Surat Ber-rantai – Chain Mail / Letter

SURAT BER-RANTAI

Mungkin ada yang pernah menerima surat seperti ini:

* * *

Berita gembira

10 Tahun lalu di kota Cccc di pulau Bbbb di negara Aaaa telah muncul seorang pria bernama Zzzz yang akan menyelamatkan umat manusia dari jaman edan penuh dosa penuh maksiat penuh kejahatan. Zzzz sudah berjalan selama lebih dari 10 tahun dari kota ke kota, dari pulau ke pulau, dari negara satu ke negara berikutnya untuk memberikan pengajaran, membantu menyelesaikan permasalahan umat manusia.

Setiap kali singgah di suatu daerah dia melakukan ritual doa yang berhasil menyadarkan banyak kalangan, banyak pencuri telah bertobat menyatakan insaf dan berjanji tidak lagi mencuri, para penjahat telah sadar dan berjanji tidak lagi menjadi orang jahat … dst-dst. Selain itu dia memberikan bantuan bagi yang kesulitan, yang sakit telah disembuhkan, yang lumpuh dia berdayakan … dst-dst.

Warga masyarakat yang dia kunjungi berubah menjadi orang-orang baik, bersahabat, santun, alim, saling membantu satu sama lain … dst-dst … tidak ada lagi pencurian, tidak ada lagi kejahatan, semua hidup rukun, semua sehat, berbahagia dan sejahtera.

Inilah berita gembira bagi kita semua, bersiaplah menerima kedatangan Zzzz di kota Anda, mari kita sambut kedatangan Zzzz, sebarkanlah berita gembira ini kepada orang banyak, kirimkan berita gembira ini kepada 10 teman Anda.

Setiap orang yang mau mengirimkan berita ini kepada 10 orang temannya telah mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, dan hidup berbahagia. Sebaliknya, orang-orang yang tak percaya, tak mau meneruskan, tak mau mengirimkan berita gembira ini kepada orang lain, orang-orang itu mengalami musibah, kecelakaan, kehilangan barang berharga, kesedihan, sakit keras bahkan menemui kematian.

Inilah mereka yang mendapatkan kebahagiaan:

  • X, seorang pedagang makanan kakilima telah berhasil memiliki sekian cabang restoran dalam waktu 3 tahun sejak dia meneruskan berita gembira,
  • D, seorang pria miskin jomblo tak punya pekerjaan telah menjadi direktur di perusahaan retail kelas dunia, sudah menikah, istrinya sedang hamil … sekitar 4 tahun yang lalu dia menerima berita gembira ini dan segera mengirimkan kepada 10 temannya walau dia harus menahan lapar demi membeli perangko,
  • C, seorang kolonel di negeri Xxxx telah diangkat menjadi presiden setelah pada tahun Ttt1 dia menerima berita gembira ini dan mengirimkannya kepada 10 teman,
  • dan beberapa cerita super yang mendapatkan kebahagiaan.

Janganlah sampai Anda mengalami seperti orang-orang ini karena tidak percaya:

  •  Jamal seorang selebritis terkenal telah kehilangan istri dalam kecelakaan mobil di tahun Ttt2 karena dia tak percaya dan tak mau mengirimkan berita ini, sekarang dia hidup didalam penjara,
  • H orang kaya nomor 20 dunia telah jatuh miskin kehilangan semua hartanya karena tak percaya,
  • K dulu pedagang besar yang menguasai jalur minyak mentah negara Iiii telah gulung tikar, perusahaannya pailit, dia sekarang cuma jadi pengecer minyak di perempatan jalan karena tak percaya,
  • M seorang olahragawan juara olimpiade 5 kali telah lumpuh, sakit keras, jatuh miskin dan tak punya uang untuk berobat, tak berdaya karena tak percaya,
  • dan beberapa cerita mengerikan lainnya.

Jangan hentikan berita gembira ini, segera kirimkan berita ini kepada 10 teman … Anda akan mendapatkan kebahagiaan, keberuntungan … jangan sampai Anda mengalami kesialan seperti mereka yang tak percaya itu.

* * *

Surat yang mirip surat diatas telah beredar sejak lama, saya pernah menerima surat seperti itu di tahun 1970-an. Waktu itu, banyak yang percaya, ada yang sekedar iseng dan ikut melanjutkan (mengirimkan kepada beberapa temannya), tapi banyak juga yang tidak peduli.

Isi surat ber-rantai yang pernah saya terima dulu itu seperti sebuah ancaman halus (terselubung), saya harus menuliskan (membuat salinan) surat yang sama sebanyak 10 lembar kemudian mengirimkan kepada 10 orang teman. Barang siapa menerima surat seperti itu dan tidak melanjutkan surat ber-rantai itu akan mengalami bencana, mendapatkan kerugian, mendapatkan halangan, kehilangan sesuatu yang berharga, kesialan, kecelakaan, kebakaran, dlsb … dan barang siapa mau melanjutkan mengirimkan surat ber-rantai itu kepada 10 orang akan mendapatkan berbagai kesuksesan yang diharapkan sebelumnya, mendapatkan keberuntungan, mendapatkan kenaikan jabatan yang fenomenal, mendapatkan pasangan hidup bagi yang belum/tidak punya pasangan, mendapatkan kebahagiaan dlsb. Didalam surat itu disebutkan banyak tokoh masyarakat, selebritis yang mendapatkan berbagai bencana/malapetaka karena tidak melanjutkan mengirimkan surat ber-rantai itu … juga beberapa orang/tokoh yang mendapatkan kesuksesan, naik jabatan, mendapatkan undian, mendapatkan pacar berhasil menikah, mendapatkan kebahagiaan, dlsb setelah mengirimkan surat ber-rantai kepada 10 orang.

Ini contoh Chain letter/mail yang saya terjemahkan:

* * *

Hentikan Surat Ber-rantai [judul aslinya “Breaking The Chain Mail“]

Saya benci surat ber-rantai
Itu cuma hoaxs belaka
Hanya kerjaan orang iseng
Janganlah Anda percaya apalagi meneruskan surat ber-rantai
Ayo teman-teman, kalau Anda tak suka surat ber-rantai
Forward ‘Hentikan Surat Ber-rantai’ ini kepada teman-teman lainnya
Sebagai pernyataan Anda juga benci surat ber-rantai
Agar lebih banyak lagi yang mau menghentikan surat ber-rantai

* * *

Sebuah status yang menyatakan orang ini benci, tidak suka surat ber-rantai, dan berharap banyak orang mau berhenti meneruskan surat ber-rantai … ajakan berhenti ini telah menjadi surat ber-rantai berikutnya. Sekedar lucu-lucu-an dan biasanya sih, status lucu-lucu-an seperti ini akan segera diforward kemana-mana.

Apa, siapa, kenapa, bagaimana, sejauh mana

Apakah Surat Ber-rantai itu?

Surat ber-rantai (Chain letter/mail) adalah sebuah surat yang dibuat seseorang yang dikirimkan kepada beberapa orang yang mengharuskan si penerima untuk melanjutkan mengirim surat tersebut ke sejumlah orang berikutnya membentuk satu rangkaian penyebaran yang panjang dan luas, menjadi mata rantai sambung menyambung. Ada yang begitu serius ditulis full di selembar kertas ukuran legal dengan cerita yang lengkap dari awal sampai akhir, ada yang sekedar beberapa baris saja. Ada banyak contoh dalam bahasa Inggris, bisa kita lihat di Google dengan kata kunci ‘Chain letter’. Sayang sekali yang bahasa Indonesia sulit diperoleh.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari internet surat ber-rantai sudah ada sejak abad 18 berawal di Eropa kemudian menular ke Amerika dan terus menyebar ke seluruh dunia, terus beredar, berkembang dari yang serius, ke berita/informasi hoax sampai ke sekedar lucu-lucuan, berkembang mengikuti kemajuan jaman, menyelinap masuk melalui berbagai moda komunikasi modern.

Surat ber-rantai ada banyak macam, ada yang serius dengan ancaman dan janji hadiah, ada yang sekedar lucu, ada yang berisi variasi hal/tugas yang harus dikerjakan sang penerima surat, ada yang harus melakukan fotocopy dan mengirimkannya, ada yang harus memforward SMS tertentu, ada yang meminta si penerima bertepuk tangan, meminta si penerima berdoa atau membaca doa yang tertulis didalamnya, ada yang mengharuskan si penerima membaca suatu surat panjang sampai selesai, ada yang mengharuskan si penerima mengirimkan uang kepada orang tertentu, dlsb.

Setelah ada internet muncul surat sejenis itu di email, kemudian dalam bentuk SMS (short message) di handphone / smartphone, status di Facebook, di media sosial seperti Whatsapp, Line, Instagram, dlsb. Teknologi informasi/komunikasi terus berkembang, surat ber-rantai ikut berkembang menjadi lebih modern lagi, menjadi lebih mudah beredar, karena orang tidak perlu membuat salinan, tidak perlu pergi ke toko/warung fotocopy, tidak perlu ke kantor pos, cukup menekan beberapa tombol maka surat itu langsung berbanyak diri, menyebar kemana-mana.

Surat ber-rantai bisa berisikan hal-hal:

  • terkait agama, tokoh tertentu, terkait suku/bangsa tertentu, terkait orang tertentu, ibu/bapak/pacar, dll;
  • memberitahukan akan suatu bahaya yang mengancam, misal virus yang akan menyerang handphone sang penerima SMS, agar SMS itu diforward (di-share) ke teman-teman untuk memberitahukan bahaya itu,
  • berita yang memberitahukan ada 150 orang begal ahli bela diri yang kebal dan jagoan dari pulau tertentu telah disebarkan di sekian puluh titik (disebutkan lokasinya satu persatu) untuk melakukan kejahatan/keonaran/kerusuhan dengan target etnis tertentu … tertanda Kepala Keamanan Sipil,
  • yang menceritakan bagaimana sekelompok pengidap HIV/AIDS telah menginfeksi kaleng-kaleng makanan tertentu merek tertentu dari negara tertentu,
  • yang menulis cerita bahwa para pengidap HIV itu telah menusukkan tusuk gigi yang ada di restoran tertentu daerah tertentu ke gusi mereka, membersihkannya dan mengembalikan ke tempat tusuk gigi … sebagai upaya balas dendam mereka kepada masyarakat yang telah mengacuhkan dan menelantarkan mereka selama ini,
  • yang mengatakan sang penerima surat adalah wanita cantik, sang penerima harus melanjutkan mengirim surat itu kepada 15 orang yang dianggap cantik, kalau tidak melanjutkan maka kecantikannya akan pudar,
  • SMS yang menakut-nakuti sang penerima bisa mendapatkan penyakit parah bila tidak segera memforward SMS itu dalam waktu 20 menit,
  • SMS dengan ancaman akan diculik NINJA bila tidak memforward SMS itu kepada sekian orang dalam waktu 5 detik,
  • ada surat berisi doa dari SAI BABA, agar sang penerima ber-untung, surat/doa ini harus dibaca dengan keras, difotocopy sebanyak 50 kali dan dikirimkan kepada 50 orang lain,
  • surat/status/SMS yang menggambarkan suatu situasi yang menyenangkan orang yang membacanya, begitu meyakinkan dikuatkan dengan penampilan statistik pendukung, maka orang akan melakukan re-forward/re-share surat itu dengan senang hati … jadilah sebuah ‘chain letter’ alias surat ber-rantai! … soal benar atau tidak, tidak akan dipertanyakan, tidak diperdebatkan … orang-orang senang bergosip, senang meramaikan situasi, begitu bersemangat untuk melakukan hal-hal tak penting … iseng-iseng, atau ingin sekedar menyusahkan orang lain,
  • di Facebook ada semacam jebakan agar Anda ikut ber-empati dengan korban kecelakaan atau korban kejahatan, ada foto sang korban dalam posisi menyedihkan, dan Anda diminta untuk ikut me-LIKE status itu, melakukan sharing status itu sebagai rasa kasihan kepada sang korban … bila Anda tidak melakukan hal itu Anda dianggap sebagai manusia yang tidak punya belas kasihan, sang penyebar ingin mengumpulkan ‘LIKE’ dan ‘SHARE’ dari status itu,
  • yang berisi gambar (foto) yang dianggap mukzizat, Anda harus memberikan LIKE, menuliskan pesan ‘AMIN’ dan melakukan sharing status itu. Dengan melakukan ketiga hal itu, Anda akan dimudahkan masuk surga, mendapatkan pahala, dst — dsb … sebaliknya kalau Anda mengacuhkan, Anda akan mendapatkan kesialan, dlsb,
  • di email, Whatsapp, LIne, atau media sosial lainnya juga bertebaran berbagai jenis surat ber-rantai dengan bermacam modus dari sekedar iseng, lucu, penuh ancaman sekaligus janji manis, tipu-tipu, dlsb,
  • ada varian lain di handphone: segeralah memforward SMS ini kepada sekian orang, maka Anda akan mendapatkan hadiah pulsa telpon sekian ribu rupiah,
  • yang merupakan aksi protes menentang sesuatu dimana surat seperti itu dikirimkan (forward dan share) oleh begitu banyak orang yang menentang, begitu banyak yang melakukan pengiriman surat berisi aksi protes, sehingga server lembaga yang dituju mengalami kesulitan dalam mengelola serbuan begitu banyak surat protes yang datang dalam waktu bersamaan,
  • dll.

Tujuan pembahasan

Saya bermaksud membukakan mata orang banyak tentang ‘Surat ber-rantai’ ini, memberikan gambaran bagaimana emosi, logika, dan rasio seseorang bisa dipermainkan melalui informasi yang ditulis sedemikian rupa, disiapkan sedemikian rupa dan kemudian tanpa disadari, seperti terhipnotis informasi itu dilanjutkan, disebar-luaskan.

Bagi banyak orang, mungkin hal ini tidak cukup penting untuk dibahas karena hanya akan buang-buang waktu saja, tidak perlu repot memikirkan apalagi menganalisa masalah ini … tentukan saja apakah kita mau ikutan melanjutkan mengirim surat itu karena berbagai alasan yang ada atau acuhkan saja.

Saya tidak hanya melihat hal ini sebatas surat ber-rantai, saya tidak membahas soal seseorang mau mengirimkan atau tidak mau mengirimkan sebuah surat atau memforward/sharing sebuah status/SMS/email tetapi saya ingin kita melihat sedikit lebih jauh, bagaimana suatu informasi bisa mempermainkan emosi seseorang, menutup logika dan rasio yang ada … informasi yang benar-benar menggelitik dan menusuk hati bukan hanya mempengaruhi satu atau segelintir orang, tetapi bisa mempengaruhi penduduk kota besar seperti Jakarta atau mungkin sampai se-pulau Jawa, se-Indonesia, bahkan menyebar sampai ke seluruh dunia! Bagaimana mungkin!?

Surat ber-rantai merupakan suatu strategi simulasi manipulasi emosi seseorang yang menerimanya, membawa emosi seseorang kepada suatu situasi tertentu, menjerumuskan seseorang kedalam suatu kegiatan yang tak jelas, penjeblosan seseorang kepada suatu keadaan yang tak menyenangkan, memunculkan rasa takut sampai mendorong banyak orang melakukan perbuatan yang tidak mereka sadari bagaikan terhipnotis (??).

Meski kegiatan meneruskan surat ber-rantai itu tidak membawa kerugian yang besar, paling banyak sebesar biaya 10 perangko untuk mengirimkan 10 surat kepada 10 teman … atau 20 perangko untuk 20 surat. Pada surat ber-rantai lewat email, seseorang bisa melakukan forwarding surat itu langsung kepada 10 alamat email dengan nilai biaya yang relative kecil. Pada surat ber-rantai lewat SMS, seseorang akan terpaksa membayar pulsa untuk mengirimkan 10 SMS kepada 10 teman. Di Facebook, Anda hanya diminta memberikan ‘LIKE’, menulis ‘AMIN’ dan melakukan ‘SHARE’ dengan biaya internet yang tidak signifikant. Begitu juga lewat beberapa media sosial lainnya, hanya biaya internet yang relative kecil.

Memang, biaya terbesar hanyalah biaya pembelian 10 perangko atau 10 kali pulsa SMS … relative kecil bagi seseorang … bukan soal uangnya yang jadi masalah buat saya, melainkan:

  • bagaimana emosi, logika dan rasio orang banyak bisa dimainkan, diarahkan, dimanipulasi sedemikian rupa untuk melakukan suatu kegiatan tertentu yang merugikan masyarakat dalam bentuk uang, tenaga dan pikiran seperti pada contoh “AKSI BORONG SEMBAKO” berikut ini,
  • bagaimana surat surat seperti itu telah digunakan untuk melakukan manipulasi emosi orang lain yang menjadi korban, begitu banyak orang yang ter-hipnotis melakukan penyebaran berbagai berita yang tak penting, yang membuat suasana kehidupan masyarakat jadi mencekam penuh ketakutan seperti contoh-contoh diatas, apalagi berita seperti “KARTUN PENGHINAAN NABI” berikut, yang menyebar ke segala penjuru dunia, menyulut kerusuhan, membangkitkan kekerasan antar manusia,
  • bagaimana berita soal produk tertentu yang difitnah sebagai barang tidak benar/tidak baik/berbahaya telah disebar-luaskan oleh orang-orang yang tak pernah tahu kebenaran berita itu yang menyebabkan produk tersebut dianggap tidak layak konsumsi, menyebabkan pencemaran nama baik perusahaan pembuat produk itu sehingga perusahaan itu mengalami kerugian,
  • bagaimana fitnah/hoax bisa mempengaruhi orang banyak, baik pelaku penyebaran ataupun orang yang terkena fitnah,
  • dst.

Satu surat ber-rantai dimulai dari 1 orang, bisa saja dikirimkan kepada sepuluh orang, yang kemudian dilanjutkan oleh setiap orang pada level berikutnya … terus berlipat-ganda … dan setiap orang itu akan membeli masing-masing 10 buah perangko atau membayar pulsa SMS … bayangkan berapa nilai total biaya perangko atau pulsa itu setelah surat itu menjalar dan dilanjutkan berulang kali. Ada nilai biaya yang cukup besar yang telah dibayar oleh sekian banyak korban surat itu.

Tidak hanya sekedar emosi biasa yang telah dimanipulasi … tetapi logika keber-agama-an juga telah dimanipulasi seperti pada status dengan cerita terkait agama di media sosial yang mengharuskan orang untuk memberikan ‘LIKE’, menuliskan ‘AMIN’, melakukan ‘SHARE’ dengan janji akan mendapatkan kemudahan mencapai surga, mendapatkan pahala, mendapatkan berbagai keberuntungan dalam hidup. Seorang pembaca status itu akan dibawa ke alam mimpi, janji sorga dan ancaman dosa bila tidak ikut memberikan ‘LIKE’ menulis kata ‘AMIN’ dan tidak melakukan ‘SHARE’. Begitu sederhana keber-agama-an orang dimanipulasi dengan sebuah status di media sosial, dan ada cukup banyak orang yang terjeblos dalam permainan itu, seakan-akan orang yang telah ikutan dalam kegiatan itu akan mendapatkan status keber-agama-an yang lebih baik daripada yang tidak ikutan. Begitu sederhana, begitu mudah pikiran orang-orang itu dimanipulasi, begitu sederhana … ikutlah kegiatan ini maka Anda akan masuk surga … kalau tidak ikutan maka Anda akan berdosa atau akan sulit masuk sorga.

Kegiatan surat ber-rantai adalah operasi manipulasi yang bisa mempermainkan emosi, logika, rasio / pikiran banyak orang, membuat banyak orang masuk perangkap alam mimpi dengan harapan akan sesuatu yang diimpikan banyak orang, membuat orang ketakutan akan sesuatu, membuat orang mudah mengadili orang lain, menyebabkan pencemaran nama baik, membuat kerusuhan, membangkitkan kekerasan, dlsb.

Siapa yang salah dalam hal ini? Si pengirim surat ber-rantai atau para korban itu?

Lihatlah, bagaimana suatu informasi yang berkembang dalam chain-reaction bisa menyebabkan orang terhipnotis untuk melakukan kegiatan yang merugikan orang banyak, seperti contoh berikut:

AKSI BORONG SEMBAKO

Naik tingkatan dari sekedar penyebaran berita menjadi kerusuhan skala luas

Nah, bayangkan kalau permainan penjerumusan emosi seseorang melalui surat ber-rantai (semacam itu) itu kemudian ditingkatkan menjadi operasi penjerumusan yang lebih canggih, lebih massiv menggunakan peralatan yang mampu menjangkau lebih banyak orang dalam ruang/kawasan yang lebih luas/besar dalam waktu yang relative singkat dengan topik yang langsung mengancam kehidupan orang banyak seperti berita habisnya sembako (sembilan bahan pokok) karena adanya bencana sehingga transportasi truk pembawa sembako akan terputus untuk waktu yang tak jelas. Berita ini disampaikan dengan massiv melalui sarana siaran radio yang telah dimanipulasi, disiarkan berulang kali dan siaran radio itu kemudian di-jamming sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan cross-check kebenaran keadaan itu.

Bukan suratnya yang diperbanyak dan disebar-luaskan, tetapi informasi yang disimulasikan sedemikian rupa kemudian dimultiply dan disebar-luaskan oleh banyak orang secara tidak sadar.

Penjerumusan ini terjadi pada hari Kemis tanggal 8 Januari 1998. Berita “waspada, sembako (beras, gula, mie instant, susu, tepung, dlsb) akan hilang di pasaran karena ada bencana, supply sembako akan terhenti, segeralah membeli sembako di pasar!”. Kalimat itu dihembuskan secara massive melalui berbagai sarana komunikasi massa seperti radio, dihembuskan sedemikian rupa sehingga orang terpancing untuk melanjutkan berita itu dari mulut ke mulut, dan mereka terprovokasi untuk melakukan borong sembako di berbagai pasar, di berbagai toko serba ada. Orang yang mengetahui berita itu, melihat ada aksi borong, ikut panik, ikut memborong, ikut menyebarkan berita itu, menceritakan kepada saudara, kerabat, teman-teman, tetangga, mengatakan adanya aksi borong karena sembako akan hilang dari pasaran. Begitu banyak orang yang panik, mereka segera ikutan melakukan aksi borong, mereka tidak punya kesempatan melakukan cross-check kebenaran keadaan waktu itu, karena semua radio di saluran AM/MW maupun FM telah di-jamming oleh satu kekuatan operasi yang tak jelas. Semua pemancar radio di AM/MW maupun FM hanya memperdengarkan lagu dangdut yang sama, tak ada suara penyiar sama sekali, hanya lagu dangdut yang sama terdengar di semua pemancar itu. Siaran radio di gelombang SW all band juga di-jamming, hanya terdengar suara brummm di semua frekuensi. Paling tidak hal ini dilakukan/terjadi di beberapa kota besar, yang saya tahu pasti hal ini terjadi di Jakarta dan sekitarnya, juga di Malang Jawa Timur.

  • Saya melihat secara langsung beberapa toko diserbu pembeli, semua orang didalam toko-toko itu mondar mandir membawa trolley (kereta belanja) atau keranjang yang penuh sembako, mereka rebutan cepat mengambil berbagai sembako, rak pajangan kosong diserbu dengan segera, terlihat antrean panjang didepan kasir-kasir.
  • Saya melihat begitu banyak orang keluar dari toko-toko dan pasar membawa beberapa tas belanja penuh sembako di tangan kiri dan kanan mereka.
  • Saya melihat ada pelanggan yang membawa kendaraan mahal yang sudah penuh barang mencari parkir di depan toko, sang pemilik sudah berbelanja banyak barang di toko yang sebelumnya dan ingin mencoba peruntungan di toko yang berikutnya. Ada banyak orang diluar toko-toko itu, menunggu kesempatan untuk bisa masuk dan berbelanja … muka mereka terlihat khawatir, khawatir ada bencana, ada kejadian yang genting, khawatir terjadi kerusuhan, supply terhenti, sembako kosong, tidak ada stok di pasar atau toko serba ada, semua takut kelaparan.
  • Hanya sedikit yang tak terpengaruh isu/berita/kejadian aksi borong itu, termasuk saya. Istri sudah bertanya apakah kita ikut berbelanja? Saya bilang: tidak usah, ini tidak normal, dan rasanya kejadian ini tidak benar.

Televisi hanya menyiarkan berita adanya aksi borong sembako di berbagai toko serba ada, kemudian ada berita toko-toko itu menerapkan pembatasan pembelian sembako: setiap pelanggan hanya diizinkan membeli sekian kantong/pak untuk setiap item sembako. Tetapi tidak ada berita kenapa hal ini bisa terjadi, kenapa siaran radio hanya menyiarkan lagu dangdut.

Hektik … hiruk pikuk orang-orang melakukan aksi borong, saling berebut mengambil sembako dan barang lainnya yang ada di rak toko, orang-orang mengantri panjang membawa keranjang atau kereta belanja yang penuh … berita terus menyebar dan orang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keributan itu terjadi. Yang satu memprovokasi yang lain, seseorang yang mendengar dan melihat kejadian itu ikutan menyebarkan issu itu kepada banyak orang, orang-orang terprovokasi, semua takut tidak punya sembako, takut tidak sempat belanja, takut tidak kebagian sembako … pikiran mereka penuh dengan rasa takut tidak bisa makan, takut lapar, rasa harus makan, rasa takut tidak punya makanan … logika, emosi, rasio sudah terpancing, tertutup oleh rasa takut … jalan pikiran sudah tidak rasional lagi, yang ada cuma bagaimana bisa segera menuju pasar atau toko serba ada dan memborong setiap item sembako sebanyak mungkin untuk persediaan.

Psy-war telah dijalankan, masyarakat tidak sadar telah terhipnotis … tanpa sadar telah tenggelam dalam rasa takut tidak punya bahan pangan … muncul egoisme dalam hati banyak orang … hanya memikirkan dirinya sendiri, tak peduli akan orang lain. Ketakutan semakin menjadi saat toko-toko terlihat kehabisan sembako, rak-rak telah kosong, tidak ada informasi dari pihak berwenang, tidak ada kepastian dari pemerintah, jalur komunikasi seakan hampa hanya ada lagu dangdut tanpa suara penyiar sama sekali … begitu banyak orang terperangkap permainan psy-op tingkat tinggi.

Seminggu kemudian, hari Kemis tanggal 15 Januari 1998, sang ‘Master Mind’ operasi psy-war ini mengulangi perbuatannya, berita hilangnya sembako kembali dihembuskan, siaran radio kembali di-jamming, semua pemancar di gelombang AM/MW ataupun FM memperdengarkan lagu-lagu dangdut, satu lagu yang sama dipancarkan dari semua pemancar radio … hanya lagu-lagu dangdut, frekuensi all band hanya memperdengarkan suara brummm … dan AKSI BORONG SEMBAKO kembali terulang … banyak orang begitu mudah terhipnotis oleh operasi psy-war itu … rak-rak toko diserbu pelanggan, mereka antri berlama-lama sambil membawa keranjang belanjaan atau kereta belanja yang penuh bahan makanan.

Berita/isu/gossip/hoax yang sama diulang dalam rentang waktu seminggu dan banyak orang masih tertipu!!!

Siapakah ‘Master Mind’ dari operasi canggih ini?

Perencanaan yang matang, organisasi yang rapi, pelaksanaan melibatkan teknologi sederhana tetapi dengan power (listrik) yang cukup besar, mencakup ruang yang cukup luas paling tidak di Jakarta – sekitarnya dan di Malang Jawa Timur, berhasil menutup sekian banyak siaran dari begitu banyak pemancar radio (AM/MW dan FM) di Jakarta dan di Malang … dan berhasil menghipnotis begitu banyak orang dalam 2 kali permainan: 8 Januari dan 15 Januari 1998.

Sebuah psy-op tingkat tinggi … mungkinkah organisasi lokal? … tetapi dengan peralatan jamming yang mampu beroperasi menutup begitu banyak pemancar siaran radio itu rasanya meragukan … kemungkinan terbesar ada organisasi mapan dari luar negeri yang melakukan itu, yang punya kepentingan mengobok-ngobok politik dalam negeri. Siapakah, dari negara mana sang ‘Master Mind’ berasal??? Ataukah itu satu simulasi menjelang Mei 1998???

Sederhana sekali untuk memanipulasi emosi, logika dan rasio

Kirimkan kepada seseorang sebuah surat berisikan sebuah ancaman halus (terselubung), barang siapa tidak melanjutkan surat ber-rantai ini maka dia akan mengalami bencana, mendapatkan kerugian, mendapatkan halangan, kehilangan sesuatu yang berharga, kesialan, kecelakaan, kebakaran, dlsb … dan barang siapa mau melanjutkan mengirimkan surat ber-rantai itu akan mendapatkan berbagai kesuksesan yang diharapkan sebelumnya, mendapatkan keberuntungan, mendapat loteri, mendapatkan kenaikan jabatan yang fenomenal, mendapatkan pasangan hidup bagi yang belum/tidak punya pasangan, mendapatkan kebahagiaan dlsb. Maka si penerima tak akan berpikir panjang, apakah benar … atau tidak? Dan karena takut akan kesialan, banyak orang ikut menyebarkannya … lihat saja contoh-contoh di media sosial.

Apalagi kalau dikaitkan dengan urusan perut … awas nanti tidak punya makanan, bisa kelaparan … orang akan terpicu untuk melakukan aksi pemenuhan kebutuhan perutnya. Atau kalau dikaitkan dengan agama, pahala, dosa, kemungkinan bisa masuk surga dan ancaman tidak bisa masuk surga … “Awas kalau Anda memilih pemimpin kafir, Anda tidak dapat tiket masuk XXX” … atau dengan ajakan: “Ayo ikutlah aksi ini, kalau Anda tewas, Anda bisa masuk surga dan mendapatkan jatah sekian bidadari” … dlsb.

Berikut ini, sebuah contoh bagaimana sebuah gambar kartun berhasil menyulut emosi banyak orang di berbagai penjuru dunia, terjadi di akhir tahun 2005/awal tahun 2006, menyebabkan kerusuhan, kekerasan antar warga, demo/protes ke banyak kedutaan di banyak negara di dunia, terjadi aksi sweeping, bakar-bakaran, dst.

KARTUN PENGHINAAN NABI

Satu kasus surat ber-rantai: ‘Kartun Penghinaan Nabi’ dimana orang-orang di berbagai pelosok dunia menyebarluaskan lembaran kartun ini. Orang yang menerima kartun ini dari seseorang, dengan antusias memperbanyak (memfotocopy) beberapa puluh lembar, membagi-bagikan kepada setiap orang yang dikenalnya dengan menambahkan kata-kata “Lihat ini ada kartun penghinaan Nabi yang kita sayangi! … Kita harus menuntut orang yang membuat kartun ini!” … maka tersebarlah lembaran-lembaran itu, lalu orang yang menerima lembaran itu menyimpannya, memfotocopy beberapa puluh lembar, menyebarkannya sambil mengajak orang lain untuk marah kepada si pembuat kartun penghinaan. Lambat laun tapi pasti, sampailah lembaran itu kepada ketua MPR/DPR, kepada para menteri, kepada sang presiden, kepada ketua-ketua berbagai lembaga terkait keagamaan … semua marah kepada sang pembuat kartun … lalu mereka ramai-ramai melakukan sweeping, menangkap orang-orang yang sekiranya berasal dari negara sang pembuat kartun, melakukan aksi protes (demonstrasi) kepada negara-negara yang dianggap sekawanan dengan negara sang pembuat kartun … “Putuskan hubungan diplomatik dengan negara X!” … “Mari kita perangi mereka!” … kerusuhan dan aksi bakar-bakaran pun terjadi di berbagai negara … dst.

Orang tak sadar, dari sekian juta orang yang marah kepada Z (sang pembuat kartun) hampir tak ada yang pernah melihat Z menggambar kartun itu … yang terlihat adalah orang-orang yang membawa-bawa lembaran itu, menyebar-luaskan sambil memberikan kata-kata hasutan untuk marah kepada Z itu. Bukan Z yang menyebar-luaskan penghinaan itu, mereka sendiri yang melakukan penghinaan.

Coba … kalau si orang pertama yang mengetahui kebenaran Z menggambar kartun itu, langsung marah kepada Z, langsung membakar lembaran itu … tidak menyimpan lembaran itu, tidak memfotocopy lembaran itu, tidak menyebar-luaskan lembaran itu … pasti tidak akan ada kerusuhan yang seluas itu.

Yang jelas, Anda tidak tahu pasti siapa yang membuat gambar itu … yang Anda lihat adalah seseorang (teman/kenalan/tak dikenal) yang membawa segepok lembaran yang menawarkan lembaran itu kepada Anda … itulah sang penghina! Hukumlah orang itu … saat ditawarkan, jangan terima lembaran itu! atau ambillah lembaran-lembaran itu, hancurkan, bakar! Maka berhentilah ceritanya. Kalau Anda terima, lalu Anda simpan, Anda bawa ke tukang fotocopy, diperbanyak sekian puluh lembar, Anda bagi-bagikan dengan tambahan kata-kata penuh amarah … Anda tak sadar kalau Anda sendiri yang menyebarkan penghinaan itu … Anda pun telah ikut menjadi penghina. Yang menyimpan, yang memperbanyak (termasuk warung/toko fotocopy juga ikut bersalah), yang menyebarkan … adalah para penghina itu.

Begitu sederhana untuk memanipulasi emosi, logika, rasio seseorang … berikan informasi yang berisi pilihan yang menyenangkan dan tak menyenangkan, maka begitu banyak orang akan ikutan … KENAPA BISA BEGITU!?

Atau informasi massal yang disebarkan secara massiv, bisa melalui radio, selebaran/pamflet yang disebar menggunakan pesawat terbang semacam PROPAGANDA!? … berita hoaxs yang sengaja disebarkan melalui berbagai media sosial untuk membuat resah masyarakat … isu-isu yang dikembangkan, dipelihara, bagaikan bola salju digulirkan dari atas gunung semakin kebawah akan semakin besar. Pembiaran penyebaran berita (surat) tak jelas simpang siur agar fokus rakyat terpecah belah kepada berbagai isu, tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dimainkan oleh para penjahat kelas kakap sedang menggerogoti kekayaan bangsa.

Sekarang ini ada banyak JOKI yang bertugas membuat surat-surat pengalihan perhatian masyarakat … agar rakyat terpecah belah, bisa diadu-domba antar kelompok … untuk mendiskreditkan kelompok tertentu, orang tertentu, untuk menghancurkan kesempatan orang-orang tertentu terutama orang-orang baik yang ingin maju kedepan menjadi pimpinan daerah. Para penjahat kelas kakap membayar para JOKI untuk melakukan pengalihan itu melalui berbagai sarana media sosial bahkan lembaga penyiaran besar juga ikutan menjadi JOKI bayaran.

Bagaimana caranya agar kita tidak mudah terjebak surat/berita demikian!?

Kunci utama: jangan SUUDZON! Jangan berburuk-sangka

Kalau Anda tak tahu pasti akan sesuatu hal, jangan terima hal itu, jangan sebarkan hal itu, jangan salah sangka, jangan salah terima, gunakan logika, rasio, tahan emosi … calm down … jangan bergossip!

Mari kita belajar dari cerita ini:

* * *

Suatu waktu Sang Nabi sedang berada di perempatan jalan. Terlihat seseorang berlari terengah-engah ke tempat beliau berdiri … sesampainya di hadapan Sang Nabi, orang itu memohon dengan sangat: “Ya Tuan … tolonglah hamba, hamba dikejar sekelompok orang, tolonglah hamba, bila tertangkap hamba bisa mati dibunuh mereka”.

Sang Nabi pun terhenyak … dia tak tahu, apakah akan menolong orang itu atau tidak … kalau tidak ditolong, orang itu bisa mati dikeroyok … tapi kalau ditolong ternyata dia orang jahat … bagaimana!? Sulit untuk menolong ataupun tidak menolong … harus bagaimana?

Lalu diputuskan dengan segera. Sang Nabi berkata kepada orang itu: “Lanjutkan saja perjalanan Anda” … maka orang itu pun kembali berlari.

Setelah orang itu kembali berlari, segera beliau menggerakkan kaki, berpindah posisi, hanya satu langkah ke sisi lain dan berdiri disitu … tak lama kemudian datanglah sekumpulan orang berlari mendekat. Mereka membawa berbagai alat, ada tongkat pemukul, ada senjata tajam, mereka terlihat marah.

Sesampainya mereka di hadapan Sang Nabi, beberapa diantaranya bertanya: “Tuan … apakah melihat orang berlari disini, kami ingin menangkap orang itu” … maka segeralah Sang Nabi menjawab: “SEJAK SAYA BERDIRI DISINI, saya tak melihat seorangpun berlari”.

* * *

Intinya, bila Anda tak tahu akan kebenaran atau ketidak-benaran akan sesuatu janganlah mengambil tindakan. Anda bisa salah dalam tindakan itu … tetapi Anda juga tidak perlu berbohong, katakanlah yang benar seperti: “SEJAK SAYA BERDIRI DISINI, saya tak melihat seorangpun berlari” karena memang sejak beliau berpindah posisi, beliau tidak melihat seorangpun berlari.

Memang tak mudah membuat keputusan cepat untuk segala sesuatu yang datang tiba-tiba … ambillah posisi netral lebih dulu … jangan menduga-duga atas sesuatu yang tidak diketahui dengan pasti. Kalau tak jelas, janganlah berita itu disebar-luaskan … janganlah mudah terhasut oleh berita bohong yang bisa merugikan orang banyak, gunakan logika, rasio, tahan emosi.

Seperti berita ” … 150 orang begal ahli bela diri yang kebal dan jagoan dari pulau tertentu telah disebarkan di sekian puluh titik (disebutkan lokasinya satu persatu) untuk melakukan kejahatan/keonaran/kerusuhan dengan target etnis tertentu … tertanda Kepala Keamanan Sipil”. Kalau Kepala Keamanan Sipil itu bisa tahu jumlah penjahat, bisa tahu ciri-ciri mereka, tahu asal mereka, tahu lokasinya satu persatu, tahu rencana mereka … kenapa harus extra memberitakan hal itu kepada masyarakat … kan sudah jelas informasinya, pasti petugas keamanan bisa menangkap mereka dengan mudah. Jelas, ketakutan masyarakat akan aksi begal yang sedang trend saat itu telah digunakan oleh seseorang/kelompok tertentu untuk menghipnotis logika, rasio dan emosi masyarakat, membangun rasa tidak aman, menebar terror kepada masyarakat. Pasti ada joki yang ber-ulah!

Pesan dari tulisan ini:

Jangan mudah terhasut, jangan melakukan penyebaran berita yang tak jelas/mengandung keraguan/bersifat terror meski samar dan tak ada pemberitaan pasti, lebih baik membiarkan berita baik tak tersebar daripada menyebarkan berita tak baik, jangan mudah terpancing emosi, gunakan logika dan rasio saat menerima suatu berita. Pertimbangkan dengan matang saat menerima suatu berita apakah berita itu benar sungguh terjadi, saat akan menyebarkan (forward/share) suatu informasi yang tidak jelas kepastiannya.

Berhati-hatilah, akan ada semakin banyak berita-berita bohong/tak benar/tak pasti/bersifat terror/penjerumusan/penggiringan pandangan menjauh dari kegiatan buruk yang sedang berlangsung … berita-berita itu disebarkan secara tak sengaja oleh banyak orang karena ketidak-tahuan mereka dan yang dilakukan dengan sengaja oleh para joki provokasi yang gagal paham akan maksud sebenarnya dari sang pemberi bayaran … sang ‘Master Mind’ yang ingin membuat kekisruhan/kekacauan atau penutupan pandangan masyarakat atas kegiatan culas mereka selama ini dan yang sedang berlangsung.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat, bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Jakarta, 31 Agustus 2016
ttd
Bambang Subaktyo

Untuk download Artikel ini: Surat Ber-rantai.pdf

Referensi:
* CHAIN LETTER EVOLUTION, Daniel W. VanArsdale, ©1998, 2002, 2007, 2014
http://www.silcom.com/~barnowl/chain-letter/evolution.html