010 KATA PENGANTAR YDDMP
(TRESNO JALARAN SOKO KULINO)
Saya mengambil 2 baris kalimat sebuah lagu lama:
… dari mana datangnya cinta?
… dari mata turun ke hati
tanpa penjelasan apapun, setiap orang akan mengerti 2 kalimat itu,
lalu saya ambil pepatah lama yang berlaku di Jawa:
… tresno jalaran saka kulino
yang artinya kira-kira, cinta datang karena biasa bertemu.
Dari kedua hal diatas, bisa kita tarik satu asumsi, segala sesuatu yang terjadi hari demi hari, begitu sering, begitu banyak yang melakukan, akan melekat di hati dan satu saat menjadikan hal hal yang sebetulnya asing, yang seharusnya tidak bisa diterima, karena dilakukan oleh banyak orang dan terjadi begitu sering, bisa berkali kali dilakukan oleh orang banyak dan hal itu terus terjadi hari demi hari … maka hal yang sebenarnya buruk, yang melanggar peraturan, yang tidak boleh dilakukan, berbahaya, dan berbagai kejelekan yang lain … akan menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh hati setiap orang di dalam kelompok dimana kejadian-kejadian itu terjadi. Karena terjadi setiap hari, dan biasa dilakukan oleh banyak orang, akhirnya kegiatan buruk yang dilakukan banyak orang begitu sering dan terus menerus setiap waktu sepanjang tahun, hal itu menjadi kebiasaan orang banyak, mereka semua menjadi terbiasa akan hal itu. Kegiatan buruk itu menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh masyarakat suatu daerah. Menjadi ‘bersama kita bisa’ menerima keadaan itu, bisa menerima kejadian itu, bisa menerima ketidak benaran itu. Bersama kita bisa!
Akibat mata sering melihat kejadian buruk, tidak ada lagi yang malu malu melakukan keburukan itu, semua merasa hal itu bisa diterima sebagai keadaan normal … tresno jalaran saka kulino. Hampir semua orang bisa jatuh hati terhadap kegiatan (buruk) itu.
Kita bisa mencoba hal ini di jalanan, cobalah perhatikan saat di perempatan jalan, lampu merah bagi pengendara di satu sisi, mereka terus saja menerobos perempatan jalan tanpa malu malu, mereka sudah biasa melakukan itu, sudah tidak ada rasa takut berbuat salah, terobos saja. Atau di suatu jalan 2 jalur, ada tempat berputar untuk pengendara dari suatu arah dan tidak berlaku bagi pengendara di arah yang lain, tetapi begitu banyak orang tidak peduli dengan rambu dilarang berputar itu, mereka berputar di tempat itu. Begitu banyak yang melanggar rambu itu, dan tidak hanya warga kelas bawah saja, mobil kelas atas yang super mahal juga tidak sungkan sungkan melanggar peraturan. Atau kita melihat ada banyak rambu dilarang parkir, ternyata ada banyak mobil parkir. Di bawah rambu dilarang stop, malah banyak kendaraan yang parkir disana. Lihatlah setiap pagi dan sore, pengendara motor membonceng anak sekolah, mereka berjalan melawan arah, berputar di tempat dilarang berputar, menerobos lampu merah, dst. Semua itu menjadi pemandangan yang bisa terlihat sepanjang hari, setiap detik begitu banyak yang semau gue … apa boleh buat, semua menerapkan pepatah jawa itu … tresno jalaran saka kulino … sudah biasa kok, kenapa mesti malu atau sungkan, lakukan saja, semua orang melakukan hal itu … itu sudah biasa kok, jangan dianggap salah, itu sudah dilakukan oleh banyak orang, maka secara aklamasi itu adalah benar!!!
Hanya sebagian orang yang menganggap ketidakbenaran adalah sebagai ketidakbenaran, pelanggaran peraturan adalah pelanggaran, tindakan salah adalah tindakan salah. Hanya sebagian kecil yang masih berusaha bertahan untuk terus berada di sisi kebenaran, tidak melakukan pelanggaran, masih punya rasa malu, masih sungkan untuk melanggar peraturan, tidak enak hati untuk mengambil barang yang bukan haknya, tidak suka membuang sampah sembarangan, tidak mau menerima tas kresek plastik pembungkus barang belanjaan, tidak berani menerobos lampu merah, tidak punyak keberanian berputar di tempat dilarang berputar, tidak mau parkir di tempat dilarang parkir apalagi di tempat dilarang stop, berusaha baik (adil) kepada setiap orang, punya rasa kasih kepada orang lain, punya rasa sayang kepada alam dan lingkungan, dst … Hanya sedikit orang orang yang masih berperilaku sesuai aturan, sesuai etika, sesuai adat istiadat, sesuai ajaran agama, dan … semakin sedikit lagi orang yang benar berperilaku benar pada semua hal itu, secara sekaligus.
Kebanyakan orang, meski rajin beribadah, toh dengan mudah melanggar peraturan, mereka naik motor hanya menggunakan pelindung kepala bundar putih berbahan kain, bukan helm, apalagi kalau sudah membawa bendera dengan tulisan aksara luar negeri itu, mereka semakin tidak punya rasa takut mati, mungkin sudah pesan tempat di surga, tidak punya rasa takut kepada petugas, kan sudah berbaju khusus, seragam khusus, topi helm putih dari kain … aman dan damai rasanya mereka saat melanggar peraturan di jalan raya. Meski beragama, toh pada sisi lain mereka tidak sungkan melanggar peraturan. Belum lagi, mereka berjalan beriringan sambil memenuhi jalan dari kiri ke kanan tanpa peduli kepada orang lain. Gagah berani tidak ada yang ditakutkan, mati pun mereka siap, kan sudah pesan tempat!?
Tresno jalaran saka kulino … sudah biasa begitu, kenapa harus dikatakan itu salah, dikatakan melanggar aturan, dikatakan melanggar hukum. Kan sudah biasa, sudah seharusnya bisa diterima oleh orang lain.
Saat ini, begitu banyak orang yang terlihat tidak punya rasa malu saat melakukan pelanggaran hukum, kita bisa melihat setiap hari di jalanan, itu sudah lumrah terjadi, hati mereka sudah terbentuk sedemikian rupa, sehingga pelanggaran itu bukan hal yang memalukan lagi. Bahkan mereka melakukan itu didepan anak anak mereka sendiri, seakan akan itulah pembelajaran yang benar. Kita bisa melihat saat orang orang kelas atas, para pejabat yang tertangkap oleh aparat hukum saat mereka dibawa ke pengadilan, mereka akan menebar senyum, mereka tidak terlihat sedih ataupun takut, mereka tidak punya urat malu, seakan akan mereka itu selebritis yang sedang disorot media, mereka bicara dengan gembira di hadapan para wartawan, memberikan jawaban sambil tertawa tawa. Dan saat mereka dijatuhi hukuman oleh hakim, mereka malah terlihat bergembira, berbahagia bersama keluarganya, malah ada yang bilang, saya kira dikasih 10 tahun, kok cuma 7 tahun … tebar pesona dan tebar senyum dengan muka sumringah.
Apakah dunia sudah terbalik balik?
Yang mana yang benar, mana yang salah sudah campur aduk, sulit untuk memilih jalan yang benar, karena akan menjadi bulan-bulan-an orang banyak. Saat di perempatan lampu merah, kita mencoba ‘bertahan’ menunggu lampu hijau, orang di belakang bisa saja tidak sabar, mereka membunyikan klakson agar kita segera bergerak. Atau kita tegur orang yang mengambil jalur yang salah, atau yang menerobos lampu merah, mereka akan lebih galak, mereka akan marah, mereka tidak mau mengalah, malah pasang muka ganas, mata melotot, sambil teriak: “Sok jago luh!”. Atau kita maki seorang penjahat koruptor kelas kakap mantan pejabat tinggi, dengan enteng orang itu akan menjawab: “Sok suci luh! Kalau Anda di posisi saya, pasti Anda akan lebih ganas dari saya. Anda kan iri dengan posisi saya. Anda saja yang tidak bisa korupsi!?” … kegilaan semakin menjadi jadi.
Mungkin inilah masa yang dikatakan didalam Jongko joyoboyo, atau yang dikatakan oleh Sabdapalon Noyogenggong, atau yang dikatakan didalam wasiat Eyang Prabu Siliwangi? Masa yang penuh ke-gila-an!?
Apakah kita akan membiarkan ketidak benaran dan kegilaan ini terus berlanjut!?
Mau sampai kapan kita hidup dalam keremang-remangan kebenaran dibalik bayang bayang ketidakbenaran!?
Sudah saatnya kita mencoba melihat situasi – kondisi yang berlangsung saat ini melalui perspektif yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda, jangan menggunakan nalar yang sudah terbentuk dari ke-biasa-an yang sudah berlaku umum, karena dengan sudut pandang itu kita jelas tidak pernah akan sadar kalau suatu perbuatan yang dilakukan itu sebenarnya salah.
Buku ini berisi kumpulan pemikiran dan pemahaman hati dari Penulis yang telah dituangkan di masa lalu dalam blog website maupun dalam media cetak nasional. Di dalam buku ini, Penulis mencoba mengambil sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang, mencoba melihat dari perspektif yang berbeda dan menggambarkannya dalam beberapa essay berikut ini.
Semoga, tulisan yang saya kumpulkan dalam buku ini bisa menjadi pembuka mata hati kita semua.
Jakarta, Minggu, 2 November 2014


