Saya teringat beberapa pembicaraan di acara interaktif radio, tentang kesehatan di Indonesia.
Saya katakan waktu itu:
Presiden-presiden Indonesia saja tidak percaya kepada sistem kesehatannya sendiri. Mereka tidak percaya kepada sistemnya sendiri. Bukti nyata! Kita tentu melihat bagaimana beberapa presiden Indonesia yang lalu kemana-mana selalu membawa mobil ambulance sendiri, membawa dokter-dokter pribadinya sendiri, membawa obat-obatnya sendiri, membawa peralatan emergency sendiri.
Kenapa bisa begitu?
(cari jawabannya dulu, baru melanjutkan membaca tulisan ini!)
Kalau saja mereka percaya akan sistem kesehatan yang ada di negara tercinta ini, tentu para presiden itu tidak perlu takut akan ancaman ketidak-sehatan dirinya. Seharusnya dimanapun mereka berada, bahkan di pelosok daerah sekalipun, apabila terkena penyakit apapun mereka bisa pergi ke rumah perawatan kesehatan dimanapun yang ada yang terdekat. Bahkan kalau perlu bisa pergi ke PUSKESMAS (pusat pelayanan kesehatan masyarakat ‘BAWAH!!!!’) untuk menyatakan bahwa dirinya percaya kepada sistem yang dibuatnya sendiri.
Lucu benar kalau melihat presiden lewat, nguing-nguing-nguing-nguing, terus di belakang ada mobil ambulance. Ambulance kesehatan atau mobil jenazah sih!? (boleh marah, boleh tertawa!)
Buat kebanyakan orang, pemandangan rombongan presiden dengan mobil ambulance merupakan hal biasa. Iya kan!? Karena biasa begitu jadi terbiasa, maka bisa. Betul juga semboyan ‘bersama kita bisa’. Tetapi tidak buat saya! Itu bukan hal biasa! Itu kurang ajar! Sementara rakyat jelata harus mengiba-iba saat minta perawatan kesehatan, Harus mengurus surat-surat tidak mampu, fotocopy berbagai identitas yang biayanya malah lebih mahal dari harga perawatannya sendiri. Setiap kali perlu obat di apotik rumah sakit, maka prosesi fotocopy surat-surat kemiskinan itu berulang lagi. Tetapi toh ‘bersama kita bisa’, bisa menghadapi hal itu. Buat rakyat kecil, mereka harus terbiasa dengan hal itu, terpaksa mereka ‘bisa’ menjalani prosesi itu.
Buat rakyat biasa yang tidak bisa menyatakan ‘kemiskinannya’ mereka akan dipaksa terbiasa untuk membayar uang muka perawatan kesehatan di rumah sakit. Bayar dulu, jasa pelayanan belakangan. Kalau tak punya uang jangan harap akan dilayani, kecuali kalau sakitnya seperti demam berdarah dengue, itupun hanya di rumah perawatan tertentu, dan sering juga dikatakan tidak ada ruangan lagi.
Jangan-jangan presiden-presiden itu tidak punya uang untuk membayar uang muka pelayanan kesehatan, maka lebih baik bawa ambulance sendiri.
Jangan tanya bagaimana ‘rumah-rumah yang sakit’ itu mengakali para pasiennya. Sudah terbiasa, maka ‘bersama kita bisa’. Sudah umum, maka rakyat terpaksa menerima keadaan itu.
Di rumah-rumah yang sakit itu, seorang pasien bisa digiring dari satu penyakit ke penyakit yang tidak pernah terbayangkan. Jangan tanya tentang pemeriksaan laboratorium atau obat-obatan yang akan ditodongkan kepada pasien. Apalagi bertanya tentang rekam medis sang pasien.
LOGIKA PRITA MINTA REKAM MEDIS
Bayangkan kita minta sesuatu kepada suatu lembaga (lembaga apapun), adakah kita mendapatkan satu bukti tertulis bahwa kita sudah mengajukan permintaan atas suatu hal, data, pelayanan, apapun?
Tentu tidak ada suatu bukti tanda terima. Begitu juga di rumah-rumah yang sakit itu.
Kita bisa meminta jejak rekam medis kita. Permintaan itu tidak perlu digubris. Mereka acuh saja, karena toh tidak ada bukti yang bisa dipergunakan untuk mengajukan mereka ke Lembaga Konsumen, ataupun ke pengadilan. Jadi kalau ibu Prita minta jejak rekam medis, dan itu tidak diberikan, Jangan coba-coba untuk menceritakan hal ini kepada khalayak ramai. Kita bisa dipersalahkan karena kita ‘kalah bukti’!!!
Saya berikan satu contoh kejadian sebenarnya.
Seorang teman, initialnya TMS, dia kuliah di Jerman Barat, dengan susah payah dia kuliah dan bekerja untuk mendapatkan gelar sarjananya. Tamat dari jurusan sipil universitas Karlsruhe dia mendapat sehelai tanda tamat kuliah, hanya selembar kertas A4 sebagai bukti perjuangan belasan tahun di negeri orang. Dia pulang ke tanah air. Tanpa konsultasi dulu dengan mereka yang sudah pulang duluan, dia bawa selembar kertas A4 itu ke lembaga negara urusan pendidikan, dengan maksud pengesahan, persamaan dan penterjemahan. Seminggu berlalu, dia pun bertandang ke lembaga itu, menanyakan hasilnya, dijawab belum selesai. Minggu berikutnya dia kesana lagi. Belum selesai! Minggu berikutnya kesana lagi. Belum selesai. Sampai beberapa bulan berlalu. Satu saat dia kesana lagi. OH…jawabannya ‘bukan belum selesai’ tetapi lembaran A4 itu tidak ada! Tidak pernah ada lembaran A4 itu. Selanjutnya teman saya itu jadi sakit ingatan. GILA karena tidak terbiasa.
Dia marah, dendam, patah semangat, benci . . . (sebutkan saja sendiri deh kata-kata yang tidak senonoh). Saya yakin dia tahu, dia tidak bisa menuntut apa-apa, karena tidak ada bukti serah-terima.
Kenapa dia kalah!? Karena dia waktu itu baru pulang dari negara antah-berantah, yang sangat jauh berbeda dengan negaranya sendiri. Disana, yang boleh ya boleh, yang tidak boleh ya tidak boleh. Disini jelas berbeda, yang tidak boleh bisa jadi boleh asal ada ongkosnya, yang boleh bisa saja jadi tidak boleh kalau tidak punya ongkos. Intinya si petugas sebenarnya minta ongkos tetapi tidak mau terus terang, sementara si teman tidak sadar kalau semuanya perlu ongkos. Kencing aja harus bayar!
Ibu Prita atau teman saya itu jelas tidak bersalah! Yang salah memang sistem yang berjalan saat ini, semuanya tidak menganggap rakyat sebagai raja di negerinya sendiri. Rakyat adalah objek yang bisa diperas saat minta pelayanan mereka.
MARILAH KITA BERSAMA MULAI MEMBERESKAN BERBAGAI SISTEM ITU, bukan dengan menempuh cara-cara terbelakang seperti presiden-presiden itu yang tidak percaya dengan sistem kesehatan yang ada (sistemnya sendiri lho apa LOH!?) lalu membawa mobil ambulance sendiri, membawa tim dokter sendiri, membawa suster/perawat sendiri, membawa obat-obatan sendiri, membawa peralatan emergency sendiri. TETAPI MEMBENAHI semua sistem yang ada!!!
AMBULANCE, SETIAP LEMBAGA PUNYA AMBULANCE SENDIRI-SENDIRI
Ini satu gambaran lain, bagaimana banyak aparat negara tercinta ini tidak percaya kepada sistem kesehatannya sendiri. Lihat saja, lembaga mana yang tidak punya ambulance!? Setiap lembaga itu pasti ada bagian kesehatan sendiri, punya dokter sendiri, punya suster/perawat sendiri, punya peralatan dan obat-obatan sendiri, bahkan punya rumah yang sakit sendiri, dst. KENAPA!!!!?????
Tidak hanya itu, partai-partai juga menyediakan ambulance-ambulance sendiri, dan setiap masa kampanye mereka menarik simpati rakyat kecil dengan membuka pelayanan kesehatan gratis atau saat terjadi banjir, mereka berebut memperlihatkan rasa ikut menderita dengan membuat berbagai pelayanan kesehatan (tentu di lokasi-lokasi strategis yang bisa diliput media massa!), kenapa harus begitu?
Jadi sebenarnya, partai-partai itu sudah tahu akan tidak beresnya sistem kesehatan negara tercinta ini, tetapi mereka tidak ingin memperbaikinya, hanya mencari jalan-jalan pintas saja, sementara waktu dan terbatas, yaitu dengan menyiapkan ambulance pribadi dan pelayanan kesehatan sewaktu-waktu dengan imbalan liputan media massa. Hal ini sudah berlangsung lama, dan kalau sudah duduk di pemerintahan ataupun di legislatif, mereka pun tidak juga menyelesaikan permasalahan kesehatan ini. Lihatlah bagaimana penampilan para pemimpin partai dalam mengatasi berbagai kejadian, seperti bencana alam, tsunami, lumpur lapindo, bahkan kasus ibu Prita. Mereka hanya tampil disana untuk mencari pamor dan pamer diri bukan kemudian membereskan akar masalah!
INTI dari pengadaan ambulance itu oleh si presiden-presiden ataupun lembaga-lembaga adalah MOTO: ELU-ELU GUE-GUE! Urus saja urusanmu sendiri. Buat apa ada presiden sih!?
Kasus-kasus ambulance, pelayanan kesehatan:
- Ada seorang pemulung yang tak punya identitas tempat tinggal terpaksa membawa jenazah anaknya dengan gerobak pemulungnya, kemudian naik kereta KRL ke BOGOR (!?) karena dia tidak bisa memakamkan anaknya di Jakarta. Mana mobil ambulancenya, eh mobil jenazahnya!?
- Atau ada kejadian seorang anak yang terkena penyakit (mungkin DBD) yang dibawa ke suatu rumah yang sakit, kemudian diexport ke rumah yang sakit lainnya, dan rumah yang sakit kedua kembali mendeportasi si anak itu ke rumah yang sakit berikutnya, dst. Si orang tua terpaksa membawa si anak dari rumah yang sakit satu ke yang lain. Dan saat si orang tua minta pelayanan mobil ambulance, tentu diminta membayar ongkosnya lebih dulu.
PONARI DAN PELAYANAN KESEHATAN
Tentu kita pernah mendengar KISAH tentang seorang anak yang tersambar petir, kemudian menjadi seorang juru-kesehatan gaib, yang kemudian dinyatakan oleh lembaga keagamaan tertentu sebagai juru-kesetanan, dibilang haram oleh beberapa tokoh agama, dilarang oleh aparatur, dst.
Kenapa warga masyarakat berbondong-bondong mencari pengobatan kepada PONARI!?
Karena Ponari tidak egois, dia tidak ‘matrek’, dia hanya memberi satu kesempatan berobat yang mudah dan murah. Wargapun datang dari berbagai pelosok, karena disana ada harapan. Mereka pasrah, mereka menunggu keajaiban yang mungkin bisa datang dari tangan seorang Ponari.
Kenapa mereka tidak datang ke rumah yang sakit?
Jawabannya tentu semua sudah tahu. Yang miskin harus punya surat kemiskinan, yang tidak bisa memiliki akta kemiskinan harus membayar uang muka pelayanan. Tidak punya surat miskin dan tidak punya uang, ya . . . tunggu nasib sajalah. Rakyat toh sudah terbiasa. Bersama kita bisa!
Lembaga keagamaan itu tidak mencari pemecahan dari ketidak-beresan sistem kesehatan, tetapi lebih senang membuat label-label: haram-tidak-haram, juru-kesetanan! Gampang kan.
Apakah juru-kesehatan gaib cuma Ponari?
Tidak juga, ada buanyak sekali. Bahkan bukan untuk kesehatan belaka. Ada yang minta naik pangkat ya mencari jalan gaib. Mau mempertahankan jabatan minta kepada alam gaib. Mau jadi presiden ya minta restu alam gaib. Mintalah kepada mbah dukun: jodoh, sehat, pangkat, jabatan, apapun tersedia yang penting sesuai dengan ongkosnya. Jangan tanya berapa banyak warga elite mencari berbagai pusaka, keris, tombak, batu-batuan (merah delima), RB (rantai-babi), dst..dst.
Setelah membaca tulisan ini, tentu Anda bertanya: Apakah si penulis tulisan ini waras?
Ambulance aja dibahas, sudah begitu ngeledekin presidennya lagi!
WARAS ATAU TIDAK? Itu urusan saya! Yang penting Anda, pembaca jangan jadi tidak waras . . . ya!
====================penutup==================
Dalam tulisan ini saya bilang rumah yang sakit, jadi jangan sampai ada ‘rumah sakit’ marah karena tulisan ini dan mengadukan saya karena pencemaran nama baik. Tapi kalau presidennya yang marah karena saya ledekin, silahkan saja. Kalau dia marah berarti dia tahu tulisan ini, seharusnya bukan MARAH yang dikedepankan tetapi PERBAIKAN SISTEM KESEHATAN!!!
SBY memang sudah tidak membawa ambulance dalam perjalanannya, tetapi saat berkunjung ke daerah, maka dokter-dokter di daerah harus mempersiapkan tim dokter khusus kepresidenan. SAMA SAJA ATUH!!!

