PHITECANTROPUS ERECTUS MOTORITUS

Setelah membaca surat pembaca, di Kompas hari ini, Sabtu, 13 Juni 2009: “Ulah Pengendara Moge, Istri dan Anak Menangis Histeris” yang mobilnya digedor-gedor serombongan pengendara moge, dipukuli, dicaci-maki, diancam, dll, maka saya putuskan untuk melepas uneg-uneg saya tentang pengendara motor.

PHITECANTROPUS ERECTUS MOTORITUS

Terjemahan gampangnya: mahluk purba berjalan tegak – naik motor.

Saya sudah sangat terbiasa melihat bagaimana orang-orang naik motor sembarangan belakangan ini. Semua pengendara roda dua berjalan semaunya sendiri, sudah tidak ada etika, tidak ada sopan santun, tidak ada kepedulian terhadap pengendara lain. Jalan satu arah dilawan, jalan dua arah dikuasai. Nyelonong kesana-kemari, berhenti sesuka hati, jalan pelan-pelan di tengah-tengah. Di kasih kesempatan menyusul dari sebelah kiri eh minta di sebelah kanan, gantian dikasih sebelah kanan minta di sebelah kiri.

Kalau sudah nyenggol body mobil, kaca spion, atau nyodok bemper belakang, mereka cuek aja, diam serib bahasa, nyelonong aja, atau ngacir begitu aja. Tapi jangan coba-coba nyenggol mereka, walau pelan, atau body pas nempel di kaki pembonceng, bisa ngamuk kesetanan.

Walau lampu lalulintas sudah merah, mereka terus saja ngacir, ramai-ramai, tidak kenal malu. Pengendara yang mendapat lampu hijau pun dikalahkan, bahkan tidak jarang ditantang dan laju kendaraan akan dihalang-halangi.

Kalau saja berpapasan, dan mereka mengambil jalur yang berlawanan, dengan gagah berani mereka menantang pengendara yang sebenarnya berhak atas jalur itu. Jangan tanya, bagaimana mereka akan lebih berang dan beringas kalau ulah mereka ditegur, meski dengan halus sekalipun.

Ulah dan gaya mahluk purbakala gaya baru itu akan lebih terungkap kalau mereka sudah berada di atas sadel motor besar, seakan-akan merekalah pemilik negara ini. Tidak jarang mereka menggunakan fasilitas vor-rider, yang memaksakan kehendak mereka, mengalahkan para pengendara lain yang ada. Sebuah keistimewaan yang khusus diperuntukkan bagi mereka para kaya-raya, karena hanya mereka yang sanggup untuk membeli kendaraan-kendaraan mahal itu.

Sebuah kemunduran sikap, karakter bangsa yang dapat dilihat jelas dengan mata-telanjang, setiap saat bisa dengan mudah dilihat di jalanan. Sebuah fenomena? Kenyataan pahit.

Sebuah kegilaan yang terus dipacu, ditularkan dari satu pengendara kepada pengendara yang lain, dari yang tua kepada yang lebih muda, bukan hanya tertular karena orang melihat perbuatan pengendara yang ugal-ugalan, tetapi sering pula kebiasaan buruk itu sengaja diajarkan kepada pengendara muda, bahkan tidak jarang hal ini diterapkan kepada anak-anak mereka yang masih dibawah umur. Sudah sering saya melihat anak-anak setingkat SD yang mengendarai sepeda-motor sementara si orang-tua malah membonceng di belakang.

Sebuah pem-biar-an sedang berlansung, penghancuran bangsa sedang berlangsung, dan semua orang setuju-setuju saja, bahkan SBY dalam kampanyenya bersemboyan: lanjutkan-lanjutkan. Mungkin beliau tidak pernah tahu, karena setiap saat beliau berada di jalanan, semua sudah tertib, semua sudah dipinggirkan, semua sudah dihentikan agar beliau bisa lewat. Saya memang bukan SBY, saya bisa setiap hari berada di jalan untuk beberapa jam setiap hari, harus menghadapi kebrutalan yang diperagakan para mahluk purbakala itu dengan langsung, tanpa bisa menghindari ulah mereka. Saya memang sudah terbiasa, sudah bisa menerima keadaan ini, seperti yang sering dikatakan SBY, bersama kita bisa, demikian juga saya dan sekian banyak pengendara lain (termasuk pengendara sepeda-motor yang ber-etika) harus bisa menerima kenyataan ini. Karena sudah terbiasa, maka ketidak-beresan etika para pengendara mahluk purba ini sudah bisa diterima. Atau harus bisa diterima. Iya kan, kata Gus Dur, begitu aja repot. Jadi!? Lanjutkan-lanjutkan!!!

Akankah kemunduran moral ini akan dibiarkan terus terjadi?
Sampai kapan proses mundur ke level keturunan teori Darwin ini akan dibiarkan?
Bukankah mencontoh hal yang tidak baik itu lebih mudah dari mencoba hal yang baik?

Dimanakah para pemimpin bangsa ini? Sadarkah mereka akan kehancuran moral bangsa ini, mereka sedang menjalankan pem-biar-an penghancuran moral bangsa di jalanan di atas sadel sepeda-motor!?

Lihatlah pembiaran pelanggaran disiplin yang sedang terjadi hampir setiap saat. Lihatlah di jalur khusus bus trans-jakarta, yang kadang membiarkan dan bahkan mengatur pengendara agar melintas jalur itu, dan sering pada waktu-waktu tertentu merekapun menghentikan pengendara yang melintas di jalur itu. Ada masa tanam, ada masa panen. Seperti petani saja!!!

Sampai kapan kita akan membiarkan penghancuran ini?

Mungkinkah kita bisa merubah keadaan ini, agar proses kemunduran ini bisa berhenti dan kita kembali menjadi manusia-manusia yang beradab? Ingat kata seorang capres: “lebih cepat lebih baik!”, dan seorang capres yang lain malah berjanji: “tunggu, kalau saya terpilih kembali”.

KENAPA ini bisa terjadi???

Marilah kita merenung sejenak, mencerna permasalahan ini, kemudian bolehlah kita bertukar-pikiran mencari jalan keluar dari penghancuran bangsa.

Sebagai penutup, bukan mengakhiri pemikiran ini, hanya menutup tulisan ini, karena sebenarnya masalah ini tidak berhenti disini, karena setiap anak-anak kita sebagai generasi penerus bisa menjadi korban proses pemunduran keberadaban, sebagai pelakunya atau sebagai korbannya, seperti yang dialami pengendara yang menulis surat pembaca ke harian Kompas di atas.

Saya mohon maaf kalau istilah PHITECANTROPUS ERECTUS MOTORITUS itu menyinggung perasan sementara orang dan sementara yang bukan orang. Karena sebenarnya bukan hanya pengendara motor saja yang mengalami kemunduran peradaban ke jaman awalnya teori Darwin, tetapi juga ada banyak yang lain, seperti P.E. Mobilitus, P.E. Legislatus, P.E. Aparatus, dst. . . dst. Harap dimaklumi, karena kata Permadi, inilah jaman Kaliyuga atau apalah, yang artinya jaman kehancuran.

Barangsiapa marah karena tulisan ini semoga beliau tahu benar akan kejadian yang terjadi setiap saat, setiap detik di jalanan, di gedung terhormat, di lembaga-lembaga tinggi tanpa ada batasan ruang dan waktu, dan mungkin juga di dalam diri saya sendiri yang menulis dengan gaya urakan seperti . . .

Maaf, seribu . . . eh sejuta maaf. Maaf, maaf . . . maaf ya.

Leave a Reply