang tidak menggairahkan, kemudian sang suami melakukan kawin lagi atau kawin siri memelihara istri muda atau istri simpanan. Sampai dimana soal ijin kawin lagi itu tidak menjurus kepada perselingkuhan!? Seorang suami yang bermain mata dengan wanita lain itu sudah menjurus ke perselingkuhan, apalagi sampai kawin lagi (kawin resmi maupun kawin siri) itu jelas perselingkuhan, karena ada yang mengganggu pernikahan suatu pasangan. Di Taiwan ada seorang wanita yang divonis penjara 298 tahun karena melakukan 894 kali kegiatan perselingkuhan, untuk setiap perzinahan diberi hukuman 4 bulan penjara. http://news.liputan6.com/read/681866/zina-dengan-suami-orang-perempuan-taiwan-divonis-298-tahun-bui. Akhirnya oleh pengadilan hukuman itu dikurangi.

Hak setiap insan untuk mendapatkan kebahagiaan, dan kewajiban setiap orang untuk memberikan hal itu kepada pasangan masing masing. Hak dan kewajiban seharusnya berlaku adil bagi pasangan suami-istri tanpa kecuali. Soal ini perlu dibuatkan undang undang yang menjamin kebahagiaan dan kehidupan secara adil. Seorang suami yang punya kemampuan ekonomi bisa semau-maunya menceraikan seorang istri dengan alasan tidak menggairahkan, atau begitu saja menduakan sang istri dengan wanita lain, sementara sang istri yang kehidupannya hanya bergantung pada sang suami tidak berdaya dan terpaksa pasrah menerima keadaan. Ketentuan undang undang dalam hal ini harus segera dipersiapkan agar hak dan kewajiban suami istri bisa terjamin. Kalau seorang istri terpaksa diceraikan, maka negara harus menjamin kemampuan hidup wanita itu dengan cukup, bukan membiarkan begitu saja. Jadi, kalau masih belum ada satu jaminan keamanan hidup bagi pihak yang lemah, dalam hal ini para wanita, maka ijin bagi pria untuk kawin lagi seharusnya dilarang. Di negara maju, seorang istri yang diceraikan bisa tetap hidup aman bahkan bisa jadi malah bisa lebih makmur dari mantan suaminya, karena sang mantan yang mampu harus memberikan tunjangan hidup kepada sang mantan istri dan anak-anaknya. Ada cerita seorang pilot bergaji besar terpaksa bercerai dengan istrinya, pengadilan memutuskan pria itu harus membayar uang tunjangan bulanan yang cukup besar sehingga sang pilot itu hanya bisa sekedar hidup biasa. Akhirnya sang pilot berhenti bekerja dan memilih menjadi pengangguran agar dia terbebas dari kewajibannya membayar tunjangan hidup sang mantan istri. Tunjangan hidup itu harus dibayar selama sang mantan istri belum terikat pernikahan dengan pria lainnya, dan setelah beberapa tahun bercerai si mantan istri belum juga menikah dengan pria lain, mungkin sengaja tidak masuk ke pernikahan dengan pria lain sekedar menjalin hubungan tak resmi. Sang pilot memutuskan berhenti bekerja dan menjadi pengangguran. Sebuah contoh bagaimana hukum dan undang undang bisa membuat perceraian itu sulit dilakukan, seorang pria tidak bisa meninggalkan istrinya begitu saja, dia harus bertanggung jawab atas kehidupan mantan istrinya.

Di salah satu negara Eropa ada satu ketentuan bagi pasangan yang akan menikah. Sebelum menikah resmi, suatu pasangan harus sudah terlihat secara umum, benar benar telah tinggal bersama selama suatu jangka waktu tertentu, lembaga terkait akan melakukan pemeriksaan sewaktu waktu apakah pasangan itu benar benar ingin menikah. Hal ini diperlukan untuk menjamin tidak terjadi pernikahan ‘pura pura’ demi keuntungan ekonomi salah satu pihak. Kemudian di Perancis, ada kemungkinan satu pasangan yang tak terikat pernikahan resmi, hanya hidup bersama dan kondisi ini dilaporkan secara resmi ke lembaga terkait, untuk mendapatkan berbagai fasilitas layaknya satu pasangan suami istri, misal saja bisa ikut ‘sang suami’ pindah ke luar negeri dalam tugas pekerjaannya, sang pria sebagai ‘suami tak resmi’ bisa mendapatkan pengurangan pajak karena mempunyai tanggung jawab menghidupi ‘sang istri’. Kedua cerita terakhir ini bukan bentuk satu dukungan kepada gaya hidup bersama (kata orang ‘kumpul kebo’) tetapi sebagai ilustrasi bagaimana tanggung jawab seseorang kepada pihak lainnya. Dan ketentuan seseorang berselingkuh itu berlaku antara seseorang dengan orang lain yang masih terikat pernikahan, dan selama keduanya orang bebas, itu bukan perselingkuhan.

Jadi, untuk menikah harus yakin akan pasangannya, sebelum yakin mereka melakukan pemilihan, pendekatan, penyaringan, penentuan soal calon pasangan. Menikah itu hal yang sakral, sangat penting, sangat bernilai, tidak bisa sekedar cinta saja tetapi benar cocok luar dalam untuk jangka panjang, untuk sekedar memiliki julukan tuan dan nyonya X. Yang sudah menikah setelah menjalani masa penyaringan panjang juga banyak yang bercerai, apalagi kalau tidak ada masa penyaringan kecocokan sebelumnya. Tidak mudah menyatukan 2 manusia yang berbeda kedalam satu biduk untuk menempuh kehidupan bersama dalam jangka panjang. Meski di negara yang sudah menjamin keamanan hidup (jaminan sosial) bagi setiap orang, mereka tidak bisa begitu saja menikah dan satu waktu setelah melihat ketidak-cocokan dalam perjalanan pernikahan kemudian saling menceraikan … toh, sang wanita itu akan dijamin oleh negara, dan negara itu juga menyiapkan berbagai fasilitas untuk memberikan kesempatan kerja bagi sang wanita yang telah diceraikan … mereka tidak melakukan pernikahan semau-mau-nya, menikah saat usia cukup, kemudian setelah beberapa tahun, kalau tidak cocok lalu bercerai.

Hidup memang penuh rahasia. Untuk membahas hal pernikahan ini membutuhkan banyak pertimbangan (pemikiran), akan menghabiskan banyak waktu, perlu tulisan yang panjang, dst … saya tidak berani melanjutkan pembahasan tentang hal ini, biarlah para ahli terkait yang melakukan pembahasan lebih jauh. Yang paling penting, cobalah untuk setia kepada pasangan, setelah Anda menikah, Anda punya hak untuk bahagia, juga punya kewajiban untuk membahagiakan pasangan Anda, begitu juga pasangan Anda punya hak dan kewajiban, jadi bekerja samalah dalam hal ini. Jangan munafik, jangan berbohong dalam pernikahan Anda, kalau memang tidak cocok jangan berpura pura tidak ada masalah, kalau memang tidak bisa mencapai hak dan kewajiban katakanlah, jangan membiarkan permasalahan itu dengan alasan malu, alasan etika, alasan apapun, apalagi bersikap munafik kemudian mencari pelampiasan keluar rumah, berselingkuh, yang pria kemudian mencari istri muda, membiayai istri simpanan, yang wanita mencari brondong dan pemuasan di luar rumah. Jangan sampai terjerumus ke perselingkuhan dan atau perzinahan.

3) Pernikahan harus cukup jauh beda usia

Beberapa teman pria usia sekitar 59-61 tahun ikut terapi air pete, dalam beberapa hari minum air pete mereka langsung bangun berdua, si Otong bangkit kembali siap diajak tarung … tapi dengan siapa??? Sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan, setelah tidur panjang tiba tiba si Otong bangkit kembali, sementara istri istri mereka yang cuma beda usia beberapa tahun mungkin sudah masuk masa menopause, sudah tidak bisa instant menjadi sparing partner. Beberapa diantara mereka menyampaikan keluhan kepada saya, sekarang sudah bangun berdua … terus bagaimana? Ada yang bilang, nggak mau ah, saya jadi remaja lagi!?

Sudah sejak awal sosialisasi terapi pete saya mengatakan ada efek Slow Vixgrx dan kembali bangun berdua, itu adalah bonus dari terapi pete, jangan dijadikan permasalahan, walau bagi beberapa orang hal itu memang jadi masalah, yang lebih penting Anda bisa sehat dengan terapi yang sederhana, Anda mendapatkan kesehatan dan kehidupan. Sekali lagi efek itu cuma bonus sampingan.

Ada di antara teman pria yang ikut terapi, istrinya masih jauh lebih muda, dia begitu gembira karena bisa kembali menikmati kebahagiaan bersama istrinya, dia langsung ‘honeymoon’ bersama istrinya keliling dunia, mungkin ingin mengulang masa masa penuh kebahagiaan itu bersama sang istri.

Wanita yang ikut terapi pete sebenarnya bisa mengulur masa menopause, bisa terus mendapatkan menstruasi, tetapi bagi mereka yang sudah terlanjur cukup berumur, tidak bisa instant kembali di-refresh-ing untuk bisa sparing dengan suaminya, perlu waktu yang panjang atau mungkin malah sulit untuk bisa kembali ‘ON’. Untuk hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut, baru ada beberapa kasus terkait hal ini. Pembuktian untuk hal ini masih butuh waktu panjang.

Bagi pria, terapi pete, baik terapi buah pete maupun terapi air pete bisa dengan segera menjadikan pria kembali bangun berdua, dari beberapa kasus, hanya perlu sehari minum air pete sudah bisa ON lagi, dan ada pria usia 67 tahun, hanya dengan terapi buah pete telah kembali bangun berdua sejak hari ke-8, hanya butuh 7 hari terapi buah pete untuk kembali ON. Bagi pria berusia dibawah 45 tahun, terapi pete bisa menambah stamina & power langsung menjadi 3 kali lipat, inilah efek Slow Vixgrx itu. Dan setelah menjalankan terapi pete, efek ini terus bertahan selama beberapa bulan, berbeda dengan efek pil biru pendongkrak kekuatan pria yang langsung ON untuk beberapa jam, tetapi sehari dua hari kemudian telah kembali ke kondisi semula, dan untuk ON harus minum pil biru itu lagi. Dengan terapi pete, memang lambat proses ON-nya, mungkin perlu waktu semalam, besok pagi sudah ON, lanjutkan terapi-nya, maka kondisi ON itu bisa diperoleh setiap saat diperlukan dan terus ada dengan stamina & power berlipat. Untuk mengetahui berapa lama efek ini bertahan, berdasarkan uji-coba 1,5 tahun jeda makan pete itu, buat saya itulah masa susah ON.

Secara umum, pria akan mudah kembali ON dengan terapi pete, pada usia berapapun, dan itu berarti masa pembangunan itu hampir tidak ada matinya (istilah sekarang!), kapan saja bisa kembali bangun berdua. Yang sulit adalah pasangan kita, kalau hanya beda setahun sampai 4 tahun, dan pada usia sang suami 60 tahun-an yang kembali ON, maka sang suami terpaksa tegang sendirian, karena sang istri sudah tidak mau lagi duel sparing. Jadi, usia pria dan wanita yang akan menikah sebaiknya berbeda cukup jauh, minimal beda 6-10 tahun atau lebih. Inilah pesan saya bagi pasangan yang ingin menikah.

  • Cinta memang tidak kenal usia, bisa saja pria dan wanita berpacaran sejak di bangku sekolah, di kelas yang sama, pacaran bertahun tahun sampai keduanya menyelesaikan sekolah tinggi, kemudian mereka menikah, ternyata usia pernikahan mereka hampir sama dengan usia pacaran.
  • Ada pria menikah dengan wanita yang lebih tua karena cinta, pengantin pria berumur dibawah 30 tahun sementara pengantin wanita itu berumur 35 tahun. Coba kita tunggu sekitar 15 tahun kemudian, saat sang istri masuk usia 50 tahun menjelang menopause, sang suami masih di usia 40 tahun, masih sehat dan masih menggebu gebu, apakah cinta mereka masih bisa bertahan dengan hubungan intim yang mulai tersendat sendat? Dengan kondisi kesehatan masyarakat saat ini yang begitu rentan akibat bahan pangan yang telah begitu penuh dengan TPD?
  • Teman teman saya yang berusia 60 tahun itu kembali bangkit setelah menjalankan terapi pete, mereka menyesal baru mengetahui terapi ini di tahun 2014, mereka berkata: “Kenapa nggak cerita soal terapi ini waktu 10 tahun yang lalu!?”. Saya jawab, saya belum berani menyebarkan terapi ini waktu itu karena masih dalam masa penelitian, saya belum mendapatkan cukup bukti, peserta percobaan waktu itu masih terbatas, manfaat yang terungkap masih terbatas, saya masih perlu menguji coba dengan lebih banyak peserta percobaan. Boleh diperkirakan, perbedaan usia mereka dengan istri pasti tidaklah cukup jauh, mungkin antara sekitar 4-6 tahun.
  • Saya dan istri beda 10 tahun, masih cukup ideal, kami masih punya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dengan terapi pete.

Cinta adalah dasar utama pernikahan, tetapi keintiman merupakan perekat pernikahan, kalau salah satu kurang berbahagia, pernikahan akan menghadapi hambatan. Usulan untuk beda usia cukup jauh bagi pasangan yang akan menikah hanya sekedar usulan, bukan mutlak, karena ada banyak juga pernikahan yang tidak beda usia bisa terus bertahan, soal keintiman bukanlah segalanya. Jadi, silahkan tentukan sendiri … dan untuk bisa mempertahankan keintiman dalam pernikahan, jalankan terapi pete, bukan hanya sang suami yang menjalankan, tetapi juga sang istri harus rajin menjalankan terapi. Buat para istri, harap berhati hati, sang suami pada usia berapapun, dari kondisi tiarap bisa segera bangkit menggebu gebu dengan terapi ini, kasihan kan kalau sang suami hanya tegang sendirian. Cobalah hidup sehat, belajarlah dari banyak sumber, cobalah menjaga badan, belilah balutan (pakaian dalam, lingerie) sexy untuk memberi gairah baru kepada suami, jangan sampai sang suami jajan sate diluar rumah, jangan dorong mereka (suami suami) masuk ke PERSELINGKUHAN dan PERZINAHAN karena kurang pelayanan dirumah. Begitu juga para suami, mulailah hidup sehat, belajar dari banyak sumber, siapkan diri, ikut terapi pete agar stamina & power terus terjaga, berikan para istri kebahagiaan dalam keintiman, jangan dorong para istri masuk ke jurang PERSELINGKUHAN dan PERZINAHAN karena merasa kurang puas di rumah.

4) Terapi Pete

Untuk menjaga kesehatan sebaiknya menjalankan terapi pete atau terapi herbal lainnya. Jangan sering sering minum obat artificial, gunakan obat yang berasal dari alam, yang lebih dekat kepada Sang Maha Pencipta, bukan yang pabrikan yang mencampurkan bahan kimia beracun. Buah pete yang sudah dikenal sebagai blood cleansing (pembersih darah) ini bisa membersihkan berbagai TPD (toxin, poison dan dirt) yang ada dalam darah, di dalam pembuluh darah, yang bersarang dalam berbagai organ, yang merupakan hasil penumpukan dari makanan yang kita konsumsi selama ini. Tidak hanya ‘fast food’ atau ‘instant food’ mengandung TPD, makanan yang diolah di rumah juga tidak terlepas dari TPD, karena kita tidak bisa mengawasi bagaimana proses budidaya makanan itu di sisi produsen (peternakan, pertanian ataupun perkebunan), bisa saja produsen itu memakai berbagai bahan berbahaya, atau saat produk makanan itu didistribusikan, setelah dipanen, saat transportasi, saat penyimpanan di gudang, saat penjualan, juga bisa tercemar berbagai TPD.

Banyak orang sudah tidak punya rasa kasih (kasihan) kepada orang lain, mereka berusaha mendapatkan keuntungan yang sebesar besarnya dengan cara cara yang curang, bahkan di negara maju sekalipun, dengan sistem sosial yang bagus sekalipun, tetap tidak ada jaminan produk makanan itu bebas TPD dari sejak diproduksi. Memang ada usaha usaha untuk menjaga kesehatan manusia yang dilakukan oleh para petani, peternak yang sadar akan bahaya TPD, mereka berusaha menjaga produk mereka bebas TPD, mereka memproduksi bahan pangan organik, tetapi harga jual produk yang sehat itu tinggi karena biaya produksinya tinggi, menjadikan harganya lebih mahal dari produk sejenis tanpa kepedulian itu, menyebabkan mereka (pengusaha bio, organik) sulit untuk bisa mendapatkan keuntungan, sulit untuk terus bertahan, dan usaha mereka tidak diberi bantuan (subsidi) oleh negaranya, akhirnya mereka mengalami kesulitan keuangan dan mengalami kekalahan dalam usaha mereka. Jumlah mereka semakin sedikit (hal ini saya baca di sebuah majalah terbitan Jerman).

Ada negara yang memproduksi bahan pangan berbahaya yang kemudian mereka export ke luar negeri, dan karena memang mengandung bahan berbahaya bahan pangan itu dilarang dikonsumsi oleh warganya. Mereka tidak peduli kalau bahan pangan itu merusak kesehatan warga negara lain. Seperti produk produk dari negara tetangga yang mengandung TPD atau bahan pangan hasil rekayasa genetik berbahaya kemudian dijual ke Indonesia padahal dilarang untuk dikonsumsi di negara negara lain termasuk di negara produsen itu sendiri.

Dari 3 kali uji-coba jeda 1,5 tahun yang saya lakukan, saya mendapatkan fakta penurunan kesehatan, penurunan kemampuan dalam banyak hal termasuk stamina & power dalam urusan 4X4. Meski saya sudah berusaha untuk menjalankan pola hidup sehat, pola makan sehat, sudah sekitar 7 tahun menjalankan terapi pete sebelum menjalankan uji coba jeda 1,5 tahun itu dan juga tidak terpapar DM atau penyakit lainnya, pada waktu jeda 1,5 tahun itu tetap terjadi penurunan yang drastis dalam banyak hal, dan hal itu terjadi pada usia 48 tahun! Jadi … meski badan sudah dipersiapkan sedemikian rupa dengan pola hidup sehat, pola makan sehat, sudah ikut terapi cukup lama, toh penurunan kesehatan badan karena faktor usia bisa terjadi setelah jeda 1,5 tahun … bagaimana kalau tidak pernah ikut terapi sama sekali dengan pola hidup tak sehat dan pola makan sembarangan!? Saya sudah bertemu dengan orang-orang berumur 40 tahun-an yang sudah terkena stroke, ada beberapa remaja yang sudah terkena DM, bahkan yang terakhir anak dibawah 10 tahun sudah mengalami ketergantungan suntik insulin 4 kali dalam sehari!

Saya mulai menjalankan terapi pete pada usia 40 tahun sampai sekarang, kecuali saat 3 kali jeda 1,5 tahun itu, kesehatan secara umum dapat dipertahankan, organ tubuh diregenerasi dengan baik, kulit keriput terlihat jauh lebih sedikit dibanding orang lain yang se-umur-an bahkan terlihat jauh lebih fresh dari orang yang berusia jauh lebih muda, badan semakin terlihat ber-isi (agak kekar ber-otot) meski tidak ikut fitness, pembuluh darah terlihat halus, samar dan lentur, hanya terlihat garis rona biru di tangan, soal stamina & power secara umum baik, memang ada gejala naik turun relatif rendah dan itu normal. Jadi terapi pete sudah menjaga ketahanan kesehatan saya sejak 1995 sampai sekarang.

Jadi, Anda mau sehat … jalankan terapi pete! Soal anti (DE dan ED) itu bisa diperoleh sebagai bonus.

[Saya membaca di majalah kesehatan luar, kalau Anda sudah terpapar DE, maka bersiaplah dengan serangan jantung atau stroke dalam waktu dekat (setahun dua tahun), berarti jiwa Anda dalam keadaan kritis, hidup Anda sedang terancam!!!]

Penutup

Apa yang saya tulis merupakan pandangan saya berdasarkan pengamatan dalam kehidupan sehari hari, dari berbagai bacaan yang saya dapat dari majalah, dari internet, dlsb. Kalau tulisan ini tidak cukup lengkap, memang sekedar pandangan pribadi saya, ilustrasi dari keadaan yang saya lihat, dan sebenarnya pembahasan untuk hal hal diatas bisa lebih panjang dan kenyataan yang ada mungkin jauh lebih buruk lagi daripada apa yang saya tampilkan.

Akhir kata, kalau ada yang keberatan dengan tulisan ini, silahkan memberikan komentar. Mungkin komentar Anda bisa memperkaya tulisan ini, atau bisa meluruskan hal hal yang kurang tepat. Ibarat pepatah lama: “Tak ada gading yang tak retak”, tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan disana sini. Harap dimaklumi adanya, tolong dimaafkan bila ada salah kata.

Tulisan tulisan itu bukan untuk mencari sensasi, atau pembenaran terapi pete, tetapi demi kebaikan kita bersama dalam kehidupan kita berbangsa bernegara dan dalam saat kita menyongsong masa depan kita bersama, kita membutuhkan banyak keluarga keluarga yang sehat dan berbahagia. Pembentukan generasi penerus yang jempolan hanya bisa terjadi dalam keluarga (pernikahan) yang berbahagia, termasuk berbahagia dalam urusan 4X4.

Jakarta, 18 Maret 2015

Leave a Reply